NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Keluarga Menyeramkan

Sementara Edwin diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.

Tatapan pria itu perlahan berpindah ke Rosline yang masih terlihat panik sambil memeluk botol obat erat di dadanya. Wajah gadis itu benar-benar polos. Semua emosinya terlihat jelas tanpa bisa disembunyikan sedikit pun.

Dan anehnya… suasana mansion yang biasanya dingin sekarang terasa jauh lebih hangat sejak gadis itu datang.

“Sudah jangan menggoda dia terus, Opa,” ucap Edwin akhirnya pelan.

Alberto langsung mendengus. “Aku hanya bercanda.”

“Tapi Rosline bisa benar-benar percaya.”

Rosline yang mendengar namanya disebut langsung menoleh gugup. “Eh?”

Alberto malah tertawa lagi. “Nah kan? Wajahnya langsung panik lagi.”

Rosline langsung menunduk malu.

Bibi Rena sampai menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kasihan Nona Rosline dikerjai terus dari tadi.”

Namun belum sempat suasana kembali tenang…

Brak!

Pintu depan mansion tiba-tiba terbuka cukup keras.

Semua orang refleks menoleh.

Seorang pria tinggi berbadan tegap masuk sambil membawa beberapa map hitam di tangannya. Wajahnya terlihat tegas dengan kacamata tipis dan setelan abu gelap yang rapi.

“Pagi, Tuan Edwin.”

Edwin mengangguk kecil. “Daniel.”

Rosline diam-diam memperhatikan pria itu. Auranya berbeda dengan Edwin. Lebih tenang dan profesional. Namun tetap terasa menyeramkan.

Daniel kemudian berjalan mendekat sambil menyerahkan beberapa dokumen. “Ada laporan dari pelabuhan semalam.”

“Taruh di ruang kerja.”

“Baik.”

Namun baru saja Daniel ingin pergi, Alberto tiba-tiba bersuara kesal. “Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Daniel berhenti lalu menoleh sopan. “Pertanyaan yang mana, Tuan Besar?”

“Kapan Bara pulang?”

Ruangan langsung sedikit hening.

Daniel melirik Edwin sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan. “Kemungkinan hari ini malam atau besok pagi.”

Wajah Alberto langsung berubah senang lagi. “Hah! Benar kan?!”

Daniel kembali membungkuk hormat kecil. “Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan.”

Namun baru saja pria itu berbalik…

“Daniel.”

Langkah Daniel langsung terhenti. “Iya, Tuan Edwin?”

Edwin menyandarkan tubuhnya santai di dekat meja sambil menatap datar dokumen di tangannya. Namun nada suaranya terdengar tegas.

“Katakan pada Bara…”

Rosline diam-diam ikut menoleh penasaran.

“Kalau dia tidak pulang malam ini…” lanjut Edwin tenang. “Opa akan mencoret namanya dari ahli waris keluarga Alexander.”

Deg.

Rosline langsung membelalakkan mata kecil.

Sedangkan Daniel hanya diam beberapa detik seperti menahan reaksi sebelum akhirnya menunduk hormat lagi. “Baik, Tuan.”

Namun yang mengejutkan. Kakek Alberto justru tertawa kecil senang. “Hahaha! Ya, benar! Katakan seperti itu pada bocah keras kepala itu!”

Rosline langsung makin bingung sendiri melihat reaksi pria tua tersebut.

Bibi Rena bahkan sampai menggeleng geli. “Tuan Besar spertinya sangat senang…”

“Tentu saja!” gerutu Alberto cepat. “Kalau tidak dipaksa begitu, Bara tidak akan pulang.”

Daniel kembali mengangguk sopan. “Saya akan menyampaikan langsung pada Tuan Bara.”

Namun sebelum benar-benar pergi, Daniel kembali membuka suara. “Oh ya, Tuan Edwin.”

“Apa lagi?”

“Lusa ada pertemuan dengan pemilik club pusat.”

Edwin langsung mengangkat alis tipis. “Bukannya itu jadwal Bara?”

“Iya.” Daniel terlihat sedikit ragu sebelum melanjutkan. “Tapi Tuan Bara mengatakan… kalau beliau kembali ke mansion, beliau meminta Tuan Edwin yang mengurus pertemuan itu.”

Seketika Edwin langsung mendecak kesal pelan.

Rosline yang mendengarnya sampai refleks melirik pria itu diam-diam.

“Dasar menyebalkan…” gumam Edwin dingin.

Pria itu tahu persis apa yang sedang dilakukan kakaknya. Bara memang selalu menjadikan pekerjaan sebagai alasan agar tidak terlalu lama berada di mansion.

Bukan karena membenci rumah itu. Tapi karena pria itu tidak sanggup melihat kondisi Alberto yang semakin melemah dari hari ke hari.

Beberapa detik kemudian Edwin akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah.” Nada suaranya terdengar pasrah. “Aku akan menggantikan Bara.”

