NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah

Status: tamat
Genre:Romansa / Poligami / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Dikelilingi wanita cantik / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:119.4k
Nilai: 5
Nama Author: E. Hidayat

Setelah sekian lama menuntut ilmu di Yogya, Al pulang kampung dan bertemu dengan musuh bebuyutan di masa kanak-kanak. Gadis itu kini kuliah di Madinah. Dia adalah puteri bungsu pemilik pesantren modern yang jadi sumber konflik dengan warga. Al merasa terpanggil untuk mendamaikan dua kubu yang bertikai.

Di sisi lain, Al mengalami masalah pelik dalam keluarga besarnya, Opa menduakan Oma sehingga Ayah kena imbasnya. Dalam rangka mencari ikhlas, Oma minta ditemani untuk melakukan perjalanan ke Dua Kota Suci.

Perseteruan mencapai puncak ketika beberapa warga terbunuh dengan tersangka mengarah ke santri pesantren. Sanggupkah Al meredakan situasi genting itu, dan dapatkah ia menaklukkan hati musuh bebuyutan sementara masa lalu datang menghantui?

Peristiwa demi peristiwa terjadi, membuat Al terjebak dalam kehidupan yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E. Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 08

Yudi berjalan ke meja pojok yang kosong ditinggalkan tamu untuk berjoget sambil menyapa para undangan.

Anak muda tumpah ke depan panggung mengelu-elukan Pamela Bordin. Pria sudah berumur tidak mau ketinggalan.

“Dengarkan suaranya,” bisik Al di telinga Nidar. “Jangan lihat goyang pinggulnya.”

“Sahabat lebih penting,” sahut Nidar sambil berjalan di belakang bersama Irma. “Malam ini adalah pertemuan bersejarah.”

Padahal Pamela Bordin sudah turun panggung, diseling penyanyi laki-laki. Nidar malas nonton, yang lain juga. Gantian ibu-ibu berjoget. Mereka bahkan lebih heboh sawerannya. Barangkali balas dendam kepada suami mereka.

Semua mata tertuju kepada Al dan gadis bercadar yang melangkah di sampingnya. Dia tersenyum pahit. Ada gadis yang lebih berkualitas, mereka langsung lupa sama artis YouTube yang menyapa penonton di bawah panggung. Mereka terpesona melihat satu-satunya tamu bercadar. Iri juga.

Di antara tamu itu pasti banyak yang mengenalnya, terutama anak-anak yang sering terlibat tawuran. Wajah sahabat masa kecil yang diingatnya sedikit sekali.

“Sapa dong,” tegur Nidar pelan. “Mereka mantan pasukanmu.”

Al baru mengangguk ramah dan menebar senyum hangat.

“Assalamu’alaikum semuanya. I come back after all this time. Sorry ya, kebanyakan kalau salaman.”

Pemuda-pemuda itu membalas lambaiannya.

Irma meledek, “Telat. Untung mereka tidak melempari kamu dengan pisang."

"Monyet dong?" kicau Nidar. "Aku habis empat apa namanya?"

"Kingkong!"

Mereka tiba di meja pojok. Al kebagian duduk di samping gadis bercadar. Wangi parfum yang khas makin menguatkan ingatan kepada ratu kecil. Tapi dia belum yakin betul.

"Baru pulang ya?" tanya Irma.

"Kok tahu?"

"Ayahmu update status."

"Caption-nya?"

"Dinner with my son on a glory night."

"Kalah anaknya," ejek Nidar. “Kid jaman now pakai HP jadul, gak perky banget.”

“Bukan berarti gaptek.”

"Menguasai teknologi kalau tidak dimanfaatkan buat apa?"

"Memiliki keahlian tidak selamanya harus digunakan. Ada saatnya keahlian itu dibutuhkan, atau mungkin tidak terpakai sama sekali."

"Kalau tidak terpakai, buat apa kita memiliki keahlian itu?"

"Setiap keahlian pasti berguna untuk situasi tertentu, sebab keahlian muncul akibat situasi tertentu. Ketika situasi tertentu tidak terjadi, keahlian itu berarti tidak terpakai, tapi keahlian itu tetap dibutuhkan untuk menghadapi situasi tertentu."

"Ngomong apa sih?" potong Irma. "Aku jadi makin bego. Kamu bawa oleh-oleh apa tidak? Itu yang penting."

"Pasti tidak," jawab Nidar. "Mana ingat sama kita?"

Al sebenarnya ingin membawa oleh-oleh, paling tidak buat ratu kecil. Tapi uangnya cuma cukup untuk ongkos dan biaya makan di perjalanan.

Ayahnya tak pernah mengirim uang lebih. Dia sering pinjam sama Rivaldo apabila ada acara mendadak. Aisyah pasti marah kalau tahu.

Dia membelikannya beberapa keranjang makanan khas Yogya untuk oleh-oleh. Kedatangannya pasti ditunggu-tunggu karena lama pergi merantau. Oleh-oleh itu untuk menjamu tamu yang datang.

Tapi tidak ada tamu datang, dan oleh-oleh jadi santapan asisten rumah.

Lagi pula, Al tidak ingat pada teman masa kecilnya. Dia harus berpikir keras mengingat mereka saat bertemu kembali, kecuali satu yang tidak terhapus oleh waktu, ratu kecil.

“Aku bahagia sekali kamu datang,” kata Yudi. “Meski itu undangan takdir.”

"Kalian bisa minta nomor ponselku sama Ayah."

"Ayahmu sangat ketat menjaga anaknya. Beliau tidak mau studimu terganggu. Kamu pasti sebentar-sebentar ingin pulang kalau sering dihubungi teman sepermainan di kampung. Ayahmu tidak menghendaki hal itu."

Ayah demikian cerdik menutupi kemewahan hidupnya. Mereka takut membocorkan keadaan yang sebenarnya kalau dikasih nomor kontaknya.

"Kalau sudah gede, sukanya diam-diaman ya," goda Irma. "Nggak reseh."

Kata-kata itu membuat Al yakin dengan suara hatinya. Gadis bercadar yang duduk di sebelahnya adalah ratu kecil yang sangat dirindukannya. Dia melirik gadis itu sekilas dan hatinya mendadak terasa sejuk.

"Al lagi mengingat-ingat," kata gadis bercadar dengan suaranya yang merdu. "Kayaknya kebanyakan nama perempuan di otaknya, loading-nya lemot."

Lancang, gerutu Al dalam hati. Cuma satu perempuan yang berani kurang ajar padanya.

“Aku tahu siapa kamu meski dibungkus kayak lemper. Riany Mahera Ayubi. Perempuan yang pernah memanah dadaku."

Waktu kecil, Al jadi kepala suku laki-laki dan Riany jadi kepala suku perempuan. Dia bergelar raja bandring dan gadis itu berjuluk ratu jamparing. Mereka musuh bebuyutan. Di manapun bertemu pasti terjadi peperangan.

Tapi mereka saling bantu kalau anak kampung lain datang menyerang. Mereka bahkan pernah menyusup ke kampung tetangga sebagai serangan balasan atas penganiayaan terhadap Yudi.

"Ingat itu aku suka ketawa sendiri," kata Irma. "Riany minta pendapatku bagaimana cara menaklukkan kamu biar tunduk sama perintahnya, terus aku tunjukkan gambar hati yang tertusuk panah. Akhirnya kejadian deh dipanah beneran.”

"Untung mata panahnya tidak tajam," senyum Al kecut. "Jadi cuma memar."

"Saat itu aku belum tahu ada panah tajam," sambar Riany. "Aku pasti minta sama Abi untuk beli kalau tahu, sekalian panah beracun."

"Jahat banget."

"Memangnya kamu tidak jahat?"

"Ketemu saja baru malam ini, jahat apanya?"

"Dulu!"

"Berarti sekarang aku baik?"

Al bersyukur ratu kecil sudah hijrah. Awalnya dia sempat khawatir kenakalan Riany berkembang seiring bertambahnya usia. Sejak masa anak-anak, dia berani memberontak, tidak mau mengikuti kakaknya berhijab.

Pamela Bordin datang dengan senyum manisnya, dan menyapa, "Hai, Al. Apa kabar?"

Al bengong. Artis YouTube itu kenal dirinya? Dia berusaha mengingat-ingat, tapi tidak menemukan nama gadis itu di masa lalunya. Di Yogya juga tidak pernah nonton konser dangdut. Jadi di mana mereka pernah bertemu?

"Aku followers ayahmu," kata Pamela.

"Pantesan."

"Pantesan otakmu somplak," tukas Irma. "Benar-benar kacang lupa kulitnya."

"Sama ratu kecilnya saja hampir lupa," sindir Yudi. "Apalagi sama selir."

Selir, pikir Al lambat-lambat. Ada sebuah permainan indah di masa kecil dimana dirinya mempunyai seorang ratu dengan dua selir, dan mereka tidak pernah akur.

Al tiba-tiba menoleh ke Nidar. "Kamu tidak bilang kalau artis YouTube ini adalah Komala."

"Tidak bilang bagaimana?" balik Nidar santai. "Aku sudah ngasih tahu di kedai. Kamu saja tidak ingat nama lengkapnya."

"Selir kedua pasti tidak ada gambaran sama sekali," senyum Pamela. "Permainan itu bisa terulang lagi gak ya?"

"Kesempatan emas, Al," dukung Yudi. "Madu tiga. Cakep-cakep lagi."

Al tidak tahu reaksi apa yang ada di balik niqab ungu itu. Mungkin senyum melecehkan seperti dulu-dulu. Tapi hatinya tidak tersinggung. Malam ini adalah anugerah terindah. Dia dipertemukan lebih cepat dengan gadis yang menghiasi sujud malamnya, meski dia tidak tahu apakah Riany menabung rindu yang sama.

Sejak lulus SMA, Riany melanjutkan sekolah ke Madinah. Orang tua yang kaya raya bisa mengirimnya ke universitas terbaik manapun di dunia. Dan itu sebenarnya yang membuat mereka tidak pernah akur. Riany anak bangsawan, Al anak cendawan.

1
grandpa
wk wk wk
fai
laki laki yang dipegang omongannya bukan burungnya
ENDAH_SULIS
pengen baca tp ini tgg poligami.. gaknkuat...takut sebelum baca
Nun
Thanks atas kunjungannya selalu.
Nun
Thanks atas kunjungannya selalu, Bun.
Nun
Thanks atas kunjungannya selalu.
Nun
Thanks atas kunjungannya.
Mamah Gempol
se7
Nurkhamidah
🥺🥺🥺 kirain mau sama aisyah..
kok tamat sih thor...
Nun: Sekali lagi terima kasih, kak, atas motivasinya, sehingga otor bisa menyelesaikan novel pertama otor di platform ini.
total 1 replies
epi juliana
suka ceritanya, tetap semangat author
Nun: Terima kasih, Bun, atas dukungannya. Semoga novel ini tidak sekedar jadi bacaan belaka. Sukses dan sehat selalu untuk bunda.
total 1 replies
Mamah Gempol
Bonus apa nih? Wkwkwk....
Nun: Thanks atas kunjungannya selalu.
total 1 replies
Mamah Gempol
Waduh repot....
Mamah Gempol
Kalau kondisinya begitu sih iya....
Nun: Thanks atas kunjungannya selalu.
total 1 replies
Mamah Gempol
tissue sih lembut
Nun: yang kasar parutan ya, Bun?
total 1 replies
Nun
Hari ini sudah berhasil dihapus. Mohon maaf atas ketidaknyamanan membaca sebelumnya.
Mamah Gempol
wkwkwk
Mamah Gempol
nih orang urusannya makan mulu
Mamah Gempol
kasihan
Mamah Gempol
iya juga sih
Nun: iya juga apa ya?
total 1 replies
Mamah Gempol
caper
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!