NovelToon NovelToon
ROSETA

ROSETA

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Tamat
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: odipee

"Wanita murahan."

Roseta terdiam, ditatapnya nanar pria yang baru saja membuatnya bungkam bak menelan duri dan tersangkut ditenggorokan.

Ada apa ini?

Kenapa?

Walau bagaimanapun, Roseta mampu melihat betapa frustasinya seorang Matheo Ranu Pandega disamping perkataan kotornya. Roseta juga tahu di dalam mata berang pria itu menyimpan kegundahan. Roseta mengenal Theo, lebih dari siapapun.

Roseta sungguh ingin penjelasan, namun seolah mulut yang akan mengaga kembali dihentikan olehnya.

"Aku mendengar dari seseorang, kau membawa putrimu? Ah, jika boleh aku tebak, apa itu buah dari perbuatanmu dengan pria itu? Jay?"

Satu tamparan mendarat di pipi Theo.

Roseta merasa panas ditelapak tangannya, ia seperti tertusuk belati di ulu hati. Bagaimana bisa pria yang paling dicintainya berkata dengan tuduhan sedemikian rupa.

"Jangan berbicara lebih atau kau akan menyesal di setiap ucapanmu Matheo Ranu Pandega!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odipee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Theo dan Kenangan

...Roseta Marveen-Rose Garden ...

Dihari yang sangat redup, dan penguasa matahari pun sepertinya sangat enggan hanya sekedar memberikan sedikit sinarnya pada bumi yang sangat malang ini. Entah kenapa pria dewasa yang tampak menawan dan rupawan dengan buntelan coat cream bisa terdampar di suatu tempat yang menurutnya sangat ia benci, namun hatinya ingin sekali mengunjungi.

Duduk di kursi kayu yang melintang dipinggiran taman, memandang lurus kedepan menyaksikan bunga-bunga yang sedang bergoyang karena terpaan angin kencang hingga dingin terasa menusuk tulang.

Theo seorang diri sedang berkelana jauh di dalam ingatannya tentang wanita yang biasa disebutnya, murahan.

"Kau selalu menyebutnya murahan, tapi kau tak pernah lupa tempat ini, lalu apa, kau juga yang membuatkan ini semua!”

Intrupsi dengan nada datar mengoyak ingatan Theo untuk kembali ke asalnya. Theo tidak ingat sejak kapan pria berkulit pucat disampingnya itu mulai mendudukkan bokong disebelahnya.

"Kau, Bang. Sejak kapan kau ada disini?" tanya Theo setelah tau persis siapa pemilik suara itu.

Saga tersenyum miring. "Sejak tatapanmu kosong memandang bunga kesayangan," jawabnya dengan seutas senyum mengejek.

"Ck. Jangan mengejekku, Bang," pinta Theo sedikit angkuh dan memaksa.

Saga berdecak hingga mengelengkan kepala. "Tetap saja kau keras kepala, Theo. Kau dulu terlalu naif dan masih muda, seharusnya tidak dengan mudahnya menerima semuanya tanpa kau saring benar tidaknya."

"Ayolah, Bang. Wanita murahan itu bergelut di ranjang dengan si brengsek yang selama ini diakuinya sebagai sahabat, betapa bodohnya aku yang terlalu percaya padanya. Video itu sudah cukup menjadi bukti." Theo tersenyum miris dengan nasibnya.

"Bukankah kau juga berengsek! Lalu apa bedanya? Kau juga berakhir di ranjang dengan Yura Brafesta sahabatmu sendiri," Saga mengingatkan.

"Bang, berkali-kali aku katakan, kasusnya berbeda. Aku tidak ingat sama sekali apa yang terjadi malam itu. Aku kalut, aku mabuk." Theo sampai berdiri karena tidak terima, jangan lupakan matanya yang menyorotkan intimidasi pada Saga.

Saga meringis dengan kepala tertunduk, haruskah dia mengatakan kepada pria yang sedang berdiri dihadapannya tentang semua yang ada diotaknya saat ini?

Saga mendongakkan kepala guna menatap tajam mata lawan bicara. "Apakah alkohol dapat menghilangkan ingatanmu untuk selama-lamanya? Bahkan alat canggih dari ahli profesional tak mampu mengembalikan ingatanmu? Sungguh Lucu,” Saga menggeleng sejenak. "Kalau ada alkohol jenis itu, bisa kau beri padaku? Aku akan mencobanya!" Saga melanjutkan pembicaraan yang sama sekali tidak dipahami oleh Theo.

Theo menatap Saga dengan skeptis. "Apa maksudmu, Bang?"

"Theo, apa perlu aku ingatkan juga. Roset…..."

"Jangan sebut namanya," potong Theo cepat.

"Oke, oke. Wanita itu, sangat terpukul saat kegadisannya kau ambil, namun kau juga melihat sendiri 'kan, dia bahagia karena kau yang merampas itu semua, karena kau laki-laki yang sangat dicintainya." Penuh penekanan disetiap kata yang diucapkan Saga.

Theo tercekat, tenggorokannya seperti digorok, pita suaranya pun dirampas sehingga tidak mampu berkata-kata, sangat miris sekali lagi.

"Aku tidak yakin dia melakukan hal senekat itu untuk ditiduri laki-laki lain. Setidaknya saat ini pakailah akal sehatmu. Sampai kapan kau akan terus begini? Pria menyedihkan."

Sepatah demi sepatah kata yang diucapkan Saga tidak lebih dari umpatan bagi Theo. Dari dulu, Theo memang selalu tidak bisa berhadapan dengan orang ini.

"Kalau memang semuanya tidak benar, kenapa dia tidak pernah menemuiku?" ada nada tersirat harapan didalamnya.

"Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri. Mana ada wanita yang kau tinggalkan mau menemuimu. Kau pikir kabar pernikahanmu tidak masuk berita?”

"Setidaknya dia akan menjelaskan semua isi video itu. Dengan diamnya dia, menambah asumsiku bahwa dia benar-benar menghianatiku."

Saga benar-benar geram, lantas menatap Theo dengan tajam. "Apa kau yakin dia tau tentang video itu? Sedangkan kau sendiri tidak bertanya dan hanya meninggalkankannya? Dengan menikahi wanita lain?”

"Yura mengandung anakku, Bang, kau juga tahu itu," jawabnya melemah, dan Saga hanya diam dan melempar pandang kedepan lagi.

Hening setelah itu. Saga, pria pemilik gummy smile itu tidak akan sembarangan menemui Theo dengan hanya membawa tangan kosong.

"Bagaimana dengan Redolent, Bang? Apa ada kabar baik?" tanya Theo menghentingan gerak tangan Saga yang baru saja akan meraih bingkisan yang berada disebelah kanannya.

"Untuk menemukan seorang VVIP, tak akan semudah itu, Theo. Berapa orang yang kau korbankan hanya untuk menemukannya? Sistem mereka langsung di blokir secara otomatis dan permanen, kau perlu tau itu," jawab Saga.

"Bukankah kau juga VVIP, Bang?"

"Kata siapa? Hanya orang jenius yang bisa mendapatkan posisi itu. Aku hanya VIP."

Saga seorang peretas handal yang sudah menduduki tingkat VIP (kalangan atas) dengan tingkat kecerdasan yang sangat luar biasa. Jangan lupakan, para Peretas Negara I tidak bisa diragukan dengan mudahnya bahkan Negara lain pun takut dan mengakui itu.

Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menjadi VVIP sedangkan seorang VIP saja sudah membuat bergidik ngeri?

"Begitukah? Lalu bagaimana ini, Bang?"

"Kenapa kau ngotot sekali ingin mencarinya sih? Bukankah dia tidak berbuat macam-macam, dia membantumu 'kan?"

Saga juga seorang kepercayaan Theo, dengan kemampuannya pula, pria dapat menjadi benteng untuk pertahanan perusahaan besar milik Theo.

Perusahaan sebesar itu mustahil apa bila tidak punya musuh yang kapan saja bisa mencuri data penting bahkan dapat mencuri uang dalam bentuk besar dan lebih parahnya bisa menghancurkan perusahaan detik itu juga. Saat itu terjadi, sistem proteksi otomatis yang akan menyerang balik lawan sehingga percobaan pencurian akan gagal.

Manakala sisem pertahanan milik Saga tidak mampu menghalau serangan, sama seperti dua tahun yang lalu, sepertiga aset perusahaan mampu dicuri secara cuma-cuma oleh musuh. Namun, Tuhan begitu baik, dalam hitungan detik semua aset berharga itu kembali berkat sosok misterius yang dikenal dengan sebutan Redolent, dan sampai sekarang sosok itu bertahan menjadi benteng utama yang tidak tahu wujudnya seperti apa.

"Aku hanya penasaran, Bang. Coba bayangkan kau jadi aku. Aku hanya takut berimbas buruk pada keluargaku suatu saat nanti." Logis Theo mempertahankan opininya.

Saga memainkan lidahnya di dalam mulut, belum mau menimpali sampai sepersekian detik karena tidak mau memperburuk mood adik sepupunya. "Kau tau kenapa seorang VVIP disebut sebagai Tangan Tuhan oleh kalangan kami?"

Sontak saja Theo menoleh cepat ke arah Saga. Apa barusan? Tangan Tuhan? Baru kali ini Theo mendengar istilah seperti itu.

Theo menggeleng lalu berkata, "Aku tidak tau.”

"Dia punya seribu mata. Bahkan sekarang saja dia tahu apa yang kau lakukan, lebih parahnya detak jantungmu pun juga dapat dia dengar. Jadi percuma saja kau merencanakan sesuatu untuknya." Penjelasan Saga yang terlewat tenang membuat Theo mendelik ngeri sampai tidak percaya.

"Apa kau yakin akan hal itu, Bang? Mana ada orang seperti itu!"

Saga menggedikkan bahu. "Terserah kau saja kalau tidak percaya."

Bunyi notifikasi dari ponsel Saga terdengar satu nada saja. Saga merogoh kantung jaket kulitnya dan mengambil benda plasma hitam yang ternyata tertera email yang baru masuk terlihat dari screen yang menyala.

'Denyut jantung Matheo Ranu Pandega sangat cepat, apakah dia merasa shock? Jangan coba mencariku, aku bukan orang jahat. Percayalah'

Saga tertawa setelah menyerahkan ponsel miliknya untuk ditunjukkan pada Theo. "Cepat lihat ini!" perintahnya pada Theo karena pesan itu akan otomatis dihapus setelah tiga puluh detik.

Theo otomatis membolakan matanya, rasanya saat ini denyut jantung Theo melebihi 200, jangan sampai pria itu mendadak terkena serangan jantung.

"Kau juga jangan kawatir. Orang yang mendapat VVIP harus orang bersih, bukan pendukung kejahatan. Kau tau 'kan artinya?”

Theo hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, masih terlampau shock melihat kenyataan yang baru saja diketahuinya.

"Bang, bagaimana bisa kau saling mengirim email dengannya? Cepat lacak dia!”

Saga memukul kepala Theo atas kebodohannya.

"Kenapa kau memukulku!" marah Theo dengan tangan mengelus pucuk kepala.

"Kau ini bodoh apa bagaimana? Dia bukan orang yang bisa tersentuh dari dunia maya, emailnya otomatis akan terhapus setelah tiga puluh detik. Percuma, percuma, kau dengar."

Theo membuat pria yang memiliki jarak usia dua tahun lebih tua darinya ini tersulut emosi, dari tadi penjelasannya sama sekali tidak masuk ke otak apa?

"Sudah, aku pulang saja sekarang," putus Saga untuk mengakhiri pertemuan, pikirnya bertemu dengan Theo hanya buang-buang waktu saja.

Tapi.

Tangan Saga meraih buntelan kain yang berada disamping kanannya, itu adalah tujuannya sedari awal. "Ini, kau bawa pulang. Mama Gina membuatkannya untukmu." Saga menyerahkan bingkisan itu kepada Theo.

Seperti tersambar petir di siang bolong, yah tepat sekali memang sebentar lagi akan turun hujan, alangkah baiknya Theo tersambar petir beneran. Ah lupakan.

Kedua manik mata Theo yang sangat menawan itu berbinar-binar. Bukan seperti mendapatkan kejuatan, lebih tepatnya cairan dalam pelupuk matanya akan segera turun mendahului hujan.

Dengan tangan bergetar, Theo meraih pemberian Saga dari Mama yang bisa dibilang adalah Ibu kandung dari Theo sendiri. "A-apa benar ini dari Mama, Bang?" tanyanya terbata.

Saga acuh atas keterkejutan adiknya itu. "Kau pikir aku mau merepotkan diriku sendiri hanya untuk membuatkan rendang ini?" dengan alis menukik ke atas, pun pria berkulit putih pucat itu menjawab.

"Apa aku bisa bertemu Mama?"

"Tidak!!" jawab spontan dan yakin dari Saga membuat sang penanya merasa kecewa.

"Lalu kenapa Mama membuatkan ini?" tanya Theo lagi dengan memandang sendu bungkusan yang sudah tertumpu di atas paha.

"Ucapan terima kasih karena kau baik pada cucunya. Itu saja." Saga segera berdiri dan berlalu dari hadapan Theo, meninggalkan pria itu dengan sejuta pertanyaan.

"Bang, tunggu!!" panggil Theo.

Saga pun berhenti melangkah lalu membalikkan badan. “Ada apa?”

"Apa maksudnya? Tentu saja aku selalu baik pada anakku sendiri."

Bagaimana Theo tidak bingung. Selama ini dia selalu merawat putri semata wayangnya dengan hujanan kebahagiaan, apapun dilakukan hanya untuk Rahel yang sudah jelas-jelas adalah cucu satu-satunya dari keluarga Pandega.

Jika hanya itu alasannya, kenapa ibunya tidak membuatkan Rendang dari dulu saja? Kenapa baru sekarang?

Saga hanya menggidikkan bahu dengan kepala menukik kesamping seolah acuh dan tidak tahu apa-apa. Setelah itu Saga cepat berlalu dari Theo.

Theo mendudukkan kembali bokongnya pada sandaran kayu, matanya menatap Rendang yang masih di jinjingnya. Otaknya tidak mampu berputar pada porosnya.

Pembicaraan dengan Saga sekali lagi mampu mebawa Theo kembali ke dimensi masa kelam delapan tahun silam. Penghianatan dari wanita yang sangat dicintainya. Ditinggalkan oleh Ibunya tepat saat selesai menggelar pernikahan. Penderitaan macam apa yang dapat melebihi kesakitan yang meninpa dirinya?

Theo menghadapi masa sulit selama itu, sehingga dapat membentuk sosok baru dalam dirinya, sosok yang banyak ditakuti orang sekitarnya, angkuh, keras kepala dan pemarah.

Hembusan angin dingin itu membuat Theo bergidik ngilu, namun tak membuatnya segera beranjak dari tempat ini.

"Theo Uncle, kau 'kah itu?" Theo segera menoleh ke kiri, melihat siapa yang baru saja mengintrupsi.

1
Sri Siti
seru
starlaa
lanjut
starlaa
bryna ini jngan jangan jenius ya. awal episode 1 kayaknya dia berhubungan dengan kakak nya Braga deh
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus kk⭐⭐⭐⭐
Dara
Jangan cari penyakit Rose
Dara
Lho....maksudnya gmn sih theo?
Dara
Theo benar2 bodoh dlm urusan asmara
Dara
Benar kata Braga...daddy nya bodoh
Dara
Sgt bagus penyajian konfliknya thor👍👍👍
Dara: Bukan hampir..tp semua🤩
Karena apa cb.....
total 2 replies
Dara
😢
Dara
Aku syuka
Dara
rodelent itu kayaknya mama si theo
Dara
Lihat ketulusan Jay rosita...buka hatimu
Sari Supartini
hai kak jangan lupa mampir yah di karya aku maribsaling dukung
Dara
Keren bgt ceritanya
Fin
Bagus
Fin
Suka sekali
Ella
Bagus bgt
Yana
Wajib baca
Happy
Huwaaa bagus bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!