Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang Tertutup
Gerbang besi hitam mansion Moretti menutup perlahan di belakang iring-iringan mobil yang membawa Elara pergi.
Suara gesekan logam itu terdengar panjang.
Berat.
Dingin.
Seolah bukan hanya gerbang rumah yang tertutup malam itu.
Tetapi juga sebuah kesempatan.
Damian masih berdiri di balkon lantai dua, menatap lampu belakang mobil yang semakin jauh di jalan utama. Angin malam menerpa jasnya, namun ia tak bergerak sedikit pun.
Di bawah sana, halaman depan kembali sunyi.
Rumah itu menang.
Setidaknya begitulah yang dipikirkan Seraphina.
Namun entah kenapa, Damian justru merasa rumah itu baru saja kalah.
“Masuk. Udara dingin.”
Suara Seraphina terdengar dari belakang.
Damian tak menoleh.
“Kenapa Ibu mengusirnya malam ini?”
“Karena aku bisa.”
“Aku bertanya alasannya.”
Seraphina berjalan mendekat ke balkon dengan gelas wine di tangan.
“Aku tidak suka orang yang membuat rumahku kacau.”
“Elara tidak membuat kacau.”
“Oh ya?” Seraphina tertawa kecil. “Sejak dia datang, Selene mencuri, orang asing datang ke gerbang, dan kau mulai membantahku.”
Damian akhirnya menoleh.
“Jangan seret aku ke sini.”
“Kau sudah menyeret dirimu sendiri.”
Tatapan Seraphina tajam.
“Kau terlalu sering melihat perempuan itu.”
Damian mengerutkan rahang.
“Ini konyol.”
“Kalau begitu buktikan.”
“Bagaimana?”
“Lupakan dia.”
Seraphina meminum wine-nya, lalu berbalik pergi.
Sebelum masuk, ia menambahkan tanpa menoleh,
“Dia hanya pelayan.”
Pintu balkon tertutup.
Damian kembali memandang jalan kosong.
Entah mengapa, kalimat itu terdengar salah malam ini.
Di dalam mobil hitam, Elara duduk tenang di kursi belakang.
Lampu kota berkelebat di kaca jendela. Jalanan malam lengang. Interior mobil mewah itu harum kulit asli dan terlalu sunyi.
Viktor duduk di depan, sesekali menatapnya dari kaca spion.
“Nona… Anda baik-baik saja?”
“Saya baik.”
“Pipi Anda memerah.”
“Elara menatap pantulan wajahnya di kaca.”
“Nanti hilang.”
Viktor terdiam sejenak.
“Saya menyesal kami datang terlambat.”
“Kalian datang tepat waktu.”
“Namun Anda diusir.”
Elara tersenyum tipis.
“Kadang pintu harus ditutup… agar orang tahu mereka kehilangan apa.”
Viktor menunduk hormat.
Ia sudah mengenal gadis itu sejak kecil.
Tenang di luar.
Badai di dalam.
Mansion Moretti tampak ramai seperti biasa dari luar, tetapi para pelayan tahu sesuatu berubah.
Di dapur, Marta menaruh piring lebih keras dari biasanya.
Kepala pelayan mendesis pelan, “Pelan sedikit.”
“Biarkan pecah sekalian,” gerutu Marta.
“Kalau Madam dengar—”
“Aku tak peduli.”
Marta menyeka mata diam-diam.
“Anak itu pergi tanpa salah apa pun.”
Pelayan lain saling pandang.
Salah satu dari mereka berbisik, “Apa benar dia orang penting?”
Marta menoleh tajam.
“Yang penting bukan dia kaya atau tidak.”
“Lalu apa?”
“Dia punya harga diri. Itu lebih mahal dari rumah ini.”
Tak seorang pun menjawab.
Di kamarnya, Selene sedang menelepon sahabatnya sambil tertawa.
“Ya, akhirnya dia pergi.”
Ia berjalan mondar-mandir sambil memainkan rambut.
“Tidak, bukan dipecat biasa. Diusir malam itu juga.”
Ia mendengarkan beberapa detik lalu tersenyum puas.
“Tentu. Rumah ini kembali normal.”
Ketukan terdengar.
Selene menutup telepon.
“Masuk.”
Damian masuk tanpa menunggu izin.
Wajahnya datar.
Selene memutar mata.
“Kak, kalau soal tadi, aku sudah capek.”
“Aku cuma mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Kau sengaja memancing Ibu?”
Selene tersentak.
“Maksudmu?”
“Kau tahu Ibu akan marah kalau pria tua itu datang mencari Elara.”
“Itu bukan salahku.”
“Kau juga tahu Ibu benci merasa dipermalukan.”
Selene menyilangkan tangan.
“Jadi sekarang semua salahku?”
“Aku belum bilang begitu.”
“Tapi kau pikir begitu.”
Damian mendekat satu langkah.
“Kalung itu. Elara. Semua kejadian ini. Berapa banyak yang kau atur?”
Selene tertawa sinis.
“Wow. Jadi kau benar-benar membelanya.”
Damian diam.
Selene menyipitkan mata.
“Sayang sekali. Sekarang dia sudah pergi.”
