Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 Pembalasan Nandini
"Maaf, Gus Yasa. Tadi Mbak Dini sudah tidur. Jadi perlu waktu, untuk dibangunkan." Santaka dan Nandini duduk di dekat Abyasa. Tangan mereka masih saling menggenggam.
Nandini melipat bibir. Kepalanya tertunduk. Ia meremas genggaman tangannya dan sang suami. Inginnya ia menegakkan kepala dan membentak Ahsan yang membuat suaminya belum ke kamar hingga selarut ini.
"Mbak Dini, pasti Gus Taka sudah cerita sekilas tentang kenapa Mbak Dini diminta ke sini." Abyasa menatap karpet merah yang mereka duduki.
Nandini menganggukkan kepala. "Nggih, Gus Yasa." Ia berusaha menekan suaranya.
Ahsan menatap Nandini lalu menunduk lagi. Santaka melihatnya. Harusnya ia rekam kelakuan sepupunya itu. Sebagai bukti, matanya kurang dijaga. Koreksi, tak dijaga.
"Jadi... Gus Taka merasa kalau Gus Ahsan sudah melampaui batas dengan sering ngajak Mbak Dini berinteraksi, berdua saja. Apa itu benar?" Abyasa menipiskan bibirnya.
Nandini menghela napas. Ia menoleh ke arah sang suami. "Iya, Gus Yasa. Gus Ahsan beberapa kali ngehampirin Dini waktu Dini manasin mobil Gus Taka. Ngajak ngobrol."
Nandini melipat bibirnya. Ahsan melihatnya, ia ikut melipat bibir.
"Terus respon Mbak Dini bagaimana?" kejar Abyasa.
"Ndak gimana-gimana, Gus Yasa. Selayaknya saja, ditanya, Dini jawab. Tapi ndak pernah Dini yang memulai."
Santaka mengelus tangan istrinya. Ia menatap tajam Ahsan. Yang ditatap, menatap balik. Kilatan listrik seperti mengalir di antara kedua pasang mata mereka.
"Tolong diperjelas, selayaknya Mbak Dini itu seperti apa?" Abyasa menatap Santaka.
Dahi Nandini mengerut. Apa standarku rendah banget? Sampai ditanya seperti itu.
Santaka kembali mengelus punggung tangan Nandini dengan ibu jarinya. Ia beri tekanan sedikit. Nandini menekan balik jari besar itu.
"Jadi... Dini jawab salam Gus Ahsan. Ditanya sedang apa, ya Dini jawab, apa adanya. Sudah, semacam itu. Dini ndak pernah bertanya balik. Dini tahu itu ndak baik.
Lagipula ndak lama keadaan berduanya, Gus Taka biasanya datang. Setelah itu, Gus Ahsan pergi." Nandini menatap Abyasa sekilas kemudian kembali menunduk.
Mansur mengelus janggutnya. Ia tersenyum tipis. Lega, menantu awamnya sudah banyak menyesuaikan diri.
"Menurut pengakuan Gus Ahsan, Mbak Dini pernah bantu benerin motor Gus Ahsan. Apa benar?" cecar Abyasa.
Santaka menahan napas. Berharap Ahsan besar mulut saja.
Nandini terdiam. "Iya, betul itu Gus Yasa, Dini memang pernah bantu ngecek motor Gus Ahsan."
Bahu Santaka melunglai. Ia menipiskan bibir. Dalam hati ia mempertanyakan kenapa istrinya tak menceritakan hal seperti itu padanya.
Ahsan melihat gestur Santaka. Senyum miring tercetak di bibirnya. Ternyata Nandini lebih suka suaminya tak tahu mengenai aktivitas mereka tempo hari.
Mansur menegakkan tubuhnya. Mahmud menatap anaknya.
"Coba dijelaskan kronologisnya, Mbak." Abyasa melirik sekilas adik iparnya.
Nandini merasa genggaman suaminya melemah. Ia tak mau kehilangan pegangan. Ia kencangkan lagi genggaman tangan mereka.
Santaka menoleh ke arah istrinya. Ia berusaha mengeluarkan senyum manis untuk sang istri, namun ia tegang menunggu jawaban lanjutan Nandini.
"Jadi... Gus Ahsan nelpon Dini, ka..."
"Telpon Mbak Dini? Jadi Gus Ahsan tau nomor Mbak Dini?" tukas Abyasa.
Santaka merapatkan bibirnya. Ia tak menyangka sang sepupu menyimpan nomor ponsel istrinya. Dan lagi, Nandini tak bercerita itu padanya.
"Tolong jangan dulu berpikiran jelek, Gus Yasa. Gus Ahsan tau nomor Dini, sebelum Dini nikah sama Gus Taka. Dulu itu adalah hal yang lumrah, pelanggan bengkel simpen nomor Dini.
Kadang kan motor mereka tinggal, mereka minta dikabarin kalau udah selesai diservis. Atau misal mau nanya tentang motor. Sebatas itu saja.
Dulu Dini pun ndak pernah ada kontak sama Gus Ahsan, selain urusan motor. Hubungan kami profesional, murni urusan bengkel. Bahkan Dini baru tau kalau Gus Ahsan itu gus, sebelum nikah sama Gus Taka."
Santaka kembali mengelus tangan sang istri. Hatinya tenang mendengar klarifikasi sang istri, walau penjelasan itu belum selesai.
"Oh seperti itu...." Abyasa menganggukkan kepalanya. "Teruskan ceritanya, Mbak Dini. Setelah Gus Ahsan telpon bagaimana."
"Gus Ahsan bilang sama Dini, kalau motornya mbrebet-mbrebet, minta dicek sama Dini. Dini sudah nolak. Dini bilang bawa saja ke bengkel Bapak. Gus Ahsan nolak...."
Santaka menatap tajam Ahsan. Sepupunya itu memalingkan wajah. Rahangnya mengetat. Padahal Ahsan sudah bisa menduga hal ini terjadi. Tetap saja ia kesal. Biarlah, yang penting ia sudah meniup sedikit bibit retak di antara pasutri itu.
"Gus Ahsan maksa. Dini sudah menolak, ndak cuma sekali...." Nandini tersenyum sinis. Ia menceritakan apa adanya.
"Tapi kan ujung-ujungnya, akhirnya Mbak Dini bantu juga." Mahmud memotong ucapan Nandini. Wajah pria paruh baya itu keruh.
"Sudahlah Yasa, ini sudah sangat larut. Sudah hampir setengah tiga. Mau sampai kapan kita sidang, Mas? Intinya Taka itu cuma paranoid, ketakutan. Wong istrinya memang nanggepin Ahsan. Sudahlah islah saja. Jangan membesar-besarkan masalah."
Nandini merengut. Apa sih bapaknya si Ahsan? Bener-bener seenaknya ambil kesimpulan. Nanggepin apaan?
"Maaf Paklik, sudah jelas, istri Taka ndak nanggepin Gus Ahsan." Santaka menatap Mahmud sejenak, kemudian menunduk.
Nandini menatap suaminya. Aaa suamiku, kamu memang terbaik....
"Iya... Definisinya perlu kita seragamkan. Maksudnya nanggepin sebagai temen. Jadi Ahsan memang anggap Mbak Dini sebagai teman, dan itu ndak boleh. Salah.
Tetap saja, walaupun Mbak Dini itu seperti laki-laki, hobinya mesin, tetep bukan mahrom. Ingat itu, Gus Ahsan." Mahmud menatap tajam putra bungsunya.
Santaka menggelengkan kepalanya. Mahmud benar-benar berhasil membelokkan inti masalah.
"Mas Yasa, Abi ambil alih. Taka, sampeyan sudah cukup, ndak ada lagi yang perlu dijelaskan?" Mansur memandang Santaka.
Suami Nandini itu tercenung. "Taka minta Gus Ahsan, menjaga batasan. Jaga pandangan dan jangan lagi deketin Mbak Dini, apalagi kalau Mbak Dini lagi sendirian."
Nandini memberanikan diri mengelus lengan suaminya. Toh, ini bukan bentuk bermesraan yang vulgar. Ahsan menatap adegan itu. Iri merajai hati.
"Abi setuju. Bagaimana pun syariat yang kita jadikan patokan. Tolong Gus Ahsan untuk menjaga hal itu." Mansur menganggukkan kepala.
"Setuju. Sampeyan setuju kan, San?" Mahmud mendelik ke arah anaknya. Ahsan mengangguk. Wajahnya datar.
"Wis, Paklik mau istirahat. Nanti pagi sudah mau jalan lagi. Muka Paklik boleh awet muda, stamina ya ndak bohong. " Mahmud berdiri.
