Marves Lucifer Arsenik Raja iblis dikenal kejam dan tanpa pandang bulu menyiksa nyawa pendosa. Namun Marves bukanlah pria biasa, tapi pria sepertinya mampu muak dengan neraka dan beralih menetap di bumi sekedar menenangkan pikirannya.
Nyatanya seorang wanita cupu dan dekil menyatakan cinta kepadanya di depan umum, tentunya Marves menolak sekaligus mengatakan kalimat menyakitkan yang membuat wanita yang ia ketahui bernama Vella lantas pergi dengan air mata yang bercucuran.
Terlanjur sakit hati membuat Vella gelap mata dan dengan nekat memasukan obat perangsang ke minuman Marves, membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.
Menyadari kebodohannya dan tak ada gunanya menyesali perbuatannya yang telah terlanjur Vella lakukan, ia lantas pergi menjauh meninggalkan tempatnya berada, berharap tak bertemu Marves kembali.
Tanpa menyadari seorang iblis tengah mengamuk mencari dirinya dengan tatapan obsesi dan kemarahan memuncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anastasia d lutvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Sang Iblis
Terkejut, Marves terkejut akan apa yang terjadi pada tubuhnya, dada penuh bekas gigitan merah, tubuh tanpa busana, keadaan yang berantakan. Pakaian berserakan dimana-mana.
Kembali mengingat momen dimana Marves diantar oleh seorang wanita masker hitam memakai dress biru. Hingga Marves dijebak, dengan menjebaknya, memperkosa dirinya dengan paksa. Sempat mempermainkan dirinya hingga Marves kesal dan mengancam wanita itu, tapi seperti hembusan angin, wanita itu tak menangapi perkataan Marves dan tetap menjalani apa yang direncakan wanita itu.
Marves juga ingat, saat wanita itu menyatakan perasaan padanya di depan umum, Selena yang tak terima lantas menghina dan merendahkan wanita itu tanpa ampun karena wajah jelek dan status terlampau rendah, dan yang paling menyakitkan, Marves menolak perasaan wanita itu dengan kata-kata menyakitkan. Hingga membuat wanita itu membalaskan dendam kepadanya dengan cara memperkosa.
Mengepal tangan kuat, menahan emosi yang berkecamuk.
Marves membuka ponsel berisikan panggilan dari Selena dan juga pesan, tapi ada yang aneh. Mengernyit alis bingung. Pesan yang harusnya belum terbaca tapi telah terbaca. Pasti ini ulah wanita itu telah membuka ponsel dengan sengaja tanpa sepengetahuan Marves.
Nada dering berbunyi, panggilan dari Selena. Lantas Marves mengangkat.
"Apa?"
"Tuan, Tuan dari mana saja. Sejak malam saya menghubungi Tuan dan pagi ini Tuan menghubungi saya hanya lewat pesan dan menyuruh saya tidak mencari anda. tapi Tuan, apa yang terjadi pada Tuan?" tanya Selena wajah khawatir.
"Tidak." Tanpa basa-basi Marves menutup panggilan secara sepihak.
Kembali termenung memikirkan apa yang dilakukan wanita itu sejak semalam. Wajahnya ia mengenalinya, tapi nama?
"Sial." Bahkan nama wanita itu Marves tak mengetahui.
Bangun dalam keadaan memalukan, apalagi dilihat oleh pria petugas club. Harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
Mengepal tangan kuat, tatapan kemarahan melanda, wajah memerah karena amarah yang menguap.
"Kau tak akan bisa lari dariku," desis Marves begitu pelan tetapi mematikan.
Memanggil seseorang dalam ponsel. "Siapkan aku pakaian."
Beberapa menit kemudian, keadaan yang semula berantakan menjadi semula kembali. Marves memakai kemeja hitam dan celana hitam. Terlihat tampan dan juga maskulin, penuh wibawa yang membuat orang tak berani menatap apalagi mengusik Marves kecuali wanita itu.
Mengingat itu, darah kembali mendidih memikirkan wanita itu.
"Jack," panggil Marves tanpa menatap Bodyguard miliknya.
Jack, Bodyguard Marves, pria yang selalu setia dan siap mengorbankan dirinya hanya demi Marves, bahkan Jack tahu bahwa Marves adalah Raja iblis dan dirinya hanyalah manusia. Tapi tak dipungkiri ia tetap setia dan mengenal arti balas budi. Karena Marves perna menyelamatkannya dikala ia kesulitan, dipandang rendah, bahkan ia tak mengenal apa yang dinamakan kehidupan, tapi berkat Marves yang merentangkan tangan untuknya ia tahu apa yang dinamakan kehidupan. Walaupun ia tahu bahwa semua iblis jahat, tipu muslihat dan menjerumuskan dalam kemaksiatan, tapi ia tak peduli. Yang ia pikirkan ia harus membalas budi walaupun nyawa taruhan.
