NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7 Tiba-tiba Saja Hujan

Malam semakin larut. Aksa melihat jam yang ada dilayar hp. Ternyata ia sudah duduk terlalu lama bahkan lima menit yang dijanjikan sudah terlewati. Aksa bangkit dari duduknya untuk kembali ke toko pizza. Walaupun kebersamaan itu terasa sangat singkat, tapi cukup membuat hati terasa begitu hangat.

"Gue harus balik kerja. Lima menit sudah lewat, " ujar Aksa sambi memakai topi yang sempat ia lepaskan tadi.

"Tunggu sebentar! " Devina bergegas bangkit sambil berlari ke dalam rumah dan mengambil sebuah amplop coklat yang berisikan uang tiga juta yang dijanjikan.

Devina kembali menemui Aksa dengan nafas terengah-engah. Lalu menyodorkan amplop tersebut kepada Aksa. Sejenak Aksa terdiam menatap amplop tersebut di tangan Devina. Ia tidak langsung menerimanya.

"Ini apa? " tanya Aksa.

"Tiga juta yang gue janjikan tadi, " balas Devina dengan nafas yang masih belum teratur. "Ambillah! " tambahnya kemudian, saat Aksa hanya terdiam menatap.

"Tidak usah. Loh simpan saja uang tiga itu, " tolak Aksa kemudian sambil berbalik untuk pergi.

"Tidak bisa! " Devina menghentikan langkah Aksa dengan menarik tangannya dan menaruh amplop itu disaku jaketnya.

Aksa kembali menatap Devina untuk sesaat. Tapi Devina hanya tersenyum lebar sambil mengangguk kecil menandakan kalau Aksa tidak boleh menolak pemberiannya itu. Aksa sebenarnya sangat membutuhkan uang saat ini, tetapi ia merasa sangat rendah diri dihadapan Devina jika menerima uang itu. Namun, sesaat setelah bergelut dengan pikirannya, Aksa pun menerima uang itu dengan sedikit berat hati.

"Kalau begitu, gue terima. Makasih, " ucap Aksa sambil tersenyum malu kepada Devina.

"Sama-sama."

"Gue pergi sekarang."

Devina mengangguk dengan cepat dengan wajah tersenyum senang. Lantas, Aksa pun segera pergi meninggalkan kediaman Devina untuk kembali ke toko pizza. Devina menatap punggung Aksa sampai ia benar-benar menghilang dari pandangannya.

Sesampainya di toko pizza, Aksa melihat teman-temannya masih disana mengobrol dan bercanda sambil sesekali tertawa lepas bersama. Sementara Lala sudah pulang tepat dua menit sebelum Aksa sampai di toko. Aksa kembali dengan wajah sedikit muram. Entah apa yang ia rasakan karena setelah menerima uang itu ia merasa sedikit kesal.

"Sa?! " panggil Feri sambil melambai kepada Aksa. Namun, Aksa tidak menggubrisnya dan terus berjalan masuk ke ruang ganti karyawan.

Feri dan teman-temannya menatap kepergiaan Aksa itu dengan heran. Mengapa Aksa bersikap dingin seperti itu tiba-tiba kepada mereka.

"Kenapa sama dia? Kenapa dia begitu? " tanya Samsul terheran-heran karena biasanya Aksa tidak pernah bersikap demikian kepada mereka.

"Entahlah. Gue juga gak tahu, " sahut Feri.

Tidak lama kemudian, Suryadi pun mendatangi Feri dan teman-temannya sambil menatap ke ruang ganti karyawan.

"Dia tampak kesal. Apakah pengantarannya tidak berjalan dengan lancar? Mungkin tip tiga jutanya gak ia terima. Apa sesuatu terjadi? " ujarnya hanya menduga-duga.

Sementara itu, di dalam ruang ganti karyawan Aksa terduduk diam cukup lama sambil menatap amplop uang tersebut dengan kesal. Sejenak ia merasa dirinya sungguh memalukan dan tidak bisa diharapkan. Seharusnya tadi ia menolak dengan tegas dan jangan menerima uang itu, tetapi ia merasa kalah karena harus menerima uang tersebut dari Devina. Rasanya membuat Aksa sangat kesal karena ia tidak mampu untuk menolak uang itu. Ketidakmampuan itulah yang membuat Aksa merasa sangat tidak pantas. Dirinya dan Devina itu bagaikan langit dan bumi yang sangat jauh berbeda. Ketidakmampuan itulah yang membuat Aksa merasa sangat kesal.

Aksa menaruh amplop itu didalam ranselnya dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Setelah merasa cukup tenang Aksa mengganti baju seragamnya dengan baju kaos miliknya, lalu keluar dan meminta izin kepada Suryadi untuk pulang lebih awal.

"Maaf, Paman. Apa aku boleh pulang lebih awal? Aku harus pergi ke suatu tempat, " ujar Aksa.

"Yasudah. Pergilah! " balas Suryadi mencoba memahami sikap Aksa dan memberi izin untuk pergi.

Lantas, tanpa menoleh ke belakang Aksa pergi dengan sepeda tuanya dan meninggalkan teman-temannya tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Meninggalkan perasaan tidak enak dan suasana yang canggung untuk teman-temannya.

Aksa terus mengayuh sepedanya dengan cepat dan tidak berhenti. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah gedung rumah sakit dan memarkirkan sepedanya. Aksa masuk ke dalam dan menemui Ayahnya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Ia duduk disamping ranjangnya dan menatap seluruh tubuhnya yang dipasangi begitu banyak alat medis, membuat hati Aksa hancur.

"Ayah? Maafkan aku, " ucap Aksa sambil berkaca-kaca ia menahan air matanya agar tidak keluar. Tidak ada kata lagi yang bisa Aksa ucapkan selain kata 'maaf' yang entah karena apa kata itu ia ucapkan.

Aksa meraih ujung baju ayahnya dan mencengkram erat seakan ingin meluapkan isi hatinya, namun ia tidak bisa karena ia tahu bahwa ia tidak boleh mengeluhkan apapun dihadapan Ayahnya yang koma. Ia tidak boleh berputus asa dan harus tetap tegar. Sementara malam semakin pekat sunyi semakin menghampiri. Langit yang cerah sejak tadi, mulai berubah mendung seakan tahu, bahwa Aksa sedang sedih. Guntur seketika mengguruh memecah sunyi malam. Hujan mulai ikut berduka dengan turun begitu derasnya.

Aksa terduduk diam sambil menatap kosong tubuh Ayahnya yang terbaring dan tidak ada respon sama sekali. Sudah dua tahun, Aksa menantikan kesadarannya, menantikan kabar baik akan datang. Namun, sampai sekarang kabar itu seakan tenggelam secara perlahan. Hari demi hari tidak ada yang berubah. Harapan demi harapan semakin menipis. Sementara kekecewaan semakin memuncak. Aksa hanya merasa lelah, ia capek dengan keadaannya sekarang. Ia sejenak berpikir ingin segera bebas dari semua beban ini. Tapi, sekuat apapun ia berlari menuju kebebasan itu, hatinya seakan terikat oleh sesuatu yang membuatnya terjebak didalamnya. Ia tidak bisa lari dari semua itu, karena ia merasa itu semua adalah tanggung jawabnya.

Setelah cukup lama ia terduduk diam, Aksa meraih tangan Ayahnya dan memasukkannya ke dalam selimut supaya lebih hangat. Lalu kemudian ia bangkit berdiri.

"Sudah larut malam. Aku harus pulang. Selamat malam, Ayah. "

Aksa pun bergegas pergi untuk pulang. Setibanya di lobi rumah sakit ia mematung di pintu keluar karena ternyata hujan masih sangat lebat meskipun tidak selebat tadi. Aksa mendongak menatap langit, ia merasa dirinya cukup menyedihkan. Aksa mendesah pelan dan berjalan pergi menerobos hujan untuk segera pulang. Dibawah lebatnya hujan Aksa mengayuh sepeda tuanya itu. Pikirannya serasa kosong menatap jalanan yang ia lalui bersama sepedanya.

Ditengah jalan, Aksa yang bersepeda sambil melamun dikejutkan oleh seekor kucing yang melintas di depannya. Sehingga membuat Aksa refleks menghindar dan akhirnya Aksa membanting setang lalu menjatuhkan diri supaya tidak menabrak kucing itu. Lutut dan telapak tangan Aksa terluka baret karenanya. Melihat kucing itu selamat Aksa hanya menghela nafas berat sambil kembali bangkit dengan sepedanya, dan melaju lagi melanjutkan perjalanan pulangnya.

Setibanya di rumah, Santi mendapati putranya itu basah kuyup karena kehujanan. Ia segera datang menghampiri dengan membawa handuk kering untuknya.

"Kenapa kamu pulang larut sekali? Ini, pergilah mandi. Ibu akan membuatkan teh jahe untuk kamu, " ujar Santi.

"Makasih, Bu. "

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!