[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.
Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.
Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #7
Perjuangin selagi bisa berjuang. Mundur kalau kenyataan memang menakdirkan kita untuk mundur. Kalahkan ego dengan ikhlas.
__________
Artha meringis saat kepalanya terasa berdenyut-denyut. Ia lupa meminum pil tambah darah dua hari. Pasti saat ini darahnya menurun kembali. Ia pun tidak tahu mengapa ia sampai menderita penyakit kurang darah. Padahal ia tidak pernah tidur malam, ia juga rajin memakan sayur-sayuran. Dan keluarganya pun tidak ada yang berpenyakitan seperti itu.
Tiga tahun lamanya dia menderita penyakit ini. Selama tiga tahun pula ia menyembunyikan penyakit itu dari keluarganya. Sejak kecil Artha paling tidak suka direndahkan. Sehingga sampai saat ini ia tidak mau dianggap lemah oleh siapa pun. Baginya penyakit adalah aib, ia tidak mau dianggap lemah hanya karena penyakit.
"Tha, kok muka kamu pucet sih?" tanya Mama Artha yang baru saja pulang dari butiknya.
"Emang kulit aku kayak gini, Ma, mungkin karena Mama abis dari luar terus masuk, jadi rada aneh pas liat muka aku," ucap Artha sambil menghabiskan susu dingin yang tinggal separuh.
"Artha mau istirahat dulu ya, Ma, besok, kan, hari Sabtu, Artha libur tuh, jangan bangunin Artha ya sampe Artha bangun sendiri." Setelahnya Artha langsung pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan sang Mama. Mama Artha hanya menggelengkan kepalanya.
"Sampai kapan kamu seperti itu Artha," ucap Mama Artha pelan, setelahnya ia langsung memasuki kamarnya.
***
Malam ini Syahla menemani kak Syakib ke gramedia untuk mencari buku yang akan ia persiapkan untuk membuat skripsi. Sebentar lagi kak Syakib akan menjadi sarjana S1 Fakultas Ushuludin. Kak Syakib ingin meneruskan jejak abba, ia berniat ingin menjadi dosen seperti abbanya. Itulah yang selalu Syahla dan kak Syakib janjikan, Syahla akan meneruskan jejak bunda dan kak Syakib akan meneruskan jejak abba.
"Kak, lulus S1 Kakak mau kuliah lagi enggak?" tanya Syahla sambil ikut memilih-milih buku di rak-rak yang berjejer rapih.
"Kalau Allah izinkan, insyaallah Kakak bakal kuliah lagi, tapi Kakak enggak mau pakai uang abba lagi, Kakak mau belajar mandiri. Kayaknya Kakak lebih condong untuk mendapat pekerjaan tetap dulu, Sya, setelah itu baru Kakak teruskan kuliah. Kita ini, kan, mengandalkan abba sepenuhnya. Kakak enggak mau nyusahin abba terus-terusan. Biar nanti Kakak bantu abba buat bayar kebutuhan kamu. Pokoknya kamu harus jadi sarjana, jadi dokter kayak bunda. Itukan cita-cita kamu sejak kecil? " Senyum simpul menghiasi wajah tampan Kak Syakib.
"Terima kasih, Kak, Syasya enggak bisa ucap apapun sama kalian selain terima kasih." Syahla memeluk lengan dan menyenderkan kepalanya di bahu Kakaknya.
"Jangan sampe kecewain abba, dia berharap besar kepada kita."
"Iya, Kak."
Siapa laki-laki yang sangat dekat dengan Syahla, Syahla akan menjawab kakaknya. Bukan berarti dia tidak dekat dengan abba, dia dekat dengan abba bahkan dekat sekali, tapi untuk dibandingkan, dia lebih terbuka dengan kakaknya.
Tepat di jam sembilan malam mereka baru kembali ke rumah. Abba sengaja membelikan Syahla dan Syakib motor, bukan karena terlalu maruk. Abba sudah memastikan motor itu sangat dibutuhkan. Abba akan berangkat ke kampus untuk mengajar di jam yang sama dengan Syakib dan Syahla, jadi mana bisa mereka mengandalkan satu mobil untuk bertiga. Lagi pula Syahla belum bisa mengendarai mobil.
Dahulu, sewaktu ada bunda, kehidupan mereka serba kecukupan, bahkan lebih dari cukup. Mereka juga memiliki dua unit mobil berbeda merek.
Saat bunda meninggal satu mobil dijual untuk membeli dua motor, dan satu mobil lagi masih sedia di garasi. Abbalah yang selalu membawanya ke kampus.
Sekarang mereka berlajar untuk hidup lebih hemat dari sebelumnya. Karena hanya abbalah yang menanggung semuanya.
Abba tidak hanya membiayai Syakib dan Syahla. Dia juga membiayai satu adiknya yang sedang berkuliah. Karena sebelum uminya abba meninggal pernah berpesan untuk membiayai adik terakhirnya itu kuliah karena abba anak paling pertama.
Usia abba sekarang menginjak usia 58 tahun. Abba sudah mulai sakit-sakitan. Tubunya yang sebelumnya tinggi kekar kini sudah mulai menunduk.
"Assalamu'alaikum, Abba," ucap Syahla saat melihat Abbanya sedang asyik membaca Al-Qur'an di ruang tengah.
Abba menghentikan tadarusnya, ia memang sedang menunggu Syahla dan Syakib sejak tadi.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullah wabarakatuh."
Syahla dan Syakib menyalimi punggung tangan Abba bergantian setelahnya mereka ikut duduk bersama.
"Ba, kira-kira buku ini cocok enggak?" tanya Kak Syakib sambil menunjukkan dua buku yang baru saja ia beli.
Abba tidak langsung menjawab, ia mengambil alih buku dari tangan Kak Syakib lalu menyelidik buku tersebut. Setelah cukup lama diam akhirnya Abba menganggukkan kepala.
"Cocok."
"Alhamdulillah."
"Syasya, masuk ke kamar, belajar, jam sepuluh malam kamu sudah harus tidur, dan Syakib, kamu mending ikut Abba ke masjid untuk mengisi jam malam Majlis Ta'lim Daruttaubah."
Syahla dan Syakib mengangguk patuh.
***
Siapa bilang Artha tidur di kamarnya. Dia tidak bisa menahan rasa sakit yang menderanya. Kepalanya terus-terusan berdenyut. Pandangannya jadi berkunang-kunang. Sebisa mungkin ia menguatkan diri agar tidak terjadi apa-apa. Tapi nihil. Ia sudah tidak kuat menahannya sendirian.
Artha berjalan sempoyongan ke luar kamarnya. Ia lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Apa mamanya masih terjaga jam segini. Artha menghentikan langkahnya. Ia tidak mau mengganggu mama dan papanya malam-malam. Salah dia sendiri, kenapa harus sok kuat menahan sakit sendiri.
Akhirnya Artha memilih untuk ke dapur. Siapa tahu dengan meminum segelas air putih ia bisa lebih fresh dari sebelumnya.
"Artha kok malem-malem ke dapur."
Bulu kuduk Artha merinding. Siapa yang mengajaknya bicara. Inikan sudah jam dua belas malam. Dan di dapur saat ini sangat sepi. Artha membalikkan badan. Ia sampai berjingjit karena terkejut.
"Papa."
Papa Artha mengerutkan keningnya. Ada yang berbeda dengan Artha malam ini.
"Kamu sakit, Tha?"
Egonya memberontak untuk mengatakan iya. Tapi realita memaksanya untuk mengatakan bahwa ia memang sedang sakit, karena memang rasa sakit itu saat ini benar-benar mengganggunya.
"Ya, kepalaku sakit."
Papa Artha langsung memanggil mama yang ternyata juga ada di dapur.
Ternyata mereka sadang membuat nasi goreng bersama. Inilah yang membuat Artha merasa kagum dengan mama dan papanya. Walaupun usia mereka bisa dikatakan tidak muda lagi, tapi mereka tidak pernah merasa bosan untuk tetap berlaku layaknya orang yang baru saja menikah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mama dengan raut wajah khawatir.
Artha membuang mukanya saat Mamanya menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya.
"Please dont be like this. You know I don't like to be treated like this."
Mama Artha tersenyum sendu. "Is Mama *w*rong?"
Artha berdecak. "Lakukanlah."
Artha dibawa mama dan papanya ke rumah sakit. Mama Artha sampai terkejut saat melihat hasilnya. Darah Artha benar-benar rendah, Artha diperintahkan untuk di rawat beberapa hari untuk meningkatkan trombositnya yang ikut-ikutan menurun. Saat selang infus menempel di tangan kiri Artha, Mama Artha hanya bisa menangis lesu. Apakah selama ini ia melakukan hal yang Artha tidak suka, sampai-sampai Artha menyembunyikan penyakitnya ini.
"Maafin Mama ya," ucap Mama Artha sambil mengusap pelan kening Artha.
Artha menaikkan sebelah alisnya. "Mama enggak salah, aku yang salah."
Mama Artha hanya menggeleng.
"Mama mau enggak nurutin satu kemauan aku? Enggak mau enggak apa-apa," ucap Artha sambil berusaha bangun.
"Tentu, apa maumu?"
Artha terdiam sesaat, setelah menghembuskan napas pelan ia mulai angkat suara. "Aku mau besok ada Syahla menjengukku."
Mama Artha terlihat terkejut, ia tidak yakin kalau yang sedang berbicara dengannya ini adalah Artha, anaknya, yang sebelumnya sangat anti perempuan.
"Are you sriuosly?"
"Yeah..."
"It's okay, besok Mama pastikan Syahla akan menjenguk kamu."
Artha hanya tersenyum miring, senyuman khasnya sejak dulu.
***
Mata Syahla membulat. Pagi-pagi dikunjungi Kepala Sekolah. Siapa yang tidak terkejut.
Tidak hanya pak Natha, ada bu Anita juga di ruang tamunya pagi ini. Sambil mengoseng-ongseng kangkung ia menguping apa yang dibicarakan abba dan keluarga Artha di ruang tamu yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan dapur.
Glontrang...
"Syasya?"
"Iya, Abba, maaf ...."
Syahla menepuk keningnya pelan. Saat mendengar Artha dirawat dan Artha minta Syahla untuk menjenguknya, Syahla langsung gagal fokus. Dia malah menjatuhkan tutup panci yang niatnya ingin ia sangkutkan.
Saat tumis kangkung sudah ia pindahkan ke atas mangkuk berukuran besar, kini ia membuatkan minuman untuk tamu yang datang, dan juga untuk abba.
"Oh ini Syahla?" ucap Mama Artha saat melihat Syahla keluar dari dapur sambil membawa nenampan yang di atasnya terdapat empat gelas teh hangat dan satu piring piring pisang goreng. Semua Syahla yang buat.
"Iya, Bu," ucap Syahla dengan penuh takhzim.
Ia ikut duduk bersama.
"Jadi Ibu mau minta tolong sama kamu, Syahla. Artha, kan sedang sakit, dia enggak pernah bilang kalau dia sakit. Tau-tau parah gitu. Dia bilang sama Ibu minta kamu untuk jenguk dia. Kayaonya kamu udah buat dia tergila-gila sama kamu, Syahla." Mama Artha terkekeh memperlihatkan barisan giginya yang tertata rapih.
Sementara Syahla hanya tertawa canggung, pipinya memanas, Syahla kamu kenapa?
"Terserah kamu, Syah, mau jenguk jam berapa, kalau memang mau sekarang boleh banget, bahkan bagus banget, enggak tega lihat anak kesayangan Ibu nunggu. Siapa tahu kalo kamu jenguk dia jadi fresh lagi."
Syahla menengok ke arah Abbanya, untuk meminta persetujuan dari Abbanya itu. Abba tidak menampakkan raut apapun, ia hanya mengangguk.
"Saya izin bersiap sebentar, ya?"
"Iya silahkan, Syahla, Ibu terima kasih banget ya sama kamu."
"Iya, Bu, enggak masalah kok, sama-sama."
Lima menit Syahla bersiap. Kak Syakib berpesan kepada Syahla, dia bilang Syahla jangan sering-sering senyum, takutnya nanti si Artha itu benar-benar naksir sama Syahla. Setelah melihat orangtuanya tadi, Kak Syakib sudah bisa mendeskripsikan bahwa Artha itu non-muslim. Bahaya urusannya kalau sudah menyangkut agama dan perasaan.
Syahla benar-benar canggung. Ia duduk di samping Mama Artha, yang mengendarai mobil Papa Artha. Jemarinya terus memilin ujung jilbab, ia grogi.
"Syahla ini kalo enggak salah yang pernah dapat juara satu lomba MTQ putri tahun lalu ya?" tanya Papa Artha di sela kemudinya.
"Iya, Pak."
"Kamu dari keluarga Islam, ya?" tanya Mama Artha tiba-tiba.
"Iya, Bu."
Mama Artha hanya menganggukkan kepalanya seolah paham.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah sakit dimana Artha dirawat saat ini.
Syahla langsung digandeng Mama Artha ke dalam ruangan Artha. Syahla tidak mau ditinggalkan berduaan. Tapi, Mama Artha malah meninggalkannya, ia sampai memohon-mohon kepada Syahla agar segera menemui Artha. Mama Artha bilang ia ada urusan di butiknya, dan Papa Artha akan mengantarnya.
Mau tidak mau ia harus mau. Dengan langkah pelan Syahla mendekat. Syukurlah di dalam sedang ada suster.
Saat matanya beradu pandang dengan mata Artha beberapa detik ia langsung menunduk sambil mengucapkan istighfar berkali-kali.
"Syah, kamu baru dateng?"
Kamu?
Artha ngebahasain dirinya dengan bahasa kamu?
Serius?
Syahla hanya mengangguk canggung.
"Thank you, kamu udah mau dateng."
"Sama-sama, Ar."
Syahla langsung kebingungan saat suster yang tadinya memeriksa Artha kini membalikkan badan ke arah pintu keluar.
"Buka aja pintunya, Sya, kalo kamu enggak nyaman satu ruangan sama aku."
"Bu ... bukan enggak nyaman."
"Terus?"
"Dalam agamaku berada di dalam satu ruangan tertutup bersama laki-laki atau perempuan yang bukan makhromnya itu dosa Ar. Di sebutnya berkhalwat, bisa mengakibatkan zina."
"Tunggu-tunggu, biasa jelasin apa itu makhrom?"
Syahla menggigit bibir bawahnya, haruskah ia menjelaskannya kepada Artha? Ia tidak mau disangka mendoktrin Artha untuk mengenal agamanya atau menghasut Artha untuk mengerti aturan-aturan dalam Islam.
"Sya?"
"Hm, ya, bentar aku buka pintu dulu."
"Oke."
Syahla langsung membuka setengah pintu yang sebelumnya tertutup.
"Jelasin?" ucap Artha lagi.
"Maaf sebelumnya, bukan maksud aku menghasut kamu untuk mengerti peraturan dalam agama aku." Syahla memberi jeda ucapannya.
"Makhrom itu sebenarnya maksudnya adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syari'at islam."
"Intinya itu, misal, aku sama kamu ini kan enggak sedarah, dan kita juga enggak punya ikatan pernikahan. Jadi maksud aku kalo ngomong bukan makhrom itu artinya kamu haram nyentuh aku karena aku enggak halal untuk kamu, begitu sebaliknya, paham enggak, Ar?"
Artha mengangguk.
Seriusan dia paham?
"Terus kalo berkhalwat?"
Ya Allah, haruskah aku menjelaskannya lagi.
"Gak usah khawatir kali, jelasin aja," ucap Artha datar.
"Khalwat itu maknanya menyepi sendirian (satu orang) di tempat yang sunyi hukum asalnya adalah boleh (jawaz), bahkan bisa menjadi mustahab (disenangi) jika menyendiri dalam rangka berdzikir dan beribadah, sebagaimana kegemaran Muhammad SAW sebelum beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul beliau sering berkhalwat di gua Hira'."
"Tapi khalwat juga bisa jadi dosa kalo yang melakukan khalwat itu seorang laki-laki dan perempuan yang bukan makhromnya. Jadi mereka itu berduan dalam ruangan tertutup, yang enggak ada orang lihat, orang enggak bisa dengar apa yang dia bicarakan, nah itu dosa, Ar."
"Kalo kita sekarang masuknya dosa enggak?" tanya Artha.
"Enggak, soalnya ada banyak orang tuh di depan yang lagi lihat ke arah kita. Lagi rame ya rumah sakitnya."
Artha mengangguk. "Pertanyaan terakhir, apa itu zina?"
Tanpa berpikir panjang lagi Syahla langsung angkat suara. "Zina itu ... persetubuhan antara pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan perkawinan yang sah menurut agama. Islam memandang perzinaan sebagai dosa besar yang dapat menghancurkan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat. Berzina dapat diibaratkan seperti memakai barang yang bukan menjadi hak miliknya."
"Nah zina itu enggak cuma bersetubuh aja. Zina itu bisa melalui mata, misalnya ada laki-laki atau perempuan yang bening, kinclong, mantep dah, eh dia itu kayak berlebihan lihat dia yang aku sebutin ciri-cirinya tadi, apalagi sampai napsu ikut serta, naudzubillah. Nah itu disebut zina mata. Dan masih banyak lagi sih. Ada juga zina hati, yang mana pelakunya itu memikirkan hal yang enggak sewajarnya untuk dia pikirkan, paham kan?"
Artha menganggukkan kepalanya. "Banyak juga ya aturannya."
"Hidup bebas tanpa aturan itu menyesatkan."
Ucapan Syahla berhasil menohok hati Artha. Selama ini ia selalu berusaha untuk hidup bebas tanpa aturan. Ternyata apa yang ia inginkan malah buruk di mata perempuan yang diam-diam ia cintai, cinta yang tumbuh tanpa disadari, yang melesat capat dalam hitungan hari.
"Aku enggak bisa lama-lama. Aku izin pulang ya?"
Artha berat hati sebenarnya untuk mengiyakan.
Ingat Artha, hargai prinsipnya, jangan merusak nama baiknya.
"Naik apa pulangnya?"
"Ojek online."
"Terima kasih ya, hati-hati di jalan."
Syahla hanya mengangguk sambil tersenyum. Astaghfirullah ketelepasan..
***
Artha masih memutar-mutar memori beberapa jam yang lalu. Ia jadi sering tersenyum saat ia mengingat senyuman Syahla sebelum ia keluar dari ruangan persakitannya saat ini.
Apa ini yang disebut cinta?
Dia datang tanpa diminta, tapi berhasil membuat orang yang terjun kedalamnya meminta-minta balasan cinta itu, dan ingin memiliki orang yang dicintainya itu.
"Tha?"
Artha terkejut, Mamanya datang tiba-tiba. Tau-tau sudah ada di samping saja.
"Hm? Kanapa, Ma?"
Mama Artha terdiam sesaat.
"Yang tadi itu Syahla?"
"Hm ...."
"Cantik ya, tapi ...."
"Tapi kenapa, Ma?"
Mama Artha langsung menghadapkan wajahnya ke arah Artha. "Mama enggak setuju, dia beda agama sama kita, maafin, Mama."
Seolah didorong dari atas jurang, sakit dengarnya. Sebelumnya Mamanya itu mendorong Artha untuk menanjak jurang yang tinggi, saat Artha berhasil, Mamanya itu malah mendorongnya untuk terjun.
"Maksud, Mama?"
Mama Artha hanya tersenyum. "Cepat sembuhlah dulu, kamu pasti bisa paham tanpa harus Mama jelaskan." Setelahnya Mama Artha pergi begitu saja.
Apa harus aku menjatuhkan diri dari ketinggian yang sudah susah payah kudaki. Sungguh, baru kali ini aku merasakan rasa ini, apa harus aku merasakan sakit dicinta pertamaku?
Artha mengusap wajahnya pelan. Maaf, Ma, aku egois, aku enggak akan semudah itu mundur tanpa berjuang.
Setelahnya Artha memilih untuk memejamkan mata. Ia sudah mengantuk, mungkin karena salah satu obat yang ia konsumsi tadi memberikan efek ngantuk. Tapi tidak apalah, ia jadi tidak susah-susah lagi berusaha untuk tidur.
Di tempat yang berbeda, Syahla sedang asyik mengadu pada Rabb-nya. Ia bersimpuh di atas sajadah yang sudah satu jam ia biarkan tergelar. Ia masih nyaman dengan posisinya saat ini.
Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Syahla menangisi kesalahannya. Begitu mudahkah ia merasakan rasa yang tidak sewajarnya ini. Sungguh ia tidak menginginkan ini terjadi.
Ya Allah, biarkanlah aku istiqomah terlebih dahulu di jalanmu. Meluruskan segala hal yang belum sempat aku perbaiki. Aku ingin fokus menimba ilmu. Aku ingin fokus menata diri untuk menjadi perempuan yang lebih baik. Aku mohon hilangkanlah rasa ini, rasa yang tidak seharusnya aku rasakan. Ini sangat tidak wajar, dan tidak pantas untuk diwajarkan.
Syahla menenggelamkan wajahnya menggunkana telapak tangan. Terbayang kembali wajah bundanya, perempuan yang sangat ia sayangi.
"Sayang, tatalah dirimu menjadi permata, jangan malah tata hati untuk terluka yang menghasilkan airmata."
Airmatanya semakin deras.
"Jangan sampai kulitmu tersentuh laki-laki yang bukan makhrommu, ya. Bunda sangat menjaga kamu dahulu, sekarang kamu sudah besar, kamu harus bisa ya menjaga dirimu sendiri."
"Bunda ... maafin Syasya ...."
Menangislah jika dengan menangis kau akan mendapatkan ketenangan.
Menangislah untuk kesalahannya yang kau buat.
Menangislah atas segala rasa penyesalan yang saat ini kau rasakan.
Ketahuilah Allah maha pengasih, maha penyanyang.
Syahla terdiam sesaat saat mendengar suara ketukan pintu.
"Syasya motormu sudah sampai rumah, Senin sudah bisa digunakan untuk sekol—" Ucapan Kak Syakib terhenti saat matanya menangkap sosok adik kesayangannya sedang tergugu dalam isakan tangisnya.
Kak Syakib langsung melangkah mendekat.
"Sya? Kamu kenapa?" tanya Kak Syakib sambil merangkul tubuh gemetar Syahla.
Syahla hanya menggeleng. "Aku hanya rindu bunda," alibi Syahla. Maaf kan hamba, Ya Allah.
Kak Syakib membawa tubuh gemetar Syahla kedalam pelukannya.
"Jangan sedih, doakan bunda, bunda akan sedih kalau kamu sedih."
Syahla mengangguk, ia menenggelamkan wajahnya di dada Kak Syakib. Pelukan Kak Syakib selalu bisa meringankan rasa sakit yang Syahla rasakan.
"Maafin, Syasya."
"Untuk apa?"
"Untuk kesalahan Syahla, baik yang Kakak tau atau pun tidak tahu, Syahla mohon ridhonya."
"Tentu, semoga kamu terhindar dari kebohongan."
Syahla terdiam, ia terus beristighfar dalam hati. Ia membohongi Kakaknya sendiri.
Maaf, Ya Allah.
"Yaudah mending sekarang kamu tidur, sudah malam, jangan cengeng, masa sudah punya KTP masih cengeng."
"Belum, Kakak."
Senyuman Syahla hadir kembali.
"Sebentar lagi, kan?" ucap Kak Syakib sambil mencubit pelan hidung mungil Syahla.
Syahla hanya tersenyum sambil mengangguk. "Makasih ya, Kak."
Kak Syakib mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa?"
"Untuk segalanya."
Kak Syakib hanya tersenyum sambil mengusap pelan ubun-ubun Syahla. "Istirahatlah. Jangan terlena dalam kesedihan yang tidak sewajarnya."
mampir and salken
Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2