NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Persiapan Mati-matian

Malam pertama setelah tantangan, Seol kembali ke gua leluhur.

Kali ini ia tidak menyembunyikan langkahnya. Tidak ada gunanya lagi. Cheonmyeong sudah tahu ada sesuatu yang berubah. Moojin mungkin sedang mengawasi dari kejauhan. Tapi Seol tidak peduli. Yang ia butuhkan sekarang adalah kekuatan—dan hanya Gu yang bisa memberikannya.

Air terjun menderu seperti biasa, tetapi Seol melewatinya dengan lebih mudah dari sebelumnya. Tubuhnya yang dulu terseret arus kini bergerak dengan presisi, kakinya menemukan pijakan di antara bebatuan licin tanpa perlu berpikir. Qi kecil di dadanya berputar pelan, memberi kehangatan yang menangkal dinginnya air.

Saat ia memasuki ruang pemujaan, Batu Giwa sudah menyala terang, cahaya ungu kemerahannya memenuhi ruangan seperti api dingin.

“Kau datang,” kata Gu, nada sinisnya kembali. “Aku pikir kau akan kabur setelah tantangan bodoh itu.”

“Aku tidak kabur,” kata Seol sambil duduk bersila di depan altar. “Aku datang untuk berlatih.”

“Berlatih?” Gu tertawa pendek. “Kau punya waktu satu minggu untuk melawan pendekar level Hwanung yang telah berlatih sejak usia enam tahun. Dan kau pikir ‘berlatih’ cukup?”

Seol mengangkat wajahnya. “Apa yang harus kulakukan?”

Gu terdiam sejenak. Cahaya batu itu berdenyut lebih cepat, seperti detak jantung yang memanas.

“Apa yang akan kau lakukan,” kata Gu perlahan, “bukan sekadar berlatih. Ini adalah penyiksaan. Tubuhmu akan hancur. Meridianmu akan retak. Otot-ototmu akan robek. Dan jika kau selamat, mungkin—mungkin—kau akan memiliki cukup kemampuan untuk tidak mati dalam tiga menit pertama duel.”

Seol tidak bergeming. “Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.”

“Kau belum merasakan apa-apa.” Suara Gu menjadi lebih dalam, lebih berat. “Tapi jika itu yang kau inginkan… mari kita mulai.”

---

Neraka dalam Tujuh Malam

Gu tidak memberi Seol waktu untuk bernapas.

“Pertama,” kata Gu, “lupakan semua yang kau pelajari tentang pedang. Klan Ryu mengajarkan teknik pedang yang kaku, penuh pola, mudah ditebak. Lawan seperti Cheonmyeong—yang sudah hafal semua pola itu—akan membaca gerakanmu sebelum kau melakukannya.”

Seol berdiri di tengah ruang pemujaan, tangan kosong. Gu memerintahkannya membayangkan pedang di tangannya, meski tidak ada.

“Teknik yang akan kau pelajari disebut Pedang Bayangan,” lanjut Gu. “Namanya bukan kiasan. Teknik ini mengajarkanmu untuk menciptakan bayangan dari pedangmu—ilusi yang tidak bisa dibedakan dari yang asli. Lawan akan melihat tiga, empat, lima pedang sekaligus, dan tidak tahu mana yang nyata.”

Seol mengerutkan kening. “Bagaimana caranya?”

“Dengan qi. Kau akan mengalirkan qi ke dalam pedang—atau dalam kasusmu, ke dalam tangan kosongmu dulu—dan menciptakan getaran yang membingungkan mata lawan. Tapi itu hanya efek permukaan. Inti dari Pedang Bayangan bukanlah membingungkan mata, tetapi membingungkan indra qi lawan.”

Gu menjelaskan dengan detail yang rumit. Seol berusaha menangkap setiap kata, tetapi konsep itu terasa seperti kabut yang sulit diraih.

“Cukup bicara,” potong Gu tiba-tiba. “Coba.”

Seol mengangkat tangan kanannya. Ia membayangkan ada pedang di sana, mengalirkan qi kecil yang ia miliki ke ujung jari.

Tidak ada yang terjadi.

“Bayangan,” kata Gu tajam. “Bukan cahaya. Kau menciptakan cahaya, bukan bayangan. Salah.”

Seol mencoba lagi. Kali ini ia membayangkan sesuatu yang gelap, sesuatu yang samar, sesuatu yang bergerak di tepi penglihatan.

Tangannya bergetar. Untuk sesaat, tampak seperti ada dua tangan—tapi hanya sesaat, lalu menghilang.

“Terlalu lemah,” kata Gu. “Ulang.”

Seol mencoba. Gagal. Mencoba. Gagal. Mencoba. Gagal.

Setiap kegagalan diikuti oleh hantaman qi Gu yang menusuk tubuhnya seperti cambuk. Bukan hukuman, kata Gu, tetapi cara untuk membuka jalur qi yang tersumbat. Setiap hantaman itu membuat Seol menjerit menahan sakit, meridiannya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa.

Setelah dua jam, tubuh Seol basah oleh keringat dan darah—bukan darah luar, tetapi darah dari dalam yang keluar melalui pori-pori karena tekanan qi yang terlalu besar.

“Istirahat,” perintah Gu.

Seol jatuh berlutut. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak bisa merasakan jari-jarinya.

“Kita lanjut satu jam lagi,” kata Gu.

“Aku… aku tidak bisa…” Napas Seol tersengal.

“Kau bisa.” Suara Gu tidak memberi ampun. “Kau bilang kau ingin membuktikan bahwa kau bukan sampah. Tapi jika kau menyerah di sini, kau benar-benar sampah.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada hantaman qi mana pun.

Seol teringat hari ujian. Tawa Cheonmyeong. Tatapan tetua. Bisik-bisik di belakang punggungnya.

Sampah.

Ia mengepalkan tangannya. Jari-jarinya yang mati rasa tiba-tiba terasa panas.

“Sekali lagi,” katanya.

Ia berdiri. Tangannya terangkat. Ia membayangkan bayangan—bukan cahaya, bukan ilusi, tetapi bayangan. Sesuatu yang lahir dari kegelapan, yang bergerak tanpa suara, yang tidak bisa ditangkap oleh mata atau indra.

Qi-nya mengalir. Bukan deras, tetapi pelan, merembes melalui meridian yang retak, keluar melalui ujung jari.

Dan di udara di depannya, untuk sepersekian detik, tampak seperti ada dua tangan.

Bukan bayangan kabur seperti sebelumnya. Dua tangan yang jelas, padat, nyata.

Lalu menghilang.

Keheningan.

“Lagi,” kata Gu, dan kali ini nadanya berbeda. Bukan perintah, tetapi… dorongan.

Seol melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Setiap kali, bayangan itu bertahan lebih lama. Setiap kali, bentuknya lebih jelas. Setiap kali, qi-nya mengalir lebih lancar meski rasa sakit terus menggerogoti.

Pada percobaan ke-37, bayangan itu bertahan selama tiga detik penuh.

Seol jatuh. Ia tidak bisa bangkit lagi. Tubuhnya seperti habis dihancurkan oleh roda gerinda raksasa.

“Cukup untuk malam ini,” kata Gu. Suaranya lembut—lembut yang belum pernah Seol dengar sebelumnya. “Kau sudah melakukan lebih dari yang kukira.”

Seol berbaring telentang di lantai batu yang dingin, matanya terbuka ke langit-langit gua yang gelap. Napasnya masih tersengal, tetapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang hangat.

Bukan qi.

Kebanggaan.

---

Malam Ketiga – Titik Terendah

Dua malam berlalu. Seol berlatih tanpa henti. Tubuhnya yang kurus kini dipenuhi memar biru kehitaman, bekas hantaman qi Gu yang membuka jalur meridiannya. Setiap gerakan terasa seperti menyiksa, tetapi ia terus bergerak.

Pedang Bayangan-nya kini bisa bertahan hingga sepuluh detik. Gu bilang itu sudah cukup untuk membingungkan lawan biasa. Tapi Cheonmyeong bukan lawan biasa.

“Masih belum cukup,” kata Gu setelah Seol menyelesaikan serangkaian latihan. “Kecepatanmu terlalu lambat. Reaksimu masih terasa seperti air mengalir di musim dingin. Kau harus lebih cepat.”

“Aku sudah secepat yang aku bisa,” jawab Seol, napasnya terengah.

