Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sudah terlalu lama ia bertahan sendirian dan berpura-pura kuat. Dan malam itu untuk pertama kalinya, pertahanan Shaka benar-benar runtuh. Shaka mengangkat wajahnya perlahan, kedua matanya tampak merah dan basah, tatapannya penuh kehancuran saat menatap Ustadz Haidar.
“Gue ini manusia kotor, ustadz. Sudah terlalu banyak dosa yang gue lakukan." Air mata Shaka terus jatuh membasahi pipinya dan dengan suara yang hampir pecah, Shaka berkata, “Masih mungkinkah…” Ia menelan ludah susah payah. “Mungkinkah Tuhan mau nerima tobat manusia kayak gue?”
Ustadz Haidar menatap pemuda di hadapannya cukup lama. Perlahan, lelaki paruh baya itu kemudian berjongkok di hadapan Shaka hingga membuat posisi mereka sejajar. Gerakan itu sederhana namun entah kenapa membuat dada Shaka terasa semakin sesak karena selama ini hampir tidak pernah ada orang yang mau merendahkan dirinya hanya untuk sejajar dengannya. Dengan hati-hati, Ustadz Haidar mengangkat tangannya lalu mengusap bahu Shaka dengan lembut. Sentuhan itu membuat Shaka sedikit tersentak. Bukan karena kasar, justru karena terlalu hangat dan itu asing baginya.
“Anakku…” suara Ustadz Haidar terdengar pelan dan lembut. “Dengarkan aku baik-baik.”
Shaka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah dan dipenuhi rasa takut yang selama ini ia sembunyikan jauh di dalam dirinya. Ustadz Haidar menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya berkata,
“Semua manusia pernah berbuat salah. Semua manusia pernah berdosa.”
Angin malam kembali berhembus lembut dari jendela mushola, membawa hawa dingin yang menyusup pelan ke dalam ruangan. Namun suara Ustadz Haidar terasa hangat di tengah dinginnya malam itu.
“Tidak ada manusia yang hidup tanpa dosa.”
Tatapan ustadz Haidar tetap tertuju pada Shaka. “Bedanya…” Ia berhenti sejenak. “Tidak semua manusia mau kembali.” Air mata kembali menggenang di mata Shaka. Ustadz Haidar melanjutkan perkataannya dengan suara yang tetap tenang, “Dan selama seseorang masih ingin kembali kepada Allah, maka pintu ampunan itu masih terbuka.”
Shaka menatap lelaki itu tanpa berkedip. Dadanya terasa semakin penuh.
“Ampunan Allah itu luas, Nak.” Suara Ustadz Haidar begitu lembut. “Seluas langit dan bumi.” Kalimat itu membuat bibir Shaka bergetar. “Apa pun dosa yang pernah kamu lakukan, Allah tetap mampu mengampuninya.”
Air mata Shaka kembali jatuh. Ia langsung menundukkan wajahnya lagi. Tangannya mengepal di atas pahanya. Selama ini ia selalu berpikir kalau dirinya sudah terlalu rusak, kotor dan terlalu jauh tenggelam dalam dosa. Tidak mungkin ada jalan kembali untuk orang seperti dirinya. Namun malam ini, untuk pertama kalinya ada seseorang yang berkata bahwa dirinya masih punya harapan dan itu membuat sesuatu di dalam dirinya perlahan retak.
Shaka menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan berusaha menahan tangisnya yang kembali pecah namun ia gagal. Suara isaknya mulai terdengar pelan di dalam mushola. Ustadz Haidar tetap diam di hadapannya, membiarkan Shaka meluapkan semua perasaan yang selama ini ia tahan sendirian.
Setelah beberapa saat, Shaka akhirnya mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya masih dipenuhi air mata. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di sana. Kebingungan dan sedikit harapan yang samar.
“Kenapa…?” Kenapa bapak mau menolong saya?” tanya Shaka yang berusaha berbicara sopan kepada ustadz Haidar dengan suaranya yang serak dan membuat ustadz Haidar memperhatikannya. “Padahal bapak tahu siapa saya.” Shaka tertawa kecil. Tawanya terdengar pahit.
