Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Mual
Suara langkah kaki yang timbul dari ketukan high heels milik Medisya berhasil menyita perhatian semua orang. Mungkin Medisya akan senang jika ia mendapatkan perhatian karena sebuah hal yang membanggakan. Tapi kali ini, semua orang seperti mencacinya. Padahal banyak dari mereka yang menatapnya kagum.
Kepala Medisya semakin tertunduk saat penghulu itu menyuruhnya duduk dan menyalami Alvian. Entahlah, kakinya terasa kaku untuk melangkah mendekati laki-laki itu.
"Ayo, Sya," bisikan lembut itu berhasil menuntun Medisya. Sejenak ia menatap Senja yang berusaha meyakinkannya. Kemudian beralih pada Haris yang duduk bersebelahan dengan Abraham.
Ah, Medisya hanya mengenal Abraham dan Alvian. Selebihnya ia tidak tau. Karena ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan orang-orang dari keluarga atasannya itu.
Tubuh Medisya tersentak saat Alvian menjulurkan tangannya. Ia tidak langsung menerimanya. Melihat tangan kekar Alvian membuat memorinya tentang malam kelam itu terngiang kembali.
"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Alvian seakan mengerti kondisi ketakutan Medisya.
Dengan sedikit memaksa ia menarik tangan Medisya dan menyuruh perempuan itu untuk mencium tangannya. Untungnya Medisya mau melakukan itu, jadi Alvian bisa bernafas lega karena kecanggungan di antara mereka sedikit mencair.
"Vian," panggil Senja sembari menyerahkan kotak merah berbentuk hati.
Alvian menerimanya dengan senyuman kecil dan membuka kotak itu. Terdapat cincin kecil dengan mata kecil berbentuk hati. Terkesan sederhana tapi tidak meninggalkan kemewahan dari cincin itu.
"Kemarikan tanganmu," titah Alvian tidak terbantahkan. Mau tidak mau Medisya menjulurkan tangannya.
Lagi-lagi Alvian tersenyum lega karena ukuran cincin itu sangat pas di jari manis Medisya.
Setelah semua acara selesai, satu per satu dari mereka yang datang memilih untuk pamit pulang. Menyisakan dua keluarga yang baru bersatu.
Saat ini mereka tengah menikmati makan malam. Sebenarnya Abraham sudah menolak secara halus. Namun Haris dan senja memaksanya untuk tetap makan malam. Setidaknya mereka harus mencicipi masakan Senja, itulah yang Haris katakan.
Medisya bisa merasana seseorang terus menatapnya dari samping. Tetapi ia berusaha mengabaikannya dengan terus menunduk dan mengaduk makanannya.
"Kita sudah selesai," Cetus Abraham sembari menjauhkan piring kosongnya.
"Kalian akan menginap di sini?" Lanjutnya bertanya pada pengantin baru dihadapannya.
"Saya akan membawa Medisya pulang," balas Alvian formal. Mengingat masih ada orang tua Medisya di sini.
Mendengar itu membuat Medisya melirik Alvian takut. Ia tidak ingin pergi dari rumah ini. Selain karena ia susah bersosialisasi dengan lingkungan baru, Medisya merasa tidak tenang berada di sekitar Alvian.
"Alvian," panggil Haris.
Alvian memandang pria yang sudah menjadi mertuanya itu. Seolah menunggu apa yang dikatakannya.
"Saya minta maaf atas kejadian tadi siang," lanjut Haris dengan penuh penyesalan. Mau bagaimana lagi? Emosi menguasai dirinya saat itu.
"Tidak perlu dipikirkan. Saya merasa pantas mendapatkan pukulan dari anda," Balas Alvian dengan senyuman kecil.
Pembicaraan mereka selesai di sana. Abraham yang lebih dahulu berdiri untuk berpamitan. Melihat orang tuanya pergi, Alvian lantas menarik tangan Medisya untuk mengikutinya.
"Masuk," titah Alvian setelah membukakan pintu mobil untuk Medisya.
Gelengan kepala Medisya mengundang berbagai tatapan dari orang tua mereka. Terutama Haris yang menatap Medisya tajam.
"Kamu tidak mendengar perkataan suamimu?" Salaknya.
"A-- Aku,,,"
Netra Medisya melirik Senja. Ia berusaha meminta bantuan bundanya agar diizinkan tinggal di sini. Namun Senja justru mengangkat dagunya. Menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Melihat Medisya tidak mau beranjak membuat Alvian menghela nafasnya. Ia menutup kembali pintu mobilnya dengan sedikit kasar kemudian berdiri di sisi Medisya.
"Alvian akan menginap di sini," putusnya mengalah.
"Ya, lebih baik begitu," ucap Melinda tersenyum, "iya kan, mas?" Lanjutnya bertanya pada Abraham.
Abraham mengangguk sebagai jawaban. "Kamu bisa cuti kerja sampai lusa. Papah yang akan menggantikan kamu untuk sementara."
Setelah melihat Alvian mengangguk, Abraham dan Melinda tersenyum kecil pada orang tua Medisya. "Kami pamit Bu Senja, Pak Haris. Terima kasih sudah memaafkan keluarga kami," ucap Abraham sekali lagi.