Ia berjalan melewati Damian sambil berbisik,
“Dan kau… hanya diam seperti biasa.”
Langkah Damian terhenti.
Kata-kata itu menusuk karena benar.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota.
Elara menatap bangunan tinggi itu.
“Kita ke sini?”
“Tempat aman sementara, Nona. Sampai Anda memutuskan langkah berikutnya.”
Ia turun dari mobil.
Petugas lobi langsung membungkuk hormat pada Viktor.
Mereka naik ke penthouse lantai atas.
Saat pintu terbuka, Elara melihat ruang luas dengan jendela kaca dari lantai ke langit-langit, pemandangan kota penuh lampu, dan semua kenyamanan yang jauh dari kamar kecil staf di mansion Moretti.
Ia masuk perlahan.
Dua tahun hidup sederhana membuat kemewahan terasa asing lagi.
Viktor menyerahkan sebuah tablet.
“Semua laporan terbaru ada di sini.”
Elara menerimanya.
Layar menampilkan judul:
VASILIEV GROUP – STATUS DARURAT
Beberapa divisi rugi. Saham berfluktuasi. Dewan direksi terpecah.
Nama-nama yang ia kenal dari masa lalu kembali muncul seperti bayangan lama.
“Kakek benar-benar menunggu sampai separah ini?”
“Beliau berharap Anda kembali dengan kemauan sendiri.”
Elara tersenyum tipis.
“Beliau masih suka berjudi.”
“Dan kali ini taruhannya perusahaan.”
Elara berjalan ke jendela, menatap kota.
“Besok pagi aku menemui beliau.”
Viktor menunduk.
“Baik, Nona.”
Malam semakin larut.
Di mansion Moretti, Damian tidak bisa tidur.
Ia membuka laptop, menutupnya lagi.
Membaca dokumen, tak satu kata pun masuk ke kepala.
Akhirnya ia turun ke dapur mencari kopi.
Ruangan itu sepi.
Namun di sudut meja kayu, ada sebuah buku kecil tertinggal.
Ia mengambilnya.
Sampul polos tanpa nama.
Di dalamnya berisi tulisan tangan rapi.
Bukan diary.
Catatan angka.
Analisis.
Pergerakan saham.
Prediksi pasar properti.
Beberapa nama perusahaan besar.
Damian membalik halaman lebih cepat.
Catatan itu tajam, detail, dan lebih cerdas daripada banyak laporan eksekutif yang pernah ia baca.
Di halaman terakhir tertulis satu kalimat:
Orang sombong sering kalah bukan karena lawan kuat, tapi karena menganggap lawan lemah.
Tak ada tanda tangan.
Namun Damian tahu milik siapa itu.
Tangannya menegang.
“Elara…”
Ia baru sadar selama ini ia tak pernah melihat gadis itu dengan benar.
Pagi menjelang.
Seraphina duduk di meja makan sambil membaca berita sosialita.
“Kopi.”
Pelayan baru datang tergesa dan menuang terlalu penuh hingga menetes ke meja.
Seraphina langsung membentak.
“Bodoh! Elara selalu menuang tanpa tumpah!”
Ruangan mendadak sunyi.
Ia sendiri tersadar telah menyebut nama itu.
Selene pura-pura batuk menahan tawa.
Damian yang baru masuk hanya menatap ibunya sebentar lalu duduk.
Sarapan berlangsung canggung.
Roti terlalu gosong.
Jus terlalu dingin.
Bunga meja salah warna.
Hal-hal kecil yang dulu selalu beres… kini terasa berantakan.
Seraphina semakin kesal.
“Cari staf baru yang kompeten.”
Kepala pelayan menunduk.
“Baik, Madam.”
Damian memotong roti tanpa minat.
Ternyata satu orang bisa membuat rumah berjalan lebih baik daripada yang mereka sadari.
Sementara itu, di rumah sakit swasta paling elit di kota, lift VIP terbuka.
Elara melangkah keluar dengan setelan putih sederhana, rambut terurai rapi, wajah tenang tanpa seragam pelayan.
Perawat dan staf yang melihatnya spontan menoleh.
Viktor berjalan satu langkah di belakang.
Di depan pintu suite presiden, dua pengawal membuka jalan.
“Apakah beliau sadar?” tanya Elara.
“Menunggu Anda sejak subuh.”
Ia berhenti sejenak di depan pintu.
Dua tahun lalu ia pergi dengan amarah.
Hari ini ia datang membawa sesuatu yang lebih berbahaya.
Ketidakpedulian.
Pintu dibuka.
Seorang pria tua terbaring lemah di ranjang, namun matanya masih tajam seperti singa tua.
Tuan Octavian Vasiliev.
Begitu melihat Elara, sudut bibirnya terangkat.
“Kau akhirnya keluar dari kandang ayam itu.”
Elara menatapnya datar.
“Dan Kakek masih suka ikut campur.”
Pria tua itu tertawa pelan, lalu batuk.
“Duduk. Kita punya banyak nama untuk dihancurkan.”
Elara berjalan masuk.
Pintu suite tertutup di belakangnya.
Di tempat lain, gerbang mansion Moretti sudah tertutup.
Namun gerbang dunia yang jauh lebih besar… baru saja terbuka kembali.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