Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
...Jamuan Makan Malam...
Jalan-jalan sudah menjadi kegiatanku selama hampir dua bulan aku menginjakkan kaki di negariku tercinta. Bukan hanya di sekitaran Ibukota, tapi aku juga sudah melanglang buana ke berbagai tempat untuk meredakan haus kerinduanku pada nusantara.
Saat ini aku dan Tania ikut kakek dan nenek bertualang di Lombok. Aku sangat bersemangat mengikuti tour yang sudah lama ku impikan ini. Tapi mungkin karena jadwal terlalu padat karena perpindahan tempat yang hanya sebentar, tubuhku serasa tidak enak. Badanku sering pegal dan mudah lelah, ku pikir mungkin sudah saatnya aku kembali ke rumah.
Mengetahui keadaanku, semuanya setuju untuk kembali. Tapi keluarga Tania, om Daniel, tante Billa, kak Akshan bahkan kak Agnes juga ternyata menyusul kami ke sini. Aku pun bersikeras untuk tinggal beberapa hari dan mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Tak enak rasanya bila harus pulang padahal mereka baru sampai.
"Lu sebulan di Indonesia jadi gemuk lagi, Si." ucap Tania mengejek.
"Iya nih.. ya gimana gak gendutan atuh, gue selama di sini kan makan apa aja, gak kekontrol. Tapi gak kenapa-kenapa juga sih, gue kan bisa diet lagi nanti. Mampang mumpung masih di sini, masih bisa keliling Indonesia pula, kapan lagi coba?"
"Iya sih.. eh, bentar bentar bentar, kok lu ngomong kayak seolah-olah lu gak bakal tinggal lama lagi sih di sini?" Tania membulatkan matanya, penasaran.
"Gue kayaknya mau balik lagi ke Jerman. Beberapa hari yg lalu gue dapet tawaran kerja di sana."
"Beneran?!" Aku hanya jawab dengan anggukan, kemudian Tania memelukku.
"Tadinya mau nolak, tapi kalau dipikir lagi gue gak boleh sia-siain kesempatan ini, lumayan banget kan buat nambah pengalaman kerja di CV." Aku terkekeh di akhir penjelasanku.
"Aaaaahhh.. selamat ya sayaaang.. akhirnya impian kita masing-masing akan segera tercapai"
Tania terlihat sangat senang. Tapi nyatanya aku berbohong. Aku memang akan kembali ke Jerman, tapi pekerjaan itu akan ku cari sendiri setelah aku sampai di sana nanti. Aku hanya tak ingin lebih lama di sini, hari-hariku selalu dibayang-bayangi kejadian malam itu.
Kami lanjut asyik berbincang membicarakan berbagai macam hal, mulai dari rencana masa depan hingga bernostalgia mengingat masa kecil. Tak terasa waktu sudah mulai senja, kami hampir lupa bahwa malam ini akan ada jamuan makan malam dengan salah satu kolega om Daniel. Ternyata itu tujuan utama mereka ke sini.
Malam itu ku kenakan dress panjang dengan belahan dari bawah sampai atas lutut, berwarna light blue. Sedangkan Tania? Style yang kami gunakan tentu saja sama, hanya beda warna, Tania suka warna lilac. Aku bahkan sering dibilang kembar tak identik dengannya, saking seringnya kami menggunakan barang yang sama atau mirip, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sekompak itu memang.
Sesampainya di sebuah gedung, ku kira hanya makan malam biasa antara keluarga Albrecht dan sang kolega, tapi ternyata ini lebih dapat dikatakan sebuah pesta mewah. Banyak orang tersebar di seluruh ruangan, tentu dengan aura yang berbeda dan wibawa terpancar dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah orang-orang hebat, mulai dari pengusaha sampai aku melihat ada beberapa orang yang berkuasa di pemerintahan. Orang macam apa yang mengundang kami ini?
Tepukan tangan menyadarkanku dari lamunan, si empunya hajat hadir dan menaiki podium. Terlihat pria yang sudah terlihat tua itu tersenyum dan memulai pidatonya. Seperti biasa, ucapan terimakasih dan sebagainya pasti terlontar sedikit panjang lebar. Aku tak peduli, ku edarkan pandanganku mencari sosok yang sudah lama tak ku temui.
Terakhir aku melihat pria itu pada saat sarapan pagi pertamaku di kediaman keluarga Albrecht. Hari itu, setelah malam kejadian panjang tak terlupakan itu, aku tak pernah lagi melihatnya. Dia sibuk dengan profesi barunya sebagai pewaris perusahaan ayahnya, dan aku juga sibuk dengan petualanganku berkeliling Indonesia.
Ah, itu dia! Pria itu selalu tampil sempurna. Balutan tuksedo hitam yang melekat di badannya semakin membuatnya terlihat lebih gagah dan berwibawa. Tatapan kami sempat bertemu namun berhenti saat seorang wanita memanggil dan menghampirinya.
Wanita itu terlihat sangat cantik, tinggi, ramping. Bak model yang sedang berjalan di atas* catewalk*, gadis bergaun merah wine itu sampai dan mencium pipi kanan dan kiri kak Akshan. Hatiku mencelos melihat kedekatan mereka. Ku alihkan pandangan dan ku lihat jejeran makanan yang begitu terlihat enak. Daripada merasa sakit hati, lebih baik aku makan, pikirku.
Tak lama kemudian suara riuh mulai terdengar, pria tua itu belum selesai dengan pidatonya ternyata. Tapi ada sesuatu yang menyita perhatianku, ku taruh piring makanan itu dan berjalan lebih ke depan, Tania hampir menyeretku.
Kenapa kak Akshan ada di atas sana? Kenapa juga wanita itu berdiri di sampingnya? Dan kenapa aku memiliki perasaan yang tidak baik? Ada apa sebenarnya?
"Di acara yang penting ini juga saya akan mengumumkan pertunangan cucu saya, Karana Atmadja dengan Akshan Albrecht."
Deg.. Hatiku seperti tertusuk ribuan jarum. Ku remas tangan Tania, tapi disambut pelukan olehnya. Aku ingin menangis, aku ingin berlari, tapi kakiku kaku tak bisa digerakkan, mata pun tetap membulat, panas, tapi tak ada setetes pun air mata yang keluar, mungkin karena aku terlampau kaget.
Tania membantuku berjalan ke arah luar dan membawaku pulang ke hotel. Sebelum aku benar-benar keluar, dari kejauhan aku melihat senyum bahagia tersungging di bibir kak Akshan. Sebahagia itu kah?
Keheningan tercipta sepanjang jalan kami menuju hotel tempat kami menginap. Dengan setia Tania terus mengelus punggungku. Dia pasti tahu apa yang aku rasakan saat ini. Sahabat terbaikku, aku sangat menyangimu!
Sesampainya di hotel aku langsung masuk ke kamarku, mengurung diri sampai pagi menjelang. Kebetulan semalam kakek diminta untuk mengikuti rapat direksi di perusahaan ayah siang nanti, dengan senang hati, kami majukan jadwal kami pulang ke Jakarta menjadi hari ini. Aku membereskan barang-barangku, begitu pula dengan Tania, kakek dan nenek.
Perjalanan kami berjalan cukup mulus, akhirnya aku melihat gedung-gedung tinggi menjulang lagi setelah lama berjalan di antara rerumputan atau pasir yang membentang luas di tempat-tempat yang kami singgahi selama hampir dua bulan ini.
Nenek dan kakek langsung bergegas ke kantor karena mereka sudah ditunggu oleh para petinggi perusahaan. Sebenarnya aku sempat diminta ikut, tapi sekali lagi mereka melihat keadaanku yang tidak memungkinkan untuk hanya sekedar ikut rapat. Tentu kakek dan nenek juga tahu kalau aku sangat menyukai kak Akshan, dan berita pertunangannya dengan sangat cepat tersebar di se-antero jagat. Mereka pasangan yang sangat serasi.
"Tan, gue pulang ke rumah nenek ya." ucapku memecahkan suasana yang sedari tadi terasa begitu dingin.
"Iya. Lu yang sabar ya.. gue yakin ada hal baik yang akan lu jumpai setelah ini. Sekali lagi maafin gue, gue juga gak tau soal kejadian semalem, gak ada yang bilang ke gue."
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk, mungkin Tania merasakan pilu yang ku rasa, ia tahu betapa aku mencintai kakak laki-lakinya itu. Dia terus memelukku sampai ke depan rumah sederhana yang berhalaman cukup besar, rumah kakek dan nenekku.
Seminggu berlalu dan aku masih tetap mengurung diri di kamar, aku sempat melakukan mogok makan, tapi dua hari ini justru nafsu makanku bertambah dua kali lipat. Aku semakin tak terkendali, hingga sekarang aku harus terbaring di ruang perawatan sebuah rumah sakit.