Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Pesan itu tidak punya nama pengirim.
Nomornya nomor sekali pakai. Rafi melacaknya kurang dari sepuluh menit dan hanya menemukan bahwa kartu itu aktif di sekitar Kemang dua jam lalu, lalu mati. Cara kerja yang cukup rapi untuk orang biasa, tetapi terlalu kasar untuk profesional.
"Korban di foto mungkin yang mengirim," kata Rafi.
Alya memperbesar gambar. Wajah perempuan itu sebagian tertutup rambut, tetapi matanya terlihat jelas. Takut, marah, dan putus asa.
"Atau seseorang yang ingin memakai aku untuk menyerang Kevin."
"Kamu tetap akan pakai foto ini."
"Tentu."
Rafi menghela napas. "Aku kadang lupa kamu baru delapan belas."
"Bagus. Jangan ingat."
Malam itu, rumah Wiratama tidak tenang. Keluarga Santoso pulang dengan wajah buruk. Baskara masuk ruang kerja dan membanting pintu. Maya sibuk menelepon seseorang, mungkin tim PR keluarga. Dinda menangis di kamar Maya, tetapi suara tangisnya terdengar sampai koridor.
Alya membiarkan mereka sibuk.
Pukul sembilan, Raka mengetuk pintu.
"Boleh masuk?"
Alya membuka pintu. "Masuk, Mas."
Raka melihat Rafi duduk di kursi dekat jendela. Ia tampak ingin bertanya, tetapi menahan diri.
"Aku mau bicara sebentar."
Rafi berdiri. "Aku keluar."
"Tidak perlu," kata Raka. "Aku justru ingin dia dengar juga. Kalau dia memang menjagamu, dia perlu tahu situasi keluarga ini."
Alya mengangkat alis. Mas Raka belajar cepat.
Raka duduk di sofa kecil. "Papa marah besar."
"Aku tahu."
"Keluarga Santoso juga marah."
"Aku juga tahu."
"Tapi aku tidak datang untuk menyuruhmu minta maaf."
Alya menatapnya.
Raka menyandarkan siku ke lutut, terlihat lelah. "Aku ingin tahu, kamu punya bukti soal Kevin?"
Alya tidak langsung menjawab. "Kenapa Mas tanya?"
"Karena kamu bukan tipe orang yang menuduh tanpa pegangan."
Kalimat itu cukup membuat suasana kamar berubah.
Di kehidupan lalu, butuh hampir dua tahun bagi Raka untuk percaya bahwa Alya tidak selalu salah. Kali ini, kurang dari dua hari.
Mungkin karena Alya berubah.
Atau mungkin karena di kehidupan lalu, ia terlalu sibuk memohon sampai orang tidak sempat melihat otaknya.
Alya menyerahkan ponselnya.
Raka melihat foto itu. Wajahnya mengeras.
"Ini dari siapa?"
"Belum tahu."
"Perempuan ini siapa?"
"Belum tahu."
"Tapi kalau foto ini benar..." Raka berhenti, lalu mengusap wajah. "Papa tidak akan mudah membatalkan pembicaraan. Kerja sama dengan Santoso terlalu besar."
"Aku tahu."
"Kamu tidak takut?"
Alya tersenyum tipis. "Takut tidak membuat mereka berhenti."
Raka menatapnya lama. "Kamu tumbuh seperti apa selama ini?"
Pertanyaan itu keluar pelan, hampir seperti penyesalan.
Alya mengembalikan ponsel ke tangannya sendiri. "Seperti orang yang harus cepat belajar."
Raka tidak tahu harus menjawab apa.
Pintu tiba-tiba diketuk keras.
"Kak Alya, Papa memanggilmu," suara Dinda terdengar dari luar. Nadanya masih lembut, tetapi ada kepuasan tersembunyi.
Raka berdiri. "Aku ikut."
Alya tidak menolak.
Di ruang kerja, Baskara berdiri di depan meja. Maya duduk di sofa dengan wajah pucat yang masih dibuat anggun. Dinda berdiri di sampingnya, matanya merah.
"Tutup pintu," kata Baskara.
Raka menutup pintu.
Baskara menatap Alya. "Kamu tahu berapa nilai kerja sama kita dengan Santoso?"
"Tidak."
"Ratusan miliar."
"Oh."
Reaksi itu membuat rahang Baskara menegang. "Kamu hampir menghancurkannya sore tadi."
"Kalau satu pertanyaan bisa menghancurkan kerja sama ratusan miliar, berarti kerja sama itu memang rapuh."
"Jangan bermain kata-kata!" Baskara membentak.
Dinda tersentak kecil, seolah ia yang dimarahi.
Maya menyentuh lengan Baskara. "Mas, jangan terlalu keras. Alya belum paham."
"Aku paham, Tante," kata Alya. "Papa membutuhkan keluarga Santoso. Keluarga Santoso membutuhkan nama bersih. Aku disuruh menjadi kain lap."
