NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Lorong rumah sakit mulai lengang saat Gema akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan terakhirnya. Aroma antiseptik masih melekat di jas dokter yang dikenakannya sejak pagi. Hari itu melelahkan, bahkan punggungnya terasa pegal karena jadwal operasi yang padat sejak subuh.

Ia melepas masker perlahan sambil berjalan menuju parkiran basement.

Pandangannya sekilas melirik jam tangan Rolex yang sebagian tertutup lengan kemeja biru langitnya.

Sudah hampir pukul tujuh malam.

Biasanya orang lain mungkin akan langsung pulang untuk beristirahat, tetapi tidak dengan Gema. Setelah dari rumah sakit, ia masih ingin mampir ke R2 Bakery—usaha keluarga yang dibangun kakek dan neneknya puluhan tahun lalu.

Walaupun sekarang sudah ada Salna, adik sepupunya yang membantu mengelola, Gema tetap tidak tega membebankan semuanya pada gadis dua puluh lima tahun itu.

Bagaimanapun, bakery itu bukan sekadar bisnis.

Tempat itu adalah rumah kedua bagi keluarganya.

Sumber banyak kenangan.

Saat baru hendak membuka pintu mobil, ponselnya bergetar pelan.

Nama “Ibu” muncul di layar.

Senyum kecil langsung terbit di wajah Gema.

“Gema…” sapa suara lembut dari seberang telepon begitu sambungan terhubung.

“Ah, iya, Bu,” jawabnya sambil memasang headset di telinga.

Nada lelah di wajahnya perlahan mencair hanya karena mendengar suara itu.

“Kamu lagi apa, Nak?” tanya Risma hangat. “Rumah aman-aman saja, kan?”

Gema langsung terkekeh pelan.

“Aih… kupikir kangen sama aku. Nggak tahunya kangen sama rumahnya.”

“Hahahaha…”

Tawa Risma langsung pecah dari seberang sana.

“Anak Ibu bisa ngambek juga ternyata,” godanya geli. “Kalau dengar suara kamu begini, Ibu yakin kamu baik-baik saja.”

Entah kenapa, kalimat sederhana itu selalu berhasil menghangatkan hati Gema.

“Makasih, Bu… atas doanya.”

“Nak,” suara Risma melembut penuh kasih, “tidak ada orang tua yang mendoakan jelek untuk anaknya.”

Langkah Gema melambat.

“Ibu bangga sama kamu karena bisa mengejar cita-cita jadi dokter,” lanjut wanita itu. “Walaupun dulu Ibu sempat berharap kamu yang meneruskan R2 Bakery.”

Gema tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuh di mobil.

“Kan ada Salna, Bu. Lagi pula aku tiap pulang kerja tetap cek bakery dulu.”

“Dasar keras kepala,” celetuk Risma penuh sayang.

“Gimana La Terra di tangan Aryan, Bu?” tanya Gema kemudian.

Seketika Risma menghela napas dramatis.

“Aduh, kalau soal kerja adik kamu memang bagus.” Nada suaranya berubah setengah mengeluh, setengah geli. “Tapi yang bikin Mama pusing itu… banyak cewek datang caper sama kami.”

Gema langsung tertawa kecil.

“Resiko, Bu… punya anak ganteng seperti kami.”

“Ya kan papanya juga ganteng.”

Suara berat penuh percaya diri mendadak menyahut dari jauh.

“Ih, Mas! Nimbrung aja,” protes Risma malu-malu.

Gema langsung tertawa lebih lepas.

Untuk sesaat, rasa lelah setelah seharian bekerja seperti hilang begitu saja.

Ia bisa membayangkan bagaimana ayahnya pasti duduk santai sambil minum teh, lalu sengaja ikut menyela pembicaraan hanya demi menggoda istrinya.

Rumah mereka memang selalu seperti itu.

Hangat.Ramai.

Penuh candaan receh yang entah kenapa selalu dirindukan.

“Papah sehat?” tanya Gema sambil membuka pintu mobil.

“Sehatlah. Papah kamu malah lagi milih baju katanya mau kelihatan muda kalau ke resto."

“Eh, jangan fitnah Papah depan anak.”

“Tuh kan mulai lagi,” gumam Gema sambil tertawa.

Dari seberang telepon terdengar suara Risma dan suaminya saling berdebat kecil seperti anak muda. Tidak serius, hanya saling menggoda dengan nada penuh cinta yang sudah bertahan puluhan tahun.

Dan di tengah hiruk-pikuk hidupnya sebagai dokter, di tengah tekanan pekerjaan dan dunia yang melelahkan—

momen sederhana seperti ini selalu menjadi alasan Gema tetap kuat.

Karena sejauh apa pun ia pergi, sejauh apa pun hidup menekannya.ia tahu selalu ada rumah yang menunggunya pulang.

"Kapan kamu ke Manila, Nanti papa akan kenalkan kamu beberapa wanita cantik disini."

“Mas, jangan ganggu anak Ibu,” omel Risma sambil tertawa kecil.

“Loh, ini anak saya juga,” balas suaminya santai. “Jangan dimonopoli sendiri.”

“Dih, mulai lagi.”

Gema hanya menggeleng sambil tersenyum. Dari dulu, kedua orang tuanya memang tidak pernah berubah. Suka saling menggoda, tapi selalu terlihat hangat.

“Papa sehat?” tanya Gema.

“Sehat. Masih kuat angkat karung tepung,” jawab ayahnya bangga.

“Masa? Kata Ibu kemarin pinggang Papa sakit.”

“Itu Ibu kamu yang suka bongkar rahasia.”

“Biar kapok sok muda terus,” sahut Risma cepat.

Tawa kecil kembali terdengar.

