Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak tahu terimakasih
"Saya mau bawa Aida pulang kerumah. Udah di sekolahin tinggi, diurusin bener-bener. Malah ngga jadi apa-apa. Ngga tahu terimakasih." ucap Tante Rum dengan mata nyalang. Rasanya, menembus hingga ke ulu hati yang terdalam.
"Aida ngga punya hutang budi apapun sama Kamu, Rum. Aida sekolah aja pakai Beasiswa. Dan semua, berasal dari kerja keras dia sendiri. Apalagi, dengan semua yang Ayahnya tinggalkan untuk Aida sendiri."
"Tapi say, yang ngurusin dia. Emang kemana-mana ngga pakai ongkos."
Perdebatan antara menantu dan mertua itu makin panas. Lebih lagi, tak ada yang berani melerai hingga Aida sendiri yang turun tangan.
"Nek, udah Nek. Nenek duduk aja dulu." tariknya pada sang nenek.
Aida kemudian berdiri, menghampiri Tantenya dan bicara lagi.
"Mau Tante gimana? Aida itu ngga mau di jodohlan. Aida pun ngga pernah minta, untuk Tante repot memikirkan masa depan Aida. Aida akan berusaha sendiri. Tolong hargai keputusan itu."
" Jangan sok kuat, jika akhirnya, lagi-lagi Om dan Tante yang harus repot mengurus kamu. Dan dia!" tunjuk Tante pada Tono yang daritadi diam."Kamu justru memikirkan dia, yang bukan siapa-siapa kamu. Jangan pernah menyesal, Aida."
Tante Rum menghentakkan kakinya dengan kasar. Lalu, Ia pergi dengan menyetir motor matic barunya. Aida curiga, jika itu pemberian dari keluarga Amrul untuknya. Sebagai syarat pernikahan mereka kelak.
" Nur, itu siapa?"tanya Tono.
" Itu? Tante ku. Istri dari adik ayahku. Dan ayahku sudah ngga ada."
"Meningga?"
"Ya, meninggal sudah lamaaa sekali."
"Ibu?"
"Ibu? Bahkan Aku ngga tahu, wajah Ibu gimana. Tahu, tapi sengaja lupa."
"Bahkan aku yang kehilangan memori, tengah berusaha mengingatnya kembali. Kenapa, kau justru melupakan?"
"Ingatan itu bahkan entah bagaimana. Biarkan mengalir, karena jika di ingat akan sakit." jawab Aida, yang kali ini tersenyum pada Tono.
"Pertama kali tersenyum. Manis sekali," pujinya dalam hati.
Aida asyik bercanda dengan Tono. Tanpa sadar, Nenek nya nyaris jatuh dan pingsan di kamarnya. Terdengar bunyi, membuat Tono dan Aida langsung menghampirinya.
"Nenek, kenapa?" tanya Tono yang tampak amat cemas.
"Nenek pusing. Sepertinya, darah tinggi nenek akan kumat." keluh nenek padanya. Untungnya, saat itu Mei datang. Hingga langsung dapat membantu nenek memeriksakan diri ke bidan jaga di puskesmas.
"Tenang aja, ada Mei. Kalian tunggu aja dirumah. Nanti kalau ada apa-apa, bakalan Mei kabarin." ucapnya, sembari memapah nenek untuk naim ke motornya.
Aida menghela nafas sejenak, lalu Ia pergi untuk mengambil peralatan P3Knya. Ia akan mengganti verban dikepala Tomo, yang lukanya masih basah itu.
" Pelan," lirih Tomo, yang aslinya takut dengan darah.
"Iya sebentar, aku buka nya pelan-pelan. Jangan merintih, nanti kedengeran orang.
" Gimana ngga ngerintih, sakit. Lembut sedikit. Aaakh, aaaakkkh!" pekik Tomo, yang meski pelan, tapi tetap terdengar dari luar.
Braaak! Lagi-lagi pintu di buka dengan kasar. Aida kaget, nyaris jatuh dari kursinya. Untung saja, Tomo menangkapnya meski sedikit berpelukan.
" Tuh, lihat. Keponakan tersayang kamu, Mas. Berduaan dirumah sama pria asing. Ngapain berpelukan gitu? Terus, tadi rintih-rintih, kenapa?" tunjuk Tante Rum, yang kembali datang bersama Om Edo.
Aida spontan melepas pelukan Tomo, "Om, ini ngga seperti yang Om lihat. Aida hanya...."
"Hanya apa, Aida? Mau pembelaan apa? Kalian hanya berdua? Nenek mana? Bisa-bisanya meninggalkan kalian!" Om Edo, tampak menahan amarahnya.
"Nenek di...."
"Halah, ngga usah alasan. Itu, tetangga juga udah dateng. Hayo, gimana kalian?" sergah Tante Rum.
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu