NovelToon NovelToon
Luka

Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fanfic / Cintapertama / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilmi Syam

Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.

Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Melukainya, Lagi ( 1 )

Aleya berbaring di kamarnya yang terletak di lantai dua rumahnya. Tidak ada yang istimewa di kamarnya, hampir sama dengan kamar anak gadis pada umumnya.

tok tok tok...

Pintu kamarnya diketuk dengan terburu-buru, cepat-cepat Aleya beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamarnya.

"Non Aleya" Sumirah memanggil Aleya dengan suara yang gemetar.

"Mba Sumi kenapa?" Aleya bertanya menyangka sesuatu yang buruk menimpa asisten rumah tangganya itu.

"Non, barusan ada telepon dari RS Madinah, bapak kecelakaan" tangis Sumi meledak.

DEG

"Astaghfirullaah" Aleya menutup mulutnya dengan keras, mencoba menahan tangisnya agar tidak meledak seperti Sumi. Tubuhnya bergetar, matanya memerah, jantungnya berdetak kencang, wajah yang biasanya putih merona kini pucat pasi. Aleya sempat terhuyung, tapi dengan cepat dia menyandarkan tubuhnya ke daun pintu.

Sejenak dia berpikir

"Umi sudah tahu?" Aleya mulai bisa mengontrol pikirannya.

Sumirah menggeleng. Aleya menahan nafas, memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan berita naas ini ke Fitri, ibunya. Sejak beberapa bulan yang lalu ibunya sakit-sakitan, jantung. Hal itu menyebabkan dia tidak diperbolehkan mendengar hal-hal yang mengejutkan. Itulah alasan Aleya melarang Dzaki dan Mendi menemui keluarganya saat kejadian di depan warung bakso.

"Apakah harus memberitahu umi, bagaimana jika umi syok, umi tidak perlu tahu, abi mungkin hanya luka ringan" pikirnya. Setelah merasa cukup tenang, Aleya akhirnya melangkahkan kaki menuju kamar kedua orang tuanya, "umi pasti belum tidur" gumamya. Dia harus memberi tahu Fitri agar bisa menyusul Ihsan ke RS.

"Assalamu'alaikum umi" Aleya mengetuk pintu kamar Fitri.

"Wa'alaikumsalam, masuk aja nak" kata suara dari balik pintu.

Aleya membuka pintu kamar dan melihat Fitri sedang bersandar di tempat tidur sambil memegang tasbih dengan tangan kanannya. Wajahnya mulai merona dibandingkan beberapa hari yang lalu saat melihat putrinya terluka saat mengikuti jam olahraga di sekolah. Aleya dan Ihsan memang sepakat untuk mengubah kronologis warung bakso menjadi kecelakaan kecil saat jam olahraga di sekolah.

"Umi, Aleya keluar sebentar yah" ucap Aleya.

"Kemana? Abi juga belum pulang nak" pandangan Fitri mulai terlihat curiga.

"Umi, jangan panik dulu ya. Aleya.. hmm Abi kecelakaan, tapi kayaknya gak parah kok. Aleya gak tega aja kalau Abi pulang cuma dijemput Mang Dadang" Aleya berusaha terlihat tenang.

Tiba-tiba wajah Fitri memucat, nafasnya mulai berat. Aleya dengan cepat berusaha menenangkan Fitri.

"Abi gak papa kok umi, Abi bisa langsung pulang hari ini juga" mendengar itu, nafas Fitri mulai beraturan kembali, jari-jarinya yang tadi kaku bisa digerakkan kembali.

"Umi ikut yah nak" suara Fitri terdengar parau

Aleya mengangguk tapi jelas di matanya terlihat kecemasan yang sangat besar

***

Di Rumah Sakit, pukul 11.15

Reka, Widya dan Syifa sudah tiba terlebih dulu di RS, mereka langsung menuju UGD.

Melihat Dzaki yang terbaring di salah satu ranjang pasien langsung membuat Widya menangis histeris. Bajunya yang berwarna krem kini menjadi merah kecoklatan oleh darah yang mulai mengering. Kepalanya diperban, terlihat beberapa goresan di wajahnya. Syifa memeluk ibunya berusaha menenangkannya.

"Ma, udah ma, kita tanyakan dulu ke dokter bagaimana kondisi Dzaki" Syifa berusaha tenang, matanya memerah karena sudah menangis selama perjalanan ke RS. Jauh dilubuk hatinya dia bersyukur melihat adiknya selamat.

"Pak Reka?" seorang dokter muda menghampiri mereka

"Dokter , bagaimana keadaan anak saya?" tanya Reka setelah melihat ke arah dokter yang memanggilnya, wajahnya sekarang jauh lebih tenang dibandingkan saat memasuki RS beberapa menit yang lalu.

"Kami sudah melakukan pertolongan pertama, selain luka di kepalanya, tidak ada yang terlalu serius" kata dokter tersebut sambil melangkah ke samping ranjang Dzaki

"Kita harus bersyukur, kita mendapat sebuah keajaiban karena pasien hanya mengalami lecet dan memar ringan, setelah hasil CT Scan keluar dan dipastikan tidak ada yang bermasalah, pasien sudah boleh pulang besok pagi"

"Bagaimana dengan korban yang satunya lagi dok"? Reka teringat dengan Ihsan.

Dokter menghela nafas panjang.

"Pak Ihsan meninggal di lokasi kejadian pak, kami turut berduka cita pak"

Widya meremas mulutnya, baru beberapa jam yang lalu mereka melakukan perjamuan makan malam bersama. Syifa kembali menangis, Ihsan adalah orang yang sangat ramah.

Reka kemudian melangkah menjauh dan melakukan beberapa panggilan melalui ponselnya.

Saat Dzaki akan dipindahkan ke ruang rawat inap, Reka mendekat dan memegang pundak istrinya.

"Ma, papa menemui keluarga Pak Ihsan dulu. Nanti papa menyusul" suara Reka terdengar berat.

***

"Umi yakin mau masuk ke RS" Aleya menatap mata Fitri dalam-dalam.

"Iya nak" tidak ada keraguan dari jawaban Fitri.

Aleya hanya manarik nafas dalam-dalam. Dia sendiri masih bertanya-tanya bagaimana kondisi Ihsan. Dia sendiri sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terbaik sekaligus kemungkinan terburuk. Tapi Aleya ragu dengan kondisi Fitri "semoga abi baik-baik saja, semoga umi kuat" kalimat itu berulang kali Aleya ucapkan di dalam hatinya, sebuah doa sekaligus penguat untuk dirinya.

Sesampainya di RS, Aleya menemui bagian admin.

"Sus, aku mencari pasien atas nama Ihsan Wijaya" tanya Aleya dengan penuh cemas

"Dok, keluarga korban kecelakaan tadi sudah datang" Suster memanggil seorang dokter muda yang tadi berbicara dengan Reka.

"Dok saya istri Pak Ihsan, suami saya baik-baik saja kan dok?" Fitri meremas lengan Aleya, dia terlihat mulai panik.

"Maafkan kami bu, bapak meninggal dunia di loksi kecelakaan, kami turut berduka cita" ucap dokter penuh hati-hati.

Belum sempat Fitri dan Aleya mendengar ucapan dokter sampai selesai, Fitri langsung histeris, dia meremas lengan Aleya semakin kencang.

"Innalillahi wa inna ilahii rajiun" ucap Aleya dengan suara terbata-bata.

Dunianya tiba-tiba berhenti, tubuhnya terasa melayang, dadanya sakit. Dia sudah membayangkan yang terburuk, tapi ini jauh lebih buruk dari bayangannya.

"Dok, aku boleh liat abi?" tanya Aleya.

"Boleh, mari saya antar" kata dokter itu sambil memberi tanda untuk Aleya agar Aleya dan ibunya mengikutinya.

Setibanya di depan kamar jenazah, Fitri yang tadinya sudah agak tenang kembali histeris. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya yang pucat kini sudah seperti kertas putih. Dia terlihat sangat putus asa. Fitri tidak pernah menyangka akan ditinggalkan oleh Ihsan secepat ini, bagaimana kehidupannya nanti. Dia hanyalah ibu rumah tangga yang sakit-sakitan.

"Umi tunggu di sini aja yah, biar Aleya dulu yang liat abi" Aleya menahan ibunya agar tidak masuk di kamar jenazah.

Fitri yang sudah tidak bisa berbicara hanya menggeleng beberapa kali.

"Umi, Aleya mohon. Aleya gak mau umi tambah sakit" untuk pertama kalinya Aleya memperlihatkan raut wajah tegas ke Fitri.

Aleya membantu Fitri duduk di sebuah bangku panjang di dekat pintu masuk kamar jenazah, di ujung bangku ada seorang pria setengah baya yang sedang duduk sambil memegang sebuah ponsel. Sejak tadi dia hanya menatap Aleya dan Fitri, menunggu saat yang tepat untuk berbicara.

Beberapa menit kemudian, Aleya keluar dari kamar jenazah. Wajahnya masih pucat, bibirnya kering matanya sudah bengkak karena kebanyakan menangis. Dengan kondisi yang dia hadapi, dia sangat tenang untuk anak seusianya. Namun dari sorot matanya jelas sekali kalau dia berusaha terlihat tegar demi ibunya.

"Umi, Aleya mau kedepan dulu, Aleya mau mengurus keperluan agar kita bisa bawa Abi pulang ke rumah. Umi tunggu Aleya di rumah aja yah" Ucap Aleya dengan suara sendu.

"Biar om yang urus urusan di rumah sakit, kamu sebaiknya menemani umi mu nak" ucap Reka.

"Oia, perkenalkan. Saya Reka, om adalah teman kerja Pak Ihsan, almarhum" Reka mengulurkan tangannya.

"Aleya om" Aleya menjabat tangan Reka.

Reka menceritakan kronologis sebelum Ihsan mengalami kecelakaan, dia pun meminta maaf karena kecelakaan naas itu terjadi saat Ihsan mengantar putranya. Diluar dugaan, reaksi Fitri dan Aleya membuat separuh beban Reka berkurang. Mereka percaya bahwa kematian Ihsan memang sudah ajalnya dan itu tidak bisa ditawar.

Setelah pembicaraan singkat akhirnya mereka sepakat, Reka akan mengurus semua keperluan pemakaman Ihsan. Sementara Fitri dan Aleya pulang lebih cepat karena mempertimbangkan keadaan kesehatan Fitri yang drop.

***

Pukul 02.12 pagi

Jenazah Ihsan sudah tiba di rumah duka, kerabat dekat dan beberapa karyawan TvB sudah menunggu di ruang tamu. Sofa dan beberapa perabotan rumah yang ada di ruang tamu dan keluarga sudah diungsikan ke lantai dua oleh karyawan TvB atas perintah Reka.

Setibanya di rumah duka, jenazah Ihsan diletakkan di ruang keluarga. Tampak Aleya yang dengan setia duduk di samping jenazah ayahnya. Sesekali dia menangis terisak, lalu beberapa detik kemudian menarik nafas panjang sambil berusaha menahan air matanya. Dia tidak ingin menjadi lemah, tidak boleh lemah karena hanya dia yang akan menjadi sandaran Fitri selanjutnya.

Pukul 06.30 pagi.

Di Sepanjang jalan di depan rumah Aleya sampai ke pekarangan rumah sudah dipenuhi dengan rangkaian bunga ucapan bela sungkawa dari berbagai instansi pemerintah dan swasta serta kerabat dekat maupun jauh. Tetangga dan para kenalan sudah mulai berbondong-bondong datang untuk melayat. Sebagian dari mereka sangat menyayangkan kepergian Ihsan yang begitu mendadak, bahkan beberapa dari mereka tidak kuasa menahan air mata saat mengingat kebaikan Ihsan semasa hidupnya.

Di samping jenazah yang ditutupi kain panjang, Aleya masih setia mendampingi Ihsan untuk terakhir kalinya. Wajahnya sendu, matanya sudah membengkak karena kebanyakan menangis, sorotan matanya kosong tanpa asa. Kerudung hitam yang dia pakai membuat kulit putihnya semakin terlihat pucat.

Di dekat Aleya sudah ada Linda, nenek sekaligus ibu dari Ihsan, kondisinya tidak jauh berbeda dengan Aleya. Selain Linda ada juga saudara Ihsan dan Fitri serta beberapa sepupu Aleya. Keluarga mereka memang bukan keluarga besar, kakek nenek Aleya yang tersisa tinggal Linda, selebihnya sudah lebih dulu kembali ke Yang Maha Kuasa jauh sebelum Aleya lahir.

Sementara Fitri sudah berada di kamarnya sejak subuh tadi ditemani oleh Aisyah, saudaranya yang bekerja sebagai dokter. Kondisinya drop tapi dia menolak di bawa ke RS.

***

Pukul 08.15 di Rumah Sakit

Widya sedang mendorong kursi roda yang dinaiki Dzaki, Syifa sudah menunggu mereka di parkiran RS. Hasil CT scan Dzaki keluar tadi malam dan tidak menunjukkan ada masalah serius.

"Ma, aku mau ke rumah Om Ihsan dulu" Dzaki masih berusaha membujuk Widya. Sejak Dzaki siuman dan tahu kalau Ihsan meninggal dunia, dia hanya meminta satu hal, melayat ke pemakaman Ihsan.

Bersambung...

1
tay kus
jelas dan mudah di pahami alur ceritanya
Prabu Marbun
Aku kepo banget lanjutannya gimana Thor! Plis jangan lama-lama ya!
Pai Konyol
Ceritanya bagus kak. Alurnya juga asik jadi bikin ga bosen hihi
girlganggoodies
Kakak author, cukup lagu dan jemuran aja yang digantung.. aku jangan..
fleurlovin
Aku udah mampir nih! Kayaknya sih bakal menetap buat nungguin bab baru! *ahem*
༺Leͥgeͣnͫd༻ᴳᵒᵈ
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
HotBabe
Gak bisa tidur dehhh hayati!
Bisikan Luar Biasa
Hai, kak. Aku suka alurnya.. bisa ngebawa aku kayak ada di dalem cerita~!!
NewJerseyJack
Aku baru baca dan ga berasa udah sampe bab paling baru. Ditunggu bab selanjutnya, ya!
Diambil Oleh Anggur
Thor update crazy dong ...... author baik.. pinter... update crazy ya 😙👍👍
~Nessa
Salken Author,aku mendukung karya mu yang keren ini..

Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav

Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....

MAKASIH..
..Banyakkk

NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!