Meski sederhana, obrolan seperti itu selalu membuat hati Gema hangat. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya keluarga yang saling peduli dengan caranya masing-masing.

“Kerja jangan terlalu dipaksakan,” ujar ayahnya kemudian. “Cari uang penting, tapi kesehatan lebih penting.”

“Iya, Pa.”

“Makan dijaga,” tambah Risma. “Jangan karena sibuk jadi lupa diri.”

Gema tersenyum tipis. Nasihat itu mungkin terdengar biasa, tapi baginya selalu berarti.

Ia sadar, kasih sayang orang tua sering kali hadir lewat perhatian kecil—mengingatkan makan, menyuruh istirahat, atau sekadar bertanya sudah pulang atau belum.

“Nak,” panggil Risma lembut. “Kalau capek, pulanglah. Rumah selalu terbuka buat kamu.”

Kalimat itu membuat Gema diam sesaat.

Di tengah hidupnya yang sibuk sebagai dokter, ia sering lupa bahwa ada tempat yang tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Rumah.

Tempat di mana dirinya tidak dinilai dari jabatan, uang, atau keberhasilan.

Melainkan hanya sebagai seorang anak yang dicintai keluarganya.

“Iya, Bu,” jawab Gema pelan.

Dan malam itu, rasa lelah di hatinya terasa sedikit berkurang hanya karena mendengar suara kedua orang tuanya.

******

Langit Manila malam itu kelabu. Lampu apartemen memantul di jendela, bikin bayangan Risma dan Yudhis jadi dua siluet yang saling bersandar.

Telepon baru saja mati. Suara putra sulungnya masih menggantung di udara, hangat, dewasa, jauh.

Risma menarik napas dalam. Panjang. Getarannya sampai ke ujung jari.

“Ga terasa ya, Mas… Anak-anak sudah dewasa.”

Yudhis menoleh. Mata Risma berkaca. Bukan sedih. Bukan juga bahagia sepenuhnya. Itu mata seorang ibu yang baru sadar bahwa pelukannya tidak lagi jadi rumah utama anaknya.

Yudhis menggenggam jemari Risma sangat erat.

Dia menyeka air mata di pipi istrinya.

“Dia hebat, Ma,” bisik Yudhis. Suaranya serak. “Gema hebat.”

Risma mengangguk. Air matanya malah tambah deras. Dia sembunyikan wajah di dada Yudhis. Kemeja Yudhis basah, tapi Yudhis tidak geser sedikit pun.

Lama mereka begitu. Sampai napas Risma tenang lagi.

“Pa,” lirih Risma akhirnya, “istirahat yuk. Mama ngantuk nih.”

Yudhis senyum. Senyum lelah laki-laki hampir memasuki 70-an yang masih mau jadi kuat di depan istrinya.

“Ehmmm…”

Tanpa aba-aba, dia angkat Risma. Gendong. Kayak dulu, waktu baru nikah, waktu badan masih bisa diajak sombong.

Baru tiga langkah ke pintu kamar.

“Aaaaauuhhhh!”

Dunia oleng. Lutut Yudhis hantam lantai duluan. Risma hampir jatuh kalau tidak cepat pegangan ke kusen.

“Mas!” Risma langsung jongkok, panik. Tangannya pegang wajah Yudhis. “Kenapa, Mas?!”

Yudhis meringis, satu tangan pegang pinggang. Napasnya patah-patah.

“Encok, Sayang,” katanya sambil nyengir nahan sakit. “Kamu kok sekarang berat banget sih…”

Risma mendelik, tapi matanya masih basah. Antara mau marah, mau nangis, mau ketawa.

“Lagian sok kuat pake gendong Mama segala. Udah tua!”

Dia ketawa. Ketawa yang patah di ujung karena lihat suaminya kesakitan.

Risma geser badan, pelan-pelan papah Yudhis. Bahu ketemu bahu. Berat Yudhis sekarang pindah ke dia. Mereka jalan terseok ke ranjang. Tiap langkah, ranjang terasa makin jauh.

Begitu sampai, Yudhis jatuh duduk. Risma ikut duduk di sebelahnya. Sepi. Hanya suara AC dan detak jam.

Yudhis menatap langit-langit. Lama. Tangannya nyari tangan Risma lagi. Diremas pelan.

“Ma,” katanya, lirih sekali. Kayak takut didengar Tuhan. “Kalau diizinkan… aku pengen kita punya anak lagi.”

Risma kaku.

Dia menoleh. Lihat keriput di ujung mata Yudhis. Lihat uban yang makin banyak. Lihat laki-laki yang nerima anak orang, besarkan, lalu sekarang… minta mimpi yang telat dua puluh tahun.

Risma ketawa kecil. Pahit.

“Ogah, Mas. Kita ini sudah tua. Lebih pantas nimang cucu daripada punyaku anak lagi.”

Yudhis diam. Senyumnya tidak sampai ke mata.

Risma buang pandang ke langit-langit. Lampu kamar bikin bayangan retak di plafon.

“Andai Hana mau bersabar…” bisiknya. Nama itu keluar kayak duri. “Mereka pasti sudah punya anak yang lucu.”

"Tenang, Sayang. Sekarang Gema sudah menjadi pria sukses. Aku yakin ada perempuan yang mengantri mendekati putra kita."

"Kayak kamu, ya. Di dekati Jenny, di dekati Kayla, tapi milih janda beranak satu."

"Kan yang nuntun hati. Lagian kenapa sih itu aja yang di ungkit?"

Risma menarik selimutnya berbalik membelakangi Yudhis.

Memang benar kata orang, perempuan kalau cemburu sampai kiamat akan di ungkit terus.

1
Renarenn
Lah, temen sesat rupanya
Renarenn
Akhirnya karma is real🤭🤭🤭
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!