Semenjak kematian kedua orang tuanya. Sri yang memiliki nama lengkap Sri Wahyuni harus rmengorbankan untuk tidak bersekolah dan berjualan jamu untuk membiayai kehidupan sehari harinya bersama Cipto adik kandungnya.
Kehidupanya yang terbilang miskin dan kekurangan. Membuat tekadnya semakin kuat untuk meneruskan perjuangan almarhum ibunya berjualan jamu keliling.
David adalah seorang lelaki yang terlahir dari sebuah keluarga kaya raya. Namun kekayaaan yang melimpah tak seindah ekspektasinya.
David harus menelan pahitnya kehidupan ketika kedua orang tuanya resmi bercerai dan meninggalkanya bersama Sang Kakek yang selau menyayangi dan merawatnya hingga dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISA BISAAN DAVID SAJA
Di kamar mandi David mengguyur dirinya dengan pancuran Shower. Dia berharap hasratnya akan terbawa seperti air yang mengalir.
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana?" David mengingatkan kembali potongan memori di dalam pikiranya.
Setelah beberapa menit terdiam di bawah guyuran Shower. akhirnya ingatan David kembali di kepalanya.
"Iya benar gadis itu, tidak salah lagi." ucap David seraya mematikan shower dan mengambil handuknya.
Di lain tempat. Sri terlihat baru saja turun dari mobil agkotnya. Dia berlari dengan cepat menuju rumah sakitnya.
Tanpa menghiraukan dengan busana yang di pakainya. Sri terus berlari dengan tangan yang masih memegangi ceknya.
"Mbok ... mbok Darmi." Sri yang baru masuk ke dalam ruangan Cipto memanggil manggil Mbok Darmi.
Mbok Darmi terhenyak dari tidurnya dan mengucek ngucek matanya yang masih terasa ngantuk.
"Ya allah Sri, kamu darimana, nak? kenapa kamu seperti biduan dangdut?" tanya mbok Darmi.
Sri memeluk mbok Darmi dengan senyum yang mulai memancar.
"Mbok, Sri sudah mendapatkan uangnya." Sri memperlihatkan cek yang diberikan David padanya.
"Syukur alhamdulilah, Sri. Sekarang cepat kamu temui Dokternya Sri." titah Mbok Darmi.
Sri mengangguk dan segera melangkahkan kakinya kembali menuju ruangan Dokter yang menangani Cipto.
Di ruangan Dokter yang menangani Cipto. Sri segera menanda tangani formulir operasi pencangkokan sumsung tulang belakang Cipto yang di berikan Dokter padanya.
Dan setelah selesai. Sri segera mengembalikan formulir tersebut pada Dokter untuk segera di tindak lanjuti.
Dengan perasaan lega. Kini Sri melangkah kembali masuk ke dalam ruangan Cipto yang masih tidur dengan pulasnya.
Tubuhnya yang sudah lelah kini ia sandarkan di tempat duduk samping bad hospital Cipto. Dan lama semakin lama, kini ia terlihat memejamkan matanya.
David kini telah kembali ke dalam Villanya. Waktu sudah menunjukan jam 2 malam tapi David belum bisa memejamkan matanya.
"Cantik natural ... aku suka sekali." gumam David sambil menyangga kepala dengan kedua tangan dan pandangan ia arahkan ke arah langit langit kamarnya.
David berguling ke samping sambil memelul gulingnya.
"Aku ingin menemuinya kembali, tapi alamatnya pun aku tidak tahu, apalagi nomer teleponya. Ah, betapa bodohnya diriku ini. Mengapa tadi aku tidak meminta nomer handphonenya." David mendesah kecewa merutuki kebodohanya.
David terus berperang melawan pikiranya. Dia terus berpikir bagaimana caranya ia bisa menemui gadis yang kini meracuni pikiranya.
"Aku tahu! Iya, pasti gadis itu besok pagi mencairkan ceknya ke bank XXX," David mengulum senyum manisnya.
Ke esokan harinya. Tidak, maksud Author jam 5 subuhlah. Sri meminta izin kepada mbok Darmi untuk pulang mengganti baju biduanya.
Sri juga mengatakan kalau dirinya akan langsung pergi ke bank guna mencairkan cek 300 jutanya setelah membereskan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu.
Turun dari angkot. Sri langsung membayar ongkosnya dan berlari se edan edanya, berharap tak ada satu pun yang tahu, apalagi melihatnya berbusana seperti itu.
Berbekal handuk kecil dia menutup kepalanya. Dan ia berlari dengan high hell yang ia tenteng dengan tanganya (nyeker men)
Namun apes, sepasang mata kini melihat Sri sedang berlari dengan busana biduanya, siapa lagi kalau bukan bigos alias tukang gibah yang memiliki ID Rohana si ratu rumpi yang selalu tampil fenomenal di suka mulya.
"Bhua ... ha ...ha. Sudah aku duga." Rohana tertawa penuh kemenangan mendapatkan bahan baru yang bisa ia goreng menjadi gosip panas terbaru dan ia sebarkan pada semua emak-emak penghuni Suka mulya.
Di dalam kamarnya. Sri segera melepas pakaian yang menurutnya pakaian kurang bahan. Dan segera menggantinya dengan pakaian yang sederhana yang biasa membuat nyaman dirinya.
Waktu sudah menunjukan jam 9 siang. Dan sedari jam 7 pagi David sudah stand by di dalam mobilnya menunggu Sri datang mencairkan cek dan melewat di hadapanya.
Untuk membuang rasa bosan menunggu kedatangan Sri. David berkutat dengan handphonenya mencari kesibukan.
"Itu dia, yah benar. Itu dia Sri." guman David yang melihat Sri lewat dan hendak memasuki bank dari dalam mobilnya.
David keluar dari mobil dan kini terlihat bersandar pada mobil sambil menghisap sebatang Rokoknya.
Dari kejauhan David memandang heran pada lelaki mencurigakan yang berjalan di belakang Sri yang baru saja keluar dari banknya.
Benar saja dugaan David. laki laki itu kini merampas tas yang berisi uang 300 juta yang bawa Sri untuk pengobatan Adiknya.
"Maling ... maling ...." Sri berteriak maling, berharap seseorang akan mendengar dan segera menolongnya.
David dengan gesit kini berlari dan menghadang maling tersebut.
"Siapa kau? menyingkir dan jangan halangi jalanku!" bentak maling itu pada David.
Berani sekali dia membentaku.
"Jika kau menyayangi nyawamu, cepat kembalikan tas yang berisi uang itu pada pemiliknya!" titah David dengan santai.
Si maling malah tertawa dan malah tak menghiraukan ucapan David.
BAK ... BUK ...
Si maling langsung jatuh tumbang terkena pukulan David di bagian perutnya.
David melangkah dan mengambil tas berisi uang milik Sri. Dari kejauhan terlihat Sri berlari menghampiri David yang sudah memegang tas miliknya yang berisi uang.
"Terima kasih, Tuan." Sri membungkuk dan kemudian melangkah berniat mengambil tas miliknya.
Hei gadis manis, ini tak semudah apa yang kau bayangkan.
Ketika tangan Sri mencoba meraih tasnya yang di pegang tangan kanan David, David dengan cepat memindahkanya ke tangan kirinya. Dan begitu seterusnya.
"Tuan, aku mohon. Jangan bercanda lagi, berikan uang itu pada saya." pinta Sri dengan tangan yang terus mencoba mengambil tasnya dari tangan David.
David mengangkat tas Sri ke udara, dan Sri pun kesulitan meraih karena tinggi badanya yang tak berimbang dengan David.
Sebelah tanganya kini dengan berani merangkul pinggang Sri dan menariknya hingga merapat masuk ke dalam pelukanya.
Cup ....
Lagi lagi Sri terkejut dengan cara David mencuri manis bibirnya.
Epppokkk
David melepas pagutan bibirnya sambil tersenyum licik.
"Berikan nomer handphonemu, maka aku akan mengembalikan tasmu." David bernegosiasi. Tidak, lebih tepatnya meminta, dengan pandangan yang memaksa.
Sri mengeluarkan handphone jadul Nokia 3315 dari dalam saku celananya. Dan membuat David terdiam merasa iba.
Gadis secantik ini mengapa tidak berimbang dengan handphonenya. Oh, tidak kenapa aku semakin menyukai kesederhanaanya.
"Untuk apa nomer handphoneku, Tuan?" tanya Sri yang ragu memberi nomer handphonenya.
David merampas paksa handphone jadul Sri dan menukarnya dengan tas berisi uang yang di peganginya.
David mengetik nomernya di handphone Sri dan mencoba melakukan panggilan pada nomernya sendiri.
"Maaf ... sisa pulsa anda. Tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan untuk melakukan pengisian pulsa." suara operator jaringan dan suksea membuat David tertawa terpingkal.
David tersenyum tampan menoleh ke arah Sri yang sudah terlihat malu karena bokek pulsanya.
"Ayo ikut aku!" David menarik tangan Sri dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil. Sri sudah terlihat gelisah. Tak henti hentinya ia meminta dan memohon agar David segera menghentikan mobilnya.
"Tuan, waktuku tidak banyak. Saya harus mengantarkan uang ini untuk membayar biaya operasi adiku." Sri memohon sambil menangis melipat tangan di hadapan David.
David menoleh Sri sesaat dan segera menepikan mobilnya di tepian jalan.
Terlihat ia mengeluarkan benda pipih dari dalam saku jasnya dan menghubungi seseorang.
"Oscar ... segera kau urus dan selesaikan semua biaya operasi atas nama pasien Leukimia bernama Cipto!" titah David pada sahabatnya. Dan kemudian ia langsung mengakhiri panggilanya.
"Tenang saja, Sri. Kau tidak perlu lagi memikirkan biaya operasi Cipto Adikmu, karena rekanku sudah mengurus semuanya." tukas David.
Dasar horang kaya. Dengan begitu mudahnya kau berbuat apapun sesuka hatimu.
"Ingat! di dunia ini tak ada yang gratisss, camkan itu!" David kembali menorehkan senyum liciknya.
Sri mengangguk dan menelan ludahnya karena gugup.
Dengan santai David mengangkat dagu Sri hingga terangkat wajahnya.
Cupsss ...
Oh tidak, David kini menarik tengkuk Sri dan melahap kembali manis bibirnya Sri, yang mulai benar benar menjadi candu berat baginya.
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN FAVOURITE KAN.
yaelah Thor kok nanggung sehhh....
up dunk.
Rahwana
rohani
Dan terakhir Dorna(sampe salah baca aku Thor bacanya dorra, karena begadang Ampe jam 1 mlm bacanya, mo dlanjutin besok kok sayang😁😁)
motor mionk...🤣🤣🤣🤣
aimakjang, bacanya aja dah bikin pipiku sakit gak bisa brnti ketawa..🤣🤣🤣
penggal aja bg David si rohhalus tu...