NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa

​Kata-kata Lin Chen yang menyamakan Gu Tian dengan serangga seketika memicu sorakan cemooh dari ribuan penonton, terutama dari area tempat duduk Perkumpulan Naga Sejati.

​"Sombong sekali! Dia pikir berhadapan dengan Kakak Gu Tian sama dengan melawan boneka ujian yang tak punya otak?!"

"Kakak Gu, jangan beri dia kematian yang mudah! Potong lidahnya lebih dulu!"

​Di atas arena batu Obsidian Hitam, wajah Gu Tian menggelap. Pembuluh darah menonjol di pelipisnya. Kesabarannya telah habis. Ia menoleh ke arah Diakon yang bertugas sebagai wasit.

​"Diakon, mulailah pertarungan ini sebelum aku kehilangan kendali dan mencabik-cabiknya sebelum waktunya!" geram Gu Tian.

​Diakon itu mengangguk kaku. Ia mundur ke tepi arena dan menekan sebuah tuas batu.

​WUUUNGGG!

​Pilar-pilar batu di sekeliling panggung langsung menyala. Formasi pelindung berbentuk kubah berwarna merah darah perlahan naik dan menutup seluruh arena, mengunci Lin Chen dan Gu Tian di dalam. Di Arena Hidup dan Mati, formasi ini hanya akan terbuka jika salah satu detak jantung di dalamnya berhenti berdetak.

​"Pertarungan... Dimulai!" teriak Diakon tersebut.

​Begitu kata "dimulai" bergema, Gu Tian tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung meledakkan seluruh aura Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak miliknya. Suhu di dalam kubah formasi seketika anjlok.

​Sring!

​Pedang Angin Es di tangan Gu Tian berdengung nyaring, memancarkan kabut beku yang mematikan.

​"Mati kau, Iblis Kecil! Tarian Seribu Angin Es!"

​Gu Tian melesat maju dengan kecepatan yang membuat mata para murid berlevel rendah terasa sakit. Ia bergerak zig-zag, meninggalkan jejak bayangan es di belakangnya. Dalam sekejap mata, ia telah berada di udara tepat di atas Lin Chen, mengayunkan pedangnya ratusan kali dalam satu tarikan napas.

​Bilah-bilah pedang yang terbuat dari es dan angin meluncur turun bagai badai meteor yang membekukan, mengunci setiap inci jalan keluar Lin Chen. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang menjadi alasan mengapa Gu Tian ditakuti sebagai ahli pedang tercepat di faksi mereka!

​"Cepat sekali! Lin Chen bahkan belum mencabut pedangnya!" seru salah satu penonton.

​Di bawah bayang-bayang badai pedang es mematikan itu, Lin Chen hanya mendongak perlahan.

​"Cepat? Di mataku, kau bergerak seperti kura-kura yang membeku."

​Tepat ketika ratusan bilah pedang es itu berjarak satu jengkal dari tubuhnya, Lin Chen memusatkan energi Qi ke telapak kakinya.

​Sembilan Langkah Kehampaan: Langkah Pemutus Bayangan!

​BAM!

​Suara ledakan udara yang teredam terdengar dari bawah kaki Lin Chen. Ruang di sekitarnya sedikit terdistorsi.

​CRAT! CRAT! CRAT!

​Ratusan tebasan pedang es milik Gu Tian menghujam deras, menembus tubuh Lin Chen hingga hancur berkeping-keping.

​"Hahaha! Dia hancur!" sorak anggota Perkumpulan Naga Sejati.

​Namun, tawa mereka terhenti saat menyadari sesuatu yang janggal. Tubuh Lin Chen yang "hancur" itu tidak mengeluarkan setetes pun darah, melainkan memudar menjadi asap.

​Itu hanyalah sebuah bayangan sisa.

​"Apa?!" Mata Gu Tian melebar ngeri di udara. Insting kematiannya berteriak dengan sangat keras, membuat bulu kuduknya berdiri.

​"Kau mencari siapa?"

​Sebuah bisikan sedingin es terdengar tepat di belakang telinga Gu Tian.

​Kapan dia berpindah?! Bagaimana mungkin ada kecepatan seperti ini di Ranah Kondensasi Qi?!

​Pikiran Gu Tian menjadi kosong. Ia memutar tubuhnya secara refleks di udara, menyilangkan Pedang Angin Es tingkat menengahnya di depan dada untuk menangkis.

​Lin Chen sudah melayang di belakangnya. Tangan kanannya telah memegang gagang Pedang Berat Penelan Bintang. Tanpa mengeluarkan teknik pedang atau Qi elemen yang mencolok, Lin Chen hanya mengayunkan pedang raksasa seberat 500 kilogram itu ke depan dengan ayunan murni yang sederhana.

