Mereka adalah pahlawan yang tak kasat mata. Kisah petualangan manusia-manusia yang diberikan kemampuan untuk bersinggungan dengan dimensi yang lain. Dikumpulkan oleh sang penguasa Akbar dan kawan-kawannya harus berjuang mati-matian untuk keselamatan banyak jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 AKBAR
Dia adalah kepingan terakhir untuk melengkapi dari keempat orang yang telah ditunjukkan dengan tanda titik di peta oleh Ki Blinger. Berasal dari kediamannya yang berada di daerah Kabupaten Wonosari ia adalah seorang petualang sejati. Bersama rekan sepermainan sekaligus sahabatnya Guntur yang kini mendekam di Lapas Cebongan. Ia kerap berpindah-pindah domisili untuk rentan waktu yang tidaklah lama. Itu semua bukan karena prestasinya tapi karena kekurangngajarannya. Sekarang ia juga berstatus sebagai DOP. Penipuan dan pengerusakan adalah contoh-contoh kasus yang sering menimpanya dimanapun ia berada. Seperti sekarang ini dimana ia sedang berada di Jakarta. Untuk pertama kalinya ia mencoba mengarungi lembaran hidup baru di wilayah ibu kota .
Dusun di desa dimana ia tinggal termasuk wilayah yang masih wingit hingga sekarang ini. Ada sebuah garis keturunan dari pendahulu-pedahulunya yang menghubungkannya dengan pemuda tanggung yang malas bekerja dan lebih senang akan segala hal yang bersifat instan dan keduniawian ini. Itulah kenapa Akbar berada dalam daftar orang-orang yang akan turut memberi pertolongan kepada bapak.
Akbar sendiri juga bisa dan telah terbiasa bersinggungan dengan hal-hal yang berbau klenik atau gaib. Tapi sikapnya yang acuh dan tidak peduli akan hal itu membuat segala potensi akan kemampuannya yang telah diwariskan dari leluhurnya itu terabaikan dan tidak bisa terlihat begitu saja. Ia sendiri pun juga tidak menyadari kekuatan apa yang sebenarnya ia miliki. Ia juga enggan untuk mencari tahu hal-hal yang bersifat seperti itu. Baginya bermain dan berkreatifitas dalam mencari uang adalah hal yang lebih utama untuknya dan juga kawan-kawan sepergaulannya.
Akbar bisa merasakan jika akan ada hal buruk yang sedang datang padanya. Baik itu yang bersifat normal atau apalagi yang berbau dunia lain. Terkadang tanpa disadari dan disengaja ia juga diperlihatkan penampakkan-penampakkan yang sungguhlah menakutkan dan menjijikkan baginya. Uniknya meski sejak kecil sudah akrab dengan penampakkan tapi nyatanya ia masih sering kaget dan takut jika harus bertemu dengan sosok-sosok yang lebih suka dihindarinya itu.
Saat itu ia sedang berada di salah satu kawasan tersembunyi berkumpulnya orang-orang untuk bermain judi. Ia bisa masuk ke sana karena ada seorang teman kenalannya di sana. Etnis Tionghoa mendominasi jumlah para pemain dan pengunjung di sana hampir 70%. Sementara 30% sisanya adalah para penduduk ibu kota berseta para perantau atau para pendatang baru termasuk salah satunya adalah Akbar. Bermodalkan uang yang tak seberapa ia yakin malam itu tetap akan masih bisa menjadi malam kemenangan untuknya. Beberapa buah trik sudah ia siapkan. Ia yakin akan berhasil menang sama seperti di kota-kota sebelumnya dimana trik tipuannya ini berhasil mendatangkan banyak uang untuknya sehingga kemudian bisa ia gunakan untuk berfoya-foya. Kekurangan di malam itu ialah ia harus menjalani perannya seorang diri. Biasanya ada Guntur atau teman yang lainnya yang bisa dijadikan mitra olehnya. Ia sebenarnya bisa meminta teman kenalannya itu untuk membantunya. Tapi rasa tidak percaya jika nantinya malah ia berkhianat dan mengadukannya kepada keamanan atau pemilik tempat maka habislah ia di kota yang untuk pertama kalinya ia coba untuk taklukkan ini. Ingin bermain aman Akbar lebih memilih untuk beraksi seorang diri serta tidak terlalu mencolok.
Hampir dua setangah jam ia bermain ke sana kemari dari satu meja ke meja yang lain dengan tingkah bualan dan berlagak sedikit mabuk untuk meyakinkan apa yang sedang diperankannya. Ketika dirinya mulai menjadi sorotan orang-orang disekitarnya dan juga para pengawas tempat ia mulai melonggarkan sikapnya dan juga mengurangi kemenangan yang diperoleh dengan cara curangnya itu. Ia tidak ingin selama di sana terus dimata-matai dan ditandai oleh orang-orang di sana. Setelah dirasa cukup dengan hasil kemenangannya ia hendak perlahan-lahan untuk menghilang dari kerumunan orang-orang yang berhasil dibodohi nya itu. Temannya yang membawanya ke tempat itu menaruh sedikit curiga kepada Akbar dan hendak berbincang-bincang dengannya. Tapi dengan jeli Akbar bisa membatalkan niat temannya itu. Akbar memberikan sebagian uang kemenangannya itu kepada temannya itu. Seketika itu Akbar bisa langsung pergi dari tempat gelap itu sebelum timbul kecurigaan-kecurigaan lainnya.
