NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Suasana yang Santai

Sebuah momen yang sangat intim namun terasa murni. Di pinggiran hutan dengan suara gemericik air memberikan kontras yang apik antara alam yang liar dan kelembutan interaksi mereka. ‎Sentuhan Khiya saat menggosok punggung Kurza bukan sekadar bantuan fisik, tapi simbol runtuhnya dinding pertahanan. Di dunia yang mungkin keras bagi mereka, momen ini menjadi bahasa kasih yang paling jujur.

‎Suasana yang tadinya tenang seketika sedikit berubah saat pikiran Khiya melayang kembali ke kegelapan gua yang mereka tinggalkan. Tangannya yang masih bergerak teratur di punggung Kurza melambat sejenak. ‎"Tuan Kurza..." suara Khiya memecah keheningan, nyaris berbisik mengikuti aliran air. "Tentang peti-peti mati yang berada di samping peti mati tuan Kurza di dalam gua itu... apa kau tahu siapa mereka Tuan? Atau mengapa mereka ada di sana?" Pertanyaan itu menggantung di udara, membawa kembali misteri yang kontras dengan kedamaian di pinggiran hutan saat ini.

‎Kurza terdiam sejenak, membiarkan air sungai mengalir melewati jemarinya sebelum akhirnya menjawab dengan nada rendah yang bergetar. ‎"Mereka vampir sepertiku, Khiya. Mereka adalah anggotaku," jawabnya pelan, matanya menatap kosong ke arah riak air. "Saat aku memutuskan untuk tertidur panjang, mereka memilih untuk ikut bersamaku. Kami berbagi keabadian yang sunyi di dalam sana." ‎Jawaban itu memberikan dimensi baru pada sosok Kurza, ia bukan sekadar vampir tunggal, melainkan seorang pemimpin yang membawa beban kesetiaan pengikutnya di pundaknya.

‎Mendengar jawaban Kurza, suasana di pinggiran sungai itu terasa semakin berat oleh makna kesetiaan. Kurza menoleh sedikit, menatap Khiya dengan tatapan yang dalam dan penuh harap. ‎"Setelah ini, aku akan mengajakmu kembali ke gua itu," lanjut Kurza dengan nada sungguh-sungguh. "Karena mereka bukan sekadar anggota bagiku. Kesetiaan mereka terhadapku tidak diragukan lagi, bahkan melampaui waktu."

‎Ia terdiam sejenak, membiarkan gemericik air mengisi celah di antara kata-katanya. "Aku harap... kamu juga bisa seperti mereka. Setia kepadaku."

‎Permintaan itu terdengar seperti sebuah undangan sekaligus janji untuk masuk ke dalam lingkaran terdalam hidupnya yang abadi.

‎Kurza menunduk, melihat pantulan dirinya di permukaan air yang beriak. Suaranya memberat saat ia mengungkap rahasia yang lebih kelam. ‎"Mereka dulu bukanlah vampir," ucapnya lirih. "Tapi kujadikan mereka seperti aku... Mereka memilih untuk meninggalkan kemanusiaan mereka demi mengikutiku ke dalam keabadian." ucap Kurza yang masih menunduk ke arah permukaan air.

‎Pernyataan ini menambah beban pada harapan Kurza sebelumnya. Ia tidak hanya meminta kesetiaan biasa, tetapi ia bicara tentang pengabdian total yang tak bisa ditarik kembali. Di bawah naungan pohon-pohon besar, pengakuan itu membuat sosoknya terasa jauh lebih kuno dan berkuasa.

‎"Lantas... kenapa aku tidak menjadi vampir? setelah darahku tuan hisap?" Tanya Khiya, suaranya terdengar penasaran sekaligus menuntut penjelasan. "Jika kesetiaan adalah apa yang kau cari, mengapa kau membiarkanku tetap seperti ini?" tanya Khiya lagi dengan nada yang lebih tinggi karena merasa sedikit kecewa dia masih menjadi manusia biasa. Kurza terdiam cukup lama. Hanya suara aliran sungai yang mengisi kekosongan di antara mereka. Ia membalikkan tubuhnya perlahan hingga kini mereka berhadapan, membiarkan rambutnya yang basah meneteskan air ke permukaan sungai.

‎Tatapan Kurza melembut, sesuatu yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Karena kau berbeda Khiya, ," jawabnya pelan. "Aku tidak bisa menjadikanmu vampir seperti mereka, dan mereka pun tidak bisa memberikan darah mereka kepadaku, agar aku tidak terbakar menjadi abu ketika terkena sinar matahari. jawab Kurza sembari kedua tanganya memegang pundak Khiya.

‎Suasana yang tadinya berat dan penuh filosofi tentang keabadian seketika pecah berkeping-keping. Ketegangan emosional itu mendadak berganti menjadi ketegangan jenis lain yang lebih nakal. ‎Kurza, yang baru saja bicara soal keabadian dan kesetiaan, kini justru membiarkan tatapan matanya turun dengan sangat tidak sopan namun tajam ke arah dada Khiya.

Tidak ada lagi sorot mata pemimpin kuno yang bijaksana, yang ada hanyalah insting predator yang sedang teralihkan oleh pemandangan di depannya. ‎Khiya yang merasakan hawa tatapan itu langsung menyadarinya. Ia merasakan panas menjalar ke pipinya, bukan karena marah, tapi karena intensitas tatapan Kurza yang begitu terang-terangan. ‎"Tuan Kurza!" tegur Khiya setengah berbisik, refleks menyilangkan tangan di depan dadanya.

‎Pletak!

‎Bunyi jitakan itu terdengar cukup nyaring di antara suara aliran air. Kurza sedikit meringis, mengusap kepalanya yang baru saja terkena serangan mendadak dari tangan mungil Khiya. Aura misterius dan berwibawa sebagai pemimpin vampir yang ia bangun tadi hancur seketika oleh satu gerakan tangan itu.

‎"Kemana kamu melihat, Tuan Kurza?!" tanya Khiya dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski pipinya masih merona merah. Matanya melotot, mencoba memberikan efek mengintimidasi pada sosok yang sebenarnya jauh lebih kuat darinya itu.

‎Kurza justru terkekeh rendah, suara tawanya terdengar serak dan menggoda. Ia sama sekali tidak terlihat menyesal; malah, sorot matanya semakin jenaka melihat reaksi berani gadis di depannya. ‎"Aku hanya sedang mengagumi... keindahan alam yang ada tepat di depan mataku, Khiya," jawab Kurza santai, masih dengan sisa-sisa tatapan jahilnya.

‎Melihat reaksi Khiya yang salah tingkah, Kurza justru semakin tidak bisa mengalihkan pandangannya. Saat Khiya berdiri dan berjalan menuju bebatuan, siluet tubuhnya terpapar cahaya senja yang menembus celah pepohonan, mempertegas setiap lekukan tubuhnya yang masih basah oleh percikan air sungai.

‎Kurza masih duduk di dalam aliran air, melipat tangan di depan dada sambil terus memperhatikan setiap gerak-gerik Khiya dengan tatapan yang semakin intens. Baginya, pemandangan Khiya yang sedang berjalan membelakanginya dan mencoba meraih pakaian di atas batu adalah godaan yang jauh lebih besar daripada haus akan darah.

‎Khiya, yang menyadari punggungnya sedang "dilahap" oleh pandangan Kurza, mempercepat gerakannya dengan tangan yang sedikit gemetar.

‎"Berhenti menatapku seperti itu, Tuan Kurza! Atau aku akan benar-benar meninggalkanmu di sini!" ancam Khiya tanpa menoleh, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.

‎Kurza hanya menyeringai tipis. "Hutan ini masih berbahaya, Khiya. Kau yakin berani berjalan sendirian tanpa perlindunganku?" ledek Kurza sambil tersenyum jahat.

‎Khiya mencoba mengalihkan situasi yang semakin memanas itu dengan nada memerintah, meski suaranya sedikit gemetar karena gugup. "Tuan, cepat pakai bajumu, dan ayo kita ke gua!" serunya sambil memeluk pakaiannya yang masih lembap ke dada, berusaha menutupi diri dari tatapan lapar Kurza.

‎Kurza tidak langsung bergerak. Ia masih tetap di posisinya, membiarkan air sungai mengalir di pinggangnya sementara ia menatap Khiya dengan senyum tipis yang penuh arti. "Bagaimana kita bisa pergi sekarang, Khiya?" sahutnya dengan nada malas yang menggoda.

‎"Lihatlah... bajumu dan bajuku bahkan belum kering. Kau mau kita berjalan menembus hutan dengan pakaian basah kuyup?" Kurza menunjuk ke arah kain yang masih terasa berat oleh air di tangan Khiya. Ia kemudian berdiri perlahan, membiarkan tetesan air jatuh dari tubuh atletisnya, membuat Khiya semakin salah tingkah. "Lagipula, api unggun kecil untuk mengeringkan pakaian sepertinya ide yang lebih bagus daripada terburu-buru ke gua yang dingin itu, bukan?"

‎"Tuan! Pakai saja!" seru Khiya panik, matanya melotot tajam berusaha mengintimidasi meskipun jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Kurza mampu berlari secepat kilat tanpa peduli rasa dingin. Kurza, yang melihat Khiya begitu bersikeras, tiba-tiba menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah... kali ini aku mengalah," gumamnya dengan nada yang terdengar pasrah, namun ada kilat jenaka di matanya.

‎Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan sedikit pun, Kurza langsung berdiri tegak dari dalam air. Ia tidak berusaha menutupi diri sama sekali, membiarkan tubuhnya yang atletis dan tanpa busana terpampang nyata di bawah sinar matahari yang mulai meredup.

‎"Aaaaaaaaakkkkkk!!"

‎Teriakan Khiya pecah, menggema di seluruh penjuru pinggiran hutan Kurza. Ia segera memutar tubuhnya membelakangi Kurza, menutup wajahnya dengan pakaian yang ia peluk erat-erat. Suara gemercik air terdengar saat Kurza melangkah naik ke daratan, seolah sengaja bergerak pelan agar Khiya semakin merasa canggung.

‎"Kenapa berteriak? Tadi kau yang menyuruhku cepat-cepat, bukan?" goda Kurza, suaranya kini terdengar tepat di belakang telinga Khiya, membawa hawa dingin khas tubuh vampirnya.

‎Keadaan mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat. Kurza, yang tadinya merasa di atas angin dengan sikap liarnya, seketika membeku saat mendengar teguran blak-blakan dari Khiya. ‎"Tuan! Cepat pakai pakaianmu dan... tutupi yang berdiri itu!" seru Khiya dengan suara melengking, masih menutup wajahnya rapat-rapat dengan pakaian lembapnya.

‎Kurza awalnya bingung, namun saat ia menunduk dan menyadari apa yang dimaksud Khiya reaksi alami tubuhnya yang tidak bisa disembunyikan akibat terlalu lama menatap Khiya tadi wajah pucat sang vampir itu seketika berubah menjadi merah padam.

‎Kesombongan sang pemimpin vampir runtuh seketika. Dengan gerakan yang benar-benar secepat kilat seperti yang dikatakan Khiya tadi Kurza menyambar celananya yang berada di atas batu.

Bunyi sret-sret kain yang dikenakan dengan terburu-buru terdengar sangat canggung di tengah kesunyian hutan.

‎"A-aku... aku tidak bermaksud..." gumam Kurza terbata-bata, sebuah kejadian langka bagi sosok sepertinya. Ia membelakangi Khiya, berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan karena malu yang luar biasa. ‎Suasana yang tadi penuh godaan kini berubah menjadi sangat kaku dan lucu.

‎Ketawa Khiya pecah begitu saja, menggema di sepanjang aliran sungai. Rasa malu dan tegang yang tadi menyelimutinya seolah hanyut terbawa air, digantikan oleh rasa geli yang tak tertahankan melihat sosok vampir yang biasanya berwibawa kini tampak begitu kikuk dan salah tingkah.

‎Sambil berusaha memakai bajunya sendiri dengan sedikit tawa, Khiya sesekali mencuri pandang ke arah punggung Kurza yang masih membelakanginya. "Hahaha! Tuan... ternyata seorang pemimpin vampir bisa merasa malu juga?" goda Khiya di sela-sela tawanya. "Tadi siapa yang begitu percaya diri berdiri tanpa busana? Sekarang malah seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan!"

Kurza hanya bisa terdiam dengan telinga yang masih memerah. Ia terus sibuk merapikan pakaiannya secepat mungkin, tidak berani berbalik karena tahu wajahnya masih sangat merah. Harga dirinya seolah menguap begitu saja di depan gadis manusia ini.

‎Setelah keduanya selesai berpakaian meski kainnya masih terasa lembap di kulit, suasana menjadi jauh lebih santai namun tetap diwarnai senyum simpul dari Khiya. "Ayo Khiya kita ke gua; naiklah ke punggungku!!" perintah Kurza.

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!