NovelToon NovelToon
°

°

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Patahhati / Balas Dendam / Poligami
Popularitas:139.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ollane

Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.

Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.

Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.

Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.

Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8: Tangisan Alma

Adli bangkit dan pergi menghampiri kulkas. Membuka pintunya dan hendak memilih salah satu minuman yang akan dibawa ke atas meja, sebagai teman pembicaraan serius mereka. "Kamu ingin minum apa? Brandi? Wiski? Anggur merah? Bir? Atau minuman keras tradisional Korea, soju? Jepang, sake?" Adli berbalik, menanti jawaban Sean.

"Sudah kubilang aku berhenti minum."

Jawaban Sean membuat Adli tertawa, "kukira kamu bercanda. Baiklah, kalau kamu benar-benar berhenti minum mau minum apa? Jus jeruk lagi?" Lelaki itu menyeringai geli.

"Kopi, agar tidak mengantuk."

Permintaan Sean membuat Adli manggut-manggut bosan. "Oke, aku keluar dapur sebentar. Tunggu di sini, akan kubuatkan kopi. Seperti kamu, sepertinya aku harus berlatih untuk berhenti minum juga." Adli hendak menuju pintu, mendadak langkahnya berhenti di depan salahsatu foto besar yang tertempel di dinding ruangan pribadinya. Alma terpotret di sana, Adli menatapnya penuh damba. Bibir Adli menguasai bibir Alma yang hanya berupa gambar. Setelah itu Adli melepaskan diri, membuka pintu ruangannya lalu pergi ke dapur untuk membuat kopi.

"Banyak sekali foto Alma," Sean menghela napas saat tatapannya mengitari seisi ruangan. Banyak Alma yang terpotret dimana-mana, terlebih foto pernikahan mereka, atau Alma yang masih memakai pakaian pengantin. Hal itu memberi efek buruk pada Sean, perasaan bersalah menyerangnya. Terlebih kepalanya mulai berproses mengingat apa yang terjadi di antaranya dengan Alma. Cuplikannya begitu jelas, membuat mata Sean merah dan berair.

Lain tempat, Adli tengah membuat kopi. Yura menghampirinya, memperlihatkan seuntai gorden yang ujungnya putus karena digunting. "Apa ini?" Tanya Adli heran. Lelaki itu mengenalinya sebagai goren yang ada di kamar Alma.

Yura tersenyum kecut, "sepertinya kamu perlu memarahi wanita itu—lagi." Yura ganti mengaduk kopi yang dibuat Adli. "Tadi kudapati dia hendak bunuh diri. Yah, kurasa kamu perlu mengingatkannya agar tidak nekat lagi."

"Kamu tidak berbohong?"

"Untuk apa aku berbohong? Sebelum pembicaraan bisnis dengan Sean, kupikir nasehati dulu Alma. Ini demi kelangsungan hidupnya. Kamu tidak mau kehilangannya 'kan?"

"Tentu saja," sambil membawa seuntai gorden tersebut Adli meninggalkan dapur dan menemui Alma di kamarnya.

Wanita itu tengah duduk di atas ranjang, Adli mengagetkannya dan melingkarkan kain gorden ke leher istrinya. Adli mengencangkan ikatan, nyaris membuat Alma kehilangan napas. Adli menarik Alma mendekat dan ikut melingkarkan kain gorden yang sama ke lehernya.

Setelah kedua kepala dan leher mereka terjerat oleh benda tersebut, Adli yang sama-sama kesusahan bernapas menyeringai. "K-amu mau mati?" Lelaki itu berdecak, tidak suka dengan cara bicaranya yang tercekat. "Ingin bunuh diri? Baiklah, ajak aku juga. Mari mati bersama." Alma tidak mengerti tapi Adli sudah mencium bibirnya lebih dulu.

Bibir Adli semakin membenamkan diri, yang Alma tahu dia perlahan dibenamkan ke kasur. Dengan kedua leher yang masih terikat oleh gorden, akhirnya Alma mendapat hak yang diabaikan oleh Adli selama tiga bulan lebih. Awalnya Alma ingin kabur, merasa tidak pantas untuk disentuh oleh Adli mengingat apa yang terjadi antaranya dengan Sean tapi Adli sudah cerdik mengikat kedua leher mereka sebelumnya, jika Alma ingin kabur mereka berdua hanya akan mati tercekik.

Alma menangis, air matanya menetes. Bibirnya sesegukan. Adli terlihat heran, "kenapa? Kamu s-susah bernapas?" Alma tidak menjawab, masih menangis. "Alma!? Kenapa menangis? Ikatan kain ini terlalu kuat? Kamu tidak bisa bernapas? Apa aku terlalu kasar dan terasa sakit?" Tak ada jawaban, akhirnya Adli bangkit setelah melepaskan ikatan gorden di kedua leher mereka. Lelaki itu berdecak keras, "kamu benar-benar memuakkkan!" Adli menggusar rambutnya, sudah empatpuluh menit terlewat dia meninggalkan Sean sendirian di ruangannya padahal mereka hendak membahas bisnis, Adli malah mendatangi kamar istrinya.

"Aku pinjam kamar mandimu," Adli memasuki ruangan kecil yang ada di kamar Alma. Adli langsung mengguyur diri dengan jutaan tetes air. Setelah membersihkan diri, dia memungut pakaiannya sebelumnya lalu pergi keluar kembali menemui Sean yang tentu saja sudah lama menunggu. Saat Adli pergi, Alma masih menangis. Adli yang belum jauh meninggalkan ruangan itu, kembali lagi. langkahnya mengentak masuk lalu meninju dinding dengan kepalan tangan. "Katakan salahku apa sampai-sampai kamu menangis seperti itu, hah!? Salahku apa? Beritahu! Jangan menangis tanpa penjelasan!"

Tak ada alasan lain kenapa Alma menangis, wanita itu hanya merasa kotor dan merasa bersalah kepada Adli karena sama saja sudah berselingkuh dengan lelaki lain.

"Ayolah Alma," Adli mendekat. Kali ini kemarahannya memudar, air matanya menetes. Entah kenapa istri bodohnya itu terus menangis tanpa alasan. Adli mememeluk Alma, "ayolah, kamu kenapa?" Tubuh Alma yang Adli peluk terasa panas dan gemetar.

Alma mendadak mencium bibir Adli bertubi-tubi, "maaf." Bisiknya, "maaf. Maaf. Maaf. Maaf."

Rahang Adli keras, "kamu ini kenapa? Ingin menggodaku?"

"Maafkan aku ...."

"Tidak jelas," ketus Adli, mengusap sudut matanya yang berair sebelumnya. "Kutinggal." Adli benar-benar kembali ke ruangannya setelah tangis Alma mereda, wanita tidak jelas itu berhenti menangis.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Sean sesampainya Adli di ruangannya. Adli mengambil posisi di tempat duduknya, "ada urusan sebentar." Adli melirik kedua gelas kopi di atas meja. "Siapa yang membawa kedua kopi itu ke sini?"

"Yura ...." Sean berkata canggung. Sebenarnya yang dia harapkan itu Alma, tapi mengingatkan apa yang terjadi sebelumnya Sean cukup prihatin. Yura masuk ke dalam ruangan ini untuk membawakan kedua gelas kopi yang dibuatkan oleh Adli saat Adli menemui Alma. Melihat seisi ruangan pribadi Adli yang tak pernah dia datangi, Yura langsung menangis. Sama sekali tak ada fotonya di sana, hanya ada foto Alma. Hal itu yang membuat Yura mendadak menangis kencang, seperti orang gila, mengungkapkan kekecewaannya, lalu setelah itu kabur dari ruangan tersebut.

Adli hanya mengangguk-angguk, "oh."

Sean menatapnya dengan mata menyipit, "Yura melihat semua ini, dia langsung menangis tentunya. Dia cemburu, karena tidak ada fotonya di ruangan pribadimu. Tangisnya barusan tidak main-main. Mungkin dia sekarang masih frustrasi. Kamu mau membujuknya? Aku tidak keberatan jika harus ditinggalkan lagi." Membujuk istri cemburu itu pasti susah. Jika Adli pergi untuk membujuk Yura, Sean ada kesempatan untuk bertemu Alma. Karena memang itu tujuan Sean, bukan ingin macam-macam tapi ingin meminta maaf sekali lagi.

"Tidak usah," jawaban Adli yang di luar dugaan. Sean mendelik bingung, Adli terlihat tidak perduli. "Ayo kita lanjutkan pembicaraan kita sebelumnya, jangan menunda lagi. aku sangat tertarik, mengingat jumlah keuntungannya yang tidak main-main itu, apalagi proyeknya akan berlangsung selama setidaknya dua tahun 'kan? Kita butuh banyak persiapan."

"Serius kamu tidak mau membujuk Yura terlebih dahulu? Dia barusan sangat sedih, andai kamu bisa mendengar tangisannya."

"Tidak usah," Adli membalas tidak perduli.

1
katerina
lanjutkan karya bagus ini
Eka Pengestu
padahal bgus loh...knpa slalu buat cerita yg gantung gini sih thor kek di PHP in..😫
cinta pertama
ditunggu updatenya Thor
cinta pertama
yah... penasaran deh? lanjutkan Thor
cinta pertama
benar-benar menguras emosi dan bikin penasaran. semangat kak ollane... author favoritq
NandhiniAnak Babeh
author kemana ya.. sudah 2 bulan ga ada kabarnya lagi nih 🤔🤔🤔
Rika Jhon
ahaha sean bnr2 udh gila bkn stres lg..tpi aq suka n mendukung itu😀
Rika Jhon
ahaha sean stres🤣
Rika Jhon
ahaha ngakak bgt sm kelakuan ny sean
Rika Jhon
ahaha sean menghayal alma hamil dan dy akn memiliki anak dr alma
Rika Jhon
do'a mu aq dukung sean..dan akan di kabulkan olh otor ny😁
Rika Jhon
wuih sean udh mulai fall in love sm alma tpi dy tdk menyadarinya
NandhiniAnak Babeh
author where are you
NandhiniAnak Babeh
author Cepat bangun dan up lagi.. aku begitu setia dengan Karyamu sampai² slalu mengintip ke lapak mu di setiap waktu nya
NandhiniAnak Babeh
author dimanakah dirimu.. jangan bikin reader jadi tergantung seperti ini 😩😩😩😩😩
Vinna_hot mommy
wew....msh blom up jga c othor....
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
ande
up up up up😊😊😊😊
Lenabid Daeng Lumang
udh gk up lg y Thor😁SDH terlalu lama diriku menunggu🤭
Lenabid Daeng Lumang
kadang geram jg sma si Alma,,kan jadi kasihan sma Sean

semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊
Indah Tuk Di Kenang
up dong thorrr...semangat💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻ada aku yang menunggu😭😭walau berat😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!