Dinda menangis lagi. "Kak, kenapa Kakak selalu bicara seburuk itu tentang kami? Papa hanya ingin yang terbaik."
Alya menatap Dinda. "Kalau begitu kamu saja yang menerima yang terbaik itu."
"Aku..." Dinda menunduk. "Aku tidak punya hak. Kakak anak kandung keluarga ini."
Bagus.
Dinda sendiri mengaku tidak punya hak, tetapi setiap hari menikmati hak itu.
Baskara berkata, "Pertunangan ini menyangkut kamu karena kamu anak kandungku. Kamu harus membantu keluarga."
"Membantu atau dikorbankan?"
"Alya!"
Raka maju. "Pa, kita perlu cari tahu dulu kasus Kevin. Kalau benar ada korban, kita tidak bisa mendorong Alya ke sana."
"Kamu juga mulai melawan Papa?"
"Aku tidak melawan. Aku meminta Papa berpikir."
Baskara menunjuk pintu. "Keluar kalau kamu hanya ingin membela dia."
Raka tidak bergerak.
Alya tiba-tiba tertawa pelan.
Semua orang menatapnya.
"Apa yang lucu?" tanya Baskara.
"Aku baru sadar." Alya memandang ayahnya. "Papa tidak datang menjemputku karena rindu. Papa datang karena keluarga butuh anak kandung untuk dijadikan pengikat kerja sama."
Maya langsung berkata, "Itu tidak benar."
"Kalau tidak benar, batalkan pembicaraan dengan Santoso."
Tidak ada jawaban.
Alya mengangguk. "Lihat? Mudah sekali membedakan kasih sayang dan kepentingan."
Baskara berjalan mendekat. Untuk sesaat, Alya melihat tangan pria itu terangkat. Raka langsung menahan pergelangan ayahnya.
"Pa."
Baskara tampak tersadar. Ia menarik tangannya, tetapi matanya masih penuh amarah.
"Kamu akan datang ke makan malam keluarga Santoso tiga hari lagi. Kamu akan bersikap sopan. Kamu tidak akan mempermalukan keluarga ini lagi."
"Kalau aku menolak?"
"Jangan menguji kesabaran Papa."
Alya menatapnya, lalu tersenyum.
"Baik. Aku datang."
Dinda mengangkat wajah, terkejut.
Maya juga terdiam.
Baskara jelas tidak menyangka Alya setuju secepat itu.
"Tapi aku punya syarat," kata Alya.
Baskara tertawa sinis. "Kamu pikir posisimu bisa mengajukan syarat?"
"Kalau tidak bisa, aku tidak datang."
Raka menahan senyum.
Baskara menarik napas panjang. "Apa?"
"Rafi ikut."
"Tidak."
"Kalau begitu aku tidak datang."
"Alya, jangan kekanak-kanakan."
"Aku tidak kekanak-kanakan. Aku hanya tidak percaya pada orang-orang yang ingin menikahkanku dengan pria bermasalah."
Maya berkata, "Kehadiran pengawal pribadimu akan membuat keluarga Santoso tersinggung."
"Lebih baik mereka tersinggung daripada aku mati."
Dinda tampak tersedak. "Kak, jangan berlebihan."
Alya menatapnya. "Kalau kamu begitu percaya Kevin baik, kenapa kamu takut aku membawa penjaga?"
Dinda kembali diam.
Baskara akhirnya berkata, "Baik. Dia boleh ikut, tapi tidak masuk ruang makan utama."
"Dia duduk di ruangan yang sama."
"Tidak."
Alya berbalik ke pintu.
"Baik!" bentak Baskara. "Dia boleh berada di ruangan yang sama. Puas?"
Alya menoleh. "Belum. Aku juga ingin semua pembicaraan dicatat notaris keluarga."
"Untuk apa?"
"Supaya tidak ada yang lupa pernah menjual siapa."
Baskara terlihat ingin melempar sesuatu, tetapi Raka berdiri di dekatnya.
Maya cepat berkata, "Baik. Kita bisa atur."
Alya keluar dari ruang kerja bersama Raka.
Di koridor, Raka menahan langkahnya.
"Alya."
"Ya, Mas?"
"Kamu sengaja setuju karena punya rencana, kan?"
Alya menatapnya.
Raka menghela napas. "Aku tidak akan bertanya terlalu jauh. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, bilang."
Untuk pertama kalinya sejak pulang, Alya merasa dadanya sedikit hangat.
"Mas bisa bantu cari identitas perempuan di foto ini?"
"Kirimkan padaku."
Alya mengirim foto itu.
Raka melihat layar, wajahnya kembali serius.
"Aku akan cari."
Dari ujung koridor, Dinda diam-diam memperhatikan mereka.
Matanya tidak lagi sekadar sedih.
Ada iri di sana.
Dan iri, Alya tahu, selalu lebih mudah dibakar daripada kebencian.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