Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayyaku
"Segera bawakan segala informasi tentang wanita itu kepadaku," titah Marsel pada Alex.
Bos Mafia penguasa dunia bawah tersebut kembali terbayang akan sosok Rayya tadi, apalagi ciuman mereka yang menurut nya belum selesai.
Seakan Ia sudah tidak sabar harus mendapatkan Rayya sesegera dan secepat mungkin.
"Baik, Bos."
Tanpa bertanya Alex langsung setuju.
Jangan tanya bagaimana Alex bisa tahu siapa gadis yang Marsel katakan.
Tentu saja Ia tidak tahu siapa, tapi Alex akan segera cari tahu dan secepatnya memberikan apa yang di minta oleh Marsel.
Sementara itu, Rayya yang tadi berlari menjauh akhirnya bernafas lega begitu melihat kemunculan sang Papa dari kejauhan.
"Apa yang terjadi dengan mu, Rayya?"
Kekhawatiran terlihat jelas pada wajah Rio dan lekas mendekati Rayya yang nampak cemas dan ketakutan.
"Papa ngapain di sini malam-malam begini?" tanya Rayya.
Walau ia senang dan akhirnya merasa aman, tapi Rayya tetap penasaran dengan apa yang Rio, Papanya kenapa ada di sana.
Namun di samping itu, Rayya masih teringat dengan pria aneh tadi, tanpa sadar Rayya memegang singkat bibirnya dan kesal dalam hati. Ingin sekali Ia menghajar orang tadi sampai babak belur, tapi sayang nya pria tadi selain gila terlihat sangat menakutkan.
"Papa cemas padamu, Nak. Sudah lewat tengah malam begini tapi belum juga pulang," kata Rio bingung melihat tingkah aneh Rayya, apa yang telah terjadi pada anaknya itu malam-malam begini.
"Hehehe. Bukan apa-apa," Rayya menyengir tidak ingin bercerita hal memalukan tadi. Ia kemalaman karena harus membantu teman nya di rumah sakit yang terlambat datang menggantinya bekerja malam.
"Ayo, Pa. Sebaiknya kita langsung pulang,"
tambah Rayya tidak ingin berlama-lama lagi dan ingin langsung pergi dari sana.
"Tunggu, kamu belum mengatakan apa yang telah terjadi sampai ketakutan seperti tadi," tahan Rio ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Rayya.
"Aman Pa. Yuk, kita pulang."
Rayya tidak ingin Rio bertanya lagi dan jangan sampai Rio kembali menemui orang gila tadi, semua bisa panjang cerita nya kalau itu sampai terjadi.
Rayya langsung menarik pelan lengan Rio agar mereka segera pergi, walau pria itu terlihat masih menatap di arah kemunculan Rayya, berharap menemukan sesuatu yang membuat Rayya bersikap seaneh itu. Namun karena tarikan Rayya, membuat Rio terpaksa ikut saja.
________________
"Rayya! Rayya!"
Panggilan yang terdengar tergesa dan mendesak. Rayya yang bingung dengan tingkah teman nya itu pun melihat dengan aneh pada Kayla yang kini sedang terlihat mengatur nafasnya yang tersengal karena berlarian mencari dirinya di mana-mana.
"Ada apa, Kay?" tanya Rayya.
Ia yang baru saja selesai membersihkan pasien dan merasa Kayla cukup berisik di dekat orang yang tengah sakit.
"Kita bicara di luar saja ya. Nanti pasiennya terganggu."
Kayla yang baru tersadar segera mendekap mulut nya, Ia tadi bahkan berteriak memanggil Rayya.
"Maaf untuk ketidak nyamanan nya ya, Bu," ucap Rayya lembut pada pasien yang terlihat nampak sudah lansia. Pasien tua itu hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa.
Setelah nya, Rayya menarik Kayla keluar.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Rayya lagi. Jika Kayla sampai berteriak seperti tadi saat mencarinya, sudah pasti ada hal serius.
"Aku yang harus nya bertanya ada apa, Rayya.... Apa yang sudah kamu lakukan?"
Suara Kayla kini terdengar tegang.
Rayya yang tidak tahu apa maksud perkataan Kayla malah bingung. Memang nya apa yang sudah dirinya lakukan? Rayya rasa tidak melakukan suatu yang salah akhir-akhir ini.
"Kayla, bicara yang jelas. Jangan main tebak-tebakan dengan ku," ujar Rayya membalas perkataan tegang dari Kayla.
"Itu Ray. Bos Mafia yang terkenal menakutkan itu datang mencari kamu."
Saat mengatakan itu, Kayla bahkan tidak bisa menyembunyikan ketakutan nya. Namun hal itu justru berbeda dengan Rayya, tangan wanita itu seketika mengepel, nampaknya ia punya hal tersendiri mengapa memiliki reaksi yang berbeda.
