NovelToon NovelToon
NARSIH

NARSIH

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Thriller / Hantu / Iblis / Dendam Kesumat / Horor / Tamat
Popularitas:782.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023

Prequel dari Rumah di tengah Sawah.

Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.

Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pitu

Laki-laki dengan ikat kepala hitam lusuh itu berhenti. Raut wajahnya terlihat datar, tanpa ekspresi. Dia mengelus-elus tongkat yang bergambar kepala harimau.

"Untuk apa Njenengan datang kemari? Masuk rumah tanpa ijin," ucap Narsih dengan suara bergetar. Dia ketakutan, tapi tetap berusaha untuk tenang.

Ki Mangun menghela nafas, kemudian menoleh. Ekspresinya masih tetap sama. Terlihat datar dan dingin.

"Apakah semalam kamu ada di dalam rumah ini Nduk?" Ki Mangun balik bertanya. Narsih mengangguk perlahan.

"Berarti kamu melihat apa yang sudah dilakukan warga pada Ki Darso. Termasuk perbuatanku melumpuhkannya. Kamu pun mengenaliku mungkin dari Ki Darso. Dan kurasa kamu sudah mendengar pesan darinya, agar tidak dekat denganku. Bisa saja aku diceritakan sebagai sosok jahat tak berperi kemanusiaan. Sehingga saat melihatku, wajahmu tidak lagi mampu menyembunyikan rasa takut," cerca Ki Mangun.

Narsih ternganga. Semua tebakan Ki Mangun benar adanya. Apakah laki-laki tua itu asal menerka? Atau jangan-jangan memang bisa membaca isi hati Narsih? Perempuan itu memilin ujung bajunya, dan mundur selangkah karena merasakan takut yang kian menggerogoti nyali.

"Aku tidak akan menyakitimu Nduk. Dan sebenarnya aku juga tidak ada niatan untuk menyakiti siapapun. Hidup bermasyarakat itu memang tidak gampang. Ada norma, adat istiadat, pakem yang harus dipatuhi. Jika dalam kehidupanmu melanggar itu semua, pada akhirnya kamu akan diasingkan dan dianggap berbeda. Hal itulah yang terjadi pada Darso," ucap Ki Mangun. Suaranya lirih namun terdengar jelas dan mengintimidasi.

"Lalu orang yang dianggap berbeda harus diadili?" sergah Narsih cepat.

"Seperti rumput liar di tengah tanaman bunga yang indah. Harus dicabut," balas Ki Mangun.

"Dimana Darso sekarang?" tanya Narsih dengan nada suara yang semakin tinggi. Entah darimana dia mendapatkan keberanian untuk sedikit membentak laki-laki tua di hadapannya.

Ki Mangun diam saja. Mata sayu renta itu memandangi Narsih. Jari tangannya semakin erat menggenggam tongkat. Narsih menelan ludah. Timbul kekhawatiran di benaknya, bagaimana jika Ki Mangun marah? Tentu dukun itu akan mudah memantrai dan melumpuhkan Narsih.

"Tujuanku kemari hanya berkunjung. Tidak lebih dari itu," ucap Ki Mangun. Laki-laki sepuh itu tidak menjawab pertanyaan terakhir Narsih. Dia berbalik badan, dan pergi meninggalkan Narsih. Namun baru tiga langkah, Ki Mangun berhenti kembali.

"Jika kamu membutuhkan bantuan, apapun itu, silahkan datang ke rumahku," tukas Ki Mangun. Laki-laki tua itu melangkah kembali. Kini lebih cepat. Dalam sekejap saja, punggung yang sedikit bongkok termakan usia sudah hilang di pandangan Narsih.

Sedikit terhuyung, Narsih duduk di teras depan. Setelah bertemu langsung dengan Ki Mangun, Narsih merasa laki-laki tua itu bukan sosok yang jahat. Meskipun dia gemetar ketakutan karena aura Ki Mangun yang kuat, namun sorot mata sang dukun tidak menunjukkan kejahatan. Berbeda dengan cara memandang Darso kemarin, yang terasa seolah hendak menerkam Narsih.

"Apa yang dilakukan Ki Mangun di rumah ini?" gumam Narsih penasaran. Narsih jelas melihat Ki Mangun keluar dari dalam rumahnya.

Dengan tergesa-gesa Narsih pun berdiri dari duduknya dan segera mengayunkan langkah memasuki rumah. Dia memperhatikan dengan seksama setiap sudut ruang depan hingga dapur. Tidak ada sesuatu yang aneh. Letak barang-barang pun tidak ada yang berubah.

"Kamar?" ujar Narsih terlonjak. Perempuan itu segera menyingkap kelambu penutup bilik kamar Darso. Matanya kembali nyalang, mengamati. Dan sekali lagi, tidak ada yang terlihat berubah.

Narsih membuka laci, memeriksa kotak kecil yang pagi tadi dia simpan. Masih tetap utuh di tempatnya. Narsih bernafas lega. Namun saat kotak tersebut diangkat, Narsih merasakan keanehan. Kotak terasa lebih ringan. Ketika kotak itu dibuka, sarung keris yang tadi tersimpan di dalamnya telah raib.

Ki Mangun pasti telah mencuri sarung keris, begitu pikir Narsih. Meski dia belum tahu apa fungsi sarung keris itu, tapi kini Narsih meyakini jika sarung keris adalah benda yang sangat penting. Bagaimana dengan kerisnya? Dimana kerisnya? Semakin banyak pertanyaan di benak Narsih. Namun percuma, tidak ada yang bisa menjawab kecuali Darso.

Sementara itu di sudut desa, seorang laki-laki duduk termenung di teras depan rumahnya. Dia bernama Pono, anak Mbah Bayan satu-satunya. Matanya nyalang memandang langit biru dengan beberapa awan putih bersih yang bertumpuk. Bergerak perlahan tertiup sang bayu.

Datang seorang perempuan dengan rambut terurai basah. Sedikit ikal dan kusut. Perempuan itu hanya mengenakan tapih jarik cokelat dengan dadanya yang bulat menggantung. Cukup cantik dengan badan sintal dan kulit kuning langsat yang mulus. Perempuan itu bernama Darmini, istri Pono, menantu Mbah Bayan.

"Melamun terus Mas? Apa nggak sebaiknya kamu bekerja ke sawah atau ke ladang?" tanya Darmini.

"Cerewet!" sambung Pono setengah membentak.

"Bukan cerewet Mas. Tapi persediaan beras juga tinggal sedikit. Sejak kematian Bapak mertua, kita nggak ada pemasukan. Hasil ladang nggak jelas kemana. Aku kan butuh makan Mas. Mosok tiap hari mbok tumpak i tapi nggak mbok pakani," protes Darmini kesal. Bibirnya terlihat lancip sedikit merah merekah.

"Aku juga bingung. Biasanya kan Bapak yang ngurus sawah dan ladang. Bapak sudah nggak ada. Aku nggak ngerti gimana caranya ngurus tanaman," keluh Pono. Laki-laki itu memang terkenal dimanjakan oleh Bapaknya. Dari awal berdirinya desa, Bapaknya Pono memang terkenal cakap dalam bekerja dan bersosialisasi, hingga mendapat sebutan Mbah Bayan. Jauh berbeda dengan Pono.

Hingga akhirnya saat struktur organisasi desa Karang terbentuk, Mbah Bayan benar-benar terpilih sebagai Bayan. Sayangnya belum sempat menikmati bayaran sebagai seorang pimpinan dusun, Mbah Bayan mati secara mendadak.

"Gimana kalau kita jual ladang yang ada di lereng bukit?" usul Pono.

"Kalau begitu terus, semua tanah peninggalan Bapakmu habis kita jatuh melarat Mas," sanggah Darmini.

"Sial! Ini semua gara-gara Darso. Meskipun dia sudah mati, hidupku tetap berantakan. Darso harus bertanggungjawab. Aku akan usul pada sesepuh, agar tanah milik Darso bisa dialihkan padaku sebagai ganti rugi karena Darso sudah mengirim teluh pada Bapak hingga mati. Bukankah itu setimpal? Lagipula Darso tidak memiliki sanak saudara. Untuk apa tanah dan lahan miliknya?" Pono tersenyum. Kumis tipisnya sedikit terangkat.

"Benar juga Mas. Lahan Darso luas kan ya." Darmini bersorak girang.

"Pinter kan suamimu? Makanya jangan banyak protes. Kurangi cerewetmu itu," seloroh Pono. Darmini nyengir. Pono memandangi istrinya yang hanya terbalut selembar kain tipis.

"Apa? Kok memandangiku begitu?" protes Darmini.

"Ya sebagai upah ideku yang pinter, segera masuk rumah sana! Waktunya nggarap sawah. Lepas tapihmu, kita ulangi sekali lagi yang tadi pagi," perintah Pono.

"Mas, rambutku belum kering lho."

"Berisik. Mana bisa kutahan melihatmu begini," tukas Pono, mendaratkan cubitan di dada Darmini. Istrinya tersenyum manja.

Darmini segera berdiri dan berjalan melenggak-lenggok menggoda Pono. Dia masuk ke dalam rumah, kemudian disusul Pono dengan air liur yang mengucur. Mata laki-laki itu membulat buas, siap menerkam.

Bersambung___

1
saprida Oke
dari novel ini paling sakit itu narsih, dari awal hidup selalu di siksa karna kekurangannya, setelah di hidupkan kembali pun tetap sakit, karna hanya di manfaat kan laki² yg dia cintai dengan tulus yg cuma mikirin impiannya dengan menghancurkan cinta tulus narsih, ini bakal jadi salah satu novel yg berkesan selama aku baca novel
saprida Oke
kak novel mu bagus banget 😍
Alexander
terima kasih atas karyanya
Alexander
apakah kalau hasil perselingkuhan masih bisa disebut pewaris sah ?
Alexander
mungkin sri tidak punya kaca di rumahnya. makanya dia tidak bisa melihat keburukannya sendiri.
Alexander
kok tidak malu mengaku akan melahirkan trah ki mangun padahal tidak dinikahi oleh wira.
Alexander
kalau ada manusia berhati tulus, sugeng adalah salah satunya.
Alexander
berarti lahirnya dipaksakan ?
Alexander
gimana tidak menyasar sri sedangkan perselingkuhan itu terjadi karena kesadaran dua orang.
Alexander
sudah adakah kosakata 'anomali' di tahun segitu ? mungkin sudah tapi aku rasa tidak akan diucapkan selumrah sekarang.
Alexander
Ya Allah 😂
Alexander
manusia yang kelakuannya lebih buruk dari demit.
Alexander
belum bisa melakukan apapun, cuma bisa menghamili /Facepalm/
Alexander
kenapa malah narsih yang dibenci. padahal wira sendiri yang tidak berani mengambil sikap. dan sepertinya ki mangun memang tidak memaksa.
Alexander
mungkin ki darso tidak akan mengambil pusaka itu jika penduduk desa tidak mendiskriminasi dia.
Alexander
katimin si kuli pasar yang cerdas.
Alexander
Astaghfirullah ..
Alexander
kebohongan yang sangat kejam
Alexander
wira menghamili sri tanpa menikahinya lebih dulu ?
Alexander
narsih itu tidak tau apa2 menjadi korban dari keegoisan banyak orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!