Aku dan kenangan yang pada akhirnya harus melepaskan mu.
Saat itu sebenarnya aku ingin mengatakan tidak dan berharap kau mencari keberadaan ku.
Namun itu hanya mimpi yang tidak berakhir dengan kenyataan.
Sampai pada akhirnya aku putuskan untuk menerima cincin dari seseorang yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Aku kira kehidupan setelah pernikahan itu akan indah seperti yang ada di dalam dongeng - dongeng pangeran dan putri yang selalu aku baca.
Aku kira mimpi ku terdahulu untuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak serta suami membuat ku bisa merasakan menjadi wanita yang sesungguhnya.
Namun kehidupan ku setelah pernikahan tidak seperti yang aku bayangkan.
Pinangan yang aku terima tidak membuat aku bisa merasakan kehidupan yang lebih baik.
Aku yang bernama Diandra mengabdikan seluruh hidup ku untuk suami yang ternyata memiliki kekasih gelap dan juga kehancuran bisnis.
Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku tidak akan memilih untuk menunggu mu masa laluku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ribka Kurniawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN SANG IBUNDA
Hari ini aku bertemu dengannya, dan sungguh dia sama sekali tidak berubah, dia tetap Rudi yang angkuh, Rudi yang selalu merendahkan orang lain termasuk istri nya sendiri."
"Wanita yang saat ini menjadi istri nya pasti lah wanita yang sangat sabar, jika tidak mana mungkin dia bisa bertahan dengan laki - laki seperti Rudi."
"Jalan Ren, kita kembali ke rumah, ibuk pasti sudah menunggu kedatangan ku."
Louis pada akhirnya mengatakan hal tersebut kepada Reino dan mobil pun melaju meninggalkan cafe tersebut.
Sementara itu malam ini Diandra yang telah menunggu ke datangan Rudi tertidur di sofa ruang tamu.
Dan tiba - tiba saja pintu ruang depan di buka dan Rudi masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat Rudi mengambil air mineral di dalam botol dan seketika itu juga menguyurkan air tersebut ke wajah Diandra.
"Mas Rudi, mas ini apa mas?"
Diandra yang mendapatkan guyuran air langsung terbangun dari tidurnya dengan sangat kaget.
"Ini untuk istri bodoh dan udik seperti mu! suami belum pulang mencari uang, kau enak - enak saja tidur di rumah!"
Rudi mengatakan hal tersebut dengan suaranya yang sangat keras.
"Mas Rudi, aku mohon jangan keras - keras mas, Sisil sudah tidur, aku mohon."
Dan untuk kesekian kalinya Diandra mengatakan hal tersebut kepada suaminya sendiri.
"Buatkan aku mie instan, aku lapar."
Rudi mengatakan hal tersebut sambil berlalu dari hadapan Diandra, Rudi meminta Diandra melakukan sesuatu hal tanpa memandang lagi ke arah Diandra.
"Baik mas Rudi."
Diandra yang sudah mengantuk dengan patuh bangkit dari tempat duduknya dan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan mie instan untuk Rudi.
"Ini mas mie instan nya."
Setelah mie instan matang, Diandra segera menghidangkan di hadapan Rudi.
"Hanya mie instan saja?"
"Diandra langsung terdiam mendengarkan perkataan keras Rudi.
"Iya mas, bukannya tadi mas Rudi meminta untuk di buatkan mie instan saja?"
"Dasar wanita goblok, iya aku memang minta di buatkan mie instan, lalu kenapa kau tidak menambahkan dengan telur, atau yang lainnya? apa hal - hal sepele seperti ini saja kau masih tidak mengerti!"
Seketika itu juga Rudi mengatakan hal tersebut sambil memukul meja dan sungguh hal tersebut membuat Diandra menjadi sangat kaget.
"Maafkan Diandra mas, seharian ini aku beres - beres rumah dan aku belum sempat untuk mengisi kulkas, sungguh aku tidak bermaksud demikian mas Rudi."
"Arrh tetap saja kau istri yang bodoh, menyesal aku telah menikah dengan istri seperti mu!"
Sungguh kata - kata Rudi membuat Diandra tersentak, hatinya kembali hancur ketika Diandra mendengarkan hal ini kembali ke luar dari mulut Rudi untuk yang kesekian kalinya.
"Diandra minta maaf ya mas."
Diandra mengatakan hal tersebut dengan menahan setiap air matanya yang ingin mengalir, dengan sekuat tenaga Diandra mengatakan hal tersebut, dengan sekuat tenaga Diandra berani memandang Rudi dengan menahan segala rasa sedihnya.