“Belum.” Gu menghela napas—sesuatu yang tidak perlu dilakukan oleh jiwa yang terperangkap. “Ada satu cara untuk mempercepat perkembangammu. Tapi kau tidak akan menyukainya.”

“Apa itu?”

“Aku akan membanjiri meridianmu dengan qi-ku. Secara paksa. Seperti sungai yang dibendung lalu dibuka sekaligus. Meridianmu akan terpaksa melebar untuk menampung aliran itu.”

Seol merasakan bulu kuduknya berdiri. “Apa risikonya?”

“Meridianmu bisa hancur. Permanen. Kau tidak akan pernah bisa menggunakan qi lagi seumur hidup.” Gu berhenti. “Tapi jika berhasil, kecepatan latihanmu akan berlipat ganda. Dalam tiga hari, kau bisa mencapai apa yang biasanya butuh tiga bulan.”

Seol terdiam. Ia menatap tangannya yang gemetar—bukan karena takut, tetapi karena kelelahan.

Jika aku gagal, semuanya berakhir. Aku kembali menjadi sampah. Selamanya.

Ia teringat wajah Cheonmyeong saat menantangnya. Senyum predator itu. Keyakinan bahwa ia akan menang.

“Kau bisa menolak. Tapi semua orang akan tahu bahwa kau masih sampah.”

Seol mengangkat kepalanya.

“Lakukan.”

Gu tidak menjawab. Tapi Seol merasakan Batu Giwa bergetar. Getaran itu merambat ke lantai, ke dinding, ke udara di sekitarnya. Cahaya ungu memenuhi ruangan, semakin terang, semakin panas, hingga Seol harus menutup matanya.

Dan kemudian qi itu datang.

Bukan aliran kecil seperti yang biasa ia rasakan. Ini adalah banjir. Gelombang qi yang membabi buta menghantam meridiannya seperti air bah yang menerobos bendungan.

Seol menjerit.

Ia tidak pernah menjerit sekeras ini dalam hidupnya. Tidak saat jatuh dari tebing saat kecil. Tidak saat Cheonmyeong memukulinya dulu. Jeritan ini keluar dari lubuk terdalam tubuhnya, dari setiap serat otot yang robek, dari setiap meridian yang retak.

Ia merasakan tubuhnya terbakar dari dalam. Kepalanya terasa seperti akan meledak. Matanya—ia tidak bisa melihat apa pun selain cahaya ungu yang menyilaukan.

Matilah. Aku akan mati di sini.

Pikiran itu datang begitu saja. Dan untuk sesaat, ia ingin menyerah. Hanya berhenti. Membiarkan semuanya berakhir.

Tapi kemudian ia mendengar suara.

Bukan suara Gu. Bukan suara dari luar.

Suara dari dalam dirinya sendiri.

“Kau bilang kau ingin membuktikan bahwa kau bukan sampah.”

Itu adalah suaranya sendiri. Suara yang ia kubur selama tujuh belas tahun. Suara yang terus berbisik setiap malam, setiap kali ia terjatuh, setiap kali ia diremehkan.

“Bangun.”

Seol membuka matanya.

Ia tidak tahu kapan ia terjatuh. Tubuhnya terbaring di lantai batu, darah keluar dari hidung dan telinganya. Tangannya—tangannya menggenggam lantai dengan erat, kuku jarinya patah karena menekan batu terlalu keras.

Qi masih mengalir. Tidak sekeras tadi, tetapi masih deras. Meridiannya—ia bisa merasakannya—melebar, retak, lalu melebar lagi. Setiap detik adalah siksaan.

Tapi ia masih hidup.

“Aku… masih…” suaranya parau, hampir tidak terdengar.

“Kau masih di sini.” Suara Gu terdengar dari kejauhan, seperti dari balik kabut tebal. “Tapi ini baru setengah. Masih ada setengah lagi.”

Seol tertawa. Tertawa pendek dan parau, di antara rasa sakit yang luar biasa.

“Lakukan,” katanya.

Qi itu datang lagi. Gelombang kedua lebih dahsyat dari pertama. Seol tidak bisa menjerit lagi—suaranya habis. Ia hanya membuka mulut lebar-lebar, mata terbelalak, tubuhnya melengkung seperti busur yang ditarik terlalu kencang.

