Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusuh
"Aku suka kamu!" jelasku kembali terduduk menatap Zain.
Setelah sadar dengan apa yang ku ucapkan, aku cukup malu sejadi-jadinya.
"Eng-enggak disangka aku bilang begitu. Bagaimana ini? Aku kebawa suasana jadi malah salting. Bagaimana tanggapan Zain ya?" batinku menundukkan kepala kemudia melirik Zain yang bersandar di dinding sebelahku.
"Oh? emm? hem?" balas Zain sedikit meledek dengan senyumannya.
"A-aku bohong!" jelasku kembali memalingkan pandangan.
"Ahaha..haha.." Zain tertawa begitu riangnya mendongakkan pandangan menatap langit.
"Kenapa kau jadi malu-malu begitu? kadang kau kayak anak-anak ya," lanjut Zain.
"Lah! Dia malah sok dewasa!" batinku terkejut.
"Emm, kalau begitu, kita jadian?" jelas Zain tersenyum tipis kembali menatapku.
"Ja-ja?" ucapku terbata-bata.
Dengan wajah masih memerah padam, pandanganku kembali tertunduk, "Eng-enggak usah, lagian aku bohong kok."
"Eh? Jadi kau beneran bohong, nih? Gila sadis bener," balas Zain terkejut.
Zain kemudian membaringkan tubuhnya, "Ya sudahlah kalau memang begitu, syukur deh."
"Zain?"
"Syukurlah aku jadi lega," jelas Zain memicingkan mata.
"Lo? loh kok gini sih?" batinku penuh tanya berbeda arah dengan inginku.
Keesokan paginya di dalam ruangan kelas.
"Maaf, aku gak bisa pelihara di rumah, soalnya di rumahku ada kucing sih," ucap Azi menyengirkan senyuman sembari menggendong ayam.
"Oh iya, bisa bahaya juga itu, ayamnya bisa di mangsa nanti," sahut Alea yang sedang berbincang di sampingku juga Zain.
"Sebenarnya, kucingku malah takut dan gak mau turun dari lemari," jelas Azi menyerahkan ayam tersebut pada Zain.
Pe..pe...petok!
"Kamu membawanya lagi, Zain!" sahut Bu Dewi muncul di samping.
"Kau ini Dewi, selalu saja berlebihan," balas Zain
"Habisnya, masak iya kesekolah bawa ayam?" pungkas Bu Dewi.
"Memangnya gak boleh di pelihara di sekolah ya, Bu? Soalnya waktu di SD dan SMP ku dulu, ayam boleh di pelihara loh," sahut Azi.
"Iya sih, di SMP ku juga sama," singkat Alea.
"Benarkah? Ibu malah gak sadar," ketus Bu Dewi.
"Kalau begitu bisa minta izin buat memeliharanya, Bu?" lanjut Azi melirik bu dewi.
"Ehh! Gak mau ah! Kalian gak tau sih kalau si tua bangka itu marah bisa repot!"
Setelah membahas perihal perizinan, bu Dewi sepakat mencoba meminta izin kepada kepala sekolah. Tak lama setelahnya, bu Dewi kembali kedalam ruangan dengan wajah menunduk sedikit lemas.
"Diizinkan."
"Hore-hore-hore," sahut Zain, Alea juga Azi, sedang aku masih terduduk membaca buku pelajaran.
"Po-pokoknya kamu harus urus ayam itu dengan benar, Zain! Kamu juga harus ikut membantunya, Anita!"
"Hah?" sontakku terkejut langsung menatap bu Dewi.
"Sudah kuduga, ujungnya pasti begini," lanjutku menepuk dahi.
"Tenang saja, aku juga akan ikut membantu kok," sahut Alea begitu semangat.
"Aku juga pasti bantuin kamu Zain, soalnya ini semua juga karena salahku," jelas Riko.
"Wah, ternyata kau ini orang baik juga ya Azi. Azi siapa ya?" ucap Zain kagum.
"Panggil Azi saja."
Setelahnya, mereka bertiga pindah ke ruang perpustakaan dan anehnya aku justru ikut terbawa suasana mengikuti mereka.
"Oke, untuk sekarang itu dulu yang kita butuhkan. Selanjutnya kita harus pikirkan cara membuat kandang ayam," jelas Alea menggambar beberapa sketsa kandang ayam.
Aku yang sibuk membaca buku tak menghiraukan ucapan Alea, justru membuatnya sedikit menegur, "Nona Anita sheila, tolong perhatikan!"
"Bagaimana caranya bikin kandang ayam?" sahut Zain terduduk mengoyang-goyangkan kursinya.
"Ah, aku bisa cari tau caranya," balas Alea.
Alea mengambil ponsel disaku bajunya," Kamu bisa menemukan apapun di internet."
"Oh iya, di dekat rumahku, seingatku ada toko perkakas, mau kubelikan disana aja apa gimana?" sahut Azi.
"Ah, astaga baru kepikiran, ayo kita belanja bareng! Kita bareng-bareng kesana hari minggu nanti! Gimana?" jelas Alea.
"Boleh juga, tapi aku mau ikut latihan bisbol dulu."
"Gampang, yang penting kita wajib tentukan itu!" balas Alea cukup semangat.
"Menghabiskan akhir pekan bareng teman-teman," ketus Zain mendongak melamun sendiri.
"Itu?" balas Azi masih tanya jawab dengan Alea.
"Iya, tempat janjian kita nanti, tempat dan waktunya jam berapa," jelas Alea.
Ditengah perdebatan tersebut, sembari membaca buku, aku justru masih teringat terus kepikiran akan hal yang ku ucapkan tempo lalu pada Zain.
"Apa seharusnya aku terima saja ya? Tapi waktu itu sepertinya aku cuma kebawa suasana," batinku.
"Huff," lirihku menghela nafas.
"Aku ini kenapa sih, pokoknya dengan begini semuanya uda jelas kalau perasaannya enggak sama denganku," lanjut pikirku.
Akhir pekan tepatnya hari minggu telah tiba, setelah menyepakati salah satu tempat yang telah di janjikan, Azi dan Alea tiba terlebih dahulu.
Di depan toko game.
"Ah..." ucap keduanya saling gugup ketika tiba di waktu yang sama.
"Kamu cepat juga datangnya," ujar Alea membuka percakapan.
"Oh, iya. Latihan hari ini selesai dengan cepat soalnya."
"Ma-mau menunggu di dalam?" lanjut Alea.
"Boleh."
Kemudian keduanya berjalan masuk kedalam toko game yang tak lain milik Rio.
"Dari dulu, aku memang gak terlalu suka kalau berduaan dengan cowok," lirih Alea masih terlihat gugup berjalan mengikuti Azi.
"Eh?" cetus Alea melihat Rio memberikan beberapa lembar uang ke orang lain di lorong kasir.
"Jangan balik kesini lagi," jelas Rio kepada seseorang tersebut yang pergi meninggalkannya.
"Pagi," sapa Azi kepada Rio yang sedang memantik api menyalakan rokok.
"Yo, cowok bisbol," balas Rio.
"Loh, kamu sudah mengenal kak Rio, Azi?" sahut Alea.
"Wajar sih, soalnya aku sering main bisbol kesini," singkat Azi.
"Oh? Jadi Zi, apa kau salah satu dari teman sekelas Zain?" sambung Rio.
"Ya teman sekelas sih. Ah sambil menunggu, aku mau main bisbol dulu."
"Silahkan."
"Oke."
Rio melirik Alea yang berjalan mendekatinya, "Ada apa?"
"Kakak gak boleh pinjami uang ke orang asing loh," ucap Alea cukup serius.
"Kenapa gitu?"
"Yo Alea," sahut Zain yang baru tiba sembari menggendong ayamnya.
Sembari menungguku yang tak kunjung tiba, mereka bertiga mengahbiskan waktu bermain di ruang bisbol.
"Kamu harus begini pegangnya," ujar Azi mengajari Alea memegang tongkat pemukul.
Tak lama setelahnya, aku tiba dengan nafas terengah, "Ma-maaf telat, adikku ngerusak jam bekerku."
Bukan menanggapi apa yang ku ucap, mereka bertiga justru mengolok pakaian yang sedang aku kenakan.
"Norak," jelas ketiganya bersamaan.
"Hah?"
Tak membuang waktu yang ada, langsung bergegas menuju toko perkakas ayam dan setibanya di lokasi.
"ENGGAK BOLEH!" pekik Alea dengan suara sedikit keras.
"MEMANGNYA KENAPA! PADAHAL KANDANGNYA KEREN BEGINI," balas Zain menaikan nada suara.
"Anggarannya gak cukup, dudul!" lanjut Alea.
"Kan tinggal ngutang aja atau gadai ijazah beres!" pungkas Zain.
"Mana bisa! Ayam jago gak punya ijazah!"
Selagi keduanya berdebat, aku justru perlahan pergi berjalan santai dengan Azi, " Capek aku, tinggalin ajalah mereka, biar kita berdua yang mencarinya."
****
Sampai disini dulu kak, om tante lainnya, next senggang kita gas lagi yak, makasih tetap sate di mari.
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa