Semua orang pikir hidup Sheana begitu Indah padahal jauh di luar itu. Banyak kesakitan yang ia lalui selama ini. Dan ia menutupi kesakitan nya dengan sikapnya yang seenak sendiri serta arogan. Bukan itu saja banyak keburukan telah ia lakukan selama ini.
Hingga dia bertemu seorang polisi yang menyelamatkan nyawanya dulu, membuatnya perlahan tertarik dengan Polisi yang ia pikir munafik itu.
Zidan Gautam Aditya, Polisi tampan yang harus berurusan dengan perempuan pembuat onar. Dia yang tak perduli, perlahan mulai perduli dan kasihan terhadap perempuan yang terlihat kuat di luar ternyata rapuh didalam. Rasanya ia ingin terus berada disisinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 8
Zidan menarik paksa Sheana agar masuk kedalam kantor polisi, ia membawa perempuan itu masuk kedalam ruangannya. Karena tak mungkin dia berbicara didepan rekan-rekan kerjanya saat ini.
Saat sampai di dalam ruangannya Zidan langsung menghempas Sheana dan dia menutup pintu ruangannya dan jendela yang ada di ruangannya itu.
“Kau sudah gila hah, sejak kapan saya menjadi kekasih anda” ucap Zidan dengan suara kerasnya yang teramat marah menatap perempuan gila yang tampak santai saja menatapnya.
“Kau berteriak padaku? kau pikir aku tidak bisa berteriak juga di depanmu” wajah Sheana tak menunjukkan rasa takut sama sekali, dia malah melipat tangannya di dada dan sesekali menopang dagunya menatap pria yang tengah berusaha meredam emosi.
“hah,” dengus Zidan kesal, sambil membuka kancing baju bawahnya, memalingkan wajah dengan penuh kekesalan. Ia tampak mengatur nafasnya untuk meredam emosinya sendiri.
“Oke, mau mu apa? kenapa kau selalu muncul di sekitarku. Dan apa-apaan yang kau bilang tadi” nada suara Zidan ia turunkan, dia berbicara sedikit pelan menatap perempuan yang akhir-akhir ini selalu muncul didepannya.
“Apa-apaan, kau hanya bisa marah seperti itu. aku pikir kau akan meraung layaknya singa yang sedang mengamuk” Cibir Sheana sedikit mengangkat bahunya, karena melihat ekspresi Zidan yang mulai lembut saat berbicara.
“Aku tidak ada waktu untuk menanggapi mu, pergi dari sini setelah kau membuat onar barusan. Bilang pada reporter di luar sana kalau kita tak ada hubungan” tukas Zidan yang berusaha menahan dirinya menanggapi perempuan yang ia sebut gila.
“Aku tidak mau, kau sendiri saja yang bilang.” Tolak Sheana.
“Astaga perempuan ini,” geram Zidan dan mendekat kearah Sheana.
“kenapa marah denganku? Ingin memukulku? Pukul saja” Sheana tak takut sama sekali, dia malah menantang Zidan dengan mendekat.
Zidan memejamkan matanya sekilas, dia mencoba berpikir untuk menghadapi perempuan di depannya.
“Keluar dari ruangan ku” ucapnya kemudian, karena dia sudah lelah untuk menanggapi perempuan yang sepertinya keras kepala itu.
“Oke aku pergi, tidak masalah. Dan soal berita barusan, aku tidak akan bilang apa-apa jadi mereka akan berspekulasi sendiri. selamat menikmati polisi ku” ucap Sheana dan dia mengusap dada Zidan dan turun ke perut dengan usapan lembut menggoda. Ia langsung pergi tetapi sebelum keluar, ia memberikan senyum pada pria itu.
Zidan sendiri memijat kepalanya, dia sedikit pening menghadapi anak dari konglomerat barusan. apa semua orang kayak seenaknya saja seperti perempuan itu.
.......................................
Sheana berada di dalam mobilnya, ia melihat kerumunan orang-orang yang berada di depan rumah kakeknya saat ini. siapa lagi orang-orang itu kalau bukan para pencari berita.
“Percuma kalian berdiri disitu kakek dan nenek tua bangka itu tidak akan menemui kalian, bodoh” decih Sheana saat memantau para reporter yang menunggu klarifikasi dari keluarganya soal dirinya.
“Emm, kita kemana Redy..” ucap Sheana berbicara dengan mobilnya. Benar dia menamai mobil merahnya itu Redy.
“Kau bilang ke Club? Oke kita ke sana” perempuan itu berbicara sendiri dan siap untuk menjalankan mobilnya tetapi getar ponsel membuatnya menghentikan niat tersebut.
“Kau dimana? Pulang datang ketempat yang kakak kirim itu. kita bicara dengan Daddy di sana” ucap seseorang diseberang sana saat Sheana mengangkatnya.
“Bukan urusanmu aku dimana, ingin tahu sekali”
“Kakak serius kau dimana? Pulang sendiri atau harus kakak seret dirimu agar ketempat yang kakak kirim itu” tegas suara pria dari panggilan dibalik sana.
“kakak? Sejak kapan kau menjadi kakakku. Kemana saja kau selama ini,” sinis Sheana,
“Tidak usah bahas masa la..” Sheana yang kesal dan tak ingin menanggapi ocehan Sean langsung mematikan panggilannya begitu saja.
“Sok perduli,” sungutnya dan langsung melempar ponsel ke jok belakang. Dia kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan jalanan depan rumah sang kakek.
“Aku harus bersekongkol dengan polisi itu, kalau tidak bisa-bisa kakek tua bangka itu menjodohkan ku dengan pria asing. Bisa-bisanya mereka berdua menipuku selama ini, mereka pikir aku bocah bodoh yang bisa mereka bohongi dengan sandiwara murahan mereka” Sheana berbicara didalam hatinya, dia mencengkram kuat kemudi mobil mengingat kepalsuan kakek dan neneknya selama ini.
“Kalian membodohi ku, dan ingin membunu ku selama ini. maka kalian yang akan hancur di tanganku” ucap Sheana begitu dingin, matanya juga menatap tajam kedepan.
Sheana yang tengah mengemudi, dan pikirannya yang tak fokus tak menyadari ada orang yang akan menyebrang didepannya. Seperkian detik dia baru sadar dan membuatnya mengerem mendadak sehingga membuatnya terdorong cukup keras ke depan.
Sedangkan seorang ibu-ibu yang berada di depannya sudah gemetaran dengan berlutut dijalan.
“Orang itu bodoh atau apa sih” kesal Sheana dan langsung turun dari mobilnya saat ini. bisa-bisanya orang itu menyebrang jalan tidak lihat kanan kiri. Untung saja tidak ia tabrak kalau benar-benar ia tabrak bisa-bisa ia dapat masalah lagi.
“hei bu, kalau nyebrang jalan yang bener dong” tukas Sheana sambil melihat ibu-ibu tersebut yang langsung mendongak melihatnya.
Perempuan itu yang melihat kearah Sheana langsung berdiri perlahan, menatap perempuan muda yang arogan didepannya.
“Maaf nak, saya yang salah karena menyebrang tidak lihat-lihat”
“begitu dong sadar diri siapa yang salah” Sheana sama sekali tak merasa bersalah.
“Saya sudah minta maaf dan anda anak muda seharusnya juga minta maaf pada saya karena hampir menabrak saya barusan” ucap perempuan itu yang sudah berdiri melihat kearah Sheana.
“Hei tante, anda nggak salah menyuruh saya minta maaf. Disini anda yang salah, ogah saya minta maaf. Sudah sana pergi dari hadapan saya” kesal Sheana dan menyuruh perempuan itu untuk pergi.
“Anak tidak tahu sopan santun, saya sudah berbicara baik-baik denganmu tapi tanggapan mu seperti itu. bagaimana bisa orang tuamu memiliki anak seperti dirimu” perempuan itu tak habis pikir dengan perempuan muda yang ia temui itu.
“saya juga tidak habis pikir, anda bertanya begitu saya pun juga bertanya-tanya kenapa orang tua saya punya anak sepertiku. Eits, kenapa jadi bahas begitu, sudah sana pergi” Sheana benar-benar tak ada rasa hormatnya sama sekali. Dia langsung berjalan pergi masuk kedalam mobil membiarkan orang itu yang menatapnya dongkol.
“Saya harap anak-anak saya tidak ada yang sepertimu tidak tahu sopan santun pada orang yang lebih tua” seru perempuan itu agar terdengar oleh Sheana.
“Ya, ya silahkan berdoa begitu. Doa yang banyak agar anakmu tidak sepertiku wahai nyonya” sahut Sheana sambil menyalakan mobilnya. Ia benar-benar masa bodo dengan orang tersebut.
Sheana langsung menjalankan mobilnya pergi dari tempat itu, tak memperdulikan perempuan itu yang menggeleng tak percaya dengan kelakuannya barusan. Sheana sendiri malas untuk berbasa-basi atau berpura-pura dengan sikapnya. Inilah dirinya dan dia tidak akan menjadi orang lain.
°°°
T.B.C
sbntar author sebut, zidan itu fahri.
sebut sean utu darren. buat bungung z😣😣