Dengan hasilnya malam itu ia naik taksi meniggalkan tempat itu. Kemana lagi Akbar akan menuju? Tentu saja ia meneruskan malamnya ke tempat hiburan malam. Sebuah perayaan sesaat atas kemenangannya sudah ia bayangkan dengan berteman para kupu-kupu malam dan juga minuman-minuman favoritnya. Sesampainya di tempat tujuannya ia tak lupa mencari sebuah tempat sepi untuk mengeluarkan kartu-kartu yang tadi dijadikan alat untuk tipu muslihatnya. Ia membakar kartu-kartu yang selalu disimpannya di lengan jaketnya itu. Ini adalah rutinitasnya untuk menghilangkan jejak kecurangannya.
Klub malam yang didatanginya malam itu sama saja dengan tempat-tempat yang sebelumnya pernah ia datangi. Bedanya hanyalah orang-orangnya dan juga bahasanya saja. Tujuan dan maksud mereka untuk datang adalah sama yaitu mencari kesenangan dan kepuasan kenikmatan yang bersifat sementara. Akbar senang melihat ternyata ada juga beberapa orang dari mancanegara yang sangat jarang dilihatnya. Ia ingin sekali bisa menghabiskan sisa malam bersama salah satu dari mereka.
Kemampuannya dalam hal berkaitan dengan merayu dan memikat perempuan sudah dikenal di lingkungan pergaulannya. Tidaklah sulit bagi Akbar untuk membawa satu diantara orang asing itu. Ia kini terbaring di ranjang dengan hanya mengenakan celananya. Ia sedang menunggu wanita timur tengah itu yang sedang berada di dalam kamar mandi. Meski terkendala bahasa dan hanya menggunakan bahasa isyarat keduanya terbukti bisa sampai berduaan bersama sampai masuk ke dalam kamar dilantai atas yang sudah disediakan oleh pihak klub tersebut. Akbar sudah membayang liar bagaimana rasanya dengan perempuan mancanegara berhidung mancung itu.
Tiba-tiba lampu kamar padam. Terdengar bunyi “klik” sakelar yang mematikan lampu itu. Akbar tersenyum-senyum. Mungkin ini cara orang-orang asing bermain pikirnya. Ia hanya tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh pasangan satu malamnya itu.
Kejutan datang lagi untuknya. Kini tidak hanya ruangan kamar yang menjadi gelap tapi penglihatan dan akalnya juga buyar setelah sebuah pukulan yang telak berhasil membuatnya pingsan.
Akbar terbangun di sebuah ruangan yang kemudian ia kenali adalah sebuah gudang dengan berbagai macam barang-barang perabotan yang terlihat ditata acak begitu saja. Tangan dan kakinya terikat serta mulutnya yang juga tersumbat dengan ikatan kain. Ia mengerang mencoba melepaskan tali-tali yang mengunci dirinya itu.
Suara pintu gudang terbuka. Seorang pria tua masuk menghampirinya. Akbar meronta-ronta tidak jelas memberikan isyarat supaya orang itu melepaskan ikatannya. Orang itu mendekat ke Akbar yang tergeletak di lantai gudang tanpa alas. Orang itu memberikan isyarat supaya ia diam. Kemudian orang itu melepaskan ikatan-ikatan di kaki dan tangannya satu persatu. Setelah ikatan tangannya lepas Akbar lantas melepas ikatan kain yang menyumbat mulutnya. Kemudian ia berteriak marah-marah sejadi-jadinya. Bahkan ia sudah ancang-ancang hendak menghajar pria tua yang sudah melepaskan ikatannya itu.
Situasi ribut itu hening seketika ketika ada seseorang lagi yang datang. Akbar hanya terpana tanpa berkata apa-apa. Sosok bapak masuk ke gudang itu menghampiri Pak Jan dan juga Akbar.
“Selamat datang di rumah saya mas Akbar”, kata bapak.
“Mohon maaf kalau perlakuan mereka kasar”, lanjut bapak.
Akbar lantas berdiri dan menjabat sekaligus mencium tangan bapak.
“Saya ini mau minta tolong sama njenengan mas”, kata bapak.
“Oh iya pak. Untuk bapak saya pasti bersedia. Coba kalau dari awal bilangnya baik-baik saya pasti akan mau”, jawab Akbar.
“Kalau dari awal minta baik-baik sama kamu ya pasti kamu sudah kabur. Makanya kamu juga saya ikat”, sentil Pak Jan.