NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KTP Yang Tertukar

Deru mesin mobil mewah yang menjemput Gibran di ujung gang perlahan memudar, meninggalkan Nayla yang masih berdiri mematung di ambang pintu kontrakannya.

Suasana gang kembali sunyi, hanya menyisakan aroma parfum maskulin mahal milik Gibran yang samar-samar masih tertinggal di ruang tamu, bersaing dengan bau minyak tanah dari kompor tetangga sebelah rumah.

"Ternyata dia tajir juga,mobilnya keren seperti mobil yang dimiliki orang kaya,sebenarnya siapa sih Dia ?" gumam Nayla setelah mobil yang menjemput Gibran menjauh dan tak terlihat .

"Apa Dia beneran anak orang kaya ?,Bodo amat Dia mau siapa,yang jelas gara -gara dia aku jadi terjebak dalam pernikahan ini ."

Nayla mengembuskan napas panjang, melepaskan seluruh ketegangan yang sejak subuh menumpuk di pundaknya. Dia melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi.

"Astaga! Aku bisa telat kantor!" teriak Nayla histeris saat menyadari waktu berjalan begitu cepat.

Dengan gerakan secepat kilat, Nayla menyambar handuk, berlari ke kamar mandi, dan mandi kilat dalam waktu kurang dari lima menit. Tidak ada waktu untuk berdandan estetik atau mencatok rambut. Dia hanya mengenakan kemeja kasual berwarna biru langit, celana kain hitam, dan menguncir kudanya dengan jepitan rambut andalannya.

Sebelum mengunci pintu rumah, Nayla memastikan berkas catatan nikah siri dari Pak RT semalam sudah aman di dalam tas ranselnya. Namun, tepat saat dia merogoh kantong luar ransel untuk memasukkan dompetnya sendiri, jarinya menyentuh sebuah benda plastik tipis dan keras.

Nayla menarik benda itu keluar. Itu selembar kartu identitas.

"KTP ... Gibran?" Nayla mengernyitkan dahi. Dia membalik kartu tersebut. Benar, foto pria berwajah tegas dengan tatapan mata sombong itu terpampang di sana. "Oh, iya. Semalam kan Pak RT memeriksa KTP-nya, lalu meletakkannya di meja. Kenapa bisa berakhir di kantong tas saya?"

Nayla mendesah jengkel. Dia segera merogoh dompetnya sendiri untuk menyatukan KTP Gibran agar tidak hilang.

Namun, saat dia membuka kompartemen kartu di dompetnya, matanya membelalak. Tempat KTP miliknya sendiri ... kosong melompong.

"Tunggu, kalau KTP dia ada di saya... berarti KTP saya..." Nayla menepuk jidatnya dengan keras. "KTP-ku tertukar dan dibawa sama dia?!"

Seketika itu juga, ponsel di genggaman Nayla bergetar hebat. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal masuk. Tanpa pikir panjang, Nayla langsung menggeser tombol hijau, sudah menebak siapa orang gila di seberang telepon yang menghubunginya sepagi ini.

"Halo! Mas Gibran ya?! KTP saya ada di kamu, kan?!" cerocos Nayla tanpa memberi kesempatan pihak seberang untuk mengucap salam.

["Nayla? Oh, syukur deh ini nomor lu beneran,"] suara bariton Gibran terdengar terengah-engah, diselingi suara bising klakson mobil di latar belakang. ["Gue baru mau nanya hal yang sama. Gue baru sadar pas sekretaris gue minta KTP buat urusan administrasi bandara bokap gue, yang keluar dari dompet malah foto cewek pakai kerudung putih muka tegang. Itu KTP lu, kan?"]

"Ya iyalah KTP saya! Memangnya muka tegang begitu mirip siapa lagi?" ketus Nayla sambil berjalan cepat keluar pagar dan menguncinya. "Bagaimana bisa tertukar sih, Mas? Semalam Pak RT kan yang pegang?"

["Mana gue tahu! Semalam gue kan setengah pingsan, lu sendiri yang masuk-masukin barang ke tas. Intinya sekarang KTP kita tertukar. Lu bisa anterin ke kantor gue sekarang enggak? Urgent banget, bokap gue bisa curiga kalau sekretarisnya tahu gue pegang KTP cewek asing."]

