Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 19
Ella menuruni tangga dengan langkah yang ia paksa tetap stabil, meski setiap detiknya terasa lebih berat dari biasanya. Di ruang tamu, Leo sudah berdiri tegak, rapi, dengan tatapan yang sama seperti di pesta tadi malam, hanya saja kali ini tanpa topeng, tanpa musik, tanpa keramaian yang bisa menyamarkan ketegangan di antara mereka.
Bu Vero duduk di sofa, sikapnya tenang tapi jelas mengamati. Sisil yang tadi menjemput Ella ke kamar, kini berdiri sedikit di belakang, menyandarkan tubuh di dinding, seperti biasa, diam, tapi tidak pernah benar-benar tidak terlibat.
Ella berhenti beberapa langkah dari Leo. “Bapak Jaksa mencari saya?” suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan.
Leo menatapnya langsung. Tidak tergesa, tidak juga berputar-putar. “Kamu tahu kenapa saya ke sini,” katanya.
Ella menggeleng pelan. “Saya tidak tahu maksudnya. Apa ada perkembangan tentang Ayah saya?"
Hening sejenak. Leo mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. Benda kecil. Diletakkan di atas meja di antara mereka. Miniatur sepatu kaca itu.
Napas Ella tertahan sekejap, hanya sekejap sebelum ia kembali mengendalikan ekspresinya.
“Saya menemukan ini,” lanjut Leo. “Di sebuah acara malam ini.”
Ella tidak langsung menjawab. Matanya hanya melirik sekilas, lalu kembali ke wajah Leo.
“Cantik,” katanya datar. “Tapi bukan milik saya.”
Bu Vero sedikit bergerak di tempat duduknya.
Sisil menyipitkan mata.
Leo tidak tersenyum. Tidak juga terlihat terkejut. “Menarik,” katanya pelan. “Karena saya cukup yakin ini milik kamu.”
Ella mengangkat bahu kecil. “Banyak orang punya aksesori seperti itu.”
“Tidak dengan ukiran sekecil ini di bagian bawahnya,” balas Leo, nadanya tetap tenang tapi lebih tajam. Deg. Ella tidak tahu soal ukiran itu. Atau ia lupa. “Nama kamu,” lanjut Leo, suaranya rendah. “Inisialnya.”
Ruangan itu seketika terasa lebih sempit. Tapi Ella tidak mundur.Ia justru melangkah sedikit lebih dekat ke meja, melihat benda itu seolah baru pertama kali memperhatikannya.
“Kalau memang ada nama saya,” katanya pelan, “kenapa tidak langsung dikembalikan saja?”
Leo menatapnya lebih dalam. Mencari sesuatu. Reaksi.Kesalahan. Apa pun. “Kamu ada di sana malam ini,” katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Ella menggeleng lagi, kali ini lebih pasti. “Saya di rumah.” “Dengan siapa?” tanya Leo cepat.
“Dengan keluarga saya,” jawab Ella tanpa jeda.
Semua mata kini tertuju ke Bu Vero.
Perempuan itu mengangguk ringan. “Ella memang di rumah,” katanya tenang.
Sisil tidak langsung bicara. Tapi ia juga tidak membantah. Leo memperhatikan semuanya. Satu per satu. Seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
“Kamu tahu kasus ayah kamu sudah ditutup,” katanya kemudian, mengalihkan arah.
Ella mengangguk. “Saya dengar. Tapi tidak banyak informasi yang saya tahu. Saya sendiri juga tidak tahu alasannya apa padahal saya putrinya ayah."
Bu Vero merasa tersindir, ia berdehem.
“Dan kamu tahu apa artinya?”
“Artinya negara memutuskan sesuatu tanpa menemukan kebenaran sepenuhnya,” jawab Ella pelan.
Jawaban itu membuat Leo diam sejenak. Bukan karena tidak punya respons tapi karena itu bukan jawaban yang ia harapkan. “Atau,” kata Leo kemudian, “kebenarannya sudah cukup.”
Ella menatapnya langsung. “Kalau sudah cukup, kenapa Anda masih di sini?”
Kalimat itu menggantung. Dan untuk pertama kalinya, bukan Ella yang terpojok. Leo menghela napas pendek, lalu mengambil kembali sepatu kaca itu dari meja.
“Terkadang,” katanya pelan, “jawaban yang resmi… bukan jawaban yang sebenarnya.”
Ia memasukkan benda itu kembali ke sakunya. Tidak mengembalikan. Belum. “Kalau kamu punya sesuatu yang ingin kamu katakan,” lanjutnya, “lebih baik kamu katakan sebelum saya menemukannya sendiri.” Nada suaranya tidak mengancam. Tapi jelas itu bukan sekadar saran.
Leo berbalik, bersiap pergi. Langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia menambahkan, “Dan lain kali… kalau kamu mau menyamar, pastikan tidak meninggalkan sesuatu yang terlalu… pribadi.”
Pintu terbuka. Lalu tertutup. Meninggalkan ruangan itu dalam keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Ella tidak langsung bergerak. Tapi di dalam dirinya, satu hal menjadi jelas ini belum selesai. Bahkan ini baru dimulai.
"Kenapa dia bisa mengatakan kamu ada di pesta itu?" Bu Vero mencegah langkah Ella.
"Mana saya tahu, Bu. Harusnya Ibu tanya padanya. Lagipula pesta apa yang dimaksud? Pesta yang ibu hadiri itu? Pesta yang bagaimana? Kenapa Ibu dan Sisil bisa hadir di sana?" Ella balik menyerang.
"Hemmm, ini sudah terlalu larut. Sebaiknya kita istirahat." Bu Vero berjalan duluan meninggalkan Ella.
Sisil masih berdiri di tempat semula, ia memperhatikan Ella. Ella membalasnya, lalu berjalan naik menuju kamarnya.
"Aku berhasil!" Ella langsung menghambur ke kasur usai mengunci pintu kamar. "Andai Tante melihat bagaimana aku meyakinkan mereka bahwa aku tak ada di pesta itu." Ella tersenyum bangga.
"Ella, jangan terlalu polos. Yang baru kamu temui itu Jaksa." Tante Rosa memperlihatkan layar Hpnya pada Ella. "Lihat prestasinya. Aku yakin dia belum melepaskan kamu. Jadi tetap waspada." ungkap Tante Rosa membuat Ella kembali bergidik.
"Ya Tuhan ... kenapa harus aku!" Ella menghempaskan tubuhnya ke kasur. "Aku mau tidur saja. Pusing!"
***
Ruang kerja itu masih sama atau setidaknya terlihat sama. Meja kayu besar milik ayahnya tetap di tempatnya, rak buku masih tersusun rapi, dan aroma khas yang selalu mengingatkan Ella pada sosok ayahnya masih samar tertinggal di udara. Tapi sejak ayahnya “tidak ada”, ruangan itu terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih asing.
Ella berdiri di dekat meja ketika Bu Vero masuk tanpa banyak basa-basi, langsung duduk di kursi yang dulu selalu ditempati ayahnya. Gerakan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Ella terasa terusik.
“Kita perlu bicara,” kata Bu Vero, membuka map yang sudah ada di tangannya.
Ella tidak duduk. Ia tetap berdiri, menjaga jarak.
“Soal asuransi ayahmu,” lanjut Bu Vero. “Saya sudah urus semuanya. Tinggal satu hal, tanda tangan kamu.” disini memang yang dibutuhkan tanda tangan Ella sebagai ahli waris yang sah sebab pernikahan ayahnya dengan Bu Vero dilakukan secara siri, berarti negara tidak mengakuinya.
Ia mendorong beberapa lembar dokumen ke arah Ella. “Kalau ini selesai, pencairannya bisa diproses.”
Ella tidak langsung mengambilnya. Matanya hanya turun sekilas ke kertas-kertas itu, lalu kembali ke wajah Bu Vero. “Cepat sekali,” katanya pelan, tapi cukup tajam untuk terasa. “Bahkan… jenazah Ayah saja belum ditemukan.”
Hening sejenak. Bu Vero menutup map itu perlahan. “Realistis, Ella,” jawabnya tenang. “Kondisinya sudah jelas. Kita tidak bisa menunggu sesuatu yang hampir pasti.”
“Hampir pasti?” ulang Ella, sedikit menekan. “Atau ingin dipastikan?”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada lagi kepura-puraan.
Bu Vero menghela napas kecil, lalu bersandar. “Kamu boleh menyangkal kalau itu membuatmu lebih baik. Tapi hidup tetap berjalan. Rumah ini tetap butuh biaya.”