SEQUEL : MY HOT GIGOLO
Harta yang berlimpah ruah membuat apapun yang diinginkannya selalu terwujud. Hanya saja ada satu hal yang tidak bisa ia tukar dengan harta yaitu perasaan seorang pemuda yang disukainya.
Ini adalah kisah seorang gadis bernama Graciella Isee Brown atau lebih akrab dipanggil Grace.
Akankah dia mendapatkan cintanya? Atau justru berpindah haluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Setelah berhasil keluar dari apartemen pria itu Grace tidak langsung pulang ke mansion dan lebih memilih untuk pulang ke rumah Kimi dulu.
Sejak dia datang Kimi mengomel tanpa henti sampai membuat telinga Grace sakit mendengarnya.
"Aku akan menceritakannya, tapi nanti. Sekarang diamlah!." pinta Grace dengan sangat, kedua tangannya menangkup pertanda memohon.
Karena merasa kasihan akhirnya Kimi pun diam, "Tapi kau baik-baik saja kan, Grace?"
"Aku baik-baik saja. Kalau begitu aku pulang dulu, terima kasih karena sudah menutupi semuanya dari Daddy dan Mommy."
Kimi mengangguk dengan bibir yang senantiasa tersenyum, "Itulah gunanya seorang sahabat."
Kedua gadis itu berpelukan dengan erat, sampai sekarangpun tidak pernah Grace temui lagi teman yang begitu baik seperti Kimi.
"Hati-hati di jalan!"
Grace mengangkat sebelah jempolnya sementara sebelah kakinya menginjak pedal gas. Sesampainya di mansion ternyata Arabelle sudah menunggunya.
"Tidak biasanya kau menginap di rumah orang lain Grace, lalu kenapa ponselmu susah dihubungi?" omelnya
"Maaf Mom, aku tidak mengecek ponsel." sebuah jawaban yang alakadarnya.
"Kau tidak membohongi Mommy kan, Grace?"
"Darling, sudah. Lagipula dia hanya menginap di rumah Kimi." bela sang Daddy-Ellard.
"Tapi sayang dia.."
"Masuklah ke kamarmu, Grace." pinta Ellard.
Grace mengalihkan tatapannya pada sang daddy seolah matanya mengucapkan terima kasih.
"Aku masuk ya Mom, Dad."
Terdengar helaan nafas dari Arabelle dan gerutuan kecil, "Kau terlalu memanjakannya!"
Grace masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Tubuh lelahnya ia senderkan dibalik daun pintu.
Flashback on
Cup.
Pukulan Grace mengendur karena pria itu tiba-tiba menciumnya tepat diatas bibir kecilnya.
"Manis." puji pria itu.
"Tidakkkkkkkkk....." teriak Grace sekeras mungkin. Pria dihadapannya sampai menutup telinga karena suara cempreng Grace terasa berdengung.
"Diamlah, aku hanya menciummu bukan memperkosamu."
Plak
"Aw.."
"Itu ciuman pertamaku, bodoh!"
Astaga, bibirnya sudah ternoda!
"Kau mengambilnya itu artinya kau harus bertanggung jawab." marah Grace.
Pria itu gelagapan saat melihat mata Grace yang berkaca-kaca, "Ma-maaf aku tidak bermaksud seperti itu sudah kubilang kan berhenti memukuliku tapi kau tak mempedulikannya."
"Ya tapi tidak begitu juga caranya." Tangis Grace semakin kencang. Niat hati ingin mengerjai gadis nakal ini tapi malah dia sendiri yang kerepotan.
Dia bingung harus menenangkan Grace dengan cara apa.
"Tunggu disini sebentar." pria itu beranjak keluar dari kamar dan kembali dengan sebatang coklat ditangannya.
"Sudah jangan menangis lagi." pintanya seraya memberikan coklat itu pada Grace.
Karena merasa lucu, Grace yang semula menangis langsung tertawa yang mana membuat pria itu kebingungan.
"Kenapa kau malah tertawa?"
Grace masih tertawa bahkan terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Saking asyiknya tertawa gadis itu sampai tersedak ludah sendiri.
Uhukk uhukk..
"Astaga, kenapa lagi?" pria itu berlari keluar untuk mengambil air minum. Tidak biasanya dia mau disusahkan seperti ini.
Grace merebut gelas itu dan menengguknya sampai habis. Sejenak tidak ada suara diantara mereka.
"Hei, kau waras kan?" tanya pria itu setelah Grace terlihat lebih tenang.
"Jadi kau pikir aku gila begitu?"
"Bagaimana aku tidak berpikiran seperti itu, kau menangis dan tertawa di waktu yang bersamaan."
"Itu karena kau lucu, kau membujukku seperti membujuk anak kecil."
Ah, jadi dia salah?
"Lupakan saja dan cepatlah pulang!"
"Cih, bukankah tadi kau melarangku pergi? Sudah mencuri ciumanku sekarang kau malah mengusirku. Dasar brengsek!"
"Untuk itu aku minta maaf. Tapi sekarang aku harus pergi bekerja."
"Ini kunci mobilmu, semalam aku meminta asistenku untuk membawanya kemari. Kau bisa mencarinya di basemen."
"Dan satu lagi, bar tidak pantas untuk anak kecil sepertimu. Jadi tahu diri lah."
Flashback off
Meskipun gayanya dingin tapi dari ucapannya terdapat sebuah perhatian. Grace memeluk sebatang coklat pemberiannya, setidaknya pria itu sudah menjaganya selama dia tidak sadarkan diri.
Lagi-lagi Grace merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu Jean dulu. Apakah akan terjadi kesalah pahaman perasaan yang selanjutnya?
"Gavi Williams." Grace menggumamkan namanya.
Grace meraba bibirnya, bibir yang menurutnya sudah tidak suci lagi, membayangkannya saja membuat pipi putih itu terlihat memerah karena malu.
lope u Thor