Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Rio dan Arkala sudah sedari pagi menunggu di kediaman Om Dani dan Tante Annisa. Bahkan mereka sampai meminta sarapan di rumah Angga, saking paginya mereka bertamu.
"Rafael ngapain aja sih? Lama banget, udah kaya cewek yang bawaannya gak cukup satu tas doang. Padahal perginya juga nggak sampai berbulan-bulan. Cuma 3 sampai 5 hari doang," papar mulut lemes Rio. Dari mereka berempat hanya Rio yang mulutnya paling lemes.
"Sabar Ri, kan Rafael berangkatnya langsung dari rumah Tante Silvana bukan dari rumah Eyang Tami. Lumayan jauh lah! Tungguin aja, kalau lo bosan minta makan lagi sana. Sama Tante Annisa," seru Arkala.
Angga dan Arra bergabung menghampiri kedua temannya itu. Arra dengan sweater pink dan topi rajut yang telinganya menjuntai sampai bahu terlihat semakin imut, sepaket dengan wajah cantik yang terlihat menggemaskan. "Nah kesayangan si Rafael udah siap aja nih. Makin hari, Arra tambah cantik? Mau nggak sama Kak Rio," goda Rio mengerling. Arra pun menggidikkan bahunya ngeri.
"Abanngggg..." rengek Arra merapatkan tubuhnya ke Angga. Rio malah cengengesan. Malu saja kalau meminta sarapan untuk yang kedua kalinya, mending Rio menggoda Arra, yang jelas lebih menarik dari makanan.
Ctaakkk....
"Awww..." Rio mengaduh, mengusap kepalanya yang sakit. Ditolehkannya kepalnya melihat si pelaku pemukulan barusan.
"Lo yang bener jadi teman Ri, mau nikung gue dari balakang lo. Kemaren aja ngatain bocah-bocah. Tapi lo godain juga kan." Seru Rafael tiba-tiba, langsung menoyor kepala Rio. Geram saja rasanya melihat orang lain yang menggoda pujaannya.
"Sini, Ra. Kamu sama Abang Rafa aja," tarik Rafael membawa Arra ke dekatnya. Arra menurut.
***
Hawa dingin menyelimuti perjalan mereka menuju puncak. Pepohonan rindang yang tumbuh subur, sangat nampak terlihat di pandangan mata seiring mobil mereka melaju membelah jalanan yang cukup lenggang.
Arra yang memang tidak bisa diam karena ingin melihat pemandangan luar, memunculkan kepalanya di balik kaca jendela mobil.
Angga sang kakak melihat dari sudut kaca spion, dan langsung menegur sang adik-Arra. "Dek, jangan seperti itu. Bahaya, nanti kalau ada mobil lain yang nyerempet tiba-tiba. Kepala kamu bisa jadi sasarannya. Masukin lagi kepalanya, duduk yang benar!" Tegur Angga sambil tetap fokus menyupir.
Arra memanyunkan bibirnya sebal, gadis itu lalu duduk dengan wajah jengkel. "Abang nyebelin... Mending tadi Arra ikut bareng mobil Bang Rafa, aja," dengus Arra dengan kesal.
Tita yang berada satu mobil dengan Angga dan Adiknya pun. Langsung berinisiatif mengalihkan pandangan Arra yang terus melirik jalanan luar dengan mengajaknya bermain suit tangan.
Kedatangan Rafael berbarengan dengan Tita, sedikit membuat Angga kaget. Setelah kelulusan SD, Angga melanjutkan pendidikannya di SMP yang sama dengan Rafael. Beda dengan Tita yang bersekolah di SMP PERMATA. Dan untungnya mereka masih satu daerah dengan akses jalur sekolah yang sama.
Seringkali saat berpapasan Angga bertegur sapa dengan Tita tak lupa ia juga membeli makanan yang dijualnya. Namun semenjak kelulusan akhir SMP, Tita malah pindah dan tidak ada kabar lagi. Juga gadis itu tidak memiliki handphone dan membuat Angga kehilangan teman kecilnya.
Beruntung sekarang setelah terpisah selama hampir dua tahun tanpa kabar. Akhirnya Angga bisa bertemu lagi dengan Tita, teman masa kecilnya semasa SD dulu.