Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebilah Masa Lalu
Sudah satu minggu Laila dan Adam begitu sibuk menata letak barang yang mereka inginkan, mereka terlihat sangat kelelahan.
Akan tetapi, tentu saja hal itu sangat menyenangkan buat mereka, apa lagi saat lukisan yang di buat Adam sudah selsai, hal itu membuat Adam makin bersemangat.
Di dinding kamar nya Adam menggambar Desain rumah impian nya yang di hiasi taman indah lengkap dengan arena bermain dan kolam ikan, sedangkan di ruang kerja nya yang begitu luas Adam menggambar gedung gedung bertingkat lengkap dengan peralatan canggih yang tergambar di dalam memori nya.
Semua nya terlihat seperti nyata, apa lagi yang membuat nya hanyalah anak berusia lima tahun. Hal itu membuat Laila makin berdecak kagum, dia tak pernah menyangka jika putra nya yang baru berusia lima tahun tapi otak nya begitu jenius.
"Masya Allah, anakku ternyata diberikan kecerdasan yang begitu luar biasa."
Laila sangat bersyukur, di kala dia terpuruk dan banyak orang yang mencaci nya, dia ternyata malah di beri kan seorang putra tampan yang bisa mengubah hidup nya.
Kini kehidupan Laila sudah berubah, dari hidup yang sederhana menjadi sangat wah. Tapi Laila tetap sadar diri jika semua yang ada di muka bumi ini, semua yang sekarang dalam genggaman nya adalah titipan.
Laila lahir tanpa mengenakan apa apa, Laila sadar semua titipan sang maha kuasa ini harus dia olah secara baik. Laila sudah berjanji dalam hati, jika dia akan tetap menjadi Laila yang seperti dulu walaupun keadaan nya kini sudah berubah.
"Aku harus selalu bersyukur dan selalu rendah hati, tak boleh sombong walaupun memiliki banyak uang. Apalagi semua yang ada di dunia ini adalah titipan," ujar Laila.
Malam ini setelah melakukan banyak aktivitas yang menguras tenaga, Laila dan Adam sedang merebahkan tubuh nya.
Mereka tengah hanyut dalam pikiran masing masing, sesekali Adam terlihat tersenyum lalu menoleh ke arah ibu nya yang sedang melamun.
"Bu, Adam sangat bahagia karena dua hari lagi kita akan pindah. Ibu juga bahagia, kan? "
Laila menoleh ke arah putra nya, dia tersenyum jangan begitu manis kepada putranya tersebut. Putra kecilnya yang sudah merubah hidupnya.
"Sangat Sayang, ibu sangat bahagia. Terima kasih Sayang, karena kamu sudah datang memberi kebahagiaan di dalam hidup ibu."
Laila pun memeluk putra nya dan mengelus lembut punggung putra nya, sesekali Laila mendarat kan kecupan di ubun ubun putra nya itu.
"Bu, apa aku masih mempunyai kakek atau nenek? Selama ini, aku terlalu sibuk bertanya tentang Ayah ku tapi aku lupa menanyakan kakek dan nenek ku."
Laila terdiam mendengar apa yang dipertanyakan oleh putranya, karena lagi-lagi pertanyaan putranya itu begitu sulit untuk dia jawab.
Pertanyaan itu merupakan hal tersulit yang harus dia jawab, dia sungguh bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Adam tentang keluarganya.
"Ya Allah ,aku harus jawab apa? Ke dua orang tua ku memang sudah meninggal saat tahu aku hamil tanpa Ayah, tapi orang tua Mas Arkana kan masih ada. Aku harus bilang apa ya Allah?"
Adam yang melihat ibunya melamun langsung bertanya, dia bahkan menepuk tangan ibunya dengan cukup kencang.
"Ibu kenapa melamun? Adam hanya bertanya, apa pertanyaan Adam sangatlah sulit?"
"Ah, tidak Sayang. Ibu tidak apa apa, Ibu hanya teringat akan ke dua orang tua ibu."
Laila mencoba untuk berkilah, karena menceritakan kedua orang tuanya juga sama saja. Untuk menceritakan kedua orang tua Arkana sangatlah sulit bagi dirinya.
"Jadi Ibu masih punya orang tua? Berarti aku masih punya kakek dan nenek?" tanya Adam dengan mata berbinar, sedangkan Laila terlihat begitu sedih.
Anaknya itu begitu pandai sekali, selalu banyak bertanya dan selalu ingin tahu. Namun, terkadang pertanyaan dari putranya itu membuat dia ketar-ketir untuk memberikan jawaban.
"Maaf Sayang, Kakek dan Nenek kamu meninggal karena kecelakaan motor saat Ibu hamil dua bulan."
Adam pun langsung lesu, padahal tadinya dia berharap kalau dirinya masih memiliki keluarga selain ibunya.
Adam selalu menginginkan keramaian, setidaknya kalau dia tidak memiliki ayah, dia memiliki kakek dan juga nenek yang akan menyayangi dirinya.
"Jadi aku sudah tak punya keluarga lain ya selain Ibu?"
Laila terdiam sejenak, dia ingin mengganggukan kepalanya tapi, Laila masih ingat kalau Arkana masih memiliki kedua orang tua.
"Memang nya kenapa Sayang? Kok tumben sekali kamu bertanya tentang keluarga, ada apa hem?"
Laila mencoba bersikap senang mungkin, dia juga berusaha untuk berbicara selembut mungkin agar tidak membuat putranya sedih berkepanjangan.
"Tak apa Bu, aku itu selalu bermimpi untuk membeli rumah yang sangat besar agar semua keluarga ku bisa tinggal bersama ku. Bukan kah itu akan sangat menyenangkan?"
Sedih sekali rasanya Laila mendengar apa yang dikatakan oleh Adam, karena anaknya itu selalu saja kesepian sejak dilahirkan. Dia begitu kekurangan uang, banyak orang yang tidak mau bergaul dengan dirinya.
Bahkan, dikala dia kerepotan saja tidak ada orang yang mau membantu dirinya mengurus Adam. Adam dan Laila begitu diabaikan banyak orang.
"Tentu saja Sayang, tinggal bersama dengan orang yang kita sayang adalah hal yang paling menyenangkan. "
"Sayang nya keluarga Adam hanya ibu," jawab Adam lesu, "Tapi tidak apa apa, Ibu juga sangat berharga bagi ku. Aku masih di kasih Ibu sama Allah, aku harus bersyukur dan tak boleh mengeluh."
Laila merasa kalau hatinya terenyuh mendengar aku dikatakan oleh putranya tersebut, putranya itu masih sangat kecil tetapi pikirannya begitu dewasa.
Kalau sajak anak itu selalu merengek dan menangis, mungkin Laila tidak akan bisa menghadapi Adam seperti apa.
"Anak pandai, sekarang bobo dulu. Besok kan sekolah, takut telat."
"Tunggu dulu Bu, kalau kita pindah bagaimana dengan rumah ini? "
Laila pun tersenyum, anaknya itu benar-benar pandai dan selalu saja bertanya kepada dirinya. Namun, Laila tidak marah. Dia menjawab semua pertanyaan putranya dengan begitu sabar.
"Ada orang yang mau menyewa rumah kita Sayang, Ibu bilang per bulan nya satu juta setengah. Tapi kalau dia mau bayar tahunan, ibu tak keberatan di sewa sepuluh juta per tahun nya."
"Ibu sangat pandai, kalau di sewa kan uang nya kan terus mengalir. Kalau di jual kan hanya dapat uang sekali saja, Ibu pandai, Adam suka."
Laila tertawa kecil mendengar pujian dari putranya, di saat hidup yang susah seperti ini Laila harus pandai-pandai dalam berusaha. Dia harus pandai dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
"Iya iya, sekarang bobo. Besok sekolah, pulang sekolah ibu ajak kamu ke toko buat beli perlengkapan rumah yang belum ke beli. Mau? "
Adam terlihat bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Laila, anak itu bahkan sampai melompat-lompat kegirangan.
"Mau banget Bu, Adam sayang Ibu."
Adam pun langsung mencium kening ibu nya. Dia sangat bahagia karna sebentar lagi akan pindah ke rumah baru, dan yang paling menyenangkan untuk nya karna dia punya ruangan kerja sendiri yang begitu luas, dan tentu nya luas nya tiga kali lebih luas dari rumah yang dia tempati sekarang ini.
Setelah obrolan anak dan ibu itu selsai, Adam nampak tertidur. Sedangkan Laila masih membuka mata nya, semua yang sudah terjadi berkelebatan di otak nya.
Mulai dari indah nya saat bisa berpacaran dengan Arkana Sastra Dijaya, hingga kesalahan yang telah ia lakukan. Laila dengan mudah nya memberikan mahkota nya pada Arkana saat itu, karnya Laila tahu jika Arkana memang sangat mencintai nya.
Tapi kebahagiaan berubah menjadi sebuah bencana, kala Tuan Seno Dijaya dan Nyonya Alina Dijaya tak merestui hubungan mereka.
Bagi Tuan dan Nyonya Dijaya kasta itu begitu penting, hingga mereka dengan tega nya merendah kan dan mengancam Laila dengan kekuasaan nya.
Dan sial nya Ibu Dan Ayah nya Laila mendengar saat Laila di rendahkan ,mereka pun bertanya apa sebab nya. Laila mulai menjelaskan, Laila juga mengatakan jika dia sudah mengandung.
"Maaf, maaf karena Laila tidak bisa menjaga diri. Maaf karena Laila begitu mudah menyerahkan mahkota dia selama ini dibanggakan," ujar Laila penuh sesal kala itu.
Ke dua orang tua Laila begitu kecewa, mereka langsung pergi dengan menggunakan motor. Dan Lebih sial nya, ke dua orang tua Laila tertabrak truk yang melaju dengan cepat dari arah berlawanan.
Mereka pun tewas di tempat, Laila pun meminta para tetangga nya untuk memakan kan ke dua orang tua nya dengan layak. Bukan nya Laila tak ingin mengurusi jenazah orang tua nya, tapi Tuan dan Nyonya Dijaya sudah menunggu nya untuk segera pergi.
Tentu nya mereka pun mengancam, jika Laila tak segera pergi makan Laila akan kehilangan calon bayi yang ada di kandungan nya.
Laila pun dengan berat hati menurut, dia pergi bahkan di hari kematian ke dua orang tua nya. Laila sedih, sangat sedih. Dengan cepat dia pergi dan mencari pekerjaan di tempat baru, dia ingin melupakan Arkana.
"Aku harus bisa hidup dengan lebih baik lagi, aku harus melupakan masa lalu. Jangan sampai terjebak di kehidupan masa lalu, jangan sampai terjebak dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu."
Tapi siapa sangka, jika Arkana ternyata begitu mencintai Laila dia terus saja mencari Laila. Hingga dia bisa menemukan Laila saat Laila mengandung di usia sembilan bulan.
Arkana begitu senang kala mengetahui Laila hamil, Laila juga senang bisa bertemu kembali dengan kekasih nya.
"Akhirnya aku bisa menemukan kamu, Sayang." Arkana sampai menangis ketika bertemu dengan Laila kembali.
Hari itu pun mereka lewati dengan seharian di kostan Laila, mereka melepas rindu, melepas rasa yang tengah tertahan selama tujuh bulan.
Tapi saat malam hari nya, setelah Arkana tertidur pulas. Laila pun memutuskan untuk pergi, dia tak mungkin melawan Ayah dan Ibu nya Arkana.
"Maaf, Sayang. Bukan maksud aku untuk meninggalkan kamu, tetapi aku tidak ingin mempersulit hidup kamu. Aku tak mungkin melawan kedua orang tua kamu, Karena aku bukan siapa-siapa."
Malam di saat dia pergi memang mendapat kan pertolongan dari pak Agus dan Jhoy, tapi sayang nya itu semua hanya tipu muslihat.
"Ya Allah! Begitu berat hari yang aku lalui selama ini, sudah cukup ya Allah. Aku ingin membahagiakan putra ku, aku ikhlas hidup tanpa Mas Arkana. Tapi aku mohon, berilah kami kebahagiaan dan berilah kami kelancaran dalam menekuni usaha yang sedang kami geluti saat ini."
Laila berdoa dengan penuh harap, dia berharap kalau kehidupannya akan lebih baik lagi. Dia berharap bisa membesarkan Adam sendirian, dia berharap tidak akan ada batu kerikil lagi yang menghalangi jalannya.