NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Retak di Tengah Papan

Hening di ruang OSIS SMA Wijaya bukan hening biasa.

Itu hening yang terasa seperti sesuatu sedang menunggu meledak.

Selene berdiri di satu sisi ruangan.

Laptop masih menyala di meja.

Layar memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang tegang.

Arsen berdiri di sisi lain.

Jas sekolahnya tidak rapi seperti biasanya.

Matanya tajam.

Tidak seperti ketua OSIS.

Lebih seperti seseorang yang sedang menghitung langkah perang.

“Jadi,” suara Arsen akhirnya memecah hening.

“kamu yang membuka semua ini.”

Selene tersenyum kecil.

Tapi tidak ada kehangatan di sana.

“Kalau aku tidak buka… kamu tidak akan pernah tahu siapa dia.”

Arsen melangkah satu langkah.

“Siapa?”

Selene menatapnya lurus.

“Anya Clarissa.”

Nama itu tidak lagi terdengar seperti siswa biasa.

Tapi seperti kode yang menyimpan sesuatu yang lebih besar.

Arsen tidak langsung menjawab.

Tangannya mengepal di samping tubuh.

“Aku sudah tahu cukup banyak.”

Selene tertawa kecil.

“Tidak. Kamu baru lihat kulitnya.”

Ia menunjuk layar laptop.

“Ini baru isinya.”

Arsen menatap layar itu sekilas.

Lalu kembali ke Selene.

“Dan kamu pikir kamu lebih tahu?”

Selene mendekat sedikit.

“Lebih dari kamu.”

Sunyi.

Di mobil yang berhenti di luar sekolah.

Anya duduk diam.

Matanya tertutup.

Tulus di earpiece.

“Queen… posisi mereka masih stabil.”

Anya membuka mata.

“Aku dengar.”

Tulus ragu.

“Apakah kamu akan masuk?”

Anya tidak langsung menjawab.

Matanya menatap kaca gelap di depannya.

Refleksi dirinya sendiri.

“Kalau aku masuk sekarang…”

“…tidak ada lagi ruang untuk mundur.”

Tulus terdiam.

Di dalam ruang OSIS.

Selene menekan tombol di laptop.

Dan layar besar proyektor di ruangan itu menyala.

Gambar muncul.

Anya Clarissa.

Lebih tua.

Lebih tajam.

Tapi bukan Anya sekolah.

Arsen langsung mengerutkan mata.

“…itu siapa?”

Selene tersenyum tipis.

“Ini yang kamu cari.”

Gambar berubah.

Simbol Black Diamond.

Lalu:

DATA ENCRYPTION LEVEL 7

Arsen menatap tidak berkedip.

“Ini… bukan data sekolah.”

Selene mengangguk.

“Bukan.”

Ia menatap Arsen.

“Ini dunia dia.”

Hening.

Arsen menarik napas pelan.

“Kenapa kamu punya ini?”

Selene menjawab tanpa ragu.

“Karena dia meninggalkan jejak.”

Ia mendekat lagi.

“Dan karena kamu terlalu dekat dengannya.”

Arsen mengeras.

“Jangan bicara seolah kamu mengerti situasi ini.”

Selene tersenyum kecil.

“Aku mengerti cukup untuk tahu…”

“…kamu sedang berdiri di samping seseorang yang bisa menghancurkan kota tanpa terlihat.”

Arsen terdiam.

Di mobil.

Anya membuka mata sepenuhnya.

“Dia sudah melewati batas.”

Tulus panik.

“Queen, kalau file itu disebar—”

Anya memotong.

“Aku tahu.”

Hening singkat.

Lalu Anya berkata:

“Matikan semua jalur eksternal.”

Tulus langsung mengetik cepat.

“Sedang dilakukan!”

Tapi layar di ruang OSIS berkedip.

Dan tidak mati.

Selene tersenyum.

“Sudah terlambat.”

Arsen menatap layar.

Lalu Selene.

“Ini yang kamu maksud?”

Selene mengangguk.

“Ini hanya sebagian kecil.”

Arsen melangkah lebih dekat.

“Dan kamu pikir aku akan percaya begitu saja?”

Selene menatapnya balik.

“Kamu sudah mulai percaya.”

Sunyi lagi.

Dan kali ini lebih berat.

Di luar ruangan.

Langkah kaki terdengar.

Semua berhenti.

Pintu ruang OSIS terbuka.

Anya berdiri di sana.

Tanpa senyum.

Tanpa ekspresi palsu.

Hanya dirinya.

Ruangan langsung berubah atmosfer.

Seperti udara menjadi lebih padat.

Selene menegang.

Arsen langsung menatapnya.

Anya melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu berhenti di tengah.

Matanya bergantian melihat Arsen dan Selene.

“Cukup.”

Suaranya tenang.

Tapi tidak bisa dibantah.

Selene tersenyum kecil.

“Jadi kamu akhirnya muncul.”

Anya menatapnya.

“Matikan layar itu.”

Selene tidak bergerak.

“Kalau tidak?”

Anya tidak langsung menjawab.

Matanya sedikit menajam.

“Kalau tidak…”

“…kamu akan menyesal tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”

Arsen menatap Anya.

Lama.

“Jadi ini kamu sebenarnya.”

Anya tidak menoleh ke Arsen.

“Tergantung definisi kamu.”

Selene tertawa kecil.

“Lihat? Dia bahkan tidak menyangkal.”

Anya akhirnya menatap Selene.

“Ini bukan permainanmu.”

Selene membalas cepat.

“Ini sudah bukan permainan siapa pun.”

Hening.

Arsen melangkah sedikit ke depan.

“Kalau ini tentang Black Diamond…”

Anya langsung memotong.

“Diam.”

Arsen berhenti.

Untuk pertama kalinya.

Anya menatapnya.

“Jangan sebut nama itu di sini.”

Sunyi.

Dan di detik itu—

Arsen sadar sesuatu.

Ini bukan hanya rahasia.

Ini batas.

Selene menatap keduanya.

Lalu berkata pelan:

“Jadi… sekarang apa?”

Anya menjawab tanpa ragu.

“Sekarang…”

Ia melangkah sedikit ke depan.

“…kalian berhenti menggali.”

Arsen menatapnya.

“Dan kalau aku tidak?”

Anya menatap balik.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada topeng sama sekali.

“Kalau kamu tidak berhenti…”

“…kamu akan melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lupakan.”

Hening panjang.

Dan di antara mereka bertiga—

tidak ada lagi yang benar-benar berada di posisi aman.

Papan catur itu sudah pecah sedikit.

Dan pecahan itu mulai melukai tangan yang memegangnya.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!