"Tidak usah dipikirkan, Pak Abraham. Toh, semuanya sudah diselesaikan. Hati-hati di jalan," balas Haris.
Ia mengajak pasangan pengantin baru itu untuk masuk setelah mobil Abraham keluar dari pekarangan rumahnya. "Istirahatlah, jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya," pesannya lalu meninggalkan Alvian dan Medisya.
Kini tinggal mereka yang berdiri kaku saling berdampingan. Dari samping Alvian mengamati Medisya yang terus menundukan kepalanya. Perempuan itu terlihat sangat anggun dengan riasan sederhana dan kebaya yang melekat pas ditubuh kecilnya.
"Ayo." Alvian menggenggam tangan Medisya lalu membawanya ke kamar perempuan itu.
"Bersihkan tubuhmu lalu tidurlah," titahnya setelah ia mengunci pintu kamar.
Melihat Medisya yang melakukan perintahnya tanpa ucapan apapun membuatnya menghela nafas. Jujur saja Alvian tipe orang yang mudah marah jika seseorang mengabaikannya seperti itu. Tetapi ia harus memaklumi sikap Medisya. Bagaimanapun juga pernikahan ini terjadi karena kesalahan yang mungkin membuat jiwa perempuan itu tergoncang.
Medisya keluar dari kamar mandi menggunakan setelan piyama coklat bermotif bunga. Ia langsung berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya.
"Istirahatlah. Aku akan tidur di sini," ucap Alvian sembari merebahkan tubuhnya di sofa kecil yang ditempatinya.
Cukup lama Medisya terdiam, sampai akhirnya ia bersuara, "apa nggak papa?"
"Hm?" Gumam Alvian tanpa mengubah posisinya.
"Kita,,, bisa berbagi ranjang," lirih Medisya.
Sudut bibir Alvian terangkat mendengar sedikit kepedulian Medisya. Namun jelas sekali keraguan terdengar dari suaranya.
"Tidak masalah. Aku akan tidur di sini saja," ucap Alvian kemudian terlelap di sofa itu.
###
Hoek... hoek...
Medisya memijit tengguknya sendiri ketika cairan bening keluar dari mulutnya. Ia merasa sangat mual. Namun tidak ada yang dapat ia muntahkan.
"Bunda!!" Teriaknya.
Medisya mengharapkan bantuan dari Senja. Karena biasanya jika ia sakit, Senja akan mengurusnya dengan telaten.
"Ada apa?"
Suara itu membuat Medisya menegang. Ia menegakkan tubuhnya dengan tangan kanannya yang masih bertumpu pada wastafel.
Belum sempat ia menatap Alvian, rasa mualnya kembali datang. Membuat tubuhnya semakin lemas karena tenaganya terkuras habis.
"Apa kamu selalu mual seperti ini?" Tanya Alvian. Satu tangannya bergerak memijit tengkuk Medisya meskipun perempuan itu sedikit menolak.
Gelengan kepala Medisya membuat Alvian bernafas lega. Setidaknya belum terlambat baginya untuk menjaga Medisya. Ia bersyukur karena kehamilan Medisya tidak menyusahkan orang tua perempuan itu.
"Berapa usia kandungan kamu?" Tanya Alvian lagi. Kali ini sembari mengelap wajah Medisya yang basah dengan tisu.
"Kata bunda baru satu minggu," balas Medisya.
Ia tersentak ketika Alvian menariknya kecil. Membawanya ke dapur untuk bergabung bersama Haris dan Senja yang sedang mengobrol di sana.
Tanpa menunggu detik lain, Senja langsung menyodorkan teh hangat yang ia buat tadi. Sebenarnya ia mendengar suara muntah Medisya. Namun ia tidak bisa masuk sembarangan ke kamar Medisya karena anaknya itu sudah bersuami.
"Bunda dengar kamu muntah-muntah. Apa sekarang sudah lebih baik?" Tanya Senja.
"Iya," balas Medisya setelah menyesap teh tawar yang diberikan Senja.
"Syukurlah kalau begitu."
Seorang pembantu menyajikan dua piring nasi yang sudah dilengkapi dengan lauk pauknya. Membuat Haris menurunkan koran yang sedang ia baca dan beranjak dari sana.
"Makan sarapan kalian. Hari ini ayah akan ke kebun teh di puncak," ucapnya.
Haris cukup memahami kecanggungan Alvian. Mungkin laki-laki itu tidak akan memakan sarapannya jika ia masih di sana.
"Tapi saya akan membawa Medisya pergi hari ini juga, yah. Apa tidak bisa ditunda?" Tanya Alvian lantang.
"Tidak bisa, Alvian. Pegawaiku mungkin sudah menunggu di sana. Sudah waktunya mereka menerima gaji. Tidak mungkin aku menundanya." Haris menatap Medisya sejenak kemudian beralih lagi pada Alvian. "Kamu bisa membawa Medisya sesuka kamu, Al. Dia hakmu sekarang," lanjutnya menepuk bahu Alvian.
###