"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!
Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?
Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 07
Nadia tidak tidur.
Menjelang subuh, suara takbir dari masjid masih terdengar jauh. Rumah itu akhirnya sunyi setelah berjam-jam penuh tangis Mama Meri dan pintu yang dibanting. Di kamar, Nadia duduk di lantai sambil mengeluarkan map-map lama dari lemari bawah.
Buku nikah.
Fotokopi KTP.
Kartu keluarga.
Akta rumah.
Surat cicilan mobil.
Ia memotret semuanya satu per satu. Tangannya tidak sepenuhnya tenang, tapi pikirannya jernih.
Selama ini ia percaya rumah tangga harus dijaga dari omongan luar. Kalau sakit, telan sendiri. Kalau malu, tutup pintu. Kalau marah, tunggu sampai reda.
Ternyata pintu tertutup hanya menguntungkan orang yang berbohong.
Ponselnya bergetar.
Siska.
Nadia mengangkat.
"Nad, kamu baik-baik saja?" suara Siska terdengar pelan, mungkin takut suaminya terbangun.
"Aku masih hidup."
"Videonya mulai nyebar di grup ibu-ibu kompleks. Aku belum kirim apa pun ke siapa-siapa, tapi orang restoran tadi banyak yang rekam."
Nadia memejamkan mata.
Sudah dimulai.
"Kamu punya video yang utuh?" tanyanya.
"Aku punya dari story sebelum kamu datang. Ada Rania duduk sebelah Farhan. Mama kamu nyuapin dia lontong. Aku simpan semua."
"Kirim ke aku. Jangan edit."
Siska terdiam sebentar. "Kamu mau lapor?"
"Aku mau cerai."
Di seberang, Siska menarik napas. "Akhirnya."
Nadia membuka mata. "Kamu tidak kaget?"
"Aku kaget kamu baru bilang sekarang."
Kalimat itu menusuk, tapi bukan dengan cara jahat. Nadia bersandar ke lemari.
"Semua orang lihat?"
"Tidak semua. Tapi beberapa hal memang kelihatan. Farhan jarang bawa kamu ke acara kantor. Mama Meri selalu cerita kamu sakit atau capek. Rania muncul terlalu sering untuk ukuran teman lama."
Nadia menunduk. "Aku bodoh ya?"
"Jangan mulai menyalahkan diri sendiri. Itu kerjaan mereka selama bertahun-tahun."
Untuk pertama kalinya sejak restoran, mata Nadia panas.
Ia cepat menghapus air mata sebelum jatuh.
"Kirim videonya, Sis."
"Aku kirim sekarang. Dan Nad?"
"Ya?"
"Kalau kamu perlu tempat, rumah kontrakan adikku kosong. Kecil, tapi aman. Kuncinya ada di aku."
Nadia menggigit bibir.
Kata aman terdengar asing.
"Aku pikirkan."
"Jangan terlalu lama."
Telepon ditutup.
Pesan dari Siska masuk satu demi satu. Video pendek. Foto. Tangkapan layar story sebelum dihapus. Dalam salah satu video, Rania tertawa sambil menyeka sudut bibir Dinda. Farhan melihatnya dengan tatapan yang tidak pernah Nadia terima bertahun-tahun belakangan ini.
Nadia menyimpan semuanya ke folder baru.
Nama foldernya: Bukti Farhan.
Ia baru selesai ketika pintu kamar diketuk keras.
"Buka," kata Farhan dari luar.
Nadia menyalakan perekam suara di ponsel, lalu meletakkannya di balik lipatan selimut.
"Pintu tidak dikunci."
Farhan masuk. Wajahnya kusut, matanya merah. Entah karena tidak tidur atau karena menghabiskan malam bersama Rania.
Nadia tidak bertanya.
"Kamu rekam?" Farhan menatap meja.
"Kalau kamu tidak berniat mengancam, tidak perlu takut."
"Aku datang baik-baik."
"Baik. Bicara."
Farhan menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang. Dulu, posisi itu akan membuat Nadia luluh. Farhan tampan dengan cara yang rapi. Kemejanya selalu disetrika, rambutnya selalu wangi, suaranya selalu bisa terdengar masuk akal di depan orang lain.
