Halo semua. Saya penulis pemula.
Mohon dilike dan diberi masukan, supaya saya semangat menulis.
Saya tidak pernah pacaran, saya tidak tahu apa itu jatuh cinta. Yang jelas saya tahu, sekarang kamu istri saya. Itu berarti saya bertanggung jawab menjaga dan melindungi kamu.
- Gerald Alexandro Bramasta
Kamu ganteng tapi kamu begitu dingin. Aku tidak akan menaruh cinta di atas pernikahan ini.
- Gita Ayu Berlian
Cerita ini mengisahkan sepasang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama.
Mereka dinikahkan oleh nenek kandung Gerald yang sudah dianggap nenek sendiri oleh Gita. Nenek baik, begitu Gita menyebutnya. Nenek yang memberi namanya.
Akankah Gita bertahan dengan kesalahpahahamannya di awal pernikahan ini? Atau apakah nanti justru dia yang terlebih dahulu mencintai Gerald?
Selamat menikmati!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gelora Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gita Alergi Telur
Pagi sekali, Gita beranjak dari tempat tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul 04.00 WIB. Biasanya dia bangun jam 5. Kali ini satu jam lebih awal, dia ingin memastikan satupun barang tidak ada yang tertinggal. Kepulangannya hanya 3 hari namun dia sengaja membeli banyak oleole khas Bandung untuk orangtuanya, nenek baik dan kedua calon mertuanya. Dia sudah terbiasa melakukan ini tapi ada yang berbeda, spesial hari ini dia juga membawa buah tangan untuk orangtua yang dia sebut ayah dan bunda itu.
Selesai mandi dia kepikiran menelepon Bimo, sahabatnya di fakultas kedokteran. Sejak zaman mahasiswa baru, mereka sudah berteman baik. Gita sudah menganggapnya seperti abang sendiri maka tak heran lagi jika dia minta tolong pada Bimo. Bimo dengan senang hati membantu Gita, dia berpikir Gita selalu ingin bersamanya. Kebaikan Gita disalah artikan oleh Bimo, dia mencintai Gita namun Gita tidak mengetahui itu. Bimo sengaja memendam perasaannya karna dia jelas tahu Gita masih fokus kuliah dan belum memikirkan cinta.
Barang-barang Gita cukup banyak, ditambah lagi souvenir pernikahan yang dia beli di Bandung. Itulah sebabnya dia menelepon Bimo dia bermaksud meminta tolong padanya untul mengantarkannya ke bandara. Tidak butuh waktu lama Bimo langsung meluncur ke kosan Gita. Sebelumnya Gita sudah memberitahukan pada Bimo rencananya untuk pulang selama 3 hari saat mereka bertemu di kampus kemarim. Gita beralasan untuk menjenguk neneknya yang tiba-tiba sakit dan selalu memanggil nama Gita. Bimo sama sekali tidak curiga karna dia jelas tahu Gita sangat menyanyangi neneknya, Gita sering bercerita tentangnya.
Gita sengaja menutupi ini dari siapapun termasuk Bimo. Dia tidak ingin ada orang lain yang tahu kalau dia akan menikah. Senggaknya dia masih tetap aman kuliah di kampusnya tanpa ejekan dari orang lain. Tentang bagaimana dia akan tinggal sudah dipikirkannya. Dia akan meminta Gerald bekerja sama dengannya. Berpura-pura tinggal satu rumah di Bandung padahal aslinya ada di bawah atap kosan masing-masing. Dia yakin Gerald akan menyetujuinya dan merahasiakannya dari semua keluarga karna dia yakin Gerald juga terpaksa menikahinya karna permintaan sang nenek.
Setibanya di bandara Gita langsung berpamitan pada Bimo. Dia akan segera check in. ' Aku berangkat dulu ya Bim, jangan lupa bantuin kerjain proposal magang ya, plis. Aku gak janji bisa menyelesaikan sendiri, aku pasti sibuk di kampung mengurusi nenekku ' , dia memohon pada Bimo. Ada proposal yang belum mereka selesaikan, Gita tidak yakin akan mampu menuntaskan seperti biasanya, dia yakin persiapan pesta akan menyita waktu yang banyak.
Bimo yang senang dengan ekspresi menggemaskan Gita pura-pura tidak mau. Dia memalingkan wajahnya seolah tidak mendengarkan permintaan Gita. " Bimmm kau dengar aku gak sih? Plis ya ", Gita menggoyang-goyang lengan Bimo, berharap sahabatnya itu akan iba dan memenuhinya. " Iya deh iya, cepat sembuh untuk nenekmu ya Git. Cepat pulang, nanti aku rindu ", jawab Bimo dengan mencubit pipi Gita. Gita sudah biasa dengan perlakuan itu karna dia menganggapnya seperti cubitan seorang abang untuk adik perempuannya.
" Gaya bener dah pake rindu segala. Tapi iya deh, doain lancar ya ", Gita melemparkan senyum lalu dia pergi meninggalkan Bimo.
Sementara di tempat lain sepasang bola mata sudah memandangi mereka sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan calon suami Gita. Dia bermaksud untuk segera check in tadi namun langkahnya terhenti oleh sepasang manusia yang sedang beradegan mesra menurutnya. Cuih, zaman sekarang mana ada cewek cantik yang jomblo, umpatnya dalam hati sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melakukan check in.
Di pesawat, Gita dibuat risih oleh orang di sampingnya. Ternyata bu Siti sengaja memesan tiket dengan kursi yang berdampingan. Gita berniat untuk pindah namun dicegat oleh pramugari. Dia diharuskan untuk menempati kursi sesuai yang ada di tiket.
Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih dua jam. Gita mulai membaca buku yang ada di depannya, berharap makhluk di sampingnya tidur dan tidak akan memulai perdebatan dengannya seperti yang mereka lakukan saat pertama kali bertemu.
Setengah jam sudah berlalu, pramugari berjalan ke arah kursi setiap penumpang. Membagikan sarapan pagi dengan pudingnya.
Gita yang tidak sempat sarapan tadi membuatnya dengan cepat membuka bungkusan makanan itu. Baru saja dia ingin melahapnya namun tangannya berhenti dengan apa yang dilihatnya. Mie goreng dengan taburan telur yang dipotong kecil-kecil di atasnya. Dia membolak-balikkan mie goreng itu dengan sumpitnya, berharap telur tidak melekat pada mie itu. Sayangnya ternyata telur sudah dicampur merata dengan mie, yang di atas hanyalah hiasan saja.
Gita menutup makanannya kembali. Dia memilih untuk membaca buku kali aja dia bisa lupa dengan perutnya yang masih kosong.
Gerald yang meliriknya sejak tadi merasa aneh dengan sikap Gita yang tidak menentu.
Anak aneh, tadi dia begitu bersemangat membuka makanannya, sekarang dia malah menutupnya dengan kasar. Apa perempuan seaneh itu ya , ucap Gerald dalam hati seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
Sementara dalam hati Gita dia ingin sekali mengisi lambungnya tapi sejak kecil dia alergi dengan telur. Pernah sekali dia bandal memakan telur, alhasil seluruh badannya gatal-gatal.
Kriuk kriuk.. kriuk , bunyi perut Gita terdengar jelas ke telinga Gerald. Dia kembali melirik perempuan itu. Tampak Gita melingkarkan kedua tangannya ke atas perutnya. Gerald kembali dibuat bingung olehnya. " Kamu lapar, kenapa kamu menganggurkan makanan kamu ? ", Gerald mulai bertanya padanya.
" Ups ada orang ternyata di sampingku Aku kira tadi kosong ", Gita menatapnya tajam.
Gerald tidak melanjutkan pertanyaannya.
Lagi, perut Gita berbunyi. Gerald langsung membuka makanan Gita, berusaha menyuapinya dengan paksa.
" Buka mulut kamu. Kamu lapar, makan ", Gita dibuat takut dengan tatapan tajam Gerald.
Sebenarnya Gita sudah berjanji untuk tidak memakan telur lagi. Dia ingat persis kala itu dia tidak sekolah seharian padahal saat itu ujian hari pertama di SMPnya. Badannya gatal-gatal dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit. Itu membuatnya trauma, dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Namun cara Gerald membuatnya semakin takut. Akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima makanan itu dari Gerald. Baru dua suapan Gerald sudah meletakkan makanan itu. Dia malu dengan apa yang dia lakukan barusan. " Begitu saja susah, sangat merepotkan ", ucapnya lalu beralih dari mata Gita.
Gita merasakan hal yang dia rasakan sewaktu SMP itu. Badannya panas, gatal dan ingin mandi. Perlahan dia mulai tidak tenang, bergerak kesana kemari bak cacing yang kepanasan. Gerald yang menyaksikan itu cukup pusing,dia memilih untuk tidak mengganggunya lagi setelah apa yang dia lakukan tadi membuatnya malu pada Gita.
Bantu aku ,ucap Gita dalam hati.