Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memiliki Kepribadian Ganda
Tubuh lemas Ana luruh ke lantai, ia tertunduk dengan memeluk lutut keringatpun mulai membanjiri tubuhnya. Belum pernah sebelumnya ia merasa ketakutan seperti ini.
"Kau mau pulang, atau tetap disini?" tanya Erlon yang sudah membuka seluruh pakaiannya. Ana tetap diam tidak menyahut ucapan Eron. "Kau jangan membuat kesabaranku habis Briana!" bentak Erlon yang kini berjongkok di depan Ana.
Sekarang mereka berada di kamar hotel, setelah Erlon berhasil membawa Ana keluar dari cafe itu. "Tu-tuan, sa-saya mohon. Jangan lakukan ini. Bukankah Anda akan menikah dengan nona Mi–"
"Siapa bilang, aku tidak akan menikah dengannya. Sekarang berbaringlah di atas ranjang, biarkan aku melakukan tugasku dengan baik." Tatapan tajam Erlon membuat tubuh Ana semakin gemetaran. "Aku tidak akan memperlakukanmu dengan kasar, ayolah Ana. Katanya kau mau cepat pulang maka turuti perintahku."
Sebenarnya Ana ingin sekali memaki Erlon habis-habisan, karena ia merasa sifat Erlon semakin menyebalkan. Siapa yang akan menolongku, aku tidak mau disentuh lagi olehnya. Batin Ana.
"Kau yang menggoda ku tadi Ana, jadi jangan salahkan aku jika aku meminta hakku!"
Menggoda, aku sampai gemetaran begini. Bagaimana bisa dia mengira aku menggodanya. "Tu-tuan, Anda mu-mungkin salah pa–"
"Apa kau tahu, aku tidak suka menerima penolakan." Erlon yang sudah merasa geram karena mendapat penolakan dari Ana dengan cepat membawa Ana naik ke atas ranjang. Seketika air mata Ana mengalir dengan deras, karena Erlon akan benar-benar melakukan itu sekarang.
"Buka pakain tipis ini," ucap Erlon yang kini sedang menatap Ana. "Apa kau tidak mendengarku Ana, buka sekarang!" lagi-lagi Erlon membentak Ana, ia tidak memperdulikan air mata Ana yang kini sudah mengalir deras. Tangan kekar Erlon menyobek pakaian tipis yang Ana kenakan.
"Tuan, apa yang Anda lakukan," ucap Ana yang bicara dengan lancar tidak terbata-bata seperti sebelumnya. Jemarinya menahan tangan Erlon agar tidak menyobek pakaian tipisnya itu semakin ke bawah.
"Meminta hakku, apa aku salah?" Tatapan Erlon semakin membara. "Apa kau sengaja mengulur waktu agar aku berubah pikiran. Tidak semudah itu Briana Azalia." Senyum iblis terbit di bibir tipis Erlon membuat Ana semakin ketakutan.
Erlon sebenarnya tadi membawa Ana ke hotel hanya ingin menguji apakah Ana akan mau melayaninya dengan suka rela tapi kenapa sekarang ia sendiri yang malah terjebak membuat darah mesumnya menjadi mendidih. "Sial … ." Erlon menjambak rambutnya sendiri karena ia tiba-tiba mengingat Mila yang sekarang sedang mengandung anaknya. "Kita pulang, kau pakailah jas ku."
*
*
Setiba Erlon dirumah ia mendorong Ana sampai terjatuh ke lantai. Ia sekarang ingin mendengarkan penjelasan Ana. "Aku hanya akan bertanya sebanyak tiga kali, sekarang jawab. Sejak kapan kau bekerja di cafe itu dengan berpakaian murahan begini?"
Ana bingung karena ia tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan Erlon semakin mendesaknya supaya Ana mau menjawab. "A-apa. Itu penting untuk An-Anda," kata Ana yang kini menatap Erlon.
"Sejak kapan?" tanya Erlon lagi, tetapi Ana memilih untuk diam karena ia tahu Erlon tidak akan pernah mau mendengarnya. "Jawab! atau kau akan kubunuh malam ini juga." Ancam Erlon. Sedangkan Ana yang sudah ketakutan berlari menuju pintu yang ternyata sudah Erlon kunci. "Kau akan mati malam ini, karena sudah berani bekerja tanpa sepengetahuanku."
Ana menggeleng sambil berusaha terus berlari menjauh dari Erlon yang kini memegang sebuah pisau. "Kau mau lari kemana lagi, kau anak dari orang yang telah memisahkan mommy dan daddy ku."
Deg, jantung Ana seakan berhenti berdetak karena mendengar Erlon. Ditambah tatapan Erlon semakin terlihat berbeda.
"Apa maksud Anda tuan?" Ana kembali berbicara lancar, karena mendengar Erlon berkata begitu.
Erlon sebenarnya sudah mulai ada rasa pada Ana, tapi mengingat dulu Darel sempat memisahkan Zizi dan Kenzo membuat dirinya menjadi membenci Ana. Karena ingatan Erlon lebih kuat dari Erlan, maka memori otaknya merekam apa saja yang dulu Darel lakukan di tambah ia juga sering mendengar kisah Zizi dan Kenzo dari Opanya.
"Tolong, jelaskan semua maksud Anda tuan."
"Diam!" suara Erlon menggema di ruang tamu yang luas itu, ternyata selama ini Erlon memiliki kepribadian ganda yang hanya diketahui oleh Kenzo. "Kau anak musuh daddyku, kau juga ingin menghancurkan keluargaku 'kan?"
Kenapa sekarang tuan Erlon malah membahas Papa, bukannya tadi masalah di cafe. Ana membatin. Karena ia tahu apa yang telah Darel perbuat pada keluarga Erlon. Namun, tadi ia hanya berpura-pura tidak tahu.
"Sini kau gadis murahan." Erlon berlari mengejar Ana.
Ana yang melihat Erlon mengejarnya semakin berlari, karena ia tidak mau mati di tangan Erlon.
"Sekali lagi kau melangkah, peluru ini akan bersarang di ulu hati ka–" ucapan Erlon terputus tatkala melihat Ana berguling-guling jatuh dari anak tangga. Bukannya menolong Ana, Erlon malah tertawa karena ia merasa Ana sudah mati dan tidak akan ada yang membuat darahnya naik. "Tanpa ku sentuh, kau sudah mati." Darah mengalir keluar dari kepala Ana, itu semakin membuat Erlon merasa puas. "Matilah, supaya kau hidup tenang bersama para penghianat daddyku."
Dering pada ponselnya membuat Erlon meraih benda pipihnya itu. Ternyata yang menelponnya adalah Zizi. "Hallo, mom." Namun bukan suara Zizi yang terdengar melainkan suara Kenzo.
"Apa yang kamu lakukan Erlon, buka pintu ini sekarang, atau Daddy akan mendobraknya," teriak Kenzo di seberang telpon yang ternyata sudah berdiri di depan pintu.
Daddy, mommy. Apa yang harus aku lakukan. Jangan sampai mereka melihat ini semua.
"Erlon, jangan membuat daddy dan mommy mu menunggu terlalu lama!!" pekik Kenzo yang membuat Erlon menjatuhkan ponselnya karena terkejut mendengar suara Kenzo yang begitu lantang. Erlon menyembunyikan pisau beserta pistol yang tadi ia gunakan untuk menakuti Ana, setelah itu ia membuka pintu.
"Apa yang sudah kamu lakukan!" Zizi berlari di saat melihat Ana tergeletak tak berdaya. "Dad, cepat tolong Ana," pinta Zizi yang melihat darah pada kepala Ana.
Kenzo yang terlihat sangat marah ia mencekik leher Erlon. "Jangan membuat jiwa pembunuh ini bangkit lagi Erlon, bukankah kamu sudah tahu siapa Daddy." Kenzo semakin mencekik leher Erlon. "Sekarang, bawa istrimu ke rumah sakit!"
Erlon melepaskan tangan Kenzo dari lehernya. "Daddy, bukankah ini ju–"
"Jangan bicara Erlon, jika kamu masih ingin berada di sini," potong Kenzo dengan cepat, karena ia sering mengancam Erlon kalau ia akan memindahkan Erlon di mana tempat para kanibal berada. "Bawa sekarang, Erlon!!"
Erlon tidak mau bergerak sedikitpun, ia masih mematung melihat wajah Kenzo yang kini terlihat sangat marah. "Bukankah, ini semua bagus. Ded, anak musuh Daddy akan mati." Erlon semakin membuat Kenzo marah. "Biarkan saja, supaya Erlon bisa be–"
Kenzo menyeret Erlon, kali ini Erlon tidak akan selamat dari amukannya. Tapi sebelum itu Kenzo sudah menghubungi Reza untuk segera membawa Ana ke rumah sakit.
"Lepas Ded, Erlon bukan anak kecil lagi." Erlon berusaha melepaskan diri dari Kenzo.
"Umur hanya angka Erlon, tapi kelakuanmu masih seperti anak kecil." Kenzo kembali menyeret Erlon. "Bagaimana bisa kamu ingin membunuh istri kamu sendiri, otakmu. Kamu taruh dimana?"
"Bukankah Daddy juga, ingin membunuh mommy dulu juga aku dan kak Erlan," suara Erlon terdengar sangat lirih.
Kenzo mundur mendengar perkataan Erlon, padahal selama ini ia dan Zizi tidak pernah sama sekali membahas itu semua. Tapi kenapa Erlon bisa berkata begitu?
"Kenapa diam, ucapan Erlon benar apa adanya, 'kan?"
Ternyata selama ini sifat kepribadian ganda Erlon menurun dari Kenzo. Yang tidak semua orang menyadarinya.