Tapi semalam Nadia sudah melihat wajah lain.
"Nad, kita tidak perlu cerai," katanya.
Nadia menunggu.
"Aku akui aku salah tidak terbuka soal Rania. Tapi hubungan kami tidak seperti yang kamu pikir."
"Seperti apa?"
"Dia pernah dekat denganku sebelum kita menikah. Setelah suaminya meninggal, dia kesulitan. Aku membantu."
Nadia hampir tertawa. "Rania janda?"
"Ya."
"Dari kapan?"
Farhan berhenti sebentar. "Beberapa tahun lalu."
"Dimas umur enam belas. Dinda empat belas. Kamu menikah denganku sepuluh tahun. Rania muncul sebelum kita menikah. Hitungannya menarik."
Wajah Farhan mengeras.
"Aku tidak suka kamu menyeret anak-anak."
"Aku tidak suka kamu menjadikan aku ibu mereka tanpa menjelaskan asal-usul mereka."
"Mereka anak asuh."
"Anak asuh siapa?"
"Keluarga."
"Keluarga yang mana?"
Farhan berdiri. "Kamu kenapa jadi menginterogasi seperti polisi?"
"Karena sebagai istri, aku tidak pernah diberi jawaban."
Farhan berjalan mondar-mandir. "Kamu tahu kenapa aku tidak bilang? Karena kamu rapuh soal anak. Aku tidak mau menyakiti kamu."
Nadia menatapnya lama.
"Jadi kamu membohongiku demi melindungiku?"
"Aku memilih jalan paling tenang."
"Untuk siapa?"
Farhan tidak menjawab.
Nadia membuka map di pangkuannya. "Aku akan ajukan cerai gugat ke Pengadilan Agama. Aku juga mau pembagian harta bersama. Semua yang diperoleh selama menikah dibagi sesuai hukum."
"Harta bersama?" Farhan tertawa pendek. "Kamu sungguh merasa punya bagian?"
"Aku tidak merasa. Aku tahu."
"Kamu bisa bayar pengacara?"
"Ada pos bantuan hukum. Ada teman. Ada banyak cara."
"Kamu pikir orang akan percaya perempuan mandul yang iri pada janda?"
Kata itu keluar lagi.
Mandul.
Nadia mengangkat kepala.
"Ulangi."
Farhan sadar ia terlalu jauh, tapi egonya lebih cepat daripada akalnya.
"Faktanya memang begitu. Kamu tidak bisa memberi aku keturunan. Aku laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Mama ingin cucu kandung. Apa aku harus mati tanpa anak hanya karena menjaga perasaanmu?"
Nadia merasa dunia diam.
Bukan karena sakitnya baru.
Karena akhirnya, Farhan mengatakannya dengan mulut sendiri.
"Kamu pernah periksa?"
"Aku sehat."
"Dari mana tahu?"
"Aku laki-laki normal."
"Normal tidak sama dengan subur."
Wajah Farhan memerah. "Jaga ucapanmu."
"Selama sepuluh tahun kamu membuatku percaya rahimku rusak. Tapi kamu tidak pernah membuktikan dirimu sehat."
"Aku punya Dimas dan Dinda."
Kalimat itu meluncur terlalu cepat.
Farhan membeku.
Nadia tidak berkedip.
Di luar kamar, terdengar sesuatu jatuh. Mungkin Mama Meri. Mungkin Dinda yang menguping.
Nadia menekan rasa gemetar di perutnya.
"Apa maksudmu, Mas?"
Farhan menelan ludah. "Maksudku, aku membesarkan mereka."
"Tidak. Kamu bilang kamu punya Dimas dan Dinda."
"Kamu sengaja memelintir."
"Aku merekam."
Farhan menoleh tajam ke selimut.
Nadia mengambil ponsel dan mematikan rekaman di depan matanya.
"Terima kasih," katanya. "Ini lebih berguna daripada semua foto restoran."
Farhan melangkah cepat, hendak merebut ponsel. Nadia mundur ke sisi lemari.
"Jangan sentuh aku."
"Hapus!"
"Tidak."
