Ella adalah seorang gadis yang pernah mengalami perundungan semasa SMA. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk pindah ke kota lain, dan mengganti nama serta penampilannya demi mengubur masa lalunya.
Akan tetapi, nasib membawanya bertemu dengan orang-orang yang pernah merundungnya. Salah satunya adalah Nico, yang kemudian menjadi CEOnya.
Berbagai cara dan kebohongan telah Ella lakukan, agar Nico tidak mengetahui identitasnya. Ia juga berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun semua yang dilakukannya, malahan menimbulkan masalah baru.
"Sudah berkali-kali kukatakan kepadamu, untuk berterus terang saja pada Nico. Lihatlah apa yang terjadi sekarang? Kamu malahan menyeret dirimu dan orang lain ke dalam masalah!" bentak Vita, sahabatnya.
Akhirnya Ella pasrah akan nasibnya. Dan kebersamaannya dengan Nico membuat Ella sadar, bahwa selama ini ia telah salah menilai pria itu.
Bagaimanakah kelanjutan hubungan mereka? Mari kita ikuti kisah mereka, dalam My Enemy, My CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiko Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Perjumpaan dengan Vita
Ella sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat apakah Vita sudah pergi. Ternyata Vita malah semakin mendekatinya. Ia buru-buru mengangkat mangkok nasinya sampai ke wajah, agar sahabatnya itu tidak dapat melihatnya.
Namun Vita yang sudah terlanjur mengenali Ella, malahan langsung menyapa Ella.
"Hai Ni ...," kata-kata Vita terputus, karena ia melihat Nico bersama dengan Ella.
"Hai Nico, apa kabar?" Vita buru-buru meralat kata-katanya.
Ella langsung merasa lega. Walaupun Vita sedang marah padanya, ternyata ia tidak membongkar identitasnya di hadapan Nico.
Nico menoleh ke arah Vita. Ia tersenyum dan berkata, "Oh, hai Vita. Kabarku baik."
Kemudian Nico mempersilahkan Vita untuk duduk di sebelah Ella.
Vita merasa kikuk, lalu duduk dan menyapa Ella, "Hai Ella."
Nico dan Ella sama-sama terkejut dengan kata-kata Vita barusan. Lalu Nico bertanya, "Kalian saling mengenal?"
Baik Vita maupun Ella sama-sama panik. Mereka berdua berpandangan selama beberapa detik. Akhirnya Vita terpaksa berbohong untuk menyelamatkan Ella dari kesalahan bicaranya, "Iya, kami saling mengenal. Ella adalah sepupu Nia."
Nico dan Ella sama-sama terbelalak dengan jawaban Vita. Nico bertanya kepada Ella, "Kenapa kamu tidak berkata padaku sebelumnya, kalau kamu adalah sepupu Kurnia?"
Ella memutar otaknya dan menjawab, "Dari tadi Anda menyebutnya Kurnia. Dan di keluarga kami, saya mengenalnya sebagai Nia, bukan Kurnia. Jadi kukira mereka adalah dua orang yang berbeda."
Nico mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasa penasarannya terjawab sudah. Rupanya Ella adalah sepupu Kurnia, pantas saja mereka memiliki wajah yang mirip. Ia juga memaklumi apabila Ella kurang mengenal Kurnia dari foto. Karena di foto yang ia tunjukkan, wajah Kurnia penuh dengan coretan.
"Wajah Ella mirip ya dengan Kurnia?" tanya Nico yang menginginkan persetujuan dari Vita.
Ella membatin, "Jangan sampai kamu menunjukkan fotoku yang sedang tidur kepada Vita. Sudah cukup kamu mempermalukanku hari ini!"
Tapi ternyata Nico tidak menunjukkan foto perbandingan keduanya. Vita menjawab pertanyaan Nico dengan berkata, kalau mereka bersaudara, jadi wajah mereka pasti ada kemiripan.
Kemudian Nico mentraktir Vita untuk makan bersama mereka. Saat menunggu makanan Vita datang, Nico meminta izin untuk menelepon ayahnya. Lalu ia berbincang dengan ayahnya di parkiran kafe. Nico sengaja menjauh, karena merasa tidak enak apabila percakapannya didengar oleh Vita.
Melihat kondisi tampak aman, Ella berkata kepada Vita, "Terima kasih ya, Vit."
