NovelToon NovelToon
Pengorbanan Nayara

Pengorbanan Nayara

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Angst / Tamat
Popularitas:118.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: Lalalati

Novel ketiga🍂

Akhirnya Nayara siuman setelah ia mengalami koma pasca melahirkan. Sebagai suami, Deon tentu merasa sangat lega dan bahagia, istri tercintanya telah sadarkan diri dan bisa kembali bertemu dengannya dan juga putranya yang baru saja lahir.

Namun bagi Nayara terbangun dari koma, seperti kembali menghadapi mimpi buruk. Meskipun ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan buah hatinya, tapi ia harus kembali menerima kenyataan bahwa ia terpaksa menerima kakak tirinya sendiri sebagai suaminya dan memutuskan hubungannya bersama Giandra, pria yang dicintainya sekaligus ayah kandung dari putra yang baru dilahirkannya.

Giandra dikenal sebagai satu-satunya atlet Basket yang dimiliki Indonesia yang berhasil tembus bermain di NBA dan dikontrak oleh klub ternama.

Siapakah Giandra di masa lalu? Akankah Giandra mengetahui tentang putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kegigihan Gian

Aku tak sengaja bertemu dengan kakak tingkatku, Mbak Dea, saat aku pergi ke sebuah toko buku hari itu. Kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan kami sambil menyesap kopi di sebuah kafe tak jauh dari toko buku itu.

"Udah sini masukin aja lamarannya ke sekolah tempat aku ngajar, Nay," ajak Mbak Dea sambil menyendok sepotong red velvet cake ke mulutnya.

"Enggak deh, Mbak. Makasih. Aku cari sekolah lain aja," tolakku.

"Loh, kenapa? Tadi kamu kayak yang excited banget pas aku bilang di sekolahku ada lowongan. Dijamin kamu diterima langsung, Nay. Orang kamu kan lulus dengan predikat cum laude. Aku juga udah tahu banget cara ngajar kamu kayak gimana," bujuknya.

"Enggak apa-apa, Mbak. Kirain Mbak Dea masih di SMAN 48. Kalau Mbak Dea masih di sana aku mau. Lagian aku juga emang udah masukin lamaran ke sana. Tapi ternyata Mbak Dea sekarang ngajar di SMA Nusa. Nggak deh kalau di sana, Mbak." Aku menggelengkan kepalaku dengan pasti.

Jelas aku menolaknya tanpa pikir panjang. SMA Nusa adalah sekolah di mana Gian bersekolah.

"Ih kamu malah mau ngajar di sekolah negeri. Gajinya kecil, Nay. Makanya Mbak pindah ke SMA Nusa karena di sana gajinya lumayan. Lebih dari UMR. Belum lagi ada tunjangan-tunjangan lainnya. Kamu tahu sendiri 'kan SMA Nusa itu sekolah yang punya gengsi. Orang-orang tajir di Bandung pada masukin anak-anaknya ke SMA Nusa. Ayo, kamu mikir apa lagi sih." Mbak Dea bersih kukuh.

Mau gajinya berapa pun jika di sekolah itu ada Gian, aku tak akan pernah menerima tawaran itu.

Perdebatan itu terus berlanjut. Hingga akhirnya Mbak Dea menyerah untuk membujukku dan kami memutuskan untuk pulang.

Siang menjelang sore aku tiba di rumahku. Seperti biasa aku langsung memarkirkan motor matic-ku ke dalam garasi. Saat aku menghampiri gerbang untuk menguncinya, sebuah mobil mazda merah melaju dan berhenti di depan rumahku.

Gian keluar dari mobil itu dengan terburu saat melihatku ada di depan rumah. Ia masih menggunakan seragam SMA nya. Melihatnya dengan pakaian itu semakin membuatku tidak mungkin memberikan celah lagi padanya.

Setelah tadi malam aku tak menggubrisnya dan membuatnya berdiam diri di depan rumahku hingga jam 11 malam, kini ia kembali ke sini.

Jujur aku terperangah dengan kegigihannya.

Aku mundur beberapa langkah dari gerbang yang sudah aku kunci. Gian berdiri di depan pagar rumahku.

Ku lipat tanganku di depan dada. "Mau apa lagi?" tanyaku ketus.

"Aku mau minta maaf."

Seketika dahiku mengerut.

"Aku minta maaf karena udah dengan seenaknya bilang Kak Naya pacarku. Aku akan minta baik-baik sama Kak Naya. Kasih aku kesempatan buat deketin Kak Naya. Kita ngedate beberapa kali. Selama itu Kak Naya bisa memastikan perasaaan Kak Naya sama aku. Setelah itu baru aku akan nembak Kak Naya."

Aku mengerlingkan mataku. "Mau kamu bilang saya pacar kamu dengan seenaknya, mau kamu bilang dengan baik-baik, atau kamu ngajak saya ngedate berapa kali pun, saya akan tetap nolak kamu, Gian."

Gian terdiam sejenak. "Kenapa? Kak Naya suka 'kan sama aku?" Kedua matanya tajam menelisikku.

Aku menggeleng. "Enggak. Saya gak pernah suka sama kamu," ucapku yakin.

Sedikit ada rasa syok di wajah dinginnya, "Terus... Kenapa Kak Naya mau aku cium selama ini?"

"Karena kamu maksa. Bagi saya ciuman-ciuman itu gak ada artinya. Tapi kemudian saya tahu, ternyata saya bisa memanfaatkannya. Saya selalu ngelihat kamu bisa saya kendalikan setelah saya ngebiarin kamu nyium saya. Kamu lebih konsentrasi, dan akhirnya nilai kamu beneran meningkat 'kan?" ujarku tanpa rasa bersalah.

Padahal...

Jika tidak ada pagar di depanku, tidak tahu apakah aku masih bisa berpikir jernih atau tidak. Mungkin kalau tidak Gian yang menyerang ku terlebih dahulu, aku yang akan menyerangnya. Sejak melihat sosoknya keluar dari mobil merahnya, tubuhku langsung saja bereaksi. Meremang. Kilasan-kilasan saat bibirnya ada di bibirku langsung bermunculan, membuat kupu-kupu itu beterbangan lagi di dalam perutku.

Iya, secandu itu Gian bagiku.

Maka dari itu, Gian harus segera aku singkirkan. Aku sengaja mengatakan kata-kata jahat itu padanya. Semoga ia akan menyerah dan berhenti mendatangiku seperti ini.

Gian menyapukan rambut hitamnya seraya menjilat bibir bawahnya, kemudian tertawa getir.

Tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku hanya bisa terdiam mengontrol ekspresiku, meredakan degup jantungku yang menggila saat melihatnya menjilat bibir bawahnya.

Gian melihat ke arahku. "Kak Naya kira itu akan ngubah pemikiran aku? Pikiran aku mungkin aja berubah. Kata-kata Kakak barusan udah bikin aku merasa bodoh. Tapi perasaan aku enggak. Rasa aku gak bisa pergi. Aku terlanjur suka sama Kak Naya."

Gian maju dan kedua tangannya memegang tiang-tiang kecil di pagar rumahku. "Kalau bener Kak Naya memang gak ada rasa sama aku kemarin-kemarin, aku akan mulai dari sekarang bikin Kak Naya suka sama aku," ucapnya dengan sangat yakin.

Ya ampun, bisa tidak ya Gian tidak bersikap selugas itu, sekali saja.

Aku menghela nafasku dalam-dalam. "Kalau gitu, semoga kamu berhasil."

Segera aku masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya lagi seperti kemarin. Ku tutup pintu rumah dan melakukan hal seperti biasa.

Tak banyak yang bisa aku lakukan di rumah setelah wisudaku. Hanya membuka laptopku, mengecek email, melihat apakah ada panggilan dari lamaran-lamaran yang aku masukan atau tidak.

Dan sampai detik ini masih belum ada.

Aku pun mengecek ponselku yang sengaja aku silent dan aku matikan juga getarnya sejak Gian selalu saja meneleponku. Ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Gian. Karena penasaran aku melihat ke luar jendela.

Gian sudah tidak ada, tapi mobilnya masih di sana. Tak lama layar ponselku menyala, dan melihat nama Gian di sana.

Segera aku mematikannya. Ku buka kontak Gian dan memblokirnya. Setelah itu aku melihat mobil merah itu melaju meninggalkan rumahku.

Keesokan harinya pun sama. Ia datang setelah langit gelap. Ia menggunakan pakaian basketnya dibalik jaket varsitynya. Sepertinya ia baru saja selesai latihan. Ia menengok rumahku, seperti ingin melihat apakah aku ada di rumah atau tidak.

Tak lama ia menekan bel. Aku pun terdiam mencoba tidak membuat suara apa pun.

Hari berikutnya pun sama. Ia selalu datang ke rumahku saat sore hari atau malam hari. Ia menyalakan bel, terdiam sejenak menatap rumahku, dan kemudian pergi.

Jujur aku jadi tidak leluasa. Khawatir sekali jika bertemu dengannya. Maka dari itu saat ada sesuatu di mana aku harus keluar rumah aku akan keluar pada pagi hingga siang hari. Siang menjelang sore hingga malam aku akan berdiam diri di rumah.

Hingga setelah seminggu, di sore hari, Bu Kirana meneleponku. Aku kira itu Gian yang menghubungiku melalui ponsel ibunya, tapi ternyata setelah aku mengabaikan satu panggilannya, Bu Kirana mengirimkan chat padaku dan mengatakan ingin mengatakan sesuatu yang penting.

"Maaf ya kalau saya ganggu, Nay," ujar Bu Kirana pada sambungan telepon.

"Gak ganggu sama sekali, Bu. Ada apa ya, Bu?"

"Saya cuma pengen tahu kamu itu ngajar di mana sekarang?"

Seketika aku terdiam. "Saya... Gak jadi bu ngajar di sana. Karena ada satu dan lain hal, membuat saya membatalkan tawaran kerja di sekolah itu," dustaku.

"Oh gitu ya?" Bu Kirana sepertinya senang sekali.

"Ya sudah, kalau begitu kamu tunggu kabar baik dari saya ya." Kemudian telepon mati begitu saja.

Ada apa sih dengan Bu Kirana? Tidak jelas sekali.

Tiba-tiba saja aku mendengar suara mobil tua yang khas. Seketika aku berlari kecil ke luar rumah dan mendapati mobil avanza tua milik ayahku di depan pagar rumah. Segera saja aku membukakan pintu gerbang.

"Nay," sapa ayahku saat turun dari mobil. Aku pun meraih tangannya dan menciumnya.

"Sini biar sama aku aja, Pah." Aku mengambil alih tas ransel milik ayahku yang diambilnya dari jok penumpang.

"Berat ini," ucap Ayahku.

"Gak apa-apa. Segini mah gak berat, Pah," ucapku semangat. Ayahku mengusak rambutku perlahan.

Aku rindu sekali ayahku. Terakhir bertemu saat aku wisuda, setelah itu ia belum pulang lagi kemari.

"Selamat sore."

Sontak aku dan ayahku menoleh ke arah sumber suara. Aku menoleh ke arah ayahku yang kebingungan melihat seorang siswa SMA masuk ke dalam halaman rumah kami.

Sial! Aku lupa dengan Gian.

1
justFlio
👍👍👍👍👍👍
lalalati: makasih bintang limanya kak😍
total 1 replies
Dedeh Dian
pokoknya AQ seneng banget ceritanya..bagus keren banget.. makasih author
lalalati: makasih banyak kakak bintang limanya 😍
total 1 replies
Dedeh Dian
wow ajaib cerita nya super keren... makasih author
Siti Nina
Slalu keren ceritanya sukses selalu buat kak lala 👍💪
Siti Nina
Si naya keras kepala banget sih jadi orang gedek banget 😏
Siti Nina
Good job gian 👍
Siti Nina
mewek aku bacanya 😭😭😭
Siti Nina
pen nonjok tuh muka si dion 👊
Siti Nina
wo'oo kamu ketauan lagi pacaran 😄
Siti Nina
Selalu oke ceritanya 👍👍👍
Atikah'na Anggit
Luar biasa
lalalati: makasih kak bintang limanya 🤩
total 1 replies
Nurina Ningrum
Lumayan
Nurina Ningrum
Kecewa
Nur Azizah
sikap nay sangat menyebalkan
Nur Azizah
segerakan di persatukannya andra bersama Gian dan ibunya kak author
kasihan andranyaa
Nur Azizah
sikapnya nayara jd nyebelin gitu si kak aithor sok jual mahal bngt ,,
Nur Azizah
iya karna ikatan bathin seorang anak dan ayah kandung pasti terasa
Nur Azizah
semoga kamu berjodoh sama Gian naraya agar merasakan kebahagiaan yg utuh atas pengorbananmu
Nur Azizah
pertemukan kembali Nayara sama gian dlm satu keluarga yg utuh kak author
Nur Azizah
maaf baru komen kak authorr saking asyik baca ceeitanya yg sngt bagus inii lanjutiinnn kakak autthoorrr
lalalati: makasih kak. jangan lupa like dan ulasannya ya kak. biar bintangnya naik 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!