"Nadia, jangan paksa aku."
Pintu terbuka. Pak Hendra berdiri di sana, wajahnya pucat.
"Farhan, cukup."
Farhan berhenti, napasnya berat.
Nadia memandang ayah mertuanya.
"Bapak tahu mereka anak siapa?"
Pak Hendra memejamkan mata.
Mama Meri muncul di belakangnya, menangis marah. "Apa gunanya membongkar semua? Kamu sudah kami angkat derajatnya. Kamu tinggal di rumah bagus. Makan cukup. Kurang apa?"
"Kebenaran," jawab Nadia. "Aku kurang kebenaran."
Mama Meri menunjuk wajahnya. "Kebenarannya, kamu tidak bisa melahirkan. Kalau Rania bisa memberi cucu untuk keluarga ini, apa salahnya Farhan bertanggung jawab?"
Semua orang diam.
Kata-kata itu menggantung seperti asap tebal.
Dinda berdiri di lorong. Matanya basah. Dimas di belakangnya, rahangnya terkunci.
Farhan menutup wajahnya dengan satu tangan.
Nadia menatap Mama Meri.
"Terima kasih, Ma."
Mama Meri tersentak. "Apa?"
"Semua terekam."
Mama Meri baru sadar.
Farhan menatap ibunya dengan marah.
Untuk pertama kalinya, keluarga itu saling menyalahkan di depan Nadia, bukan bersama-sama menekan Nadia.
Nadia memasukkan ponsel ke saku daster.
"Aku akan keluar dari rumah ini hari ini."
Dinda menangis. "Ma Nadia..."
Nadia menatapnya. Suaranya melembut sedikit.
"Aku tidak membencimu, Din. Tapi aku tidak bisa tinggal di rumah yang menjadikanku penutup dosa orang dewasa."
Dimas menunduk.
Farhan berkata dingin, "Kalau kamu keluar, jangan harap bisa kembali."
Nadia mengambil koper dari atas lemari.
"Itu kalimat paling baik yang kamu ucapkan pagi ini."
Ia mulai memasukkan pakaian, dokumen, dan kotak musik tua ke dalam tas. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan kayu bermotif batik purnama, nada kecil di dalamnya berbunyi lirih meski tidak diputar.
Nadia berhenti.
Kotak itu dulu milik ibunya. Satu-satunya benda yang selalu ikut ke mana pun Nadia pindah. Farhan pernah berkata barang tua itu membuat kamar terlihat seperti gudang. Mama Meri pernah menyuruh pembantu membuangnya, dan Nadia mengambilnya lagi dari kantong sampah dengan tangan gemetar.
Hari ini ia baru sadar, mungkin sejak lama ada alasan mengapa benda itu selalu ingin disingkirkan dari rumah ini.
Ponselnya di saku bergetar satu kali.
Nomor itu tidak menelepon.
Hanya muncul di layar seperti bayangan singkat:
020-2056-0000.
Lalu hilang.
Nadia menggenggam kotak musik itu lebih erat.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di luar rumah.
Tapi ia tahu masa depan sedang mengetuk lebih keras daripada masa lalu.
sᴇʙᴇʟᴜᴍɴʏᴀ ᴀᴋᴜ ᴘᴇʀɴᴀʜ ʙᴀᴄᴀ ᴊᴜɢᴀ ᴄᴜᴍᴀɴ ᴊᴜᴅᴜʟɴʏᴀ ʟᴜᴘᴀ, ᴅᴀɴ ᴛᴏᴋᴏʜɴʏᴀ sᴀᴍᴀ ᴀʀɢᴀ ᴡɪʀᴀᴛᴀᴍᴀ, sᴀᴍᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴊᴜɢᴀ... ᴀᴋᴜ.ʟᴜᴘᴀ ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴏᴛʜᴏʀ ʏɢ sᴀᴍᴀ ʏɢ ᴍᴇɴᴜʟɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ... ❤️❤️❤️
Rani & Raka manggil Nenek
anak² Nadia > Rayyan, Asha ,Kirana
kog kejadiannya ky dejavu gini yah
setelah up juga nggak ngecek komen...jadi kesalahan terulang