Dan kemudian—kegelapan.

---

Saat Seol Tak Sadar

Ia bermimpi.

Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah lapangan luas, dikelilingi oleh bayangan-bayangan. Wajah Cheonmyeong. Wajah tetua. Wajah semua orang yang pernah mengejeknya.

Mereka tertawa. Tertawa seperti biasanya.

Dan Seol berdiri di tengah-tengah mereka, tangan kosong, tubuh telanjang, tidak memiliki apa pun.

Sampah. Sampah. Sampah.

Ia ingin berlari. Tapi kakinya tidak bergerak.

Ia ingin berteriak. Tapi mulutnya terkunci.

Dan kemudian, di tengah kerumunan bayangan itu, ia melihat satu sosok yang berbeda.

Seorang pria dengan jubah putih, rambut panjang terurai, pedang panjang tersandang di punggung. Wajahnya tidak jelas, tetapi ada sesuatu yang familiar.

“Kau bukan sampah,” kata pria itu.

Seol ingin bertanya siapa dia, tetapi sebelum ia sempat, pria itu menghilang.

Dan Seol terbangun.

---

Fajar Hari Keempat

Seol membuka matanya.

Ia berbaring di lantai ruang pemujaan. Di atasnya, langit-langit gua yang gelap tampak berputar perlahan. Tubuhnya—anehnya—tidak lagi terasa sakit. Tidak ada rasa apa pun. Seperti tubuh ini bukan miliknya.

“Kau selamat.” Suara Gu terdengar lelah. Sangat lelah. Seperti setelah pertempuran besar. “Aku hampir kehilanganmu.”

Seol mencoba menggerakkan jarinya. Bisa. Ia menggerakkan tangan, lalu lengan, lalu duduk.

Tubuhnya terasa… berbeda. Ringan. Seperti ada beban yang selama ini menekan bahunya tiba-tiba terangkat.

“Coba rasakan qi-mu,” kata Gu.

Seol menutup mata. Ia mencari pusaran kecil yang biasa ia ciptakan.

Dan ia terpaku.

Bukan pusaran kecil. Bukan genangan air di telapak tangan. Qi-nya sekarang seperti sungai—mengalir deras, tenang, dalam. Meridiannya yang dulu sempit seperti anak sungai kini melebar, kuat, mampu menampung aliran yang jauh lebih besar.

“Apa yang… apa yang terjadi?”

“Meridianmu terbuka. Sepenuhnya.” Gu menghela napas panjang. “Kau tidak hanya selamat. Kau berhasil mencapai level Hwanin sejati. Bukan seperti kebanyakan orang yang butuh waktu bertahun-tahun. Tapi Hwanin yang murni, yang sesuai dengan metode kuno.”

Seol menatap tangannya. Ia mengangkat tangan kanan, mengalirkan qi ke ujung jari.

Dan di depannya, sebuah bayangan muncul.

Bukan ilusi kabur seperti sebelumnya. Bayangan itu padat, jelas, nyata. Sebuah tangan—persis seperti tangannya sendiri—terbentuk di udara, bertahan selama sepuluh detik sebelum menghilang.

“Pedang Bayangan,” kata Gu, nada bangga menyelinap di antara kelelahan. “Tingkat dasar. Kau sudah menguasainya.”

Seol menatap tangannya dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Kekuatan.

Bukan kekuatan untuk menyakiti. Bukan kekuatan untuk membalas dendam.

Tapi kekuatan untuk berdiri. Untuk tidak jatuh. Untuk tidak lagi menjadi sampah.

“Gu…” katanya, suaranya bergetar.

“Jangan berterima kasih dulu,” potong Gu. Suaranya menjadi serius. “Ada hal lain yang harus kau tahu. Tentang Cheonmyeong.”

Seol mengangkat kepalanya.

“Dua malam yang lalu, saat kau berlatih, aku memperluas indraku ke seluruh desa. Aku merasakan qi dari kediaman utama. Qi yang… berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Gelap. Kotor. Seperti qi yang berasal dari teknik terlarang.” Suara Gu dingin. “Cheonmyeong tidak hanya berlatih teknik klan. Dia diam-diam mempelajari Kitab Pedang Iblis—teknik yang dilarang oleh pendiri klan kalian sendiri. Teknik yang menggunakan darah dan rasa sakit sebagai penggerak qi.”

Seol merasakan dingin menjalari punggungnya. “Dari mana dia mendapatkannya?”

“Tidak tahu. Mungkin dari relik kuno yang tersisa di klan. Mungkin dari seseorang di luar. Yang penting, dengan teknik itu, kekuatannya tidak hanya di level Hwanung biasa. Dia bisa mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi—dengan harga yang harus dibayar kemudian.”

“Harga apa?”

“Teknik iblis selalu meminta korban. Lambat laun, ia akan kehilangan kemanusiaannya. Tapi untuk sekarang…” Gu berhenti. “Untuk sekarang, ia lebih berbahaya dari yang kukira.”

Seol mengepalkan tangannya. “Apakah itu berarti aku tidak bisa menang?”

Gu tidak menjawab segera. Cahaya batu itu berdenyut pelan, seperti sedang berpikir.

“Kau tidak bisa mengalahkannya dalam pertarungan langsung,” kata Gu akhirnya. “Tapi kau tidak perlu mengalahkannya. Yang kau butuhkan adalah bertahan. Bertahan cukup lama untuk membuatnya menggunakan teknik terlarang itu di depan semua orang. Begitu tetua melihatnya, mereka akan menghentikan duel. Dan Cheonmyeong akan kehilangan muka di depan seluruh klan.”

Seol mengangguk pelan. “Itu strategimu?”

“Itu satu-satunya cara kau bisa keluar dari arena dengan selamat.” Suara Gu melembut. “Aku tahu kau ingin mengalahkannya. Aku tahu kau ingin membalas semua penghinaan. Tapi percayalah padaku, bocah—waktumu akan datang. Tapi bukan sekarang.”

Seol menatap tangannya yang gemetar. Di dalam dadanya, qi mengalir deras—lebih deras dari sebelumnya. Tapi ia tahu itu belum cukup. Jauh dari cukup.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan bertahan.”

“Bagus.” Gu menghela napas lega. “Sekarang istirahat. Besok malam, kita latihan lagi. Ada teknik bertahan yang harus kau kuasai sebelum duel.”

Seol berbaring kembali di lantai batu. Kelelahan mulai merayap masuk, tetapi pikirannya masih jernih.

Cheonmyeong menggunakan teknik terlarang. Cheonmyeong yang selama ini dianggap sempurna, ternyata menyimpan rahasia gelap.

Dia tidak sehebat yang semua orang kira. Dia hanya pengecut yang mencari jalan pintas.

Seol tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, bayangan Ryu Cheonmyeong—yang selama ini menjulang tinggi di benaknya—mulai tampak… lebih kecil.

---

Di Kediaman Utama – Malam yang Sama

Cheonmyeong berdiri di ruang bawah tanah kediamannya, sebuah tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali ia sendiri. Dinding ruangan ini dipenuhi ukiran-ukiran kuno—ukiran yang menggambarkan pedang berdarah, tengkorak, dan iblis-iblis berwajah manusia.

Di tangannya, sebuah kitab tua terbuka. Halaman-halamannya berwarna merah kecoklatan—warna darah tua.

“Kitab Pedang Iblis,” gumamnya, membaca baris demi baris. “Pengorbanan darah untuk kekuatan sejati.”

Ia mengangkat tangan kirinya. Di telapak tangan itu, ada luka sayatan segar. Darah menetes ke lantai, membentuk pola yang aneh—pola yang sama dengan ukiran di dinding.

Qi gelap mulai terbentuk di sekelilingnya. Qi yang tidak berasal dari alam, tetapi dari rasa sakit, dari amarah, dari kebencian yang terpendam.

“Ryu Seol,” bisiknya, dan senyumnya melebar menjadi senyum yang tidak lagi tampak seperti milik manusia. “Kau pikir kau bisa menandingiku? Kau pikir kau bisa bangkit dari keterpurukan?”

Darah terus menetes.

“Aku akan menunjukkan padamu artinya menjadi sampah sejati.”

Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Daun-daun kering beterbangan, menari dalam pusaran kecil sebelum akhirnya jatuh ke tanah dan hancur.

Pusaran yang sama seperti yang diajarkan Gu pada Seol.

Tapi kali ini, tidak ada yang memperhatikan.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!