Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kebebasan
Melihat kedatangan Arum dan Pram, Ana dan Sammy merasa cemas, karena sejak pergi dari kemaren sore, setelah bertemu Pram, sampai sekarang sekarang Gildan belum juga kembali. Ana meremas jari-jemarinya, memikirkan bagaimana jika Pram dan Arum menanyakan Gildan.
"Santai mah," ucap Sammy yang melihat kepanikan di wajah Ana, istrinya.
"Pagi An," sapa Arum.
"Pagi juga," sahut Ana sambil cipika-cipiki dengan Arum.( Cipika cipiki bahasa mudah dari maksud cium pipi kanan dan cium pipi kiri).
"Ada hal penting?" Tanya Sammy pada Pram.
"Masalah perusahaan," jawab Pram sambil memperlihatkan berkas yang dia bawa.
"Masalah perusahaan, ini sangat serius," seru Sammy.
Mereka semua berjalan ber iringan menuju ruang tamu, lalu duduk di posisi masing-masing.
"Mark kekeh, dia menerima hasil kerja keras Gildan, namun menolak memberikan posisi itu pada Gildan, aku sudah memohon pada pengusaha muda itu tadi malam." Pram memulai pembicaraan.
"Teruskan saja kerja sama itu, kamu sudah mengeluarkan banyak dana untuk proyek itu, masalah Gildan, kami akan berusaha membujuk Gildan, agar lebih bersabar lagi," seru Sammy.
"Gildan pasti akan memutuskan perjodohan ini, aku tidak sanggup melihat Ara patah hati karena gagal menikah dengan Gildan," ucap Pram.
"Gildan pasti akan menikah dengan Ara, Ara gadis yang sangat cantik, mana mampu laki-laki menolak Ara," ucap Ana.
"Aku mengambil keputusan, aku akan melepas semua proyek ini," ucap Pram sambil menyodorkan beberapa berkas. "Aku tidak mampu melihat kekecewaan Gildan, aku juga tidak mampu melihat kehancuran Ara, aku melepas perusahaanku." ucap Pram.
"Dengan berkorban seperti ini, aku harap Gildan bisa merelakan untuk berusaha mengikhlaskan mimpinya, kurasa masing-masing dari kita sedikit berkorban tidak mengapa, demi menjaga perasaan Gildan, juga demi perjodohan ini, jangankan satu perusahaan, seluruh asetku akan aku serahkan demi kebahagiaan Ara," ucap Pram lagi.
"Pram, tolong pikirkan lagi masak-masak, masalah perusahaan berkaitan dengan kehidupan banyak orang, ratusan pekerja menggantungkan nasib mereka," ucap Ana.
"Ana benar, sebaiknya pikirkan lagi, lagian tiga bulan lagi kan rencana proyek ini? Kita masih punya waktu untuk berpikir, barangkali Gildan rela melepas mimpinya demi Ara," seru Sammy.
Saat yang sama, Gildan berdiri mematung didekat mereka, hatinya langsung remuk mendengar perkataan orang tuanya.
"Nak Gildan?" Sapa Arum.
Gildan terkejut dengan sapaan Arum. "Tante, om, saya mau pamit dulu ya, tadi malam bantu teman mengerjakan proyek kecil-kecilan," seru Gildan.
"Istirahat saja nak, kamu sepertinya tidak tidur semalaman," seru Pram.
Gildan melempar senyum yang dia paksakan pada semua orang. Lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sedang kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Ara terus melanjutkan pembicaraan mereka.
Sesampai di kamarnya Gildan langsung masuk kamar mandi, Gildan menumpahkan rasa kekecewaannya berdiri di bawah guyuran air shower. "Kenapa mereka mengambil rancanganku jika tidak mau menerima aku," ringis Gildan. Hatinya sangat sakit. Gildan menghabiskan banyak waktu di kamar mandi. Menumpahkan semua rasa sakit dan kecewa, karena mimpinya yang tiba-tiba kandas. Guyuran air shower serasa menyentuh hatinya yang pilu.
Gildan keluar dari kamar mandi mengenakan baju santainya.
Tokkk tok tokkk
Suara ketukan pintu mengagetkannya. "Masuk saja, tidak di kunci," seru Gildan.
Terlihat kedua orangtuanya membuka pintu kamar dan masuk mendekatinya.
"Ada apa pah? Mah?" Tanya Gildan.
"Om Pram sudah berusaha semampu dia, tapi---"
"Aku tahu mah, perusahaan serikat menolak kerja sama dengan om Pram jika tidak mengganti posisiku dengan orang lain," seru Gildan memotong kata-kata Ana.
"Jika kamu bersedia meneruskan perjodohan ini, om Pram akan memutuskan kontrak kerja samanya, kami menunggu jawaban kamu, jika kamu besedia menikah dengan Ara setelah Ara lulus nanti, kami semua akan mengorbankan proyek itu demi dirimu, dalam situasi ini, kita semua sedikit berkorban tidak ada salahnya," ucap Sammy sayu.
Gildan mengukir senyum di wajahnya, tetapi hatinya sangat hancur. "Aku mau tidur pah, mah," ucap Gildan.
"Bagaimana jawaban kamu, jangan sampai Pram kehilangan semuanya, kehilangan perusahaan juga kehilangan sahabat, jika kamu---"
"Pah, beri waktu aku untuk berpikir," tukas Gildan.
Sammy dan Ana terpaksa keluar dari kamar putranya, tanpa mendapat jawaban dari Gildan.
Ponsel Gildan bergetar, terlihat nama pemanggil "Nesya" Gildan menggeser tombol warna hijau. "Iya Nes?" Sapa Gildan langsung.
"Aku mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi agar hal itu tidak terganggu, jika nantinya ada yang merebut atau mengganggu jalanmu, aku perlu waktu tiga bulan untuk mempersiapkan semua itu, aku janji, mimpi kamu akan terwujud, bahkan tanpa kendala dan gangguan dari pihak manapun, bagaimana?" Tanya Nesya.
"Aku sangat memimpikan hal itu, aku rela melakukan apa saja," jawab Gildan dingin.
"Bersabar beib," seru Nesya, Nesya langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Gildan setuju menunggu rencana Nesya.
***
Semenjak pertemuan Nesya dengan keluarga Mark malam itu, hubungan Nesya dan Mark semakin dekat. Mark merencanakan pernikahan megah untuk dia dan Nesya nanti. Nesya pasrah, tidak mungkin dia menolak, sedang dia sangat membutuhkan Mark untuk semua rencananya.
Demi rencananya, Nesya selalu berada di samping Mark. Bahkan Nesya sering datang ke kantor Mark, semata menemani Mark bekerja, namun jika Nesya datang, Mark tidak melanjutkan pekerjaannya, melainkan menghabiskan waktu bersama Nesya. Perlahan Nesya terus menjalankan rencananya secara halus.
Nesya masih duduk di pangkuan Mark. "Ada apa sayang? Kenapa wajahmu cembrut," lirih Mark, namun dia masih menciumi bagian leher Nesya.
"Kamu mengatur pernikahan terlalu cepat," rengek Nesya.
"Kita harus menikah, aku tidak mau melakukan ini selamanya tanpa ikatan," ucap Mark lirih. Namun dia tidak berhenti dari kegiatan semula.
"Sebelum menikah, aku ingin kepercayaan darimu, apa artinya hubungan tanpa kepercayaan?" Rengek Nesya.
"Kepercayaan apa yang kamu mau beib?" Mark merubah posisi Nesya menghadapnya.
"Aku ingin, semua perusahaan papaku tidak dalam cengkramanmu, juga tidak dalam kendali kekuasaanmu, aku ingin mengabdi padamu semata karena rasa cintaku padamu, bukan karena rasa takutku akan ancamanmu. Andai suatu saat kamu tidak percaya lagi padaku, bukan karena rasa takut aku berada disisi kamu. Aku ingin bersama kamu semata perasaan cinta, bukan takut akan …." Nesya mencium lembut bibir Mark.
Mark tersenyum. "Kamu ingin kebebasan untuk seluruh perusahaan papamu?" Tanya Mark.
"Bukan cuma itu, selamanya kamu tidak boleh mengancam, menyentuh atau sejenisnya, secara tertulis," Nesya ber alih meciumi sisi telinga Mark.
"Kenapa hanya itu yang kamu minta?" Mark menahan wajah Nesya dengan kedua telapak tangannya.
"Apalagi yang aku minta selain kebebasan, aku ingin bebas mencintai kamu dengan tulus, tanpa belenggu rasa takut," ucap Nesya lembut.
"Kamu tidak meminta hal yang lain?"
"Mendapatkan cintamu serasa aku memiliki seluruh cinta yang ada di muka bumi ini, apalagi? Aku cukup mendapatkan cintamu dan dicintaimu," ucap Nesya.
Mark tersenyum lebar, dia langsung menerkam bibir yang manis itu dengan buas.
"Selamat si---" Abi menutup kembali pintu ruangan kerja Mark, saat melihat pemandangan yang mengiris jiwa jomblonya.
Mark melepas ciumannya pada Nesya. "Abi!!!" Teriak Mark.
Abi kembali membuka pintu tersebut, karena mendengar suara samar Mark memanggilnya. "Iya Tuan muda," jawab Abi sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Urus beberapa surat, kalau perusahaan kita tidak akan mengangganggu atau menyentuh semua perusahaan papa Nesya, apapapun alasannya," perintah Mark.
"Tuan muda, sarapan apa anda pagi ini, mengapa anda sekarang jadi idiot, bagaimana anda mengikat perempuan jal*ng ini jika anda membebaskan semua perusahaan orang tuanya," lirih hati Abi.
"Abi! Kerjakan! Jangan melamun kamu!" Bentak Mark.
Abi tersentak dari lamunannya. "Iya Tuan muda," jawab Abi, dia langsung undur diri mengurus semua permintaan Mark.
"Beib, aku juga boleh minta sesuatu? Aku ingin perusahaan papa yang menjalankan proyek Gedung yang akan di bagun di luar kota itu, tapi Arsiteknya, dia bekerja dari luar negri, dia hanya memberi arahan via telepon bagaimana?" Pinta Nesya sambil mendekatkan wajahnya pada Mark.
"Jangankan hal kecil itu, semuanya aku berikan buat mu," Mark berdiri, lalu menggendong Nesya masuk kedalam kamar pribadinya.
Entah kenapa Mark begitu tergila-gila dengan Nesya. Mata Mark tertutup oleh rasa cintanya, sehingga baginya Nesya begitu sempurna.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark