Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 7. Jangan Dekati Dia.
Marina dan Daren memasuki kantor, keduanya tampak sangat akrab dan saling bercakap-cakap seraya tertawa. Daren semakin kagum pada Marina. Wanita itu tak pernah sedih di mata Daren, dia selalu menunjukkan sikap ceria dan hangat terhadap siapapun.
Kini keduanya telah memasuki ruangan khusus staf mereview buku. Daren dan Marina di tempatkan pada ruangan yang sama.
"Rin, apa pekerjaan kemarin udah selesai semua kamu periksa?" tanya Daren seraya menduduki kursi kerjanya.
"Iya sudah selesai aku periksa. Mungkin pagi ini akan di terbitkan, karena udah lolos review kemarin" jawab Marina.
"Apakah semalam tidurmu nyenyak?" tanya Daren mengubah topik pembicaraan. Marina yang tak menyimpan rasa curiga sama sekali pun menjawab dengan santai.
"Tentu saja nyenyak"
"Apakah kamu benar-benar menginap di rumah CEO perusahaan ini?" tanya Daren kemudian dengan suara datar. Namun, penuh penekanan. Hingga yang berada di ruangan tersebut sontak melihat ke arah Marina secara bersamaan.
Tatapan kaget, tidak suka, benci, kesal, dan juga marah bersatu padu menuju wanita tersebut. Marina yang menyadari tatapan yang berbagai macam makna itu pun menjadi salah tingkah. Dia membalas tatapan Daren dengan tatapan tidak suka.
"Aku tidak menginap di rumah CEO perusahaan ini. Aku masih punya rumah" balas Marina seraya menundukkan kepalanya, tak berani membalas tatapan para staf yang masih setia dengan tatapan tidak suka dan lain sebagainya.
"Maaf aku ke toilet dulu" izin Marina Akhirnya. Dia sudah merasa tidak nyaman berada dalam situasi canggung.
Daren terus menatap Marina hingga ia hilang dari balik pintu ruangan.
"Aku tahu kamu berbohong Marina" ucap Daren pelan.
"Apa benar wanita tadi menginap di rumah Tuan Aljav?" tanya salah satu staf yang bernama Dewi. Daren menoleh pada wanita itu dan menatap tajam pada Dewi.
"Apakah kamu tidak punya kerjaan selain kepo terhadap urusan orang?" tanya Daren dingin dan penuh penekanan.
"Tadi kan Tuan sendiri yang mulai bertanya pada wanita itu. Kenapa sekarang jadi marah?" gerutu Dewi.
"Sebaiknya urus saja urusanmu sendiri sebelum aku sobek mulut ember mu itu" ancam Daren dengan penuh emosional. Dewi pun tak bisa berkutik lagi, begitupun dengan staf yang lain. Mereka menundukkan kepalanya, lalu bergegas cepat menyelesaikan pekerjaan seolah sedang aduh kecepatan.
**
Di toilet, Marina sedang membasuh wajahnya yang pucat. Ada rasa takut dan malu yang mulai melanda hati wanita cantik tersebut. Takut nanti di katakan sebagai wanita penggoda CEO, atau justru di anggap sebagai wanita simpanan CEO, dan malu karena jika itu sampai terjadi maka tidak akan mungkin reputasinya akan hancur. Meskipun keduanya saling mengenal satu sama lain sejak kecil.
Tiba-tiba saja pintu toilet terbuka dengan keras hingga menghentakkan Marina. Ada tiga wanita yang memasuki toilet tersebut. Namanya : Jamila, Akila, dan Tuti. Ketiga wanita itu di kenal bar-bar dan cerewet dalam kantor. Bahkan mereka dijuluki, tiga serigala.
BRAK.
"Heh, apa kamu yang menggoda Tuan Aljav?" tanya Jamila. Wanita itu memakai lipstik warna merah mencolok hingga memenuhi bibirnya yang tebal.
"Apa maksudmu?" tanya Marina tak paham.
"Kamu jangan sok pura-pura deh. Kamu kan yang lebih dulu menggoda Tuan Aljav, makanya tadi pagi dia memberimu tumpangan?" tandas wanita yang bernama Akila. Marina semakin bingung di buatnya.
"Maaf, sepertinya kalian salah orang. Permisi" ucap Marina. Wanita itu ingin beranjak pergi, tetapi Jamila mendorong tubuh Marina hingga jatuh terpental ke lantai.
"Aww"
"Rasakan itu karena sudah menggangu gebetan aku!" ucap Jamila dengan penuh percaya diri.
"Awas saja kalau kamu berani ganggu gebetanku, akan aku pastikan kamu keluar dari perusahaan ini" ancam Jamila dengan penuh penekanan. Tanpa mereka sadari Daren telah berada di belakang ketiganya.
"Jangan ganggu kekasihku!" tandas Daren akhirnya setelah menyaksikan kekerasan yang di lakukan oleh Jamila. Jamila berjalan mendekati Daren seraya tersenyum mengejek.
"Jadi ternyata kamu kekasih wanita ini?" tanya Jamila angkuh.
"Urus kekasih mu itu sebelum aku menyakitinya lebih jauh lagi" ancam Jamila. Lalu kemudian ketiga wanita bar-bar itu pergi meninggalkan Daren dan Marina.
Daren mendekati Marina dan memapah wanita tersebut dari lantai.
"Marina, apa kamu gak apa-apa?" tanya Daren dengan nada cemas.
"Iya, aku gak apa-apa" balas Marina seolah menahan sakit pada bagian tubuh bawahnya.
"Ayo, aku bantu" Daren pun membantu Marina berdiri.
"Terimakasih ya" ucap Marina tulus.
"Sama-sama"
"Sekarang kamu sudah paham kan?" tanya Daren kemudian.
"Maksud kamu?" tanya Marina dengan kening berkerut hampir menyatu.
"Jangan pernah berada di dekat tuan CEO lagi atau kamu akan berurusan dengan tiga wanita bar-bar tadi"
"Oh itu. Iya aku paham. Lagi pula aku gak ada hubungan apa-apa kok sama Tuan Aljav" balas Marina. Namun, hati wanita itu merasa resah. Bagaimana tidak, saat ini dia menginap di rumah pria tersebut sampai sebulan lamanya hingga Ayah Bundanya pulang dari Belanda. Bagaimana jika hal itu tersebar?.
Daren tidak mengetahui jika Marina dan Aljav sudah saling mengenal sejak lama. Itulah sebabnya dia seolah merasa cemburu yang berlebihan dengan kedekatan keduanya.
"Ayo kita pergi. Kamu masih bisa jalankan?" tanya Daren setelah beberapa saat kemudian.
"Iya"
Marina dan Daren pun pergi dari toilet tersebut, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi melihat keduanya dari balik dinding.
**
Kini Marina dan Daren telah sampai ke ruangan mereka. Daren membantu Marina untuk duduk di kursi. Sementara semua pasang mata di ruangan tersebut menatap tidak suka pada Marina, terutama Jamila. Wanita itu seolah ingin menelan Marina mentah-mentah.
Tak lama Aljav datang ke ruangan staf tersebut, lalu menyuruh Marina ke ruangannya. Sontak saja hal itu membuat para staf terkejut bukan main. Bagaimana tidak, selama Aljav menjasi CEO di perusahaan tersebut, dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di ruangan staf, cukup lewat panggilan telpon atau lewat sekretaris pribadinya jika ia harus membutuhkan karyawan yang bersangkutan.
"Nona Marina, ikut saya ke ruangan" titah Aljav dengan penuh penekanan.
"Ha?"
Marina belum beranjak, ia seolah masih menikmati rasa keterkejutannya barusan.
"Apakah aku harus menggendong mu sampai ke ruangan ku?" ucap Aljav kemudian setelah melihat Marina masih diam di tempatnya. Jamila, Daren, dan karyawan lainnya pun merasa terkejut dan kesal. Terlebih lagi Jamila, wanita itu mengepalkan tangannya dan menatap tajam pada Marina. Marina menundukkan kepalanya, ia tak berani membalas tatapan Jamila si wanita bar-bar.
"Baiklah jika kamu tidak mau berjalan sendiri" Aljav tiba-tiba saja menggendong Marina tanpa memperdulikan pandangan semua orang yang berada di ruangan tersebut. Sementara Marina sudah sangat malu, takut, terkejut, dan juga canggung. Marina memberontak ingin turun. Namun, Aljav tak mengindahkan ucapan Marina. Dia justru dengan santainya berjalan melewati semua karyawan hingga hilang dari balik pintu.
"Turunkan aku!" Ucap Marina seraya memukul-mukul dada Aljav. Namun, pria itu tak bergeming sama sekali.
Marina menutup wajahnya di balik ceruk leher Aljav. Dia sudah tidak sanggup lagi menunjukkan wajahnya yang merah merona karena malu.
Setibanya di lift, Aljav masih tak menurunkan Marina, hingga keduanya tiba di ruangan CEO.
Aljav menurunkan Marina di atas kursi sofa.
"Apa-apaan ini?" kesal Marina.
"Diam!" bentak Aljav.
Aljav membuka sebuah laci yang berisikan kota P3K. Dia mengambil kotak tersebut dan kembali duduk di samping Marina.
"Kemarikan tanganmu" titah Aljav. Namun, Marina masih saja diam. Dia belum memahami maksud dari Aljav. Akhirnya Aljav menarik tangan Marina, lalu kemudian mengobati siku wanita itu yang terluka. Ya, tadi Marina terluka karena terkena sudut toilet pasca di dorong oleh Jamila.
Marina merasa terkejut dengan perlakuan Aljav. Si pria dingin dan angkuh mengobati tangannya?. Seketika hati Marina berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang, terlebih lagi ketika Aljav meniup luka wanita tersebut. Ayolah Marina, bukankah sejak kecil kalian bermusuhan?. Lalu apa ini?.
"Apa kamu tidak bisa melawan jika ada yang mengganggumu?" tanya Aljav setelah beberapa saat keheningan membaluti keduanya.
"Ha?"
"Apa kamu sebegitu lemahnya hingga tak sanggup membalas?"
"Ha?"
"Lain kali balas mereka"
"Ha?"
Marina tak sanggup lagi berkata-kata. Lima menit yang lalu wanita itu mengutuk sikap Aljav yang menggendongnya secara paksa. Lalu kemudian Marina merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Seperti... Cinta? benarkah dia sedang jatuh cinta?.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