Nayla menghentikan langkahnya di ujung gang, menunggu ojek daring yang sudah dia pesan. "Enak saja menyuruh saya mengantar! Saya juga harus kerja, Mas Gibran! Hari ini bos saya yang sumbunya pendek itu mau memeriksa revisi desain jamu herbal. Kalau saya telat, saya bisa dipecat!"

Di seberang telepon, Gibran terdengar mendecitkan gigi. ["Nayla, tolonglah. Jabatan direktur gue juga di ujung tanduk ini. Gini saja, lu naik taksi daring sekarang, tarifnya gue yang bayar sepuluh kali lipat. Nanti lu turun di lobi gedung Mahardika Tower di Sudirman. Gue tunggu di sana. Tolong banget."]

Mendengar kata Mahardika Tower, Nayla sempat tertegun. Itu adalah salah satu gedung pencakar langit paling mewah di pusat bisnis Jakarta. Jadi, suaminya ini benar-benar bukan anak orang kaya biasa, melainkan pangeran mahkota dari dinasti bisnis raksasa.

"Sepuluh kali lipat ya? Awas kalau bohong," ancam Nayla, akhirnya goyah karena bayangan ongkos taksi yang bisa digunakan untuk makan mewah akhir bulan. "Kirim alamat lengkapnya lewat pesan singkat. Saya jalan sekarang."

Tiga puluh lima menit kemudian, taksi daring yang ditumpangi Nayla berhenti tepat di pelataran megah Mahardika Tower.

Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca reflektif yang berkilauan di bawah terik matahari pagi. Orang-orang berpakaian necis pria dengan setelan jas mahal dan wanita dengan sepatu hak tinggi merek ternama lalu lalang di lobi yang langit-langitnya setinggi rumah berlantai tiga.

Nayla turun dari taksi dengan perasaan minder yang mendadak menyerang. Dia melihat ke bawah, menatap kemeja birunya yang sederhana dan sepatu flat shoes-nya yang agak berdebu setelah berjalan di gang kontrakan tadi.

"Duh, kenapa suasananya jadi mirip drama Korea begini sih?" gumam Nayla sambil memeluk tas ranselnya erat-erat, melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.

Begitu memasuki lobi, mata jernih Nayla langsung menangkap sosok Gibran yang berdiri di dekat pilar marmer besar. Pria itu tampak sangat berbeda dari versinya yang meringkuk di sofa semalam. Gibran kini mengenakan kemeja putih polos pemberian Nayla yang pas di tubuh tegapnya, meskipun tanpa dasi, celana kain hitamnya tampak licin tersetrika, dan rambutnya sudah tertata rapi menggunakan minyak rambut. Dia terlihat sangat berwibawa, tampan, dan ... sangat tidak tersentuh.

Gibran yang menyadari kehadiran Nayla segera melambaikan tangan dan berjalan menghampirinya dengan langkah lebar.

Lu lama banget sih," bisik Gibran begitu mereka berdiri berhadapan. Matanya waspada, melirik ke kanan dan ke kiri seolah-olah mereka sedang melakukan transaksi barang terlarang.

"Jakarta macet, Mas Direktur. Harap maklum," sindir Nayla ketus, lalu merogoh kantong tasnya dan menyerahkan kartu KTP milik Gibran. "Nih, KTP-mu. Mana KTP saya?"

Gibran buru-buru menukar kartu tersebut dengan KTP milik Nayla dari saku celananya. Begitu memegang kartu miliknya kembali, Gibran mengembuskan napas lega. "Thanks ya. Untung bokap gue belum nanyain lagi

Gibran terkekeh geli melihat kepolosan sekaligus sifat materialistis istrinya ini. Dia merogoh saku belakang celananya untuk mengambil dompet. Namun, tepat ketika Gibran baru saja membuka dompet kulitnya, sebuah suara wanita yang melengking tinggi dari arah belakang mengejutkan mereka berdua.

"Gibran?! Kamu ngapain di lobi jam segini?"

Nayla dan Gibran menoleh serempak.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!