Vita menganggukkan kepalanya. "Iya sama-sama. Tadi aku bodoh sekali. Bisa-bisanya aku keceplosan memanggilmu Ella."
"Awalnya kupikir, kamu akan membongkar rahasiaku pada Nico," kata Ella.
Vita menghela nafasnya dan berkata, "Aku tidak tega, Nia." Lalu ia melanjutkan, "Aku memang tidak setuju dengan kebohonganmu. Tapi aku juga perlu mempertimbangkan faktor lain. Aku tahu betapa sulitnya kamu mendapatkan pekerjaan. Jadi aku tidak ingin kamu mendapat masalah untuk sementara ini."
Ella merasa terharu dengan perkataan Vita. Kemudian ia memeluknya. Sahabatnya itu memang benar-benar memahaminya.
Vita berkata, "Biarlah kamu sendiri yang mengungkap kebenaran itu ke Nico."
Ella menganggukkan kepalanya. Lalu Vita melanjutkan, "Bekerjalah dengan baik. Setelah itu, carilah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Nico. Sebisa mungkin, kamu harus segera mengatakannya. Jangan sampai Nico tahu lebih dahulu kebenarannya dari orang lain."
Ella kembali mengangguk. Mereka berdua berpelukan lagi. Pertengkaran keduanya pun akhirnya mencair. Baik Ella maupun Vita merasa senang, karena mereka akhirnya bisa berbaikan.
Kemudian Vita melihat Nico yang sedang sibuk menelepon. Ia berusaha menenangkan suasana dengan berujar, "Nia, sekarang Nico tambah ganteng saja ya."
Ella melepas pelukannya dari Vita. Ia melirik ke arahnya. Sahabatnya itu memang mudah tertarik dengan laki-laki tampan.
"Apakah Nico sudah punya pacar?" tanya Vita.
Ella menatap wajah Vita. Selama ini hubungannya dengan Nico sebatas atasan dan bawahan saja. Ella tidak tahu tentang kehidupan pribadi Nico.
"Mana aku tahu," jawab Ella singkat.
Vita cepat-cepat berkata, "Jangan salah paham dulu Nia. Aku tidak berniat menjadikan Nico sebagai target kok."
Lalu ia menggoda Ella, "Apa jantungmu tidak terasa berdebar-debar saat berduaan dengan pria setampan itu?"
Ella terkejut dengan pertanyaan Vita, ia membatin, "Hah naksir dengan Nico, begitu? Aku saja selama ini selalu berusaha menghindarinya. Namun entah kenapa selalu saja bisa bertemu dengannya."
Ia menjawab pertanyaan Vita dengan jengkel, "Iya benar, berdebar-debar. Berdebar karena khawatir ia tahu identitasku. Berdebar karena Nico suka sekali menyuruhku secara mendadak. Berdebar karena takut Nico marah-marah."
Vita tertawa dan bertanya, "Kenapa sekarang kamu bisa makan siang berdua dengannya?"
"Aku sekertaris pribadi Nico," kata Ella.
Vita menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena tidak percaya. Sejak mereka bertengkar, ada banyak kejadian yang belum sempat Ella ceritakan pada Vita.
"Wah luar biasa Nia. Kamu benar-benar mengalami lompatan karir!" serunya.
Ella cemberut seraya mengaduk-aduk tehnya yang sudah menjadi dingin. "Lompatan karir apanya? Justru aku merasa diumpankan."
Kemudian ia menyeruput tehnya dan berkata, "Sebelumnya sudah lima sekertaris yang mengundurkan diri. Bayangkan saja, dalam tiga bulan, ada lima kali pergantian sekertaris! Dan sepertinya bagian HRD sudah bosan untuk terus menerus mencari kandidat. Sehingga akhirnya aku yang diajukan."
Vita tercengang mendengar cerita Ella. Lalu ia menghitung-hitung berapa lama Ella sudah menjadi sekertaris.
"Jadi saat ini, kamu adalah sekertaris terlama Nico?"
Ella mengangguk. Kemudian Vita menebak, "Dan kamu tetap bertahan menjadi sekertaris, karena kamu masih belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain?"
Ella kembali mengangguk. Vita lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memikirkan kata-kata yang pas untuk menghibur Ella.