"Benarkah? Di mana orang itu sekarang?" tanya Rayya sungguh-sungguh.
Ia memang sempat memiliki niatan untuk menemui langsung orang sok hebat itu, namun keluarga nya melarang diri nya melakukan hal tersebut.
'Ternyata dia malah datang sendiri. Tapi untuk apa orang itu mencari ku?' batin Rayya.
'Ah, sudahlah. Itu tidak penting, yang penting sekarang aku harus segera menemui orang itu dan meminta pertanggung jawaban' lanjutnya
"Rayya, kamu tidak takut?" tanya Kayla dengan raut ngilu membayangkan Rayya kenapa-napa jika macam-macam dengan orang berkuasa tersebut.
"Ayo antar aku. Di mana orang itu."
Sebenarnya ada sedikit rasa ketakutan pada diri Rayya. Tapi hal itu seakan tiada karena dirinya mengingat bagaimana orang yang sangat ia sayangi harus mati di tangan orang jahat itu. Lebih tepatnya tewas di bawah kekuasaan Bos Mafia tersebut.
________________
"Itu mereka."
Kayla menunjuk menggunakan dagunya dengan samar, karena ia nampak takut melihat sekumpulan orang yang kini tengah mengepung rumah sakit. Bahkan orang yang ingin datang berobat memilih untuk mencari rumah sakit lain begitu tahu sosok penguasa yang ada di dalam rumah sakit.
"Bos, Nona Rayya," seru Alex dan hal itu membuat kedua pasang mata Marsel dan Rayya saling bertemu. Binar cinta memancar dalam mata tajam Marsel, sedangkan Rayya menatap terkejut dan berganti dendam.
'Dia orang gila semalam. Apa mau membunuh ku karena kejadian memalukan itu? Jelas-jelas aku yang di rugikan semalam' batin Rayya saat mendengar Alex berseru pada Marsel dengan panggilan Bos.
Marsel berjalan mendekati Rayya lalu mengulurkan tangan nya dengan lembut, seakan ia tidak semenakutkan itu.
"Ikutlah denganku," ucapnya.
Banyak orang melongo dengan apa yang mereka saksikan, termasuk Kayla yang berdiri di samping Rayya. Badan nya agak bergetar karena berada di dekat Marsel, Ia takut Bos Mafia itu mengeluarkan tembak dan mengenai dirinya.
"Apa kau buta? Aku sedang bekerja. Memang nya punya hak apa dan atas dasar apa aku harus ikut dengan Anda!"
Sebenarnya Rayya tidak puas dengan kata-kata nya tersebut, ingin rasanya ia memaki dan mencabik-cabik orang ini. Kalau saja semalam ia tahu kalau orang yang sempat ia tahan pendarahan nya adalah Bos Mafia yang sangat ia benci, pasti Rayya akan memilih untuk menusuk lengan orang ini dengan pisau.
"Siapa pemilik rumah sakit ini?" tanya Marsel pada semua orang yang ada di sana tanpa menoleh sedikit pun dari Rayya dan tidak pula menanggapi perkataan gadis tersebut.
Bahkan banyak pasien yang tahu Marsel siapa ikut keluar dari istirahat mereka karena takut menyinggung pria kejam itu, termasuk lansia yang baru saja Rayya tangani tadi.
"Sa_saya Tuan."
Pemilik rumah sakit mengaku dengan bibir bergetar ketakutan.
"Apa kau keberatan Rayya ku keluar bersama ku?" kata Marsel dan seakan mengancam pemilik rumah sakit itu dengan pertanyaan lembutnya.
"Tidak sama sekali, Tuan. Rayya boleh izin pergi dengan anda kapan saja."
Keringat dingin membasahi pelipis kepala rumah sakit tersebut, karena ia tahu jika memiliki masalah dengan Bos Mafia itu maka bukan cuma dirinya yang akan mendapatkan masalah, tetapi seluruh keluarga nya juga akan mendapatkan imbasnya.
"Aku yang tidak mau," sahut Rayya tegas. Ia juga kesal saat mendengar kata Rayya ku keluar dari mulut pria tersebut.
"Alex, ratakan tempat ini sampai Rayya ku bersedia untuk ikut," titahnya membuat semua orang takut dan bergetar, apalagi kepala rumah sakit. Rayya juga ikut membulatkan matanya menatap nyalang pada Marsel, nafasnya tercekat dengan tangan mengepal kuat.
Rayya sangat marah, apalagi lansia yang berdiri di belakang nya sudah bergetar takut. Sikap Marsel ini akan membuat pasien semakin sakit karena takut. Rayya maju dan melangkah dengan kepala tegak menantang.
"Baik, aku ikut. Tapi kau janji...."