“Saya ini pengedar narkoba, pak. Saya hampir nusuk bapak tadi dan bahkan mengancam mau bunuh bapak. Tapi kenapa bapak masih mau menolong saya?”
Untuk sesaat suasana hening memenuhi mushola. Ustadz Haidar tersenyum tipis. Senyumnya terlihat begitu tenang lalu beliau berkata,
“Karena aku masih melihat kebaikan di dalam dirimu nak.”
Kalimat itu membuat Shaka membeku. Matanya langsung menatap Ustadz Haidar lekat-lekat. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kebaikan?” ulang Shaka dengan pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.
Ustadz Haidar mengangguk kecil.
“Aku masih melihat secercah harapan di dalam dirimu, nak.”
Dada Shaka terasa seperti dihantam sesuatu.
Selama ini orang-orang hanya melihat sisi buruknya sebagai kriminal, preman dan sampah masyarakat. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa dirinya masih punya kebaikan. Tidak ada. Dan sekarang, lelaki ini mengatakannya dengan begitu yakin seolah benar-benar percaya padanya. Pertahanan Shaka yang tadi sudah retak kini benar-benar hancur. Air matanya kembali jatuh dengan deras. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar hebat.
Ustadz Haidar yang tetap berada di hadapannya lalu perlahan mengangkat kedua tangannya. Matanya terpejam dan dengan suara lembut, ia mulai berdoa.
“Ya Allah…” Suara itu memenuhi mushola dengan tenang. “Engkau Maha Pengampun dan juga maha Penyayang.” Shaka perlahan menurunkan tangannya dari wajahnya. Tangisnya masih pecah saat mendengar doa itu. “Jika pemuda ini datang kepada-Mu dengan hati yang ingin bertobat, maka jangan tinggalkan dia, Ya Allah.” Air mata Shaka terus jatuh. Dadanya sesak. Namun untuk pertama kalinya rasa sesak itu terasa berbeda. Bukan karena takut melainkan karena hatinya yang selama ini mati rasa mulai tersentuh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak lama. “Ampunilah dosa-dosanya, lapangkan hatinya, dan tunjukkan jalan yang benar untuknya…”
Suara Ustadz Haidar terdengar begitu tulus, penuh harapan dan tanpa sadar Shaka ikut menundukkan kepalanya lebih dalam. Tangisnya perlahan berubah menjadi isak kecil yang tertahan.
Malam terus berjalan. Angin malam masih berhembus lembut. Dan mushola kecil itu menjadi saksi bagaimana seorang lelaki yang selama ini tenggelam dalam dunia gelap mulai menemukan secercah cahaya. Beberapa waktu berlalu. Tangisan Shaka perlahan mereda, napasnya sudah tidak seberantakan tadi meski matanya masih merah dan sembab. Ia mengusap wajahnya pelan lalu menarik napas panjang.
Ustadz Haidar masih berada di depannya dan menunggu dengan sabar. Shaka menatap lelaki itu beberapa detik cukup lama seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Dan memang begitu. Ada perang besar di dalam dirinya saat ini. Sebagian dirinya takut. Takut kembali jatuh. Namun sebagian kecil lainnya mulai ingin percaya. Percaya bahwa mungkin dirinya belum sepenuhnya terlambat untuk bertobat dan memperbaiki semua kesalahannya.
Shaka menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Saya capek hidup seperti ini, pak.” Suaranya terdengar serak. “Saya capek melarikan diri terus dari kejaran polisi.” Shaka mengepalkan tangannya pelan lalu dengan suara yang masih bergetar ia berkata, “Saya...” Ia berhenti sejenak, menelan ludahnya dengan susah payah. “Saya mau berubah, pak.” Ustadz Haidar menatapnya dengan lembut. “Saya mau bertobat. Saya mau kembali ke jalan Allah.”
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Shaka. Kalimat yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan ia ucapkan.
Ustadz Haidar tersenyum kecil. Senyum penuh syukur. Lalu ia mengangguk pelan.
“Kalau itu benar-benar yang kamu inginkan…”
Tatapannya terlihat hangat. “Maka aku akan dengan senang hati membimbing mu.”
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.