NovelToon NovelToon
The Devil Husband

The Devil Husband

Status: tamat
Genre:Misteri / Perjodohan / Badboy / Kriminal / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERANI

Seruni Dendam Istri Pertama Bagian 8

Oleh Sept

Cengkraman mas Erwin sebenarnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hatiku. Setelah ia mengancam, ia kemudian menoleh ke sekitar. Lalu membuka pintu mobil dan masuk di kursi paling depan. Dan sebelum dia pergi, dia masih sempat menatap dengan tajam ke arahku.

'Teryata suamiku seperti ini?' batinku tidak menduga, bahwa aku dinikahi pria kejam seperti ini. Setelah 100 hari lebih kami menikah, dan aku baru menyadari. Nelangasa? Tidak. Yang tersisa hanya rasa amarah dan benci yang sampai ke ulu hati.

***

Selepas mas Erwin pergi, aku masuk lagi ke dalam. Ku temui ibu mertua yang asik di dapur. Entah beliau sedang apa. Aku pun mendekat, karena tidak enak kalau langsung ke kamar.

"Lagi apa, Bu?"

"Cuma mau bikin salad, Ibu lihat kamu kok pucet. Ibu bikinkan sesuatu."

Kulihat ibu sedang mencuci buah di wastafel. Aku pun mendekat dan mengatakan sesuatu. "Biar Runi aja, Bu."

Ibu menatapku, kemudian tersenyum tipis lalu mengangguk.

"Ini, biar Ibu siapkan yang lain."

Tanpa sadar aku menarik lengan bajuku ke atas, karena hendak mencuci buah. Takut lengan bajuku yang panjang ini basah. Karena aku fokus dengan buah, aku sampai tidak peduli dengan yang lain. Apalagi aku mencuci sambil melamun. Hingga ibu mertua menghampiri dan berdiri di sampingku.

"Tanganmu kenapa itu?"

Aku kaget mendengar pertanyaan ibu mertua, buru-buru aku mengelap tangan dengan handuk kering dan menurunkan lengan bajuku.

"Alergi, bu. Kemarin makan udang," jawabku panik.

"Astaga, kalau punya allergy ... tolong lebih hati-hati. Erwin juga alergi udang. Kalian jauh-jauh sama makanan itu."

Aku mengangguk agar ibu mertua tidak curiga.

"Sudah minum obat?"

"Sudah," jawabku cepat.

"Ya sudah, kamu duduk sana di sana. Ini mudah kok. Ibu bisa kerjakan sendiri."

"Gak apa-apa, Bu. Cuma alergi saja."

"Nurut sama Ibu. Mending nonton TV, biar Ibu lanjutkan sendiri."

Karena ibu terus memaksakan kehendaknya, akhirnya aku mengalah. Aku bukan ke ruang keluarga. Tapi ke kamar, kemudian kulihat pintu kamar yang rusak. Hanya di tempel setengah miring. Akhirnya aku menghubungi seseorang. Salah satu langanan yang suka membetulkan kerusakan di rumah.

Sesaat kemudian

Kami berdua, aku dan ibu mertua sedang berbincang di depan TV, kemudian ada tamu yang datang.

"Kenapa kamu panggil tukang, Runi?"

Aku memasang ekspresi biasa agar ibu mertua tidak curiga.

"Engsel pintu yang ada di kamar rusak, Bu."

"Oh."

"Mari, Pak." Aku menatap pak tukang yang akan membetulkan pintu kamarku. Kemudian pamit pada ibu mertua.

"Sebentar, Bu. Seruni antar bapak ini dulu."

"Iya," jawab ibu mertua sambil menganggukkan kepalanya pelan.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya pintu yang semalam didobrak mas Erwin kembali seperti semula. Meski aku harus menciptakan banyak alasan agar ibu mertua tidak curiga.

Sore harinya, ibu pamit pulang. Seharian ini dia di rumah bersamaku. Senyumnya yang ramah membuat aku betah di sebelahnya. Hanya saja, ketika beliau pamit pergi, dia memelukku dan mengusap punggungku lama.

"Ibu pergi dulu. Kapan-kapan ibu main lain."

"Hati-hati, Bu."

Wanita itu mengangguk dan menyuruhku masuk ke dalam rumah setelah beliau berbalik. Saat ibu pergi, tinggal aku seorang diri. Langit pun mulai gelap, aku pun memutuskan mandi karena bau asem.

Di dalam kamar mandi, aku baru tersadar. Setelah air membasahi seluruh tubuh ini. Entah apa yang dilakukan mas Erwin semalam. Yang jelas, badanku sekarang perih semua. Aku pun mematikan shower. Ganti ku penuhi bathtub dengan air hangat. Sepertinya aku butuh berendam untuk merileksasikan badan ini.

Malam hari

Sudah pukul sembilan malam. Mata ini tidak mau diajak terpejam. Malamku diliputi kegelisahan, sama sekali tidak merasa kantuk. Hingga suara telpon membuatku tersadar karena aku malah kembali melamun.

Aku jengkel sekali, tidak mau mengangkat telpon. Tapi karena ponsel itu berbunyi beberapa kali, akhirnya aku angkat saja telpon itu setelah menghela napas panjang.

"Ya."

"Ibu pulang jam berapa tadi?"

Terdengar suara yang membuat sakit hatiku mencuat.

"Sore," jawabku sangat singkat.

"Apa kau cerita sesuatu pada ibu?"

Aku diam, rasanya ingin ku lempar smartphone ini.

"Tidak."

"Kau yakin?"

"Ya."

"Sayang ... telpon siapa sih?" terdengar suara lain dari ponsel suamiku. Langsung jantungku berdegup kencang.

"Dengan siapa?" tanyaku spontan.

Bukankah menjawab, mas Erwin malah langsung mematikan ponselnya. Aku sampai tercenggang. Aku telpon balik nomor suamiku.

Tuut tut tut

Kucoba menghubungi nomor yang sama itu berkali-kali, malah di reject. Sakit hati, aku menjerit malam itu. Ku lempar semua bantal dan guling. Semua yang ada di depan aku dorong, aku benar-benar merasa frustasi. Pernikahan ini, pernikahan yang baru seumur jagung, cukup menyiksa batin dan ragaku.

***

Ketika matahari menerobos masuk lewat cela di jendela kamar, barulah aku terbang karena silaunya. Aku memegang kepalaku yang sakit. Mengingat apa yang terjadi semalam. Kulihat kamar sangat berantakan, sepertinya semalam aku lepas kendali. Ya, seperti orang gilaa yang mengamuk.

Dua hari berlalu, aku menjalani hari dengan jiwa yang kosong. Sempat terpikir untuk kembali ke panti menemui bu Fatimah. Namun, aku tidak mau menjadi beban pikiran wanita yang sudah sangat baik padaku itu. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa aku baik-baik saja.

Harapan balik ke jawa timur aku tepis. Namun, apakah masih ada yang bisa aku harapan di sini? Akan aku tunggu, nanti siang mas Erwin kembali. Akan aku tanya, sebenarnya apa maunya pria itu.

Sejak tadi kuperhatikan jam yang berjalan cukup lamban bagiku. Sudah pukul sepuluh pagi, mas Erwin belum menunjukkan tanda-tanda kedatangan. Biasanya ia pulang jam segini kalau dalam perjalanan dinas.

Tidak lama kemudian, terdengar deru mobil suamiku yang sudah aku hafal. Aku menyiapkan hati dan perasaan. Banyak pertanyaan yang harus aku ajukan dan menuntut jawaban.

Setelah menghela napas dalam-dalam, aku berdiri, melangkah menuju pintu dan membukanya sebelum diketuk. Kusentuh knop pintu lalu memutarnya pelan.

KLEK

Kulihat dari tempatku berdiri, mas Erwin keluar. Tapi dia tidak langsung masuk rumah, malah berjalan memutar lewat depan mobil dan membuka pintu sebelah.

"Siapa yang dia bawa pulang?" gumamku saat melihat sebuah kaki turun dari balik pintu.

Mataku melotot, jantung ini berdegup sangat kencang. Aku seperti tiba-tiba mengalami asma, karena merasa sesak mendadak. Bagaimana tidak, itu adalah wanita yang sama yang aku lihat di hotel. Lalu kenapa mas Erwin membawa wanita itu ke rumah ini? Membawa wanita lain ke dalam rumah yang aku tempati? Setelah ketahuan, apa mas Erwin ingin melakukan aksinya secara terang-terangan di depan mata dan kepalaku? Beribu rasa berkecamuk dalam kepala ini.

"Siapakan minum untuk Riana!" titah mas Erwin yang menyuruhku seperti seorang pembantu, sedangkan dia membawa masuk wanita itu ke dalam rumah dan melewatiku begitu saja.

BERSAMBUNG

Ya udah, siapin si Sia Nida buat mereka, Run!

1
Hariyanti
😱
Khansa Sutresno
atm jgn dibawa, ckp ambil smua uangnya... atm kredit card buang, jgn bwa apapun ato klo perlu jgn dibuang tp dibakar mlh gk ninggalin jejak...
Juna Dong
luar biasa
@bimaraZ
leganya di erwin udah lenyap dari bumi🤣🤣🤣capek raga pindah2 terus
Maryam Renhoran
author,,,,,udah yaa menderitanya,
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2
justFlio
👍👍🙏🙏
Maryam Renhoran
biadab,,,,hatiku ikut sakit thor, sampai g bs nafas
Zubaidah Harahap
mantap jalan ceritanya ngeri 2sedap sambil geram, mudah mudahan penulis sehat bisa menuliskan cerita lagi yang kita tidak bosan bacanya.
Zubaidah Harahap
lanjutkan cerita nya
rahayu rahayu
Luar biasa
rahayu rahayu
Biasa
Hartati
wah mantep bener2 menguras emosi dan jantung mutilasi aja tuh si Erwin sama si Riana
Hartati
aaa Erwin malu meong
Hikmah
sudah diintai kok masih berani tinggal sendiri.kalau niat ingin lepas seharusnya pergi lagi dr tempat itu.atau pindh kontrakan
Omha Achun
Luar biasa
komalia komalia
sampai ku belabelain malam biar sampai tamat biar besok lanjut judul baru
Sept September: terima kasih banyak kak liaaaaaa
total 1 replies
komalia komalia
apa isi nya dan dari siapa kadang bikin kita bertanya tanya
komalia komalia
dendam kaya nya author sama seruni sampai di buay menderita terus menerus
komalia komalia
cerita apadan kenapa sama si raga ada laki laki yang tulus banget dokter rian malah di bunuh si erwin
komalia komalia
penderitaan nya ko engga berkesudahan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!