bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
experimental object
Apa yang harus dilakukan sekarang?
.
.
.
.
Mikey berjalan santai bersama Draken menyusuri jalanan kota.
Sudah lebih dari dua minggu sejak terakhir kali mereka melihat Takemichi maupun Izana.
Biasanya jika keduanya sedang keluar, setidaknya akan ada seseorang yang melihat mereka berjalan bersama atau mampir ke suatu tempat. Namun kali ini benar-benar tidak ada kabar apa pun.
Menurut Mikey, keadaan itu terasa sangat aneh.
"Menurutmu ke mana Takemichi dan Izana pergi?" tanya Mikey.
"Kenapa mereka berdua tidak pernah terlihat lagi?"
Draken menghela napas.
"Entahlah."
"Aku juga bingung."
"Bahkan anak-anak Tenjiku sekarang jauh lebih waspada daripada biasanya."
Mikey mengangguk pelan.
"Kau benar, Kenchin."
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Bagaimana kalau kita ke apartemen Tenjiku?"
"Perasaanku tidak enak."
Draken meliriknya sebentar.
"Ah, boleh juga."
"Ayo."
...⚪⚪⚪...
Sesampainya di apartemen Tenjiku, Mikey langsung menekan bel.
Tak lama kemudian, seseorang datang membukakan pintu.
"Ada apa kalian kemari?"
Rindou menatap mereka dengan malas.
"Aku ingin bertemu Izana dan Takemichi."
Mikey langsung menjawab.
"Mereka kenapa?"
"Mereka tidak boleh diganggu."
Rindou menjawab ketus.
"Kami juga sedang sibuk."
"Ada apa ribut-ribut?"
Suara lain terdengar dari belakang.
Ran keluar sambil memasukkan tangannya ke saku.
"Ah, Nii-chan."
Rindou menoleh.
"Mereka ingin bertemu Izana dan Takemichi."
Ran terdiam sesaat.
Kemudian ia menghela napas.
"Biarkan mereka masuk."
"Rin, antar mereka ke ruangan Izana."
"...Baik."
...⚪⚪⚪...
Tak lama kemudian, Mikey dan Draken memasuki sebuah ruangan.
Begitu pintu terbuka, keduanya langsung terdiam.
Izana sedang duduk di kursi dekat jendela.
Kakinya disilangkan.
Tatapannya kosong.
Matanya hanya tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding.
Foto dirinya bersama Takemichi.
Mikey tidak pernah melihat Izana seperti ini sebelumnya.
Selama Takemichi berada di sisinya, Izana selalu terlihat lebih hidup.
Lebih sering tersenyum.
Lebih sering marah karena hal-hal sepele.
Lebih sering menjahili Takemichi.
Bahkan demi Takemichi, Izana rela menahan ambisi dan dendam yang selama ini ia pendam.
Takemichi telah menjadi seseorang yang sangat berharga baginya.
Bukan hanya teman.
Tetapi juga keluarga.
Seseorang yang diam-diam telah mengisi kekosongan dalam hidupnya.
"Izana..."
Mikey memanggilnya pelan.
Izana tidak langsung menoleh.
"Ada apa kau kemari?"
Masuklah."
Nada suaranya terdengar dingin.
Namun setidaknya ia masih mempersilakan mereka masuk.
Mikey duduk di hadapannya.
"Ada apa denganmu, Izana?"
"Kenapa kau jadi seperti ini?"
"Katakan padaku jika kau butuh bantuan."
Izana masih menatap foto itu.
"Kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini."
"Jadi jangan ikut campur."
Mikey terdiam sejenak.
"Izana..."
"Kau saudaraku, bukan?"
Tatapan Mikey melembut.
"Tidak ada salahnya jika kau bercerita padaku."
Mendengar itu, bahu Izana sedikit bergetar.
Namun beberapa detik kemudian—
"LEBIH BAIK KALIAN JANGAN TERLIBAT DALAM MASALAHKU!!"
BRAK!
Izana berdiri dengan emosi.
Tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Napasnya mulai tidak teratur.
"Izana!"
Mikey langsung menghampirinya.
"Cukup!"
"Ada aku di sini!"
"Ada kami semua di sini!"
Tanpa ragu, Mikey memeluk Izana.
Kepala Izana ditekan perlahan ke dadanya.
Mikey bisa merasakan tubuh kakaknya gemetar.
Dan akhirnya...
Pertahanan Izana runtuh.
"Aaargh..."
"Hiks..."
Air mata mulai jatuh.
"Ini semua salahku..."
"Hiks..."
"Semuanya salahku..."
Suara Izana bergetar hebat.
"Kalau Takemichi tidak terlibat dalam masalahku..."
"Dia tidak akan diculik..."
"Hiks..."
"Bahkan sekarang aku mulai takut..."
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Izana menangis tanpa menahan diri.
Ia meraung seperti seseorang yang kehilangan segalanya.
Mikey hanya memeluknya lebih erat.
Tanpa mengatakan apa pun.
Di balik pintu, beberapa anggota Tenjiku yang menguping hanya bisa terdiam.
Mereka ikut merasakan kesedihan yang selama ini dipendam Izana.
Karena mereka tahu.
Sejak Takemichi menghilang, keadaan Izana terus memburuk.
Ia bahkan tidak boleh dibiarkan sendirian.
Gelang pelacak di tangannya membuatnya selalu berada dalam bahaya.
Setiap saat.
Setiap waktu.
...⚪⚪⚪...
Setelah cukup lama menangis, Izana akhirnya tertidur di pelukan Mikey.
Ruangan pun menjadi sunyi.
Hanya suara napas pelan Izana yang terdengar.
Kakucho kemudian menghampiri Mikey.
Mereka mulai membicarakan semua yang terjadi.
Tentang serum.
Tentang ilmuwan yang menjadikan manusia sebagai bahan percobaan.
Tentang penculikan Takemichi.
Dan tentang gelang pelacak yang kini masih melekat di tangan Izana.
Semakin banyak Mikey mendengar, semakin sulit ia mempercayainya.
"Jadi..."
Mikey menatap Kakucho.
"Selama ini ada ilmuwan gila yang menjadikan mereka objek percobaan?"
Kakucho mengangguk.
"Itulah kenyataannya."
"Gelang itu adalah tanda."
"Bahwa Izana adalah target berikutnya."
Mikey menggertakkan giginya.
Rasa bersalah kembali menghantamnya.
"Kakucho."
"Ya?"
"Kau bilang Takemichi pernah menunjukkan foto dokter itu padaku?"
"Benar."
Kakucho mengangguk.
"Waktu itu Hanagaki sempat memperlihatkannya."
Mata Mikey langsung menyipit.
"Kalau begitu aku ingat."
Ia mengepalkan tangannya.
"Baik."
"Aku akan membantu kalian."
"Aku akan membawa Takemichi kembali."
Nada suaranya penuh tekad.
Dan kali ini, Mikey benar-benar serius.
...⚪⚪⚪...
Di tempat lain...
Satu bulan kemudian.
Seorang gadis terbaring di atas ranjang laboratorium.
Tubuhnya tampak sangat lemah.
Kedua tangan dan kakinya diikat agar tidak bergerak.
Ruangan itu dipenuhi berbagai alat medis dan monitor yang terus berbunyi pelan.
Tatapannya kosong.
Hanya menatap langit-langit putih di atasnya.
Sesekali seseorang datang menyuntikkan cairan ke tubuhnya.
Bekas suntikan terlihat di lengan, kaki, bahkan lehernya.
Namun wajah gadis itu nyaris tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Apakah sakit?"
tanya salah satu peneliti.
Gadis itu menjawab dengan suara pelan.
"Tidak."
"Tubuhku sudah mati rasa."
Jawaban itu membuat beberapa peneliti saling berpandangan.
Gadis itu adalah Takemichi.
Kini penampilannya telah banyak berubah akibat berbagai percobaan yang dilakukan pada tubuhnya.
"Apakah semuanya sudah selesai?"
Salah satu dokter memperhatikan data di monitornya.
"Matanya sangat indah."
"Mata biru itu sangat cocok."
"Dia benar-benar terlihat seperti malaikat."
Dokter lain mengangguk setuju.
"Benar."
"Hanya saja rambutnya masih hitam saat memanjang."
"Kita harus segera menyelesaikan serum untuk mengubah warnanya menjadi emas."
Beberapa peneliti mulai mencatat perkembangan terbaru.
Mereka memperlakukan Takemichi seperti sebuah proyek penelitian.
Bukan manusia.
"Kudengar percobaan pertama sudah memasuki ruang eksperimen."
Salah satu dokter membuka data baru.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu kita bisa mulai membandingkan hasil keduanya."
Mata Takemichi langsung membelalak.
Percobaan pertama?
Jangan-jangan...
Izana?
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Tidak.
Tidak mungkin.
Izana masih bersama Tenjiku.
Masih ada Kakucho.
Masih ada Ran dan Rindou.
Masih ada semua orang yang melindunginya.
Namun suara para dokter berikutnya menghancurkan harapan itu.
"Kudengar Dokter Abel berhasil mendapatkan gadis itu."
"Bahkan dia jauh lebih sulit ditangani daripada gadis yang ini."
Takemichi membeku.
Tubuhnya langsung terasa dingin.
"Izana..."
gumamnya dalam hati.
"Kalau begitu cepat selesaikan pekerjaan di sini."
"Kita harus segera memulai observasi terhadap subjek pertama juga."
"Benar."
"Dokter Abel pasti ingin melihat hasilnya secepat mungkin."
Takemichi menggigit bibirnya.
Rasa takut perlahan berubah menjadi rasa bersalah.
Jika Izana benar-benar tertangkap...
Maka semua orang yang telah melindunginya selama ini juga berada dalam bahaya.
Sementara itu, para dokter masih sibuk berbicara.
"Cepat letakkan dia di sana."
"Jangan lupa nyalakan mesinnya."
"Kita harus memastikan kondisinya tetap stabil."
"Dan setelah itu..."
"Kita lanjutkan tahap berikutnya."
Suara mesin mulai berdengung.
Monitor-monitor kembali menyala.
Sedangkan Takemichi hanya bisa menatap langit-langit putih di atasnya.
Untuk pertama kalinya dalam satu bulan terakhir...
Ia benar-benar merasa putus asa.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak