WARNING 21+
Tidak ada seorang anak yang ingin menjadi Broken Home. Menjadi utuh lagi adalah impian Rayla Pramanta, seorang anak perempuan yang ditinggalkan sang Ayah ketika berumur 12 tahun dan kurangnya perhatian kasih sayang dari sang Ibu menyebabkan hubungan antar Ibu dan Anak seringnya berakhir dengan pertengkaran.
Seolah semua itu belum cukup, sahabat sekaligus menjadi cinta pertamanya juga tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa penjelasan apa-apa. Rasa takut kehilangan orang yang disayangi, juga takut menikah karena dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya, membuat dirinya tertutup. Luka demi luka terus menemani dirinya hingga Rayla merasa semakin putus asa.
Dapatkah Rayla bertahan menjaga kewarasannya setelah mengetahui rahasia dibalik pertengkaran kedua orang tuanya? Apakah Rayla dapat memaafkan Ayahnya ketika akhirnya mereka bertemu kembali? Lalu, kepada siapakah Rayla membiarkan hatinya berlabuh dan mengatasi traumanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yen Lamour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Happy reading 📖📖 guys
Kubuka tirai kamar Agatha. Pantulan cahaya matahari masuk hingga mengenai wajah Agatha yang sedang tidur dengan pulas.
Perlahan Agatha membuka matanya. Melihatku sedang berdiri sambil melipat kedua tangan di dada, dengan raut wajah kesal dia berkata, “Mau berangkat kerja langsung pergi saja. Jangan ganggu gue, dong! Gue masih mau tidur.”
“Sudah jam sepuluh. Ayo, bangun! Kita ke Rumah Sakit jenguk Bella.”
“Lo bukannya mesti kerja?” tanya Agatha dengan posisi kedua matanya masih tertutup.
“Hari ini gue cuti. Gue mau jenguk Bella. Sudah lama gue tidak bertemu dengannya,” jawabku sambil melihat ponsel apakah ada balasan dari Deon atau tidak.
Tadi pagi aku mengirim pesan ke Whats App-nya. Memintanya untuk membantuku izin cuti hari ini kepada ibu Rita.
Deon: Kenapa lo? Tumben tiba-tiba cuti? Kan, lo pegawai paling rajin di kantor ini.
Deon: Habis patah hati sama kekasih lo? Kalau begitu biar gue yang obati patah hati lo, ya.
Deon: Anyway, gue sudah sampaikan kepada ibu Rita tentang hari ini lo ambil cuti karena mendadak ada urusan keluarga.
Deon: Gue tunggu traktirannya. Jasa gue ini tidak gratis, loh!
Aku tertawa membaca balasannya. Deon selalu mencari kesempatan untuk merayuku, tapi aku tahu dia hanya bergurau. Maka dari itu, aku mengindahkan rayuannya.
“Inbox dari siapa? Pastinya bukan Erik. Lo tidak pernah tertawa saat menerima inbox darinya.”
Entah sejak kapan, Agatha sudah berdiri di sampingku sambil melirik ponselku.
“Cepat mandi lalu sarapan. Gue sudah masak nasi goreng. Setelah itu kita langsung ke Rumah Sakit,” perintahku.
Agatha tidak berkata apa-apa lagi. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sementara aku berjalan keluar dari kamarnya.
Setelah selesai sarapan dan merapikan dapur, kami pun berangkat.
Aku duduk di tempat pengemudi, siap untuk menyetir. Sedangkan Agatha duduk di sebelah pengemudi.
Perut Agatha yang makin membesar, membuatnya tidak lagi leluasa menyetir. Oleh karena itu, Peter selalu mengantarnya ke mana-mana.
Alis mataku mengernyit ketika aku meneliti kondisi dalam mobilnya terlihat asing. “Lo ganti mobil baru?”
“Hadiah untuk baby kami. Setelah dokter mengatakan jenis kelaminnya, Peter langsung beli mobil baru,” ucap Agatha tersenyum lebar.
Aku tidak percaya mendengarnya. “Wow! Enaknya yang punya suami tajir. Kapan pun bisa beli mobil baru.“
“Lo juga bisa. Tuh, si Erik. Lo nya saja yang jual mahal,” balas Agatha.
“Menurut lo apakah dia akan beli mobil Mini Cooper untuk gue setelah kami menikah? Padahal, saat kami masih pacaran, dia hanya beli barang-barang branded KW,” cibirku.
“What?” teriak Agatha, terkejut mendengar ucapanku. “Are you kidding me? Dia pria konglomerat, tapi beli barang KW untuk lo? Oh~My~Gosh!”
Aku hanya memberinya jawaban dengan mengangguk. Aku mulai membawa mobil melintas jalanan ke arah Rumah Sakit.
“Kalau begitu, putusin dia memang pilihan bagus, La. Gue tidak bisa membayangkan, kalau sampai lo nikah sama dia, kondisi lo bakal lebih parah dari gembel,” ucap Agatha tanpa menutupi amarahnya.
Aku tertawa terbahak-bahak. Senang rasanya dapat menghabiskan waktu dengan sahabatku. Hanya bersama mereka, sesaat aku dapat melupakan masalah-masalah dalam hidupku.
“Ngomong-ngomong, lo tidak kabarin Erik kalau hari ini lo cuti? Nanti kalian bisa pergi kencan sebelum besok dia berangkat ke Aussie,” tanya Agatha.
“Hari ini adalah hari kebebasan gue dan gue mau menghabiskan waktu bersama sahabat gue. It's ladies time,” jawabku dengan tegas.
Agatha tersenyum puas disertai anggukkan kepala.
*****
Tanpa mengetuk pintu, kubuka pintu kamar rawat Bella dengan cepat sehingga Bella terlonjak kaget.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat wajah Bella berubah menjadi pucat. Agatha hanya menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum melihat kelakuanku yang seperti anak kecil.
Bella melempar bantal ke arahku yang segera ku tangkap sebelum mendarat mulus pada wajahku.
“Dasar gila lo, La! Kirain bonyok gue yang datang tahu tidak?! Kalo gue punya penyakit jantung, gue bikin perhitungan sama lo!” Bella memasang raut wajah kesal.
Aku masih tertawa. Aku baru sadar kalau kami sudah lama tidak berkumpul bersama. Sejak Erik masuk dalam hidupku dan memonopoli habis waktuku.
“Lo kasih alasan apa sama bonyok lo persoalan rawat inap?” tanyaku.
Bella masih merasa kesal denganku, tapi dia tetap menjawab pertanyaanku. “Gue bilang infeksi usus lambung. Tidak perlu khawatir. Cukup dirawat tiga hari juga sembuh.”
“Untung lo ke Dokter kandungannya di Rumah Sakit umum. Bukan di Klinik kandungan. Kalau tidak, mana bisa lo bilang infeksi usus lambung tapi rawatnya di Klinik kandungan?” Agatha duduk di salah satu sofa yang sudah disediakan di dalam kamar rawat.
Melihat di meja ada cake, tanpa bertanya, Agatha segera mengambil satu potong dan memasukkan cake tersebut ke dalam mulutnya. Apa ibu hamil selalu kelaparan seperti itu?
“Awalnya, gue memang mau ke Klinik kandungan, tapi Jason menyuruh gue harus ke Rumah Sakit. Kalau gue ngotot ke Klinik, dia tidak mau menemani gue. Mau tidak mau, gue nurut. Untung saja gue ikutin perkataan Jason. Nyawa gue hampir saja melayang,” ucap Bella.
Aku tahu Agatha sedang melirik ke arahku. Namun, aku berpura-pura tidak melihatnya.
Bella membuat suara batuk kecil, kemudian dia mengalihkan pembicaraan. “Tumben lo cuti, La? Lo paling susah kalau disuruh cuti kecuali keadaan darurat.”
Aku memasang raut wajah sedih lalu menjawab, “Demi lo, Bel. Semalam gue menginap di rumah Agatha dan gue baru tahu tentang keadaan lo. Gue mengutuki diri gue. Sahabat macam apa sampai gue tidak tahu masalah yang sedang terjadi sama lo?”
Bella tersenyum. “Gue mesti menangis terharu atau tertawa, sih? Mendengar ucapan lo membuat telinga gue jadi gatal.”
Aku melempar balik ke arah Bella dengan bantalnya tadi. “Sialan lo! Gue benar-benar khawatir sama lo dan merasa menyesal karena sudah melupakan kalian.”
“Yang salah itu Erik. Bukan lo, La. Dia yang monopoli lo sampai tidak ingat waktu. Antar lo pulang pun sampai lewat tengah malam,” jawab Agatha dengan ketus.
Aku terheran mendengar ucapan Agatha tadi. Seingatku, kami sudah lama tidak berkomunikasi. Aku belum sempat menceritakan semua tentang Erik pada mereka. “Dari mana lo tahu, Tha?”
“Gue, Agatha dan Maylin, adik lo, bikin group di Whats App,” ungkap Bella.
“Sejak ada Erik, lo jarang balas chat di group. Kita khawatir dengan keadaan lo. Akhirnya, kami menghubungi Maylin dan memintanya mengabari kita tentang hal apa saja yang berkaitan dengan lo,” ucap Agatha menjelaskan.
Pantas saja mereka tidak banyak bertanya tentang Erik. Ternyata mereka sudah punya informan yang bisa di percaya. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat yang peduli padaku.
Kami bertiga menghabiskan waktu saling bercerita dan bersenda gurau. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan perasaan rileks seperti ini.
Untungnya Bella dirawat di ruang kamar VIP. Sehingga suara kegaduhan yang kami buat, tidak akan mengganggu pasien yang lain.
Senda gurau kami terhenti ketika Bella yang terlebih dahulu menyadari kehadiran seseorang.
“Eh, lo hari ini cuti juga? Kok, tidak kabarin dulu, sih? Gue mau sekalian titip makanan bawa ke sini,” ucap bella.
Tubuhku menegang seketika. Jantungku tiba-tiba terasa berhenti berdetak. Aku tidak sanggup menggerakkan kepalaku, menoleh ke belakang.
Suaranya belum terdengar, tetapi dari aroma parfum yang menguar dari tubuhnya, aku tahu dengan jelas siapa pemiliknya.
“Gue kirain lo pasti bosan karena tidak ada teman. Karena itu, gue minta cuti setengah hari. Ternyata ada Agatha dan ...,” Jason tidak melanjutkan perkataannya.
Agatha menyapa sambil tersenyum. “Hai, Jason! Sudah lama tidak bertemu. Terakhir ketemu saat di acara pernikahan gue, kan?”
Dengan perlahan, aku menoleh ke belakang dan menatapnya. Berusaha untuk memberikan senyum padanya, tetapi sepertinya sia-sia. “H- hai ...,” sapaku kaku.
Jason menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapannya menembus sampai ke dalam mataku. Membuat jantungku yang tadinya berhenti berdetak, tiba-tiba berdebar sangat cepat.
“Long time no see, Ayla,” ucap Jason dengan suara lembut.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘
g salah juga sebenarnya tapi lupa bekali anak dgn 'value' yg memungkinkan u naik kelas.
merasakan berada diposisi maylin, rayla...
cinta dan dendam kami tunggu