Daniel langsung mengangguk hormat. “Baik, Tuan.”

“Asal dia benar-benar kembali ke mansion…”

Tatapan Edwin perlahan mengarah pada Alberto yang kini terlihat jauh lebih hidup sejak mendengar kabar Bara akan pulang.

“Dan mau menemani Opa.”

Ruangan tiba-tiba terasa sedikit hening.

Sedangkan Alberto diam-diam tersenyum kecil sambil memperhatikan Edwin. Meskipun mereka sering bertengkar dan sama-sama keras kepala. Namun pria tua itu tahu, Edwin dan Bara sebenarnya paling peduli satu sama lain.

Sementara di sisi lain. Rosline hanya duduk diam sambil kembali mencatat jadwal obat di buku kecilnya. Gadis itu pura-pura fokus mendengarkan penjelasan Bibi Rena.

Padahal diam-diam pikirannya mulai penuh lagi. Keluarga ini benar-benar aneh, menyeramkan dan berbahaya. Tapi entah kenapa… hangat.

Waktu terus berjalan perlahan di mansion keluarga Alexander.

Rosline masih sibuk mencatat berbagai jadwal dan kebiasaan Alberto sampai kepalanya mulai terasa penuh. Mulai dari jam obat, makanan pantangan, sampai kebiasaan aneh pria tua itu yang ternyata harus minum teh dengan suhu tertentu.

“Kalau terlalu panas beliau marah,” bisik Bibi Rena pelan.

Rosline langsung mencatat cepat. “Tidak boleh terlalu panas…”

“Kalau terlalu dingin juga marah.”

Pulpen Rosline langsung berhenti.

“Hah?”

Bibi Rena hanya tersenyum pasrah. “Makanya semua orang di rumah ini sering pusing menghadapi Tuan Besar.”

Di sofa dekat jendela. Kakek Alberto langsung mendengus keras. “Aku masih bisa dengar!”

Rosline buru-buru menunduk. “Maaf, Tuan Besar…”

Namun pria tua itu malah menunjuk meja kecil di depannya. “Sekarang buatkan aku teh.”

Rosline langsung panik. “Se-sekarang?!”

“Mm.”

Rosline refleks menoleh pada Bibi Rena minta bantuan. Namun wanita itu justru menahan tawa kecil.

“Coba saja dulu.”

“Ta-tapi kalau salah…”

“Kalau salah paling dimarahi sedikit.”

Kalimat itu bukannya menenangkan, Rosline justru makin gugup.

Sementara Edwin yang sejak tadi duduk membaca dokumen akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapan pria itu tertuju pada Rosline yang terlihat seperti murid ketahuan belum belajar.

“Dapur di sebelah kiri.”

Rosline langsung mengangguk cepat. “Iya, Tuan!”

Gadis itu buru-buru berjalan menuju dapur besar mansion sambil membawa nampan teh kosong dengan wajah serius seperti sedang menjalankan misi penting negara.

Dan itu justru membuat Alberto terkekeh kecil lagi. “Lucu sekali gadis itu.”

Edwin tidak menjawab. Namun diam-diam tatapannya masih mengikuti langkah Rosline sampai menghilang di balik lorong dapur.

Beberapa menit kemudian…

Di dapur besar mansion, Rosline terlihat super tegang di depan teko air panas.

“Jangan terlalu panas. Tapi juga jangan terlalu dingin…” Rosline mulai panik sendiri.

Seorang koki rumah bahkan sampai menatap bingung melihat gadis itu sibuk meniup-niup cangkir teh sambil mencelupkan ujung jarinya sedikit.

“Aduh panas… eh kebanyakan dinginnya.” Rosline hampir ingin menangis sendiri.

Namun akhirnya setelah merasa cukup pas, gadis itu berjalan kembali ke ruang tengah sambil membawa teh dengan sangat hati-hati.

Tangannya sampai sedikit gemetar. “Ini, Tuan Besar…”

Alberto menerima cangkir itu sambil menyipitkan mata curiga. Seisi ruangan langsung diam memperhatikan reaksinya.

Rosline bahkan sampai menahan napas.

Alberto meniup tehnya pelan… lalu meminumnya sedikit.

Rosline makin tegang.

Beberapa detik kemudian…

“Hm.”

Rosline langsung berkedip gugup. “Ba-bagaimana?”

Alberto kembali meminum tehnya satu teguk lagi sebelum akhirnya bersandar santai. “Lumayan.”

Detik berikutnya Rosline langsung menghela napas lega panjang. “Syukurlah…”

Dan reaksi polos itu langsung membuat Alberto tertawa keras lagi. “Hahaha! Wajahmu benar-benar tidak membosankan!”

Bahkan Bibi Rena ikut tertawa kecil.

Sedangkan Edwin, pria itu diam beberapa saat sebelum tanpa sadar sudut bibirnya kembali terangkat tipis melihat Rosline yang terlihat hampir menangis lega hanya karena berhasil membuat teh.

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!