Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
"Ada apa ini sayang? kok teriak-teriak gak jelas? untung tamunya sudah pulang, kan tidak enak kalau sampai terdengar." Mamah menghampiri gue sambil menasehati.
"Biarin aja kedengaran Mah, aku gak suka mah kalau lulus kuliah di jodohin, jangan yah Mah! hiks-hiks-hiks..." Gue menangis di dekapan Mamah.
"Jadi itu, yang bikin kamu seperti ini? ya enggak dong sayang, kalau Mamah dan Papah pasti mengikuti kamu, kalau kamu tidak suka, kita tidak maksa." Mamah membelai rambut gue yang bondol.
"Benar yah Mah?" gue menatap nyokap gue manja.
"Benar sayang, ya sudah kamu istirahat jangan banyak pikiran ya sayang!" Mamah langsung keluar kamar gue sambil tersenyum. Gak lama ada chat lagi dari Tio, sengaja gak gue buka.
****
Gak terasa pagi lagi, gue pun berangkat sekolah seperti biasa. Nyokap gue berpesan jangan sampai ada apa-apa dengan gue lagi.
Oh iya, slayernya Bima belum gue ganti. Pagi-pagi mana ada yang buka toko.
Saat gue masuk gerbang, ada Tio halangin jalan gue. Gue berlari dan mengabaikan Tio. Sesampai di pintu kelas ada Anjar juga yang menghalangi gue masuk.
"Hai, udah lama kita gak bersua yah! gue kangen banget sama lo Ra." Banyak anak-anak yang menyoraki. Bima pun melihatnya kesal.
"Minggir gue mau masuk! jangan bikin gue emosi njar."
"Lo mau masuk? bilang dulu ke semua anak-anak kalau lo cinta sama gue! baru deh gue kasih masuk." Anjar tersenyum dan mengedipkan mata.
"Gila lo njar, stres tahu gak! sekali lagi gue bilang, MINGGIR!" gue dengan suara lantangnya menyuruh Anjar minggir.
"Hei boy, lo budek ya di bilang minggir lo gak mau minggir, MALU LO JADI COWOK NGEMIS BEGITU!!! Bima menolong gue.
"Lo gak usah ikut campur urusan gue! dan gue gak terima di bilang ngemis, JEG,, JEG,, JEG." Anjar menonjok Bima dan sebaliknya.
Gue udah berusaha misahin, tapi gak ada yang mau ngalah, Akhirnya Bu Ratno guru BK datang dan membawa Anjar dan Bima.
"PUAS LO BIMA SAMA ANJAR DI BAWA KE BK, DASAR BIANG MASALAH LO!" sahut Sandra yang kesal dan selalu iri sama gue. Tapi gue gak ngebalas, karena tambah masalah kalau gue ladenin.
"KALAU ORANG CONGE ATAU BUDEK GITU TUH! GAK MAU DENGARIN ORANG." Sandra kembali mengejek gue. Untungnya gue punya 2 teman yang bisa menenangkan gue.
****
Gak lama Bima datang, gue jadi merasa bersalah. ingin cepat-cepat istirahat, ngobatin bengkaknya. Dan mau tahu cari tahu keterangan dia di ruang BK.
"Bim, lo gak apa-apa?" gue menengok ke belakang.
"Sssttt...nanti aja! perhatiin dulu tuh pelajaran di depan!" sambil menunjuk ke arah depan.
tumben Bima sampai segitunya nolong gue, gue berharap dia bisa berubah.
"Coba Ibu mau Zahra yang jawab! apa yang sudah Ibu jelaskan tadi." Bu Sarmi memanggil gue tapi bodohnya gue kurang memperhatikan apa yang di jelaskan.
"Zahra! Zahra! ZAHRA! kamu dengar gak Ibu menjelaskan? kamu jawab!" Bu Sarmi sampai berteriak manggil gue.
"Hmmm... gak tau Bu!" gue tersenyum tipis.
"Mangkanya kalau Ibu lagi jelasin perhatiin! sama aja kamu gak hargai Ibu! dengar Zahra Ibu gak mau kamu banyak melamun- melamun lagi! ngerti Zahra!" Bu Sarmi marah ke gue.
"Baik Bu, maaf!" gue meminta maaf ke Bu Sarmi.
"Coba Bima jawab!" Bu Sarmi menyuruh Bima menjawab dan akhirnya Bima bisa menjawab sedangkan dia baru masuk kelas.
"Zahra, lihat tuh Bima! dia bisa jawab tanpa di jelaskan, belajar lagi sama Bima!" Bu Sarmi membandingkanku dengan Bima. Tapi memang gue salut banget sama Bima.
****
Bel istirahat pun berbunyi. Saat gue mau bilang sama Bima, ada Sandra yang menghalangi gue.
" Man, San duluan aja yah ke kantin! nanti gue nyusul." Sambil senyum ke Santi dan Manda.
"Eh minggir lo! gue mau obatin Bima." Sahut Sandra sambil tersenyum ke Bima.
"Ya udah!" gue langsung berdiri dan pamit ke Bima.
"Jangan pergi! lo temanin gue aja! dan gue minta lo yang pergi!" Bima menarik tangan gue, dan mengusir Sandra.
"Tapi Bim? ikhh... nyebelin lo!" Sandra kesal dan mendorong gue.
"Gue bilang pergi!" Bima kembali mengusir Sandra.
"Bim, gue cari alkohol dulu yah di kantin!" saat gue melangkah Bima menarik gue lagi.
"Gak usah! nanti juga sembuh, lo temanin gue aja!" Bima sambil senyum.
Ya Allah tumben Bima mau bicara, tumben Bima baik gak dingin lagi.
Ternyata Bima tidak di hukum sama BK begitu pun dengan Anjar mereka hanya di nasehati saja. Rasa lapar hilang saat bersama Bima. Gak menyangka gue bisa ngobrol bareng dan bercanda bareng bersama Bima.
"Bima, ngomong-ngomong lo haus gak atau lapar?" tanya gue.
"Enggak, lo sendiri?" tanya Bima.
"Enggak juga." Gue tersenyum.
"Serius? kalau lapar atau haus ke kantin aja gih!" Bima menatap gue tajam.
Ya Allah, alhamdulillah Bima sadar. Gue senang banget, semoga ini gak sementara.
Sebenarnya gue mau nembak lo! tapi belum waktunya, nunggu waktu yang tepat aja. Karena gue mau rubah diri gue sendiri, dan gue yakin lo cewek baik.
Tiba-tiba Tio datang ngajak gue istirahat, begitu pedenya dia, semenjak dia kerumah gue.
"Ra, lo kok malah berdua di sini! lo gak istirahat? makan dulu ayo!" Tio menarik gue.
"Eh siapa lo maksa-maksa gue, jangan mentang-mentang bokap lo sama bokap gue sahabat, gue gak mau di jodohin sama lo!" ucap gue kesal.
"GUE MINTA SEKARANG LO MAKAN! MAU GUE LAPORIN KE BOKAP LO!" Tio sambil menarik gue sampai tangan gue merah.
"BODO AMAT LO NGADU APA JUGA! GUE GAK PEDULI, LEPASIN!" gue mengaduh kesakitan.
"LEPASIN DIA! GUE BILANG LEPASIN DIA! LEPASIN!!!!" Bima berteriak keras.
Lalu Bima menarik gue ke luar kelas. dan gue menjelaskan semuanya ke Bima dari awal. Bima pun percaya dengan gue. Dan ada yang bergosip Bima udah berubah.
****
Bel masuk pun berbunyi, gue dan Bima masuk kelas. Pak rudi guru olahraga mengumumkan jam 2 ada renang. Gue gak bisa ikut renang karena penyakit asma. Akhirnya gue jujur sama Pak Rudi.
"Pak, maaf saya tidak bisa ikut!" jawab gue ke Pak Rudi.
"Kenapa Zahra?" tanya Pak Rudi.
"Saya tidak bisa Renang." Jawab gue ke Pak Rudi dan Anak-anak menertawakan gue, apa lagi Sandra.
"Tidak apa-apa Zahra, nanti bapak ajarkan yah!" sahut Pak Rudi.
"Bukan itu Pak, tapi saya sakit Asma, dari kecil di larang berenang." Gue terpaksa jujur dengan penyakit gue.
"Oh gitu, ya sudah kalau enggak kamu hadir aja gak apa-apa, hadir saya nilai dari pada tidak hadir sama sekali kamu tidak dapat nilai, gimana?" tanya Pak Rudi memberi solusi.
"Baik pak, saya ikut!" gue menjawab singkat.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