Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : KABUT MISTERIUS
Permukaan es itu bergerak mengikuti ombak di bawahnya, naik dan turun tidak bisa diprediksi, dan yang berdiri di atasnya sambil bertarung, tentunya membutuhkan konsentrasi yang jauh berbeda dari berdiri di tanah yang datar. Chen Mo sudah ada di atas es itu sebelum Haifeng dan Renoa, berdiri di tengah layaknya dua orang yang tidak merasa permukaan di bawahnya bergerak sama sekali.
"Kuda-kuda," kata Chen Mo.
Haifeng segera mengambil posisi. Renoa di sisinya melakukan hal yang sama, tapi dengan cara yang berbeda karena tulang-tulangnya memang berbeda.
"Bagus," kata Chen Mo kepada Renoa. "Kau." Dia menoleh ke Haifeng. "Lututmu masih terlalu kaku."
Sedangkan di dekat tepian es itu, Samudera duduk melayang setengah-setengah, membiarkan jari-jarinya menyentuh permukaan laut di pinggir es itu. Cairan biru kehijauan mengalir di antara jari-jarinya dan kemudian jatuh kembali ke laut. "Arah yang dikonfirmasi Tuan Li sesuai dengan yang sudah aku rasakan dari arus bawah ini," katanya ke Haifeng tanpa mengangkat kepala. "Kita sudah di jalur yang benar, meski masih membutuhkan beberapa hari lagi."
"Aku mengerti," bisik Haifeng, cukup untuk sampai ke Samudera tanpa sampai ke Chen Mo.
"Kau tidak sedang berbisik dengan dirimu sendiri lagi, kan?" kata Chen Mo dengan datar.
"Berdoa."
"Berdoanya nanti. Sekarang kita fokus."
Tak lama kemudian, Renoa maju dengan belatinya.
Gerakannya bukan gerakan yang diajarkan dari gulungan atau buku karena terlihat seperti gerakan yang keluar dari insting, cepat dan tidak terduga, dan Haifeng harus menggeser kakinya dua kali sebelum berhasil mengalihkan serangan itu. Tapi mengalihkan adalah kata yang tepat karena dia tidak merespons tepat waktu, hampir saja.
"Kau masih terlalu lambat," kata Chen Mo.
Haifeng hanya mampu membisu karena ucapan Chen Mo ada benarnya.
"Dia lebih cepat darimu." Chen Mo menunjuk ke Renoa dengan dagunya. "Kau lebih kuat darinya, tapi kecepatan reaksimu di bawah gadis Yao Ren."
"Apa mungkin karena perbedaan ras yang menjadi pembedanya?" kata Haifeng sembari menggaruk pelipisnya mencari-cari alasan agar tidak terlihat seburuk itu saat bertarung melawan seorang gadis.
"Bukan alasan. Itu cuma penjelasan." Chen Mo berjalan ke sisi mereka. "Kecepatan bisa dilatih. Tapi kau masih bergantung pada matamu terlalu banyak. Renoa bergerak dengan tubuhnya dulu, matanya menyusul kemudian. Sementara kau menunggu matamu lebih dulu, tubuhmu baru menyusul, dan itu setengah detik yang mahal."
Renoa yang mendengar itu melihat ke Chen Mo, kemudian ke Haifeng. "Apa aku boleh mencoba lagi?"
"Boleh," kata Chen Mo sebelum Haifeng menjawab.
Alhasil Renoa maju lagi. Kali ini telinganya bergerak satu kali ke kanan sebelum tubuhnya menyerang ke kiri, dan Haifeng yang mengikuti gerakan telinganya tertangkap oleh gerakan tubuh yang berbeda arah. Bilah belati akhirnya berhenti satu jengkal dari sisi lehernya.
"Bagus," kata Chen Mo kepada Renoa.
Haifeng menatap belati itu. "Kau menggunakan telingamu sebagai umpan."
Renoa menurunkan belatinya. "Kami melakukannya secara alami."
Di atas dek kapal yang berjalan lambat di dekat area latihan, Qinghan berdiri di railing dengan kedua tangan bertumpu di kayu, menatap ke bawah ke tiga orang yang berlatih di atas hamparan es yang diciptakannya.
Tabib Senior Hua Yuan juga berdiri di sampingnya. "Meski masih kalah dalam kecepatan, kenyataannya memang adikmu sudah jauh lebih kuat dari sebulan lalu. Itu juga karena dirimu yang melonggarkannya untuk berlatih baru-baru ini."
"Tetua Hua benar."
"Ramuan-ramuan sederhana sudah tidak akan berdampak banyak untuknya sekarang. Kalau dia terluka, tentu butuh penanganan yang berbeda." Kakek tabib itu terkekeh bangga. "Nak Qinghan tidak perlu khawatir tentang itu. Aku sudah siapkan yang lebih tepat."
"Terima kasih, Tetua Hua."
Keduanya berdiam sebentar, menatap latihan di bawah.
"Tetua Hua," kata Qinghan kemudian. "Apakah Ayah dulu juga berlatih seperti itu?"
Hua Yuan terkekeh. Suaranya hangat dan sedikit melankolis sekaligus. "Aku mengabdi di istana Long Yuan sejak sebelum ibumu lahir. Istriku meninggal di tahun ketiga aku di sana, dan aku memilih untuk tetap tinggal." Dia memandang ke cakrawala sebentar. "Dalam semua tahun itu, tidak ada yang lebih keras kepala dari Wei Changsong. Tidak ada yang lebih keras dalam berlatih. Dia pernah berlatih sampai jatuh pingsan di halaman istana berkali-kali, dan ketika sadar, dia meminta air bukan karena haus tapi supaya bisa melanjutkan."
"Adikku tidak seperti itu."
"Kau benar." Hua Yuan menyipitkan matanya ke arah Haifeng di bawah sana. "Haifeng berjalan di jalan yang berbeda. Kalau aku harus menggambarkan, aku akan bilang dia adalah perpaduan antara Wei Changsong dan Wei Wu Shuang." Dia memainkan jenggonya. "Meski aku tahu kau mungkin tidak setuju dengan perbandingan itu."
Qinghan tidak menyangkal, tapi juga tidak mengiyakan.
"Kalau kau ingin melihat ketegasannya," lanjut Hua Yuan, "ingatlah ayahmu. Cara Haifeng memutuskan sesuatu dan tidak mundur dari keputusan itu, itu Wei Changsong." Dia mengangkat senyumannya lagi. "Tapi kalau kau ingin melihat kelembutannya, ingatlah cara ibumu memperlakukan Haifeng. Cara Haifeng melihat orang lain sebelum memutuskan sesuatu, itu Wei Wu Shuang."
Qinghan menatap adiknya di bawah yang baru saja hampir terkena belati Renoa dan menunduk memeriksa jarak bilah itu dari lehernya dengan ekspresi yang lebih ingin tahu alih-alih terkejut.
"Lalu kau, Nak Qinghan?" tanya Hua Yuan. "Kalau aku boleh jujur."
"Silakan."
"Kau sangat mirip ibumu." Kakek tabib itu tersenyum. "Caramu berdiri. Caramu memandang. Caramu diam ketika sebenarnya sedang sangat memikirkan sesuatu."
Qinghan tidak menjawab. Tapi tangannya yang di railing mengencang sedikit.
Di atas es, Haifeng duduk bersila untuk mengambil napas setelah sesi terakhir.
"Samudera," panggilnya lirih. "Tentang kenaikan tingkat. Kenapa Pedang Samudera merespons emosiku tapi tidak merespons tingkatku?"
Samudera yang tadi bermain dengan air di tepi es mengalihkan perhatiannya. "Karena Pedang Samudera bukan senjata yang mengikuti logika tingkat kultivasi biasa." Dia bergerak duduk mengapung di depan Haifeng. "Pedang ini berusia lebih tua dari sistem tingkat yang sekarang digunakan di Shenzhou. Dia merespons niat, bukan angka. Emosi yang kuat dan niat yang jelas adalah kunci yang membuka lapisannya."
"Tapi lapisannya akan terbuka lebih mudah kalau tingkatku naik?"
"Lebih tepatnya... kalau fondasi qi-mu lebih kuat, kau bisa menampung lebih banyak dari apa yang pedang ini berikan tanpa merusakmu dari dalam." Samudera memiringkan kepalanya. "Sekarang di tingkat tiga, kau sudah bisa menanggung segel pertama. Tapi masih ada enam segel lagi."
"Totalnya tujuh?"
"Totalnya tujuh, dan setiap segel berikutnya membutuhkan fondasi yang lebih dalam dari sebelumnya." Samudera menatapnya. "Jadi teruslah berlatih. Dengan Chen Mo, denganku, dengan cara apapun yang kau temukan."
Haifeng mengangguk dan akan menjawab ketika sesuatu berubah di udara di sekitar mereka.
Ketara sekali itu serangan kabut.
Berbeda dari kabut pagi yang tipis dan hilang ketika matahari naik. Yang datang ini tebal dari arah yang tidak bisa ditunjuk dengan satu jari, mengisi ruang di sekitar mereka dalam waktu yang terlalu cepat untuk jenis kabut yang natural. Dalam waktu kurang dari satu menit, kapal mereka yang tadi terlihat jelas hanya sepelemparan batu dari es ini sudah hampir tidak terlihat.
Lonceng kapal berbunyi dari arah yang masih bisa diidentifikasi. Kemudian satu kali lagi, lebih lemah. Kemudian tidak terdengar sama sekali.
"Haifeng." Tegas Chen Mo. "Ke belakangku."
Haifeng pun berdiri. Renoa sudah ada di sisi Haifeng bahkan sebelum dia selesai berdiri, telinganya tegak, tatapannya bergerak ke segala arah.
"Ada apa?" bisik Renoa.
"Kabut seperti ini tidak alami," kata Chen Mo tanpa menoleh. Tangannya sudah di gagang senjatanya. "Tetap di belakangku. Jangan bergerak kecuali aku mengatakan demikian."
Puing pertama muncul dari kabut, sepotong kayu yang mengapung dengan sisi yang menghitam gosong. Lalu satu lagi. Lalu tali-tali yang putus, papan yang retak, pecahan-pecahan benda yang tidak langsung bisa diidentifikasi tapi menunjukkan bahwa ada kapal yang tidak berhasil lewat tempat ini dalam kondisi utuh.
"Apa itu?" kata Haifeng kepada Renoa, menunjuk ke selembar kain yang mengapung di tepi es.
Renoa mengambilnya dengan ujung belatinya dan mengangkatnya ke atas. Kain itu basah dan berat, robek di beberapa bagian, tapi gambar di tengahnya masih bisa dibaca karena dibordir dengan benang yang tidak mudah pudar.
Tengkorak hitam di atas dua tulang bersilang.
"Itu..." kata Renoa.
"Kerajaan Tengkorak Hitam." Haifeng meraihnya dari tangan Renoa.
Kain itu berat karena ada sesuatu yang tersangkut di lipatannya. Ketika lipatannya terbuka, sesuatu terdorong ke permukaan es dan menghadap ke atas.
Renoa menarik napas tajam dan melompat mundur sampai hampir jatuh dari tepi es. Beruntung Haifeng menangkap lengannya sebelum gadis itu kehilangan keseimbangan.
Wajah pucat yang menghadap ke atas itu tidak bergerak. Tidak akan bergerak lagi untuk selamanya.
Di sekitar es itu, perlahan, wajah-wajah dari mayat-mayat lain mulai muncul ke permukaan dari bawah kabut yang menutupi air, satu per satu, dengan ekspresi yang berbeda-beda tapi dengan kesamaan yang satu, semuanya sudah tidak ada lagi di sana.
Chen Mo tidak bergerak dari posisinya. Matanya menyapu permukaan air di sekitar mereka dengan sangat cermat.
Sampai sesuatu bergerak di bawah permukaan air, sangat jauh ke bawah tapi cukup besar untuk terlihat dari atas sebagai bayangan yang panjang. Sisik-sisik yang berkilat sebentar di celah antara kabut dan permukaan air, biru kehitaman, termasuk besar untuk jenis ikan apa pun yang ada dalam daftar pengetahuan Haifeng.
Kemudian bayangan itu bergerak menjauh dan lenyap ditelan kegelapan air dan tebalnya kabut.
Kini tidak ada suara apapun selain ombak.