Nadia, gadis berusia 20 tahun yang tidak tahu bahwa dirinya adalah reinkarnasi Sang Pelindung Teratai Biru, Putri Nadi.
Saat sedang menginap di sebuah penginapan milik seorang kakek tua, Kakek San. Secara tidak sengaja Nadia telah membaca sebuah mantra yang membuat dia dan keempat sahabatnya masuk ke sebuah dunia asing.
Saat sudah mengetahui bahwa dirinya adalah reinkarnasi Sang Pelindung, Nadia harus menyelesaikan tugasnya yang belum usai, mengembalikan keseimbangan Negeri Resyam seperti sedia kala.
Di bantu keempat sahabatnya dan petunjuk dari Buku Resyana, Nadia harus membentuk kembali Pedang Emas Sang Pelindung yang terpecah.
Melewati dunia yang penuh bahaya dan melawan monster mengerikan. Bukan hanya itu, akan ada banyak misteri yang akan terpecahkan
Dimulai dari Naga kejam Man Black di Hutan Hitam, Monster Silver Death Worm di Dunia Kebalikan, hingga musuh terbesar Sang Pelindung, Perdana Menteri Basilia yang licik dan tamak. Dialah yang mengambil paksa tahta ayah Putri Nadi dan mengambil keseimbangan di Negeri Resyam.
Akankah mereka berhasil?
Skuy Simak...Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GPS_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Tak Dikenal
EPISODE SEBELUMNYA
"Eee...teman-teman" kata Dina.
Semua melihat ke arah langit-langit kamar itu.
"Ee..apa-apaan ini?" takut Manda.
Langit-langit kamar itu terhisap ke dalam sebuah lubang disertai angin yang sangat kencang. Satu persatu bagian-bagian dari kamar itu pun mulai terhisap ke lubang tersebut. Nadia dan kawan-kawannya mencoba untuk mempertahankan diri mereka agar tidak terhisap lubang itu. Fikram yang sedang berpegangan, tidak kuat menahan pegangannya dan terhisap ke lubang tersebut.
"Aaaaa!!!" teriak Fikram.
"Fikram!!!" kata Manda.
Daya tarik dari lubang itu semakin kuat, Kelima sahabat itu pun tak kuasa menahan pegangan mereka lagi. Pada akhirnya, mereka semua terhisap oleh lubang itu beserta bagian-bagian kamar itu.
...🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀...
"Aduh, pinggang ku," kata Fikram memegang pinggangnya setelah jatuh di tempat yang tidak di kenal olehnya.
"Aaaa!!!" teriak seseorang.
"Emm?...sepertinya aku kenal suara itu" bingung Fikram.
Manda langsung jatuh menimpa Fikram.
BRUKKKK...
"Aduh!!" rintih Fikram.
"Aaaa!!!" Manda masih berteriak.
"Berhenti konyol dan menyingkir dariku!" kesal Fikram pada Manda.
"Hah?! oh maaf-maaf," kata Manda bangun dari punggung Fikram.
"Huh, kau ini kalau jatuh liat-liat
dong" kata Fikram.
"Iya..iya maaf." sesal Manda.
"Aaaaa!!!" terdengar teriak seseorang dari kejauhan.
"Eh, itu Dina dan Rio" seru Manda melihat ke sumber suara.
"Iya ayo kita kesana!" kata Fikram.
Manda dan Fikram berlari menghampiri yang lain.
"Aaaa!!!" teriak mereka.
Rio dan Dina terjatuh.
"Aduh" rintih Dina.
"Aduh, eh? dimana Nadia?" kata Rio langsung berdiri kaget.
"Aaaa!!" suara seseorang lagi.
"Hah?" bingung Rio mendongak ke atas.
"Aaaa!!"
"Hah! Nadia!!" kaget Rio.
"Aaaa!!"
"Hia..kena" kata Rio berhasil menangkap Nadia.
Nadia membuka matanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rio pada Nadia.
Nadia hanya terdiam dan menatap Rio begitupun sebaliknya.
"Ehem..ehem..terus...berduaan aja terus" ejek Dina.
Rio dan Nadia kaget dan mereka menjadi canggung. Rio pun menurunkan Nadia.
"Ah..apaan sih Din" malu Nadia.
Manda dan Fikram pun menghampiri mereka.
"Huh..huh..apa kalian baik-baik saja" kata Fikram terengah-engah.
Nadia, Rio, dan Dina hanya mengangguk.
"Dimana kita sebenarnya?" bingung Manda.
Kelima sahabat itu pun melihat ke arah depan. Mereka hanya melihat hamparan hutan yang luas dan dimana-mana hanya ada tumbuhan yang tidak dikenal oleh mereka.
"Iya dimana kita ini?" kata Nadia.
"Coba aku periksa map" kata Rio meraba saku celananya untuk mengambil handphone.
"Mmm...aduh..punyaku tidak ada sinyal!" ucap Rio sambil menggoyang-goyangkan handphonenya ke atas ke bawah. "apakah punya kalian ada?" tanyanya.
"Tidak, punyaku tidak ada." kata Fikram.
"Ya, punyaku juga" kata Dina.
"Aku juga" kata Nadia.
"Aku juga" kata Manda.
"Terus bagaimana kita pulang!!hiks...hiks" tangis Manda.
"Diam cengeng!" kata Dina sedikit membentak.
"Hiks hiks...dia memarahiku..hiks...hiks" tangis Manda lebih keras.
"Ya, ampun" kata Dina dalam hati dengan ekspresi aneh.
"Sudalah tenang...tenang..aku ada disini ya tenang...tenang" bujuk Fikram.
"Modus!" kata Dina dalam hati.
"Aku tau! Bagaimana kalau kita berjalan dan mencari pemukiman. Nah, dari situ kita bisa bertanya dan mungkin akhirnya kita bisa pulang, bagaimana?" jelas Nadia.
"Tapi kita akan berjalan ke mana?" tanya Fikram.
"Mmm...bagaimana kalau kita menyusuri sungai itu?" kata Nadia menunjuk ke arah sungai di depannya.
"Ya, aku setuju" kata Rio.
"Ya baiklah" kata Fikram.
Mereka pun akhirnya berjalan menyusuri sungai seperti yang dikatakan oleh Nadia.
... 🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀...
Mereka berjalan sudah sangat lama. Wajah lelah sudah mereka tunjukkan.
"Ya, ampun berapa lama lagi kita akan berjalan?" keluh Fikram.
Sahabatnya tidak mendengarkan keluhan Fikram.
"Hey!..oi!..apa kalian tidak mendengarku...aku lelah apa kalian tidak lelah, hah?" kata Fikram lemas.
"Huh, kau ini sangat manja!" kata Dina.
"Biarkan saja, nyatanya aku lelah, kok" kata Fikram.
"Mmm...sepertinya kita berhenti istirahat dulu" kata Rio.
"Ya, kita juga sepertinya sudah menyusuri sungai ini sangat jauh...tapi tidak terlihat tanda-tanda adanya pemukiman" kata Manda.
"Ya sudah kita istirahat dulu sekarang" kata Nadia menghentikan langkahnya.
Keempat sahabatnya pun juga melakukan hal yang sama seperti Nadia.
"Ah...akhirnya" kata Fikram langsung duduk lemas di tepian sungai.
Tak terasa matahari sudah hampir tenggelam, mereka akhirnya terpaksa harus bermalam di tempat mereka saat ini, karena tak kunjung menemukan pemukiman warga. Mereka pun membagi tugas, Nadia dan Rio bertugas mencari kayu bakar. Sementara Manda, Dina dan Fikram menunggu di tempat peristirahatan mereka tadi.
"Haduh aku lapar" kata Manda memegang perutnya yang sedang kelaparan.
"Ya aku juga" kata Fikram.
"Kalian ini, seperti anak kecil saja!" kata Dina.
"Tapi kami yapar" kata Manda dan Fikram dengan gaya anak kecil.
"Ya ampun" kata Dina lirih melihat mereka seperti anak kecil. "Ya sudah, tunggu disini aku akan mencari makanan" tambah Dina beranjak pergi.
"Apa kau akan pergi sendiri?" tanya Fikram berdiri.
Dina berbalik.
"Apa kau akan ikut?" tanya Dina balik.
"Ya...memang tidak." kata Fikram tertawa kecil dan duduk kembali.
"Huh" Dina mendengus kesal.
Dina pun pergi untuk mencari makanan kedalam hutan dan meninggalkan Fikram juga Manda berdua.
DI HUTAN..
Nadia dan Rio sedang mengumpulkan kayu bakar.
"Duh, apa ini sudah cukup?" tanya Nadia pada Rio.
"Emm..kurasa belum." kata Rio.
"Yah, padahal sebentar lagi akan gelap," kata Nadia.
"Emm...bagaimana kalau kita pergi berpencar saja" sambung Nadia.
"Berpencar?" kata Rio khawatir.
"Iya, supaya kita mendapat lebih banyak kayu bakar dengan waktu yang singkat." kata Nadia.
Rio bingung, ia tidak mau meninggalkan Nadia sendirian. Tapi, ia juga tidak berdaya. Apalagi hari sudah akan gelap dan mereka harus secepatnya mengumpulkan kayu bakar sebelum gelap.
"Yah sudah, baiklah" kata Rio terpaksa.
"Nah begitu dong, ya sudah...aku akan ke arah sana dan kau ke arah sana ya?" kata Nadia.
Rio mengangguk. Mereka pun berpencar mencari kayu bakar. Sebenarnya Rio agak khawatir meninggalkan Nadia sendirian tapi apa daya, mereka harus mengumpulkan kayu bakar sebelum malam.
...🌀🌀🌀🌀🌀🌀...
"Fiuh, sepertinya ini cukup." kata Nadia lega.
Ia pun beristirahat sejenak dengan duduk di bawah salah satu pohon. Ia jadi teringat kejadian dimana dia dan Rio bertatapan dan saat Rio menangkap dirinya pada saat jatuh dari lubang yang membawanya ke tempat tak dikenal ini. Nadia tersenyum manis saat mengingat semua hal itu. Tapi di samping kebahagiaannya ada sesuatu yang mengintainya.
"Sssss"
Bersambung....
masa baca juga sambil mikir artinya/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
/Smug//Smug//Smug/
senior galak hadir lagi , maaf lama tak mampir ..
biar syantik😍
kalau ada waktu luang mampir juga dikaryaku😅