​Namun, ayunan itu ditenagai oleh fisik yang telah ditempa oleh darah kera iblis dan momentum spasial dari Sembilan Langkah Kehampaan.

​WUUUUSSSHH!

​Udara di dalam kubah arena seolah tersedot ke arah bilah pedang hitam tersebut, menciptakan ruang hampa sesaat.

​KLAAAANG! KRAAAAK!

​Suara benturan logam bergema memekakkan telinga, disusul oleh suara retakan yang sangat nyaring. Pedang Angin Es yang dibanggakan oleh Gu Tian—sebuah Senjata Spiritual kelas menengah yang mampu memotong baja—patah menjadi dua bagian layaknya ranting kering yang rapuh!

​Tapi Pedang Penelan Bintang tidak berhenti di sana. Momentum mematikan itu berlanjut menghantam dada Gu Tian.

​"TIDAAAAAK—!"

​DUAAARRR!

​Tulang rusuk Gu Tian hancur seketika, menusuk organ dalamnya menjadi bubur. Tubuh ahli puncak Tingkat 9 itu terlempar ke bawah dengan kecepatan meteor, menghantam lantai batu Obsidian Hitam hingga menciptakan kawah berbentuk laba-laba.

​Gelombang kejut dari hantaman itu membuat kubah formasi darah bergetar hebat.

​Lin Chen mendarat kembali di atas arena dengan gerakan seringan bulu, seolah pedang raksasa di tangannya tidak memiliki berat sama sekali. Ia menyarungkan kembali pedangnya ke punggung tanpa melihat ke belakang.

​Di dasar kawah, tubuh Gu Tian terbaring dengan postur yang bengkok dan mengerikan. Matanya melotot terbuka, menatap kosong ke langit-langit kubah, namun tidak ada lagi tanda-tanda pernapasan dari hidungnya.

​Satu langkah. Satu ayunan. Satu nyawa.

​Pertarungan yang dinanti-nantikan oleh puluhan ribu murid itu berakhir dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas!

​Keheningan yang mencekik mencengkeram seluruh arena. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada tepuk tangan. Ribuan penonton berdiri kaku, mulut mereka ternganga seolah jiwa mereka baru saja ditarik keluar.

​Di tribun Perkumpulan Naga Sejati, senyum sombong para elit seketika lenyap, digantikan oleh wajah pucat pasi seperti mayat. Wakil komandan mereka, ahli pedang tercepat, dibunuh dengan begitu brutal tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun!

​Bzzzt...

​Merasakan bahwa salah satu detak jantung di dalam arena telah mati, formasi pelindung berwarna darah itu perlahan memudar dan menghilang.

​Diakon yang bertugas menelan ludah dengan susah payah. Kakinya bergetar saat ia melangkah mendekati kawah untuk memeriksa kondisi Gu Tian. "G-Gu Tian... telah gugur. P-Pemenangnya adalah Lin Chen!"

​Pengumuman gagap itu membangunkan ribuan penonton dari keterkejutan mereka, namun tidak ada yang berani bersorak. Mereka menatap Lin Chen seolah sedang melihat reinkarnasi dari iblis kuno. Membunuh ahli Tingkat 9 di Tingkat 7 dengan satu tebasan? Ini bukan lagi jenius, ini adalah monster!

​Lin Chen berjalan perlahan menuju mayat Gu Tian. Ia berjongkok, dengan santai melepaskan cincin penyimpanan spasial dari jari mayat tersebut, dan memasukkannya ke dalam sakunya sendiri. Ini adalah hukum dasar dunia kultivasi; harta milik yang kalah adalah milik pemenang.

​Setelah menjarah musuhnya di siang bolong, Lin Chen bangkit berdiri. Ia menatap lurus ke arah tribun tempat puluhan anggota elit Perkumpulan Naga Sejati duduk dengan tubuh gemetar.

​Tatapannya yang dingin menusuk langsung ke jiwa mereka.

​"Kembalilah dan beri tahu pemimpin kalian, Jiang Wuya," ucap Lin Chen, suaranya sangat tenang namun terbawa jelas oleh angin ke seluruh penjuru arena. "Batas kesabaranku tidak lebih panjang dari sehelai rambut. Jika dia atau lalat peliharaannya masih ingin bermain-main denganku..."

​Lin Chen mengetukkan ujung sepatunya ke genangan darah di dekat kawah.

​"...suruh dia membawa peti matinya sendiri ke Puncak Awan Ungu."

​Setelah meninggalkan peringatan berdarah yang membuat seluruh faksi terbesar di akademi itu merasa tertampar keras, Lin Chen berbalik dan berjalan turun dari arena, melangkah pergi menuju asramanya.

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!