"Bodoh!"
Hal tersebut yang Rudi katakan setelah menyelesaikan makan malamnya, dengan santai Rudi beranjak dari meja makan dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
Diandra yang melihat tingkah Rudi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, Rudi yang baru datang, Rudi yang langsung meminta makan dan setelah itu tidur tanpa mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Malam ini kau tidur saja dengan Sisil, aku tidak mau kau tidur di samping ku, aku jijik tidur bersebelahan dengan mu."
Deg
Rasa sesak kembali Diandra rasakan ketika mendengarkan Rudi mengatakan hal tersebut dari dalam kamar.
"Iya mas Rudi."
Hanya beberapa kata yang Diandra bisa ucapan kepada Rudi, Diandra yang saat ini masih berada di meja makan langsung mengambil mangkok bekas makan Rudi dan mencucinya.
Air mata yang sejak tadi di tahan untuk tidak mengalir, kini mengalir dengan sangat deras.
Malam hari ini Diandra kembali menangis tanpa suara, malam hari ini Diandra membereskan makan malam Rudi, membereskan piring kotor Rudi dengan berderai air mata.
Tuhan berikan aku kekuatan yang sangat luar biasa untuk menghadapi mas Rudi, ajarkan aku untuk tetap bisa bertahan apapun keadaan rumah tangga kami.
Di akhir setiap hal pada malam hari ini, Diandra kembali mengatakan hal tersebut di dalam hatinya saja.
Sungguh saat ini entah sudah ke beberapa kalinya Diandra menangis.
Selesai membersihkan semuanya Diandra langsung membuka pintu kamar Sisil, Diandra menyalakan lampu dan melihat wajah putri kecilnya itu tertidur lelap.
Dengan cepat Diandra mendekat ke arah Sisil dan mencium kening putri kecilnya tersebut.
Nak, karena kamu mama bisa tetap bertahan, karena kamu mama bisa tetap kuat sampai saat ini, dan karena kamu mama bisa tetap berdoa kepada Tuhan untuk papa, nak tetap ada bersama dengan mama yah sayang, tetap sehat, dan tetap menjadi putri kesayangan mama, terima kasih karena telah menjadi kekuatan terbesar untuk mama.
Diandra mengatakan hal tersebut di dalam hati dan seketika itu juga langsung mencium kening putri kecilnya.
Dengan cepat Diandra merebahkan dirinya di samping Sisil dan mencoba untuk memejamkan ke dua matanya.
Sementara itu di dalam satu rumah mewah di kota Jogjakarta malam ini telah diadakan jamuan pesta megah salah satu crazy Rich di kota tersebut.
"Buk, doa apa untuk ulang tahun ibuk kali ini?"
Louis mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat sang ibunda.
"Biasa, ibuk pingin kamu menikah nak."
Louis yang mendengarkan perkataan sang ibunda langsung mengendurkan pelukannya..
"Apakah tidak ada doa yang lainnya buk? jika doa itu mungkin Tuhan yang tidak akan mengabulkan nya buk."
"Hus kamu itu ngomong apa toh, tidak boleh seperti itu, namanya kamu mendahului kehendak Tuhan, apa kamu tidak ingin menikah?"
Pertanyaan sang ibunda sungguh saat ini membuat dilema hati Louis.
"Nak, ibu sama bapak ini hanya punya kamu, kami juga sudah sangat tua, jika kamu sayang kepada kami, kamu tau kan harus melakukan apa?"
Louis yang mendengarkan permintaan sang ibunda entah sudah ke sekian kalinya hanya bisa terdiam dan pada akhirnya memilih untuk tersenyum dan berjalan menghindar dari kerumunan keluarga.
Louis berjalan seorang diri menuju ke arah taman.
"Kau pasti menghindar dari pertanyaan ibu Sekar kan Louis?"
Tiba - tiba saja ada satu suara laki - laki yang kini ikut berdiri di samping Louis.
"Dimas, kenapa kau ikut keluar juga?"
Dimas yang merupakan sahabat Louis dari kecil dan sangat mengerti isi hati Louis hanya tersenyum mendengarnya pertanyaan Louis.
"Kau kira aku tidak mengerti akan isi hati mu Louis? kita berteman bukan hanya satu atau dua hari, kita sudah berteman puluhan tahun dan aku tau apa yang sampai saat ini membuat mu betah untuk tetap melajang."