Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bima
Malam ini cuacanya terlihat cerah, bulan yang bersinar dilangit sana membentuk seperti sabit, seolah menebar senyuman kepada setiap penduduk bumi yang masih beraktivitas diluar rumah.
Bukan hal yang aneh bagi Bima pulang kantor selarut ini, tugas yang menumpuk beberapa hari terakhir mengharuskannya untuk kerja lembur.
Mobilnya baru saja memasuki gerbang komplek, dahinya mengerut saat melihat seseorang dari belakang yang sedang berjalan searah dengan mobilnya. Dia menajamkan penglihatannya untuk memastikan jika dia sedang tidak salah orang.
Setelah dia yakin jika perempuan itu adalah anak tetangganya...
Tin... Tin...
Bima membunyikan klakson mobilnya saat berada tepat disamping perempuan itu.
Clarissa menoleh saat menyadari sebuah mobil berhenti, perlahan kaca mobil itu mulai terbuka sehingga Clarissa bisa dengan jelas melihat siapa yang berada didalam mobil sana.
"Kak Bima?" Ucap Clarissa tidak percaya.
Bagaimana tidak? Selama lebih dari 20 tahun bertetangga, mereka jarang sekali berkomunikasi dan bertegur sapa, kedua keluarga Clarissa dan Bima hanya sibuk didunia masing-masing tanpa ingin tau lebih lanjut tentang tetangga sebelah mereka itu.
"Ayo masuk! Biar sekalian." Seru Bima singkat, datar dan tak berekspresi.
Deg!
Kenapa Clarissa baru menyadari kalau Bima ini sangatlah tampan, apa lagi jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, dia berpikir kemana saja dia, makhluk setampan itu berada sangat dekat dengannya tapi dia tidak pernah menyadarinya selama ini.
Tanpa sadar Clarissa senyum-senyum sendiri memikirkan ketampanan Bima, apalagi dengan wajah datarnya, berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang dia kenal sebelumnya.
"Ayo, ini sudah semakin larut!" Bima kembali berseru saat Clarissa tidak bereaksi.
"Ahh, iya iya." Clarissa buru-buru meraih gagang pintu mobil bagian belakang.
"Hey! Kamu pikir aku supirmu apa? Duduk didepan saja!" Seru Bima.
Clarissa menghentikan gerakkan tangannya, seulas senyum terbit di bibirnya. Kemudian berputar arah membuka pintu mobil bagian penumpang tepat disamping Bima.
Mobilpun kembali melaju setelah Clarissa menutup pintunya.
"Terimakasih ya kak Bima, aku nggak nyangka ternyata kak Bima baik juga. Hehe." Ucap Clarissa cengar-cengir sendiri, Bima tidak meresponnya, tetap fokus mengemudi dan menatap kearah depan.
Entah apa yang Bima pikirkan, dia merasa senang dihadapkan dengan perempuan yang dia kagumi, tapi diapun bingung harus memulai pembicaraan dari mana, pasalnya dia bukanlah orang yang senang berbasa-basi dan tidak pandai berinteraksi dengan orang lain.
"Ya." Sahut Bima singkat.
Clarissa jadi diam karena lawan bicaranya hanya menyahut singkat, dia menghembuskan nafas berat, untung saja dia mendapat tumpangan dari Bima, sehingga acara jalan kaki menuju rumahnya batal seketika.
Hening, itu yang terjadi didalam mobil Bima. Clarissa melirik kearah Bima yang hanya fokus mengemudi, dia seolah tersihir oleh ketampanan Bima yang selama ini tidak pernah dia sadari. Iya, ini kali pertamanya Clarissa seperti mendapatkan kembali cahayanya setelah sinar dihatinya meredup karena dipadamkan oleh mantan kekasih dan kedua mantan sahabatnya.
Bibirnya terus menebar senyum, kebahagiaan seolah sedang merajai hatinya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Bima tanpa menoleh pun bisa tau apa yang sedang dilakukan Clarissa, dengan ekor matanya dia bisa melihat.
Clarissa terlihat gelagapan, dia cepat-cepat memalingkan pandangannya kearah yang lain.
"Maaf kak Bima, hehe." Clarissa terus cengengesan menutupi kegugupannya.
Seulas senyum terukir dibibir Bima, sayang Clarissa telah berpaling dan tidak melihatnya, jika saja dia melihat, hati perempuan itu akan jatuh semakin dalam lagi kepada sosok pria kaku ini.
Bima, laki-laki yang tidak bisa mengekspresikan perasaan dihatinya, hanya bisa memendam rasa kagum kepada perempuan yang selalu dia lihat melalui celah jendela kamarnya diwaktu-waktu tertentu.
Kecantikan perempuan itu membuat Bima seolah tertarik ingin selalu menatapnya, tapi apalah daya, Bima tetaplah Bima, dia tidak punya keberanian untuk mendekati apalagi sampai menyatakan perasaannya terhadap perempuan yang saat ini berada sangat dekat dengan dirinya.
Perjalanan singkat itupun berakhir, Bima menghentikan mobilnya tepat diantara rumahnya dan Clarissa.
"Sekali lagi terimakasih ya kak Bima, kaki aku jadi selamat deh malam ini. Hehe." Ucap Clarissa.
"Ya." Lagi-lagi Bima membalas sesingkat itu. Clarissa segera turun dari mobil Bima karena merasa sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi.
"Selamat malam kak Bima. Semoga kakak mendapat imbalan dari Tuhan atas kebaikan yang sudah kakak lakukan." Ucap Clarissa diluar mobil.
"Itu sangat berlebihan, yang aku lakukan hanyalah hal kecil." Bima akhirnya mau bicara lebih dari lima kata.
"Kalau begitu selamat beristirahat dengan nyaman kak." Clarissa tak hentinya melempar senyum.
Membuat hati Bima merasakan sebuah kehangatan, namun Bima tidak menunjukkan rasa bahagianya dihadapan Clarissa.
"Selamat malam." Setelah mengucapkan kalimat itu, Bima kembali melajukan mobilnya kedalam pekarangan rumahnya. Meninggalkan Clarissa yang seperti baru saja menemukan berlian dipinggir jalan.
Setelah mobil Bima tidak terlihat lagi, Clarissapun mulai melangkah memasuki gerbang rumahnya sambil jingkrak-jingkrak dan bersenandung kecil.
Kebahagiaan terpancar dengan nyata diwajah perempuan itu.
***
Sementara itu, dua orang anak manusia masih berkutat di warung sederhana. Levin kembali menghampiri Nindi sembari membawa kapas, air mineral, perban dan plester setelah membelinya di warung itu.
Dia duduk disamping Nindi yang masih terlihat menahan kesakitannya.
"Ini minum dulu!" Untuk pertama kalinya Levin bicara dengan nada yang bersahabat. Nindi menerimanya, tanpa banyak bicara dia meneguk hampir separuh isinya. Setelahnya ia meletakkan botol itu di atas meja.
Levin mulai membongkar isi tas kresek belanjaannya, membuka kapas lalu membasahinya dengan air sisa minum Nindi tadi.
"Sini!" Levin menarik lengan Nindi yang terluka tadi, cukup kencang.
"Aww, pelan-pelan dong, ini perih banget!" Nindi meringis kesakitan.
"Loe kan cewe preman, masa kaya gini doang ngenges sih." Levin menggerutu, mulai menempelkan kapas basah di luka Nindi.
Nindi hanya diam, sedang tidak ingin berdebat meskipun dikatai Levin cewe preman. Kalau saja dia tidak sedang merasakan sakit, mungkin pertengkaran akan terjadi diantara mereka.
Levin membersihkan luka Nindi dengan cekatan, memperhatikan ternyata lukanya cukup dalam juga.
"Aww, loe main-main ya sama lukanya!" Nindi memukul tangan Levin saking kesalnya karena sedari tadi laki-laki itu hanya memainkan kapas diatas lukanya.
"Diem loe, udah sukur gue mau ngobatin loe, bukannya berterimakasih." Ucap Levin yang sifat aslinya mulai keluar jika berhadapan dengan Nindi. Berhadapan dengan Nindi selalu membuat emosi jiwa bagi Levin.
Nindi mengerang, tidak terima dengan mudahnya Levin berkata jika dirinya harus berterimakasih, seharusnya itu terbalik, kan?
Perkataan Levin membangkitkan amarah didalam diri Nindi yang sedari tadi bersembunyi entah dimana. Mulai terpancing lagi untuk memarahi Levin balik.
Dia kembali memukul lengan Levin. Levin mengibasan tangannya yang baru saja dipukul Nindi.
"Aww, loe gila ya? Hobi banget mukulin gue." Ucap Levin.
"Loe yang harusnya terimakasih sama gue! Kalau nggak ada gue motor loe udah dibawa lari sama itu begal. Dan mungkin aja begal itu menusuk loe lalu membuang mayat loe ke semak-semak dan loe membusuk dengan sendirinya tanpa ada orang yang mau perduli." Ucap Nindi menggebu.
Levin malah terkekeh, jika bisa dia ingin tertawa terpingkal-pingkal sambil berguling-guling diaspal.
"Kenapa loe ketawa?" Tanya Nindi dengan kerutan di dahinya.
"Loe itu lagi sakit juga masih aja ngegedein gengsi. Oke, kalau loe nggak mau berterimakasih sekarang, gue akan tunggu sampai loe bilang terimakasih ke gue." Ucap Levin, dia mulai menempelkan perban lalu di rekatkan menggunakan plester.
Nindi semakin murka mendengar perkataan Levin. Dengan sekuat tenaga, Nindi menginjak kaki Levin sampai pemilik kaki itu berteriak kesakitan.
"Aww, loe bener-bener gila ya, bisa habis gue kalau deket-deket sama loe terus. Udah cukup otak loe bodoh, jangan sampai loe juga bawa sial buat orang lain." Ucap Levin sambil memegangi kakinya.
Jleb!
Tanpa sadar jika perkataannya itu menamcap tepat diulu hati Nindi. Entah kenapa perasaan perempuan itu sekarang jadi sensitif, biasanya apapun yang dikatakan Levin termasuk itu hinaan dan cacian, Nindi tidak pernah memasukkannya kedalam hati, tapi kenapa kali ini berbeda rasanya?
Seolah perkataan Levin itu kembali menyayat lukanya yang masih basah. Sangat sakit.
"Loe ngeselin banget sih, dasar cowo tengil, siapa suruh loe deket-deket sama gue. Sana pergi jauh-jauh loe. Gue jadi kena sial gara-gara bantuin loe dan sekarang apa yang gue dapat? Cuma hinaan dari loe." Nindi sudah melotot, matanya hampir saja keluar dari tempat seharusnya. Mempertahanan bulir air mata yang mendesak ingin keluar.
Deg!
Levin bisa melihat jika mata perempuan itu memerah juga berkaca-kaca. Ada sedikit perasaan bersalah bergejolak di hatinya. Menatap Nindi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tanpa menunggu kata apa yang akan keluar dari mulut Levin, Nindi beranjak pergi dari sana, untung saja jarak rumahnya sudah dekat, jadi dia tinggal jalan kaki saja.
"Nindi, tunggu!" Seru Levin saat melihat Nindi pergi berlalu.
"Maaf!" Ucapnya lirih, namun sayang, Nindi sudah pergi dan tidak bisa mendengar perkataan maaf singkat dari Levin.
Levin memperhatikan sosok Nindi yang berlari kecil menembus kegelapan malam, perasaannya semakin tidak enak, merasa bersalah.
"Apa gue udah keterlaluan yaa? Tapi biasanya dia bakal balik menghina gue kalau gue hina dia. Tapi kenapa sekarang dia jadi baperan begitu sih? Dasar cewe urakan yang baperan!" Levin bergumam-gumam sendiri, tapi meskipun cacian yang keluar dari mulutnya, hatinya merasa tidak tenang.
Levin kembali memasukan peralatan p3k kedalam kantong keresek.
***
Nindi berlari menyusuri trotoar jalan sambil sesekali menyusut anakan sungai yang sudah membanjiri kedua pipinya. Goresan luka di tangannya seolah menjadikan hati dan dirinya rapuh.
'Kenapa? Apa gue sehina itu? Gue tau gue bodoh, gue juga miskin nggak punya apa-apa. Tapi apa pantas orang perpendidikan dan pintar seperti dia hina-hina gue terus. Gue cape dipandang rendah terus sama orang lain.' Nindi berkata dalam hati.