"Iya Tuan," jawab Jack menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Cari identitas wanita itu sampai dapat." Perintah Marves.
"Saya tidak tahu wanita yang anda maksud Tuan." Bingung Jack.
"Semua Wanita OG club, yang berkerja disini."
"Baik Tuan, " jawab Jack lantas pergi meninggalkan Marves.
Di kantor, Marves duduk tenang, mata fokus pada layar laptop, sedangkan tangannya bergerak lincah memijat satu persatu tombol keyboard.
Ting.
Dorongan pintu terbuka menimbulkan suara yang memecah konsentrasi Marves, Marves mendongak menatap wanita cantik membawa benda lebar persegi panjang, dengan wajah gelisah seakan menemukan suatu hal yang membuatnya terkejut.
"Tuan!" teriaknya berlari kecil kearah Marves.
Mengernyit alis heran. "Ada apa Selena?"Tanpa banyak kata, Selena menunjukan tablet berbentuk persegi panjang di hadapan Marves.
Deg.
Sebuah foto Marves terpampang, dalam keadaan tertidur tanpa busana, Marves terkejut, sekali lagi harga dirinya hancur. Bagaimana bisa? Ribuan komen mengomentari dirinya, bahkan Marves tak tahu sama sekali tentang ini. Siapa yang memposting Marves yang dalam keadaan tak sadarkan diri?
Ah ia ingat, wanita itu? Wanita yang berani menghancurkan harga dirinya.
Wanita yang berani menyentuh tubuhnya bahkan tak ada satupun wanita yang berani mengusik ataupun melakukan hal senonoh padanya. Siapa lagi kalau bukan wanita itu? Bahkan wanita itu berani memposting dirinya dalam sosial media.
Marves mengeram marah, wajah amat sangat memerah. Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan, bisa-bisa reputasinya hancur berantakan, hanya karena ulah wanita itu. Lihat saja ia akan mengetahui identitas wanita itu, kalau perlu menangkapnya dan melakukan sesuatu yang akan dikenang oleh wanita itu seumur hidup.
Merencanakan itu membuat Marves tersenyum puas, tak menyadari Selena masih berada di ruangan menatap heran Marves."Tuan, apa yang terjadi?" Perkataan Selena, membuat Marves tersadar dalam lamunannya.
"Pergi," pinta Marves.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan reputasi Tuan dan juga saya?" Tatapan lesu dilayangkan Selena kearah Marves.
"Kamu?"
"Yah, saya Tuan, Saya dijebak wanita itu Tuan. Dia juga memposting foto saya bersama pria lain."
"Pria lain?"
"Tapi Tuan, percayalah, saya tidak memiliki hubungan apapun tentang pria itu, pria itu menjebak saya, saya tidak tahu siapa yang melakukan hal setega ini pada saya Tuan." Selena frustasi dibuatnya, berbagai komentar buruk dilayangkan padanya, membuatnya sungguh frustasi dan pusing memikirkan hal itu.
"Tenanglah, dan kembalilah, aku akan mengurus semua," jawab Marves tetap berwajah datar dan dingin.
Senyum terbit di bibir Selena. Senang masalah yang terjadi akan selesai dan ia tak terlalu pusing memikirkan yang terjadi.
"Baik Tuan, tapi Tuan apa anda butuh sesuatu?"tanya Selena.
"Tidak dan cepat pergi dari sini," pinta Marves menyuruh Selena segerah pergi dari ruangan.
"Tapi Tuan." Selena menatap memohon karena tak ingin meninggalkan Marves, ia ingin tetap berada di samping Marves dan menjadi penguat bagi pria itu.
"SELENA!"
"Baik Tuan," ucap Selena tak berani mengelak, tapi suatu saat ia akan memiliki pria itu dan membuatnya hanya berada disisinya bahkan jika ada yang menghalangi jalannya, ia akan menghabisinya hingga hancur seketika. Kepal Selena yakin. Selena lantas pergi meninggalkan ruangan.
Memijat pelipis pusing, dengan apa yang terjadi padanya. Hari ini adalah hari yang sungguh sial bagi Marves.
'Benar-benar tak bisa diremehkan,' ucap Marves dalam hati.
Baru kali ini, ia merasa pusing seperti ini hanya karena ulah wanita itu. Sungguh ia tak sabar mendengar identitas wanita itu.
Marves membuka postingan yang terpampang dirinya dan juga postingan kedua yang terpampang seorang wanita tak lain ialah Selena, tengah mencium pria, posisi membelakangi kamera.
Menghubungi seseorang. "Hapus semua postingan yang ada, kalau perlu blokir akun itu dari aplikasi, jangan sampai postingan itu tersebar luas dan membuat heboh dunia maya."
"Baik Tuan, akan saya laksanakan," jawab pria. Telepon dimatikan secara sepihak.
"Kau yang menantang." Senyum miring terbit di bibir. Menatap tajam lurus kearah depan, mata berubah Semerah darah, hawa menyeruak mengisi ruangan.