Nandini melirik ke arah Mahmud. Dhih, pede banget bapaknya si Ahsan. Kayaknya NPD deh. Untung mertuaku Abi.
"Mas, aku pamit tidur dulu. Ahsan, ayo." Mansur menganggukkan kepala kepada adiknya. Mahmud berjalan tegak. Langkahnya diekori oleh Ahsan.
"Taka, antar istri sampeyan, lalu kita ke kamar Abi. Ada yang mau Abi sampaikan. Mas Yasa ikut juga." Mansur bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
Santaka menggenggam tangan Nandini. Ia kesal sang ayah masih ada agenda lagi. Ia sudah sangat lelah. Tak sabar juga melihat tanktop Nandini lagi. Astagfirullah, maaf Abi.
Nandini melepaskan tautan wajahnya dengan sang suami. Santaka kembali melakukan aksi colongan. "Mas, ditunggu Abi itu."
"Oh iya... Adek kalau ngantuk banget, tidur saja ya. Kasian belum tidur." Santaka mengelus bibir Nandini yang semakin tebal saja. Akibat ulahnya. Nandini mengangguk.
Santaka keluar dan menuju kamar sang ayah. Nandini perlahan juga ikut keluar kamar. Ada yang perlu ia lakukan.
Santaka kembali ke kamar hampir setengah empat. Sebentar lagi Subuh. Ia lihat istrinya sudah terlelap. Ternyata Nandini kelelahan. Wajar.
Santaka pun sangat mengantuk, tapi tanktop itu memanggil-manggil dirinya. Ia menggigit bibir. Tangannya mengelus pinggang istrinya. Nandini bergeming.
Akhirnya rasa sayang Santaka pada Nandini kembali mengalahkan egonya. Ia tersenyum dan mengecup sekilas bibir sang istri. Matanya yang lelah turut menutup.
Nandini terkejut mendengar gedoran pintu. "Mbak Dini, Mbak Dini...." Sarah, siapa lagi?
Dengan langkah terhuyung, Nandini menghampiri pintu. Ia terkesiap mengingat baju tidur yang ia kenakan. Ia pakai mukenanya. "Ya, Ning Sarah."
"Mbak, kok belum bangun sih? Saya tau habis ada sidang tengah malem, tapi sebentar lagi kan Paklik Mahmud mau jalan. Ayo cepetan. Bangunin juga Gus Taka." Sarah langsung membalikkan badan, menuju ruang dalam.
Nandini buru-buru melepas mukena dan mandi. Santaka terkejut melihat jam dinding. Pukul 5. Ia belum salat Subuh sementara kamar mandi masih dipakai sang istri. Ia bergegas ke masjid.
Dari masjid, Santaka tidak bisa langsung kembali ke kamar. Danendra mengajaknya bicara mengenai sidang tengah malam tadi. Ketika Santaka kembali ke kamar, Nandini sudah raib.
Sesuai dugaan Santaka, istrinya ada di ruang dalam, bersama penghuni Ndalem yang lain. Mereka sedang bersiap sarapan sebagai bentuk jamuan sebelum Mahmud meninggalkan Ndalem.
Nandini terlihat menipiskan bibir mendengar perkataan Mahmud. "Nah, ini suaminya datang."
Santaka mengerutkan alis. Mahmud mencebik. "Paklik, bilang sama Mbak Dini supaya sabar ngadepin sampeyan yang ndak mau dakwah di pondok. Gus yang agak laen memang sampeyan."
Suasana canggung terasa di ruangan itu. Hanya tawa dan suara Mahmud yang terdengar mendominasi.
"Anakku sebentar lagi balik ke Al Fatih. Jangan kamu ngenyek lagi, Mud. Keponakan sendiri kamu ejek terus," tegas Mansur. Santaka tersenyum kepada sang ayah. Mansur membalas tersenyum, tipis.
Supir Mahmud tiba-tiba datang tergopoh-gopoh. "Nyuwun pangapunten, Yai. Tiga ban mobil Yai, kempes."
Mata Mahmud membelalak. "Gimana bisa?"
Santaka menoleh ke arah sang istri. Nandini mengedipkan sebelah matanya sambil senyum-senyum.
Santaka menganga. Jangan-jangan ini ulah istri montirnya? Ia bertanya dengan kode mengangkat alis dan melirik ke arah Mahmud. Nandini tersenyum sambil menganggukkan kepala.
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj