"Dengerin saya baik-baik, Ellaine! Mulai sekarang kamu harus jauhin Antari. Dia bakal kuliah di luar negeri dan dia bakal ngikutin rencana yang saya buat. Kamu nggak boleh ngerusak itu. Ngerti?"
Gue berusaha mengatur napas. "Nyonya, apa yang Ella rasain buat dia itu nyata. Ella—"
"Cukup!" Dia angkat tangannya buat nyuruh gue diam. "Kalau kamu benaran sayang sama dia, kamu pasti pengen yang terbaik buat dia, kan?"
Gue mengangguk pelan.
"Bagus. Karena kamu bukan yang terbaik buat dia, Ellaine, kamu tahu itu. Anak dari mantan pelacur, pecandu narkoba nggak pantas buat cowok kayak Antari."
────୨ৎ────
Dear, Batari Season II
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Cuma Pembantu!
Sekarang gue jadi kepikiran, apa dia masih nyimpen mimpi itu?
Dan kenapa lo peduli, Antari?
Gue berdehem, bikin kehadiran gue ketahuan.
Ellaine langsung kaku, ngelirik sebentar sebelum buru-buru taruh sendok ke wastafel. Pas dia berbalik, ekspresi bete di wajahnya bikin gue kaget.
Gue kira dia bakal malu atau canggung. Tapi enggak.
Dia marah.
Pantas.
Dia punya hak buat itu.
"Ada yang perlu dibantu, Tuan?" Suaranya dingin banget.
Bukan cuma marah, dia ngamuk dalam hati.
Bahasa tubuhnya jelas-jelas nunjukin dia tinggal nunggu satu kata nyebelin buat meledak dan nyumpahin gue.
Itulah Ellaine, nggak pernah takut. Dia patuh, iya, tapi bukan karena takut, cuma karena dia harus lakukan itu buat tetep kerja di sini. Bahkan saudara-saudara gue aja masih ada rasa segan sama gue, tapi dia?
Nggak sama sekali.
"Gue mau teh." Gue duduk di meja dapur. Tatapannya dingin banget sampe gue hampir tunduk. "Please."
Dia ngeluarin napas berat, mulai nyiapin teh dalam diam.
Gue memperhatikan dia. Rambut merahnya dikepang rapih dari depan sampe belakang. Ekspresi dia tetep jelas banget, kesel, tegas, tapi tetap...
Ellaine.
Dia mijat bahunya, bikin muka sedikit kesakitan. sepertinya dia juga habis mengalami hari yang panjang. Sama seperti gue.
Pikiran gue balik ke kejadian kemarin, dan rasa bersalah itu muncul lagi. Perasaan yang nggak biasa buat gue, soalnya gue jarang nyesel sama apa yang gue lakuin.
Gue mainin jari di pinggiran meja, pikiran ke mana-mana. tahu-tahu secangkir teh nongol di depan gue. Gue angkat kepala, melihat Ellaine berdiri di seberang meja. Tatapannya sedingin es, bikin gue nggak nyaman.
"Teh anda, Tuan!"
Nggak ada rasa hormat di suaranya. Cuma jijik.
"Makasih."
Dia langsung muter badan buat lanjut kerja, sementara gue nyeruput teh gue pelan. Lama-lama, gue cuma duduk di sana, ngerasain teh gue, tapi otak gue keganggu sama satu hal. Gue tahu gue salah.
Seperti bisa baca pikiran gue, Ellaine tiba-tiba balik badan, naruh tangan di pinggang. "Kalau lo mau minta maaf, minta aja."
Hah?
Ini pertama kalinya dia ngomong santai ke gue sejak kejadian itu. Dan anehnya, gue nggak keberatan.
Mungkin dia sadar juga, soalnya ekspresinya berubah, kayaknya dia lagi keceplosan barusan, ngomong dengan liar apa yang ada di kepalanya.
"Lupakan."
Dia mau pergi, tapi sebelum dia sempat keluar dari dapur, kata-kata itu keluar dari mulut gue.
"Gue minta maaf."
Dia langsung berhenti, tapi nggak muter badan. Syukur deh, jadi lebih gampang buat gue bilang ini.
"Gue nyesel soal kejadian kemarin. Gue udah keterlaluan. Nggak bakal kejadian lagi."
Gue nggak nunggu jawaban. Gue kenal dia. Permintaan maaf doang nggak bakal cukup buat ngilangin rasa keselnya.
Kenal dia?
Maksud lo, kenal dia dulu.
Sekarang lo nggak tahu apa-apa soal dia.
Dan lo juga nggak peduli.
"Lo nyesel?" Akhirnya dia muter badan, matanya masih nyala karena marah. "Lo ngerendahin gue di depan saudara lo, nginjek harga diri gue, dan lo cuma nyesel?"
Gue bangkit berdiri. "Ellaine…"
Dia maju tiga langkah, sampe sekarang dia berdiri tepat di depan gue. Sebelum gue sempat ngomong lagi,
...Plaaakkkkk...
Tamparannya bikin kepala gue sedikit miring ke samping. "Nah, gini baru namanya permintaan maaf."
Gue benerin kepala gue pelan, tangan gue megang rahang yang mulai panas.
Anjir, dia mukulnya keras juga.
Matanya masih nyala penuh amarah. Dan gue nggak bisa bohong, sedikit takut juga.
"Coba lo kurang ajar lagi sama gue, yang kena bukan cuma muka lo."
Gue memperhatikan dia lebih dekat. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, kelihatan capek… tapi tetep aja, dia masih secantik dulu.
"Gue udah minta maaf, lo udah mukul gue. Anggap aja kita impas." Nada gue datar.
Dia menyeringai sinis.
"Ya udah. Kita coba hubungan profesional aja. Gue cuma pegawai di rumah ini. Lo cuma anak bos gue. udah, itu aja."
Cuma anak bos?
Itu doang gue di mata dia sekarang?
Oke.
Kalau gitu, dia juga cuma pegawai.
Enggak.
PEMBANTU.
Itu lebih tepatnya.
Nggak lebih.
"Oke."
Dia melihat gue sebentar sebelum jalan keluar dari dapur.
Gue diam di sana, sendiri, dikelilingi jarak yang selalu dia pasang di antara kita.
Jarak yang begitu jauh, sampe bahkan ketika dia ada di depan mata gue, rasanya seperti dia nggak pernah ada.
kesayangan keluarga batari🥰🥰
lah thor,udah selesay aja kisah ini. happy dan semangat trus yaaa 🥰🥰
btw, kalian gak mau nikah yaa,kisah ini bukan berlatar belakang luar negeri kan thoorr
ella emang paling cocok dampingi antari,antari butuh ella
gak pakai pengaman ya antari,siap hamil dong ai ella