"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERASA SENAM JANTUNG
Setelah sambungan telepon nya dengan bude Zainah terputus, Rahmat meninggalkan ruang tamu untuk mencari keberadaan Umi nya. Namun, baru saja ia akan melangkah keluar dari pintu ia terkejut saat Umi Kalsum dan Anisa juga serentak melangkah masuk. Hampir saja mereka bertabrakan jika Rahmat tak segera melangkah mundur.
"Astagfirullah, Rahmat bikin kaget aja." Umi Kalsum mengelus dadanya, sementara Anisa melangkah mundur lalu berdiri dibelakang umi.
"Maaf Umi, ucap Rahmat kemudian menundukkan kepalanya. Entah kenapa hatinya berdesis saat tatapannya bertemu dengan Anisa.
"Loh, kok itu ponsel Umi ada sama kamu?" tanya Umi Kalsum.
"Iya Umi, tadi Bude Zainah telepon. Katanya besok Zahra mau datang." ucap Rahmat lirih, seketika ia teringat kembali tentang adik sepupunya itu.
"Wah, alhamdulillah kalau begitu. Nanti sekalian kita adakan syukuran untuk merayakan pernikahan Zahra dan suaminya yang tidak bisa kita hadiri." ucap Umi dengan berbinar, ia jadi tak sabar menanti kedatangan keponakannya itu.
"Umi, ada yang mau aku omongin sama Umi dan Abi, ini tentang Zahra."
Umi Kalsum menatap putranya itu dengan lekat, entah kenapa perasaannya tiba-tiba jadi tak enak. Kemudian Umi menoleh untuk mengajak Anisa masuk, namun Umi terkejut tak mendapati Anisa disampingnya.
"Loh, Anisa kemana?"
"Aku di sini Umi," ucap Anisa yang berdiri dibelakang umi Kalsum.
"Perasaan tadi kamu disampingnya Umi, kok bisa dibelakang." ucap Umi Kalsum sambil menekan pangkal hidungnya, perasaannya yang tiba-tiba tidak enak kini membuat kepalanya sedikit berdenyut.
"Ya udah, kamu pergi istirahat dulu ya duluke kamar yang ada disebelah kamar Rahmat ya yang ada lantai atas. Nanti setelah masuk waktu Azar Umi panggil, kita sholat berjamaah di musholah bareng sama para santri."
Anisa menganggukkan kepalanya. "Iya Umi.
"Rahmat, kamu antar Anisa dulu ya, tunjukin kamar nya dan setelah itu kamu ke kamar Umi." ucap Umi Kalsum kemudian pergi dari sana menuju kamarnya, meninggalkan Rahmat dan Anisa diambang pintu.
Sementara Rahmat, ia menatap langkah Umi nya yang kini menaiki anak tangga, dengan gamang. Padahal Umi nya itu selalu memperingati dirinya agar tak berdekatan apalagi berduaan dengan gadis yang bukan muhrimnya, meskipun ia sendiri tahu akan hal itu. Tapi, Umi nya itu seolah lupa akan hal itu.
"Gak perlu diantar, Mas. Tunjukkan saja disebelah mana kamarnya, biar aku pergi sendiri." ucap Anisa yang membuat Rahmat terkesiap.
"Gak apa-apa, biar aku antar ini amanah soalnya." ucap Rahmat dengan sedikit menyunggikan senyum, kemudian menundukkan kepalanya. Bertatapan dengan Anisa benar-benar membuatnya serasa senam jantung.
"Terima kasih, Mas." ucap Anisa, ia merasa tak enak pada putra Umi Kalsum ini.
"Sama-sama. Mari... " ajak Rahmat kemudian ia melangkah lebih dulu.
Seperti yang Rahmat ketahui, pesan Nabi tentang adab ketika seorang perempuan berjalan bukan hanya mengenakan pakaian yang sopan. Namun juga hendaklah seorang perempuan berjalan dibelakang laki-laki, sebab jika laki-laki yang berjalan dibelakang perempuan maka tidak bisa dipungkiri, laki-laki itu akan melihat lekuk tubuh si perempuan dan akan memperhatikan bagaimana cara jalannya. Jika sudah seperti itu maka kemungkinan akan terjadi kemaksiatan selanjutnya.
Dan Rahmat, ia hanya ingin melindungi dirinya dari hal-hal yang bisa saja menjerumuskannya. Meskipun ia seorang laki-laki yang terpelajar, namun ia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa.
"Ini kamarnya," ucap Rahmat setelah berada didepan pintu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. "Dan selamat beristirahat, aku permisi dulu ya." sambungnya, kemudian membalikkan badannya hendak pergi dari sana.
"Mas, tunggu dulu... " panggil Anisa.
Dan Rahmat pun menghentikan langkahnya kemudian membalikkan kembali badannya.
"Iya ada apa, apa kamu perlu sesuatu?" tanya Rahmat.
Anisa menggelengkan kepalanya.
"Gak, Mas. Aku cuma mau tanya nama Mas siapa? tanya Anisa dengan sedikit gugup, karena ini adalah yang pertama kalinya ia berbica dengan laki-laki hanya berdua saja. "Biar enak gitu manggilnya." ucapnya lagi.
"Rahmat," jawab Rahmat dengan singkat.
Setelah menyebutkan namanya, Rahmat segera masuk kedalam kamarnya, padahal tadi ia ingin pergi ke kamar orangtuanya untuk menceritakan tentang Zahra pada abi dan umi nya, namun setelah Anisa memanggilnya entah kenapa ia jadi salah tingkah.
"Rahmat," gumam Anisa sembari membuka pintu kamarnya. "Namanya setampan orangnya." ucapnya lagi sambil terkekeh sendiri, ini adalah pertama kalinya ia memuji ketampanan seorang laki-laki.
,
Anisa pun masuk kedalam kamarnya.
_______________-------------________________
Malam harinya setelah shalat Isya berjamaah, abi Ridwan memperkenalkan Anisa kepada seluruh santri, sekaligus mengumumkan jika Anisa akan menjadi kepala asrama putri menggantikan Uztazah Nia untuk sementara waktu.
"Lalu bagaiman nanti jika Uztazah Nia sudah kembali, Abi?" tanya salah satu santri putri.
"Nanti Abi pikirkan lagi soal itu. Lagipula kita tidak tahu kapan Uztazah Nia kembali, sementara kalian harus ada yang mengawasi karena Abi tidak mau sampai kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah." ucap Abi Ridwan dan membuat beberapa santri yang pernah melanggar aturan, tertunduk malu.
"Dan kalian, terutama untuk santri putri harus patuh dengan apapun aturan yang dibuat oleh Anisa. Paham!"
"Paham Abi." jawab para santri putri serentak.
"Baiklah kalau begitu, silahkan lanjutkan kegiatan kalian malam ini, setelah itu tidur dan jangan ada yang bergadang." ucap abi Ridwan lagi.
Seluruh santri pun serentak mengangguk patuh, kemudian beranjak menuju tempat mereka akan Diniyah.
Dan para Uztad Uztazah yang bertugas pada pembelajaran Diniyah juga segera bergegas menyusul para santrinya, begitupun dengan Rahmat yang turut andil dalam kegiatan itu.
Setelah para santri dan para Uztad dan Uztazah meninggalkan musholah, Hanifah mengantar Anisa keasrama yang akan ditempati oleh gadis itu. Sementara abi Ridwan, umi kalsum, Indra dan juga putranya Yusuf kembali kerumah.
"Ini asrama kamu," ucap Hanifah setelah sampai dihadapan ruangan bersekat yang cukup luas.
Anisa mengangguk sembari mengedarkan pandangannya disekitar ruangan itu, kemudian ia tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum, Hanifah yang melihat itu mengernyitkan dahinya penasaran, namun ia juga tak mau menjadi orang yang kepo untuk menanyakan hal itu pada Anisa.
"Kenapa gak tinggal dirumah aja sih, Nis? Nanti kamu gak nyaman loh disini."
Anisa menoleh menatap wanita yang masih terlihat cantik disampingnya, meski usianya jauh diatasnya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari tersenyum.
"Gak apa-apa Mbak, biar aku disini saja agar aku lebih mudah memantau para santri." ucap Anisa.
"Ya udah deh kalau itu mau kamu. Tapi kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan bilang sama Mbak ya, Mbak akan marah loh kalau sampai kamu ada apa-apa tapi gak bilang sama Mbak."
Anisa terkekeh, wanita yang baru ia kenal tadi siang entah kenapa sudah mulai bersikap posesif padanya, padahal ia hanyalah orang asing yang ingin tinggal menumpang di pesanten ini.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..