"Setidaknya, kamu sejauh ini masih bisa bertahan ...," kata Vita hati-hati. "Bayangkan, dari enam sekertaris, hanya kamu yang sanggup bekerja paling lama."
Ella tersenyum. "Tidak perlu menghiburku Vita. Aku juga sudah mulai terbiasa kok bekerja dengan Nico."
Sejurus kemudian, Ella mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan dokter Bima?"
Wajah Vita mendadak berubah menjadi sedih. Ia menghela napas dan berkata, "Dokter Bima malahan berpacaran dengan temanku."
Belum Ella sempat bertanya, Vita sudah bercerita panjang lebar. Pada awalnya, hubungannya dengan dokter Bima memang semakin dekat. Lalu ia mengajak dokter Bima untuk makan bersama, sebagai ucapan terima kasih karena telah banyak membantunya. Vita lalu mengajak Santi untuk menemaninya. Dan dari pihak dokter Bima, ia mengajak sahabatnya yang bernama Edo.
Namun yang terjadi kemudian, dokter Bima malahan tertarik dengan Santi. Lambat laun mereka berdua menjadi semakin dekat. Dan akhirnya, seminggu yang lalu mereka berpacaran.
"Kamu tahu? Lain kali jangan pernah mengajak temanmu, saat hendak bertemu dengan pujaan hatimu," kata Vita sambil cemberut.
Ella menghibur Vita dengan membelai kepalanya pelan. Namun ia tidak perlu khawatir, karena sahabatnya itu adalah orang yang optimis.
"Tapi itu tidak masalah bagiku. Mungkin aku memang tidak berjodoh dengannya, namun siapa tahu aku berjodoh dengan temannya. Menurutku Edo lumayan juga. Walau ia tidak setampan dokter Bima, namun dia memiliki wajah yang maskulin. Dia juga baik."
Ella tertawa mendengar perkataan Vita. Selanjutnya, mereka bercerita tentang banyak hal. Mereka sangat menikmati kebersamaan ini. Sampai akhirnya Nico datang, dan mengajak Ella untuk segera kembali ke kantornya.
Di kantor, mereka sangat sibuk sekali. Nico sibuk memeriksa berbagai laporan produksi, pembelian, serta penjualan. Dan kerja keras mereka membuahkan hasil. Karena berdasarkan hasil evaluasi, perusahaan mengalami kemajuan pesat. Nico merasa sangat senang sekali.
Nico mengingat-ingat kenangannya dulu. Awal dipercaya menjadi CEO Good Luck Food Surabaya, ia sempat dipandang sebelah mata. Usianya begitu muda, namun harus memimpin puluhan bahkan hampir ratusan karyawan yang berusia jauh lebih tua darinya. Dirinya juga terhitung baru lulus kuliah, dan dianggap masih minim pengalaman. Sekarang Nico bisa berpuas diri, dan membungkam mulut orang-orang yang telah meremehkannya.
Malam harinya, Nico kembali ke Surabaya bersama dengan Ella. Di pesawat, Nico bercerita pada Ella tentang sosok Kurnia. Ia berkata bahwa semasa SMA, ia sangat suka menggodanya. Ella mendengarnya dengan hati sebal. Namun ia tetap bersikap tenang dan berusaha ikut tertawa mendengar cerita Nico.
Kemudian Nico berkata kepadanya, "Ella, apakah aku bisa minta nomor telepon Kurnia?"
Ella menjadi panik. Ia tidak menyangka Nico akan meminta kontaknya. "Sa- saya tidak tahu nomor teleponnya, Pak Nico."
"Bukannya kamu adalah sepupunya?"
"Saya sudah lama tidak berkontak dengannya, Pak."
"Kalau begitu kamu cari tahu nomor teleponnya. Kamu bisa mencarinya lewat anggota keluargamu yang lain."
"Baik, Pak."
"Segera infokan ke saya begitu kamu sudah mendapatkan nomor teleponnya."
"Siap, Pak."
Pikiran Ella langsung berkecamuk. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan? Memang benar bahwa satu kebohongan kecil dapat menyeret kita ke kebohongan selanjutnya. Kebohongan itu akan semakin bertambah besar. Hingga pada suatu titik, kita tidak akan sanggup lagi menanggungnya.
salam kenal..
jangan lupa mampir jg ya 🤗