Memasuki area rumah kontrakannya, Nindi berusaha untuk menghilangkan bekas tangisan diwajahnya, berusaha tetap ceria dihadapan kakak dan ibunya nanti, tidak ingin mereka merasa khawatir dan menanyai Nindi yang aneh-aneh.
Dahi Nindi mengerut, melihat pintu rumah kontrakannya yang sedikit terbuka. Tidak seperti biasanya, begitu dia berpikir.
Diapun mendorong pintu pelan, memastikan jika penghuni rumah itu sedang menunggu kepulangannya.
Tapi Nindi tidak melihat kakak dan ibunya ada diruang utama, dia melangkah masuk dan menutup pintu itu rapat-rapat.
"Heeeehaaaah, heehaaah." Saat mendekat kearah kamar ibu, terdengar suara nafas yang tidak beraturan. Nindi yang berniat pergi kekamarnya menghentikan langkahnya, ingin memastikan jika keadaan ibunya baik-baik saja.
Tapi tidak, penyakit ibu sepertinya sedang kambuh, Nindi bisa melihat ibu yang kesulitan bernafas melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Yuvi dengan tangan gemetar dan wajah yang panik menyodorkan ibu ventolin inhaler, ibu segera menghirupnya dalam-dalam berharap agar pernafasannya kembali lancar.
"Seharusnya ibu rutin berobat jalan, lihatkan akhir-akhir ini penyakit ibu jadi sering kambuh?" Ucap Yuvi yang mulai menangis, menangisi keadaan sang ibu yang semakin hari semakin parah. Tapi sebisa mungkin dia tidak menunjukkan air matanya di hadapan ibu.
Nindi mendengar itu, hatinya ikut gemetar, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu. Dia merasa dirinya sama sekali tidak berguna, merasa malu dan kasihan untuk sekedar menghampiri mereka.
Ibu tak menjawab, dia masih sibuk mencari oksigen yang dibutuhkan paru-parunya.
"Pokoknya besok kita pergi kerumah sakit." Yuvi menegaskan.
"Ibu tau kamu tidak punya uang nak." Ucap ibu dengan bibir yang pucat.
"Uang bisa dicari bu, tapi kesehatan ibu lebih penting." Balas Yuvi.
"...apa sekarang sudah enakan bu?" Tanyanya kemudian, ibu mengangguk pelan.
"Ya sudah, ibu istirahatlah. Besok kita pergi kerumah sakit."
Yuvi membaringkan ibunya pelan-pelan diatas pembaringan, setelah ibunya itu merasa nyaman, Yuvi pamit pergi kekamarnya.
Nindi cepat-cepat menggeser posisinya kebelakang tembok agar keberadaannya tidak diketahui oleh Yuvi. Yuvi berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya, sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.
Nindi segera mengikuti Yuvi kekamar, namun saat hendak membuka pintu kamar, Nindi mendengar suara tangisan kakak perempuannya itu yang tersendat.
Lagi-lagi dia harus mengintip dari balik pintu, Yuvi sedang menghitung uang diatas meja. Pastilah uang itu tidak akan cukup untuk biaya pengobatan ibu yang mahal, apalagi akhir-akhir ini Nindi selalu merengek untuk dibayarkan biaya ujian. seluruh tanggung jawab keluarga ada dipundaknya saat ini, dia harus memutar otak agar bisa keluar dari masalah yang sedang dia hadapi.
Nindi semakin merasa tidak berguna, benar apa yang dikatakan Levin, dia memang bodoh, sudah bodoh masih saja berharap untuk bisa ikut ujian. Dan itu semakin membuat kakaknya berada dalam kesulitan.
Tubuh Nindi melorot kelantai, merasakan setiap cabikan yang melukai hatinya. Menghadapi kenyataan pahit jika dirinya hanya bisa menyusahkan orang-orang yang ada disekitarnya.
Tangisnya kembali berlanjut setelah tadi sempat dia paksa untuk berhenti.
'Gue memang bodoh, nggak berguna, selalu menyusahkan, ibu, kakak, maafin Nindi.' Nindi Mengutuki dirinya sendiri.
Dan malam itu, tiga orang menangis dalam satu rumah yang sama namun ditiga sudut yang berbeda. Ternyata ibu juga menangisi nasib mereka yang kurang beruntung dalam segi ekonomi dikamarnya.
______________
Jangan lupa coret2 nya di kolom komentar ya.