NovelToon NovelToon
Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Reinkarnasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rs_31

Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan sikap Ara

Malam harinya, setelah makan malam yang penuh drama itu, Ara langsung saja kembali ke kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, belum sempat dia melangkah jauh, tiba-tiba ponselnya berdering.

Dert… dert… dert…

Ara menghentikan langkahnya. Tatapannya langsung jatuh ke layar ponsel.Di sana tertera satu nama.

"Kakek."

Tanpa menunggu lama, Ara langsung mengangkat panggilan itu.

“Halo,” ucap seseorang di seberang sana.

“Halo, Kek. Ada apa?” tanya Ara dengan nada lembut, seolah dia benar-benar Ara yang dulu. Ara yang penurut dan nggak pernah membantah.

“Kakek sudah mendengar rekaman itu, Ara,” jawab Rakha Kalandra. Kakek Ara, sekaligus pendiri keluarga Kalandra.

Rakha terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas lelah.

“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ara?” tanyanya akhirnya.

Ara tersenyum lebar saat mendengar pertanyaan itu.

"Ini yang gue tunggu," gumam Ara dalam hati. Perasaannya justru terasa berbunga-bunga.

“Ara mau keluar dari mansion Kalandra,” jawab Ara dengan keyakinan penuh.

Rakha tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka Ara akan mengambil keputusan itu.

 Padahal dulu, saat diminta keluar dari mansion, Ara menolaknya mentah-mentah. Tapi sekarang, mungkin karena sudah terlalu lelah, Ara akhirnya memilih menyerah.

“Kamu yakin, sayang?” tanya Rakha dengan ragu.

“Ara yakin, Kek. Ara berencana beli penthouse pakai kartu yang Kakek berikan,” jawab Ara tanpa ragu.

Selama tinggal di mansion Kalandra bersama ayah dan ibunya, Ara tidak pernah mendapatkan kartu hitam seperti Vania dan si kembar. Jatah uang bulanannya pun berbeda jauh.

Ara hanya diberi uang jajan seratus ribu per hari oleh Laras dan Andrian.

 Di jaman sekarang seratus ribu itu cukup untuk apa? padahal Ara itu putri bungsu keluarga Kalandra, orang terkaya di kota itu, tapi mana mungkin Ara mendapatkan jajan uang segitu, sangat mustahil, jika orang lain mengatahuinya mungkin mereka tidak akan percaya.

Andai saja Rakha tidak memberinya kartu itu, mungkin Ara sudah mati kelaparan sejak lama.

“Baiklah kalau begitu,” ucap Rakha akhirnya.

 “Kakek setuju. Tapi kamu harus janji. Setiap bulan kabari Kakek. Dan setiap bulan juga, Kakek akan tetap mengisi kartu itu.”

“Iya, Kek. Makasih,” jawab Ara.

“Kalau begitu Ara tutup dulu ya, Kek. Ara mau istirahat.”

“Iya. Selamat malam.”

“Malam.”

Panggilan itu terputus.

Di luar negeri, Rakha tersenyum tipis. Dia bangga dengan keputusan yang diambil Ara. Ini yang dia inginkan sejak dulu. Ara yang pendiam dan sedikit pemalu akhirnya berani menentukan hidupnya sendiri.

Sejak kecelakaan itu, sikap dan sifat Ara memang berubah.Lebih berani dan lebih tegas.

Namun senyum Rakha perlahan menghilang saat wajah Andrian Kalandra terlintas di benaknya. Tangannya terkepal kuat. Dadanya dipenuhi amarah.

Dia masih ingat jelas bagaimana suara Andrian dengan terang-terangan membela Vania, anak angkat mereka, dibandingkan Ara—anak kandungnya sendiri.

“Andrian,” gumam Rakha dingin.

“Aku tidak akan tinggal diam. Meskipun kamu anak kandungku, tapi kalau kamu berani menyentuh cucuku dan menyakitinya, aku sendiri yang akan turun tangan.”

♧♧♧♧♧

Ara bangun di pagi-pagi buta, di saat semua orang masih tertidur. Saat mansion itu masih sunyi, Ara sudah lebih dulu bangun untuk menyiapkan seragam sekolahnya.

“Lihatlah Ara, aku akan mengubah gaya hidupmu,” ucap Alea dalam hati sambil menatap wajah Ara di depan cermin.

Setelah puas memandangi wajah itu, Ara langsung berjalan ke arah walk in closet. Dia membuka pintu lemari untuk mengambil seragam sekolahnya.

Namun baru saja pintu lemari terbuka, Ara langsung terdiam. Matanya membelalak menatap isi di dalam sana.

Bagaimana tidak, di sana berjejer rapi baju-baju Ara. Ukurannya kebesaran, modelnya aneh, penuh bunga-bunga dengan warna yang menyilaukan mata.

“Astaga,” gumam Alea pelan. “Apa yang dia lakukan? Kenapa bajunya seperti ini semua.”

Alea benar-benar syok. Hari pertama dia berada di tubuh Ara saja sudah membuatnya geleng-geleng kepala memikirkan keluarga gadis itu. Dan sekarang, di hari pertama dia kembali sekolah, dia justru menemukan baju-baju yang sama sekali tidak layak untuk ukuran tubuh Ara yang ramping.

“Tidak,” gumam Alea sambil mengangkat salah satu seragam sekolah yang terlihat begitu besar. “Masa iya sih aku harus pakai seragam longgar kayak gini.”

Jika seragam ini dipakai, Alea yakin dia akan terlihat seperti badut sawah yang siap ditertawakan orang-orang.

Dengan gerakan cepat, Alea langsung mengacak-acak seluruh isi lemari. Satu per satu baju dikeluarkan, dicari, sampai akhirnya tangannya berhenti di bagian paling bawah.

“Nah, ini dia.”

Ara menarik sebuah seragam sekolah yang masih terlihat baru. Ukurannya pas. Tidak kebesaran. Tidak aneh.

“Ya ampun, Ara,” gerutu Alea kesal. “Kenapa lo nggak pakai baju ini, malah milih pakai baju badut itu.”

Entahlah. Alea benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Ara. Gadis ini cantik, imut, dan punya tubuh yang bagus. Tapi entah kenapa dia justru memilih berdandan cupu. Rambut dikepang dua, seragam longgar, kacamata besar, ditambah tompel besar yang sengaja ditempel di pipinya.

Alea mendengus pelan.

“Tenang aja, Ara,” gumamnya dingin. “Mulai hari ini, semuanya bakal beda termasuk penampilan lo.”

Setelah mengatakan itu, Alea benar-benar mengubah gaya pakaian dan riasan Ara. Tak ada lagi baju longgar yang membuatnya terlihat biasa saja. Riasan tebal seperti badut Pancoran pun ikut lenyap, diganti dengan makeup tipis yang justru menonjolkan kecantikan alami Ara.

“Waw, wajah siapa ini, kenapa cantik sekali,” gumam Alea.

Dia tak henti-hentinya berdecak kagum, terus memuji tubuh Ara yang kelewat cantik. Posturnya tinggi semampai, dengan wajah oval yang membuat Ara terlihat begitu imut, bak Barbie. Apalagi bibir tipis merah jambu itu, seolah mampu membuat siapa saja yang melihatnya langsung tertarik.

Alea sudah tak sabar membayangkan ekspresi semua orang saat melihat penampilan baru Ara, terutama Vania. Gadis itu pasti akan sangat iri sekaligus kesal.

“Aku yakin anak pungut itu bakal benar-benar kepanasan. Selama ini dia ngerasa jadi putri tercantik di Mansion Kalandra,” gumam Alea pelan.

Karena rasa tak sabar itu, Ara yang kini berjiwa Alea langsung keluar dari kamarnya. Dia menuruni tangga dan melangkah menuju dapur. Tangannya membuka kulkas, mengambil beberapa buah dan beberapa jenis sayuran di dalamnya.

“Pokoknya mulai pagi ini, kita sarapan salad,” kata Ara sambil mulai memotong buah dan sayuran.

Saat sedang asyik memotong, tiba-tiba suara bariton dari arah tangga membuat Ara menghentikan kegiatannya.

“Siapa lo? Ngapain lo di rumah gue?”

Ara menoleh ke arah tangga sambil tersenyum miring.

Alea tak menyangka, hanya dengan mengubah gaya busana dan makeup Ara saja sudah membuat semua orang tak lagi mengenalinya.

"Gue itu adik lo, bego," umpat Alea dalam hati.

Entah kenapa, dia jadi kesal dengan kakaknya yang otaknya kurang satu ons. Mood-nya benar-benar rusak pagi ini.

"Apa dia benar-benar nggak ngenalin gue?"

Pria itu berdecak kesal, lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Ara.

“Heh, gue lagi ngomong sama lo!” kata kakak Ara dengan nada kesal.

“Siapa sih lo? Tiba-tiba aja ada di rumah gue.”

Ara meletakkan pisau di atas talenan dengan gerakan pelan.

Dia menoleh, menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum tipis.

“Kalau ini rumah lo,” ucap Ara santai.

“Harusnya lo tau, siapa yang boleh dan nggak boleh ada di sini.”

Senyum di bibirnya menipis.

“Atau jangan-jangan,” lanjutnya pelan, “lo bahkan nggak kenal orang yang selama ini tinggal satu atap sama lo?”

" Lo...."

1
Murni Dewita
👣
chataleya
kalau ada keluarga Cemara, ini kebalikannya. keluarga durjana. 🤣 ampun...
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍
chataleya
berusaha mempertahankan harga diri apapun yang terjadi,👍
Laila Wahda
sebenarnya ceritanya bagus cuma gak nyambung dari awal berubah2
Laila Wahda
cerita awalnya gak nyambung bukannya sore mati karena balapan kenapa mati di tembak dipazngkuan damian
Ma Em
Semoga perbuatan Narendra akan mendapatkan karma yg membuatnya menyesal seumur hdp nya .
Nenk putry
dih makin lama makin jijik baca nya MC nya bayak menyek² katanya mafia hedeeeh Thor² semangat aja lah maaf males sudah baca nya
jenolee: kau cuma bisa ngetik gitu trus kah? klihatan sekali klu anda org ga berpendidikan, bisanya cuma nyinyir doang, tuh komen mu kebanyakan ngatain karya orang, coba kau yg nulis, bisa ga?🤣🤣🤣🤣
total 8 replies
Dian Utami
cerita ny muter" Thor awal ny seru kesini ny kurang bagus pusing baca ny
SYADZA
suka banget kak sama cerita nya semangat kak autor
Tinta_Hitam: terima kasih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Tinta_Hitam: cus lanjut baca. jangan kupa saran dan keritikannya ya guys
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!