BEDA
Sebuah karya yang berangkat dari pengalaman pribadi dan inspirasi lainnya, yang saya kemas dalam bentuk cerita dalam novel. Inilah dia BEDA.
Ezra Christian Nasution, dari namanya saja sudah jelas jika ezra adalah anak keturunan Suku Batak. Suku yang terletak di Provinsi Sumatera Utara yang terkenal dengan salam horasnya.
HORAS!!
Ezra dan dua adik kembarnya, erich dan ernest dibesarkan dikeluarga kristen yang taat dan penuh cinta kasih. Sejak kecil mereka bertiga sudah diajarkan arti TOLERANSI yang sesungguhnya oleh dua orang tua mereka, yang dimana mereka bertiga bersahabat dengan gwen dan gibran yang notabennya beragama islam.
Gwen dan gibran merupakan anak dari sahabat kedua orang tua mereka, sehingga persabatan mereka menurun.
Beranjak remaja, ezra menyayangi gwen lebih dari seorang sahabat. Bahkan ia menjadikan gwen tujuan hidupnya, namun sayangnya kisah cinta merka terhalang oleh dinding penghalang yang kokoh yaitu perbedaan keyakinan.
Akankah ezra dan gwen bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Usai menyelesaikan rekamannya, mereka berlima bertolak menuju Private Island milik orang tua Gwen dan Gibran yang berlokasi di Kepulauan Seribu, untuk bisa sampai ke Private Island tersebut mereka berlima berangkat menggunakan kapal pesiar pribadi yang juga milik orang tua Gwen dan Gibran.
Dari kejauhan Ezra melihat Gwen sedang berdiri di atas deck kapal memandangi pemandangan laut lepas. Gwen tampak santai dengan menggunakan jumpsuit model bohemian dan kacamata hitam serta rambut panjang yang ia biarkan terurai, tanpa ragu Ezra berlari menghampirinya.
"Kok enggak gabung sama yang lain?" Ezra mencoba membuka topik pembicaraan.
"Aku ingin menikmati pemandangan sambil menghirup udara segar" Gwen merentangkan tangannya sambil memejamkan mata dan menghirup nafas panjangnya.
"Kesana yuk!!" Ezra mengajak Gwen mencari tempat duduk.
Sambil berjalan Ezra merangkul bahu Gwen, ia sangat terkejut ketika Gwen melingkarkan tangan kirinya dipinggangnya. Ini adalah kali pertamanya Gwen melingkarkan tangannya di pinggang Ezra ketika Ezra merangkul pundaknya.
Keduanya nampak mesra berjalan beriringan, tak ingin melewatkan moment tersebut, Ezra mengambil handphone di sakunya, ia mengabadikan moment tersebut melalui kamera phonecellnya.
Sambil berpose, Gwen bersandar di bahu Ezra. Keduanya semakin tak canggung, bahkan Ezra mulai berani untuk memeluk dan mencium pipi gadis cantik itu.
Hingga kapal bersandar di dermaga pulau, Ezra enggan menurunkan tangannya dari bahu Gwen.
"Kata mommy, chef baru akan datang besok bersama dengan tim lainnya. Jadi malam ini kita masak sendiri, kalian mau makan apa biar aku yang buatkan?" tanya Gwen kepada yang lainnya.
"Harusnya kami yang bertanya, kakak bisanya masak apa?" Gibran meledek kakanya.
"Kamu meremehkan aku?" Gwen kesal karena diremehkan oleh adiknya, Ezra mengelus lengan gwen agar gadis cantik itu tidak emosi.
"Tak pernah pilih-pilih aku kalo soal makanan, apa saja pasti aku makan. Kau rebuskan batu di cocol kecap pun akan aku makan" ucap Ernest.
"Kau seperti buaya apa saja masuk" ucap Erich.
"Asal jangan buaya darat saja hahaha...."
Tiba di villa, Gwen langsung membuka kulkas di dapurnya untuk melihat stok bahan makanan yang tersedia. Melihat ada banyak telur, Gwen memiliki ide untuk membuat omelet.
"Abang bantu ya" Ezra memecahkan beberapa butir telur ke dalam mangkuk, sementara Gwen mengiris bawang bombai dan daging asap sebagai bahan tambahan untuk membuat omelet.
"Awww....'' jerit Gwen.
Tanp sengaja jari lentik gwen terkena pisau saat ia sedang mengiris bawang bombai, dengan sigap Ezra langsung menghisap darah yang keluar dari jari Gwen.
Jantung Gwen kembali berdegup kencang, ia menatap Ezra saat Ezra menghisap jarinya.
"Rich... Rich... cepat kau bawakan kotak P3K" Ezra berteriak menyuruh adiknya mengambilkan kotak P3K untuk mengobati luka Gwen.
Tak lama kemudian Erich datang dengan membawa kotak P3K yang di minta abangnya.
"Nih bang" Erich menyerahkannya kepada Ezra.
Ezra pun langsung membuka kotak tersebut dan mulai mengobati Gwen "Tahan sebentar ya" dengan telaten Ezra mengobati tangan Gwen.
"Jari loe kenapa gwen?" tanya Erich.
"Tidak apa-apa kok, cuma kena pisau saja sedikit, ini udah sembuh." Gwen memperlihatkan jarinya yang telah di obati oleh Ezra.
"Terima kasih ya Bang Ezra" ucap Gwen.
Ezra menganggukan kepalanya dan menutup kembali kotak P3K tersebut.
"Biar aku saja ya yang meneruskannya, kamu bermain PS saja bersama adek-adek."
"Tanganku sudah tidak apa-apa kok, inikan hanya luka kecil. Enggak usah lebay ah."
"Ya sudah kalau begitu aku saja bagian yang memotong, kamu yang mengocok telurnya." Ezra memberikan mangkuk telur kepada Gwen.
Melihat cara Ezra memotong, tampak seperti orang yang sudah terbiasa memasak.
"Bang Ezra sering memasak ya?" tanya Gwen.
"Aku sering membantu mama memasak, nanti jika kita sudah menikah aku yang akan memasak untukmu" Ezra mengambil mangkuk telur yang ada di tangan Gwen, ia memasukan potongan bawang bombai dan daging asap ke dalam mangkuk.
"Menikah?"
"Haha.. masih lama sih mungkin empat tahun lagi." Ezra mulai menuangkan telur ke dalam wajan yang telah diberi margarin, kemudian ia mengambil rendang di dalam microwave.
"Sudah selesai, kamu tunggulah di meja makan"
Gwen pun menuruti perintah Ezra, sambil menunggu Ezra memplating omelet, Gwen memanggil adiknya dan si kembar Ernest dan Erich.
Mereka berlima makan malam bersama di ruang makan, sebelum makan Ezra, Ernest dan Erich mengepalkan tangannya berdoa.
"Menikah??? bukankah kita adalah sebuah ketidak mungkinan? Tangan yang kau kepalkan saat berdoa, dengan tanganku yang mengadah mana bisa bersatu?" gumam Gwen dalam hati.
Gwen mengadahkan tangannya berdoa sebelum ia menyantap makan malamnya.
"Habis ini bikin api unggun di pantai yuk!" ajak Erich, keempatnya menganggukan kepalanya menyetujui ajakan Erich.
Usai makan para pria menyiapkan api unggun sedangkan, sementara Gwen menyiapkan soft drink dan makanan ringan.
"Aku bantu ya" tiba-tiba saja Ezra sudah berdiri di belakang Gwen, siap membantu Gwen membawakan kaleng-kaleng soft drink yang sudah Gwen siapkan.
"Mmmuah...." Ezra mencium pipi gwen kemudian ia berjalan keluar dari villa, bergabung bersama adik-adiknya yang duduk sambil memaikan gitar di depan api unggun.
Gwen tersenyum, kemudian ia mengikuti Ezra dari belakang sambil membawa makan ringan.
Ezra menyuruh Gwen untuk duduk disampingnya, kemudian Ezra membuka sweaternya, tak sengaja kaus yang di kenakan Ezra ikut terangkat, Gwen melihat Ezra memiliki tato salib di dadanya.
"Supaya tidak dingin" Ezra memakaikan sweaternya ke tubuh gwen, gwen hanya menganggukan kepalanya.
Di tengah kehebohan adik-adiknya bernyanyi sambil bercanda, Ezra terdiam memandangi Gwen yang berada di sampingnya.
"Abang, kok ngeliatin aku seperti itu?" Gwen menjadi salah tingkah di buatnya, Ezra tersenyum mengelus dan mencium tangan Gwen.
"Dek, abang pinjam sebentar" Ezra beranjak dari tempat duduknya mengambil gitar dari tangan ernest, kemudian ia kembali duduk di samping Gwen.
Ezra mulai memainkan gitar dan bernyanyi sambil menatap mata gwen.
Bahagianya diriku telah milikimu
Tak pernah ku meragu
Tak lagi ku mencari cinta selainmu
Takkan kutinggalkan kamu
Jika ku dapat menata jalanku
Kuingin kau slamanya denganku
Engkau wanita tercantikku
Kuingin kau tau
Kau merubah warna hidupku
Dan aku jatuh cinta kepadamu
Tanpa batas waktu
Maukah kamu jadi teman cintaku?
Ezra mengungkapkan semua perasaan cintanya kepada Gwen, gadis cantik itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Sudah malam, tidur yuk!!" Ezra melihat jam di tangannya telah menunjukan pukul 22.00.
"Abang antar queen dulu, nanti abang balik lagi" Ezra mengembalikan lagi gitarnya ke Ernest, kemudian ia menggandeng tangan Gwen masuk ke dalam villa.
"Apakah Bang Ezra akan meninggalkan aku?" tanya Gwen.
"Meninggalkanmu? maksudnya?" tanya Ezra tak mengerti.
"Bukankah Bang Ezra akan kuliah di luar negeri?"
"Kata siapa? aku sudah daftar kuliah disini kok. Aku tidak akan pernah meninggalkan wanita yang paling aku cintai" Ezra membuka pintu kamar Gwen, menyuruhnya untuk masuk.
"Besok bangun pagi ya, kita bersepeda. Nice dream my queen." Ezra mengecup kening Gwen kemudian ia kembali berkumpul bersama adik-adiknya hingga pukul 01.00 dini hari mereka baru kembali ke villa.
Sesuai dengan janjinya, pukul 06.00 pagi Ezra sudah menunggu di depan kamar gwen.
"Maaf lama ya, tadi aku mandi dulu."
"Tidak apa-apa, ya sudah yuk." Ezra menggandeng tangan Gwen, keluar dari villa.
Keduanya bersepeda mengelilingi pulau, setelah bersepeda sejauh dua kilometer, Ezra menepikan sepedanya di bawah pohon yang rindang, ia mengambil air minum yang ia bawa dan memberikannya kepada Gwen.
"Capek ya?" tanya Ezra, sambil mengelap buliran keringat di dahi dan leher Gwen dengan handuk kecil yang ia bawa.
"Lumayan" jawab Gwen sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke lehernya karena panas.
"Istirahat dulu ya" Ezra mengajak gwen untuk duduk di bawah pohon.
Setelah beristirahat sejenak, Gwen dan Ezra kembali ke villa, bersiap-siap untuk pembuatan beberapa video clip mereka, yang rencananya akan di lakukan selama empat hari berturut-turut.
Selama dua minggu mereka berlima manghabiskan masa liburannya di pulau, tentu saja di temani oleh kedua orang tua mereka masing-masing.
Para orang tua mereka datang di hari ke lima setelah mereka menyelesikan tanggung jawab pekerjaan mereka.
mobil nya mahal yak harga nya👀
queen ragu itu masang nya, liat gelang salib di pergelangan ezra👀
tp cowok kek ezra nyri dmn sih, keknya